Di dunia kultivasi di mana yang kuat memangsa yang lemah, bakat adalah segalanya. Lin Tian, seorang murid luar Sekte Awan Azure, terlahir dengan Akar Spiritual cacat yang membuatnya menjadi bulan-bulanan dan diinjak-injak bagai serangga. Terjebak di dasar rantai makanan, takdirnya seolah sudah dikutuk menjadi batu pijakan bagi para jenius.
Namun, di malam yang dipenuhi darah dan keputusasaan, sebuah entitas misterius bangkit di dalam dirinya: Sistem Pengekstrakan Dao Surgawi.
Sebuah sistem yang mampu menyerap esensi murni dari segala hal di alam semesta!
Sisa pil beracun yang dibuang? Ekstrak menjadi tetesan Qi murni tanpa cela!
Mayat binatang buas tingkat tinggi? Ekstrak esensi garis keturunannya!
Pemahaman bela diri musuh yang telah mati? Ekstrak dan jadikan milik sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Istana Perunggu dan Tebasan Darah yang Patah
Tiga mil bukanlah jarak yang berarti bagi Lin Tian yang menggunakan Langkah Badai Astral. Hanya dalam waktu kurang dari sepeda dupa (sekitar lima belas menit), daratan batu merah di sekitarnya perlahan berubah. Tanah di area ini tidak lagi terbuat dari batu biasa, melainkan kerikil logam yang memancarkan aura ketajaman yang menusuk kulit.
Di ujung pandangannya, sebuah kawah raksasa menganga lebar. Di tengah kawah tersebut, sebuah istana kuno yang terbuat seluruhnya dari perunggu berkarat setengah terkubur ke dalam tanah. Bangunan itu memancarkan fluktuasi energi elemen logam yang luar biasa padat.
Namun, yang menghalangi siapa pun untuk masuk adalah sebuah kubah pelindung transparan yang dipenuhi oleh rune-rune emas yang berputar cepat mengelilingi istana tersebut.
Ketika Lin Tian berdiri di bibir kawah dan memandang ke bawah, puluhan kultivator telah berkumpul di depan pelindung istana. Sebagian besar dari mereka mengenakan jubah merah khas Sekte Pedang Darah, dipimpin oleh Xue Ren, pemuda berambut merah yang sebelumnya memprovokasi Lin Tian di luar reruntuhan.
Selain mereka, ada beberapa murid malang dari Sekte Awan Azure yang sedang berlutut di tanah, dipaksa menunduk di bawah todongan pedang.
"Lempar dia ke dalam formasi!" raung Xue Ren dengan tawa kejam, menendang punggung seorang murid Sekte Awan Azure yang telah bersimbah darah.
Dua bawahan Xue Ren mencengkeram lengan murid itu dan melemparkannya ke arah kubah emas. Begitu tubuh murid itu menyentuh pelindung formasi, rune-rune emas seketika menyala terang. Ratusan bilah pedang cahaya melesat dari dalam pelindung, mencincang tubuh murid malang itu menjadi kabut darah dalam sekejap mata.
Murid-murid Awan Azure lainnya menjerit ngeri.
"Hahaha! Lihat? Cahaya pelindungnya sedikit meredup setelah menyerap darahnya!" Xue Ren menyeringai buas. "Formasi kuno ini kehabisan energi spiritual dan bereaksi terhadap darah segar. Lemparkan sampah Awan Azure selanjutnya! Kita akan menggunakan nyawa mereka untuk membuka jalan!"
Saat bawahan Xue Ren hendak menyeret korban berikutnya, sebuah suara yang sangat tenang namun membawa hawa dingin absolut terdengar dari atas tebing kawah.
"Aku menyuruhmu menyimpan napasmu untuk berlari. Rupanya kau tidak mendengarkan."
Semua kepala serentak mendongak. Di atas bongkahan batu besar, siluet berjubah putih berdiri menentang cahaya langit jingga. Ujung jubahnya berkibar ditiup angin kencang reruntuhan.
