Ganti judul: Bunda Rein-Menikah dengan Ayah sahabat ku
"Rein, pliss jadi bunda gue ya!!" Rengek Ami pada Rein sang sahabat.
"Gue nggak mau!" jawab Rein.
"Ayolah Rein, lo tega banget sama gue!"
"Bodo amat. Pokok nya, gue nggak mau!!" tukas Rein, lalu pergi meninggalkan Ami yang mencebik kesal.
"Pokoknya Lo harus jadi bunda gue, dan jadi istri daddy gue. Titik nggak pake koma!" ujarnya lalu menyusul Rein.
Ayo bacaa dan dukung karya iniii....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mey(◕દ◕), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Okay bab 10 sudah Revisi.
Happy Reading:)
***
Keesokan harinya, Davin berangkat menuju kantor seperti biasa. Cella yang sudah menunggu di lobby segera menghampiri Davin setelah melihat pria itu turun dari mobil.
“Selamat pagi pak.” Sapa nya sopan. “Ya selamat pagi juga. Jadwal saya pagi ini?” tanya Davin membuat wanita itu segera membacakan jadwal Davin yang sudah ia atur melalui tablet nya. “Nanti siang saya mau bertemu teman saya. Rapat nanti bisa kamu handle?” Cella mengangguk, rapat nanti memang masih bisa dirinya handle. “Bisa pak.”
Davin akui, hasil pekerjaan Cella selalu memuaskan. Wanita itu juga sangat bisa diandalkan ketika dirinya berhalangan jika ada kesibukan. Cella ini tipikal wanita yang menjunjung tinggi sopan santun, terlihat dari cara berpakaian.
Seperti biasa tas pink buatan Rein selalu Davin bawa. Cella menyadari itu, namun tidak ada niat ingin bertanya. Dirinya sangat yakin bahwa itu adalah bekal yang disiapkan oleh pacar bos nya ini, ya meskipun tebakan nya ini belum terkonfirmasi dengan jelas.
***
“Long time no see bro!”!” seorang pria memasuki ruangan Davin dengan senyum lebar. Davin yang sedang mengerjakan beberapa pekerjaan nya pun menoleh.
“Hai bro, lama nggak kelihatan.” Davin melakukan tos ala pria dengan pria bernama Eron yang baru saja menyapa nya. “Kabar lo gimana Vin? Sibuk banget sekarang, diajak ngumpul nggak pernah ikut!” pria disebelah Eron pun bertanya sembari merangkul Davin akrab, namanya Demian.
“Selalu baik. Dan belakangan ini gue sibuk.” Balas Davin seadanya, membuat Eron mencibir kecil.
“Bohong! Eh tas siapa nih? Widih pink-pink begini!” Eron segera mengangkat tas bekal Davin dengan wajah kaget. “Sejak kapan bro, suka pink?” tanya Demian sembari melihat Davin yang duduk di sebelah nya. Sedangkan Davin, segera berdiri lalu merebut tas bekal tersebut dari tangan Eron. “Jangan pegang!” Setelah merebut tas bekal tersebut, Davin segera kembali ke sofa.
“Dari siapa tuh?” tanya Eron kepo. Seumur-umur berteman dengan Davin, Eron belum pernah melihat pria ini membawa sesuatu seperti ini. Demian yang sama penasaran pun ikut menoleh menatap Davin. “Nggak usah kepo!” Eron dan Demian sama-sama berdecih mendengar jawaban Davin. Pria itu selalu tertutup dengan kehidupan nya, kecuali jika dia yang memulai duluan untuk bercerita.
“Mending ke bar aja gimana? Demian traktir!” Eron berseru semangat sembari menatap kedua sahabatnya. Demian yang mendengar ucapan Eron pun menghela nafas kesal.
“Masih siang! Lo kalau mau kesana sendiri!” Balas Demian sembari menepuk kepala Eron sedikit keras membuat pria dengan wajah manis itu sedikit merengut.
“Sakit njir. Kalau gue amnesia, lo mau tanggung jawab?” tanya Eron dramatis membuat Davin dan Demian memutar mata malas.
“Alay!” cibir Davin membuat Eron menatap nya sinis. Tangan nya mengelus pelan kepala yang terasa sakit. Davin dapat terbuka jika dia merasa sudah dekat dengan orang tersebut.
“Sudah-sudah. Mending kita makan siang!” ajak Demian sembari menatap keduanya. Pria ini selalu menjadi penengah jika Davin dan Eron sudah mulai beradu argument.
Ketiganya memutuskan untuk menggunakan mobil Demian. “Makan dimana nih?” tanya Eron yang duduk di bangku belakang, sedang kan Davin duduk disebelah Demian yang menyetir. “Terserah.” Balas Davin membuat Eron memutar mata malas, dengan cepat tangan nya memukul kepala Davin kesal. “Kaya cewe aja, jawaban lo!” Balas Eron dengan sinis.