Xue Ren memicingkan matanya, lalu tawanya kembali meledak. "Oh? Sang pahlawan kesiangan! Kau bocah sombong di gerbang tadi, kan? Aku tidak tahu bagaimana kau bisa lolos dari zona jatuhanmu, tapi datang ke sini sendirian adalah kebodohan mutlak!"
Lin Tian tidak menjawab. Ia melangkah maju dari tebing. Bukannya jatuh, ia menggunakan udara kosong sebagai pijakan, meluncur turun dengan Langkah Badai Astral dan mendarat dengan mulus tepat di antara kelompok Sekte Pedang Darah dan murid-murid Awan Azure yang disandera.
"K-Kakak Senior Lin!" salah satu murid Awan Azure berseru, campuran antara harapan dan keputusasaan. Mereka tahu Lin Tian kuat di wilayah luar, tetapi Xue Ren adalah monster Pembentukan Pondasi Tahap 4!
"Mundur," perintah Lin Tian datar tanpa menoleh ke belakang.
Merasakan aura membunuh yang menguar dari Lin Tian, Xue Ren mendengus kasar. Qi atribut darah yang kental meledak dari tubuhnya, menciptakan tekanan yang mencekik.
"Kau pikir kau siapa berani memerintah di hadapanku? Bunuh dia!" perintah Xue Ren.
Empat murid Sekte Pedang Darah di Tahap 2 Pembentukan Pondasi menerjang maju serentak. Pedang mereka bersinar merah, menciptakan jaring tebasan darah yang menutupi seluruh ruang pelarian Lin Tian.
Lin Tian bahkan tidak mencabut belatinya. Di dalam benaknya, sebuah teknik yang baru saja ia ekstrak beberapa menit lalu langsung diaktifkan.
Tangan Besi Vajra Iblis!
Aliran Qi Cair Murni dari Inti Bintangnya membanjiri kedua lengannya. Seketika, kulit di lengan Lin Tian berubah warna menjadi emas gelap kehitaman yang memancarkan kilau logam yang tak bisa dihancurkan.
Ia mengayunkan kedua lengannya ke depan, langsung menyongsong jaring tebasan pedang itu dengan tangan kosong.
TRANG! TRANG! TRANG! KRAAAK!
Bukan tangan Lin Tian yang terpotong, melainkan keempat pedang tingkat spiritual milik musuhnya yang hancur berkeping-keping begitu berbenturan dengan lengannya!
Keempat murid itu terbelalak ngeri melihat senjata kebanggaan mereka hancur menjadi serpihan besi. Sebelum mereka sempat mundur, Lin Tian memutar tubuhnya dan melepaskan satu tendangan sapuan yang membelah udara.
BOOM!
Gelombang angin dari tendangan itu menghantam dada keempat murid tersebut secara bersamaan. Tulang rusuk mereka remuk total, dan tubuh mereka terlempar sejauh puluhan meter hingga menabrak dinding kawah, mati seketika sebelum menyentuh tanah.
Keheningan yang mencekam langsung menyergap. Hanya suara napas terengah-engah dari para murid yang tersisa.
Mata Xue Ren menyusut tajam. Menghancurkan senjata spiritual dengan tangan kosong? Fisik macam apa itu?!
"Kau menyembunyikan kultivasimu!" geram Xue Ren, akhirnya mencabut pedang raksasa di punggungnya. Bilah pedang itu merah menyala layaknya besi cair yang dicelupkan ke dalam lautan darah. "Tapi trik murahan tidak akan berguna di hadapanku!"
Xue Ren melesat maju. Tanah di bawah kakinya retak akibat daya dorongnya. Ia mengangkat pedang raksasanya tinggi-tinggi.
Teknik Rahasia Pedang Darah: Tebasan Pembelah Gunung Merah!