Demian menghela nafas Lelah, baiklah sepertinya dia yang harus memilih tempat dimana mereka akan makan siang, pikirnya. “Kalian lanjut aja debat nya!” Demian meninggalkan keduanya, membuat Davin dan Eron segera menatap nya. “Lo aja tinggal sendiri!” Davin segera menyusul Demian yang sudah memasuki restoran seafood tempat mereka akan lunch.
Ketiga pria itu melangkah dengan gagah kedalam restoran. Beberapa wanita yang duduk disana menatap ketiga nya dengan sorot kagum. Melihat kesempatan itu, Eron segera menatap mereka balik sembari berkedip. “Nggak usah sok ganteng!” cibir Davin membuat Demian menahan tawa sedangkan Eron melotot kecil. “Sialan, gue memang ganteng!” balas nya tidak terima.
“Buset tu bekal dari mana dah?” tanya Eron penasaran sembari melihat Davin yang membuka kotak bekal tersebut dengan bangga. “Mau tau aja lo!” balas Davin dengan seringai jahil. “Jangan bilang lo udah punya cewe baru?” gumam Eron membuat Demian segera menatap Davin yang sibuk menyantap menu yang terlihat lezat itu. Black Pepper Rainbow Chicken Stir-fry, perpaduan ayam fillet dengan warna-warni paprika, brokoli, wortel, dan jagung muda dengan sedikit taburan biji wijen diatas nya.
Eron dan Demian hanya menatap Davin yang sangat menikmati menu makan siang nya. “Bagi gue dikit bro!” Davin segera menepis tangan Eron yang hendak mengambil potongan ayam. “Nggak boleh. Ini dibuat khusus untuk gue!” Eron dan Demian hanya pasrah, sembari berpikir siapa wanita yang sudah mencairkan es dalam diri sahabat nya ini.
“Mending lo berdua makan!” perintah Davin membuat Demian dan Eron segera menyantap beberapa menu yang sudah ada diatas meja.
Pukul 7 malam, Rein sedang menatap televisi yang menayangkan sebuah drama kolosal dengan beberapa minuman dingin serta cemilan diatas meja. Tadinya gadis itu bersama Ami, namun Ami sudah kembali ke kamar, katanya mengantuk.
Rein segera meraih ponselnya ketika melihat sebuah pesan masuk.
**Om Davin:**Rein saya pulang telat. Kamu sama Ami langsung istirahat, jangan tunggu saya.
“Om Davin lembur kali!” gumam nya pelan setelah membaca pesan Davin. Gadis itu kemudian berjalan menuju kamar Ami, untuk memberitahu bahwa Davin tidak pulang.
Tok tok tok
“Ami.” Panggil nya seraya mengetuk pintu gadis itu. “Om Davin nggak bisa pulang, kaya nya lembur.” Pintu terbuka pelan, Ami muncul dengan wajah kaku akibat masker wajah. “Kenapa Rein?” tanya gadis itu dengan kaku, takut jika menjawab sembari tersenyum maka masker nya akan retak.
“Om Davin lembur, katanya tidur duluan aja!”
“Oke-oke. Nanti minta tolong telfon papa, kasih tau jangan pulang larut!” Rein hanya menatap pintu yang sudah tertutup itu dengan wajah melongo. “Mi, kamu ngapain sih?” tanya Rein dari luar. Tumben gadis itu tidak lengket dengan dia seperti biasanya.
“Nggak adaaa!!” Ami berucap dari dalam, membuat Rein menggeleng lalu kembali ke ruang tengah. Rein yang sudah berada di atas sofa kemudian melakukan panggilan suara dengan Davin. “H-halo om.” Rein mengusap pipi nya setelah mendengar balasan dari Seberang sana. Suara berat sekaligus suara bising itu membuat kening Rein mengerut bingung.
“Papa dimana?” tanya Ami yang tiba-tiba muncul membuat Rein berjingkrak kaget. “Ngagetin aja!” gumam Rein membuat Ami tertawa pelan. “Sorry sorry, nggak sengaja. Btw papa dimana?” gadis itu bertanya lagi, membuat Rein menyodorkan ponsel nya.
“Pah, ini Ami bukan Rein!” ujar gadis itu sembari tertawa pelan. “Mana Rein nya, kenapa kamu yang pegang ponsel dia?” tanya Davin diseberang sana.
“Ada ini. Papa pulang jangan larut, Rein katanya rindu hehe…”
Beep
Ami segera mematikan panggilan tersebut. “Kampret, ngomong apa kamu! Gimana kalau om Davin mikir nya, aku yang suruh kamu ngomong gitu!” ujar Rein dengan panik. Sedangkan Ami hanya tertawa puas melihat kepanikan Rein.
“Nggak papa, lebih bagus lagi kalau papa emang mikir gitu heheh!!!”
Terimakasih:)
'mas kenapa?
"pengenpeluk!