Seekor naga darah raksasa sepanjang dua belas meter terbentuk dari ujung pedang Xue Ren, mengaum dengan niat membunuh yang mengerikan. Tekanan dari teknik ini bahkan membuat udara di sekitarnya mendidih. Ini adalah kekuatan penuh dari seorang jenius Tahap 4!
Murid-murid Awan Azure menutup mata mereka, tidak sanggup melihat.
Lin Tian mendongak menatap naga darah yang menukik ke arahnya. Alih-alih menghindar, ia mengangkat tangan kanannya yang masih berlapis Tangan Besi Vajra Iblis. Kali ini, ia menyuntikkan seuntai Niat Pedang Kehancuran ke dalam telapak tangannya.
"Fondasi yang rapuh," gumam Lin Tian.
Ia mencengkeram udara di depannya.
Tangan emas kehitaman Lin Tian bertabrakan langsung dengan kepala naga darah raksasa itu.
Sebuah ledakan energi yang sangat memekakkan telinga terjadi, namun yang membuat semua orang nyaris gila adalah kenyataan bahwa naga darah itu terhenti! Tangan kanan Lin Tian yang terlihat kecil dibandingkan naga tersebut menahan seluruh serangan mematikan itu dengan mudah.
"Hancur," ucap Lin Tian pelan.
Kelima jarinya meremas.
BZZZAAAT!
Niat Pedang Kehancuran meledak dari telapak tangannya, menembus masuk dan merobek struktur naga darah itu dari dalam. Dalam sekejap, teknik pamungkas Xue Ren pecah menjadi ribuan pecahan cahaya merah yang tidak berbahaya, tersapu oleh angin kawah.
"M-mustahil..." Xue Ren gemetar hebat, pedang raksasanya berdenting jatuh ke tanah. Kebanggaannya sebagai jenius dihancurkan dalam satu detik. "S-siapa kau sebenarnya?!"
Lin Tian tidak menjawab. Ia menggunakan Langkah Badai Astral, muncul tepat di depan Xue Ren, dan melesakkan pukulan lurus yang menembus perut bagian bawah Xue Ren. Tangan berlapis emas kehitaman itu langsung menghancurkan dantian dan mencabut fondasi kultivasinya secara paksa.
Xue Ren memuntahkan darah segar, matanya kehilangan cahaya kehidupan sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.
Lin Tian menarik tangannya, mengibaskan sisa darah, dan memanggil sistem di dalam hatinya.
"Sistem, Ekstrak Massal."
[Ding!]
[Mendeteksi lima target tewas. Memulai Ekstraksi...]
[Berhasil memperoleh: 25 Tetes Qi Cair Murni.]
[Berhasil mengekstrak: Esensi Darah Haus Perang (Meningkatkan daya tahan saat Inang terluka).]
Sisa murid Sekte Pedang Darah yang masih hidup langsung menjatuhkan senjata mereka. Beberapa berlutut, sementara yang lain berbalik dan melarikan diri sekencang-kencangnya mendaki kawah, meninggalkan pemimpin mereka begitu saja. Lin Tian tidak repot-repot mengejar semut-semut itu.
Ia berjalan melewati murid-murid Awan Azure yang masih mematung, langsung menuju ke arah pelindung kubah emas yang mengelilingi istana perunggu.
"Sistem, analisis kelemahan formasi kuno ini," perintah Lin Tian.
[Memindai Formasi 'Susunan Pedang Cahaya Pembelah Jiwa'...]
[Analisis selesai. Formasi ini telah kehilangan 90% tenaganya akibat usia. Terdapat titik buta (Blind Node) yang bergerak setiap 3 detik. Saat ini berada di koordinat sudut kiri bawah gerbang perunggu.]
[Sistem akan menyinkronkan fluktuasi Qi Inang dengan frekuensi titik buta tersebut. Inang dapat berjalan masuk tanpa terdeteksi oleh sistem pertahanan.]
Tanpa ragu, Lin Tian melangkah lurus ke arah pelindung emas yang baru saja mencincang manusia hidup-hidup itu.
"Kakak Senior Lin, awas! Pelindung itu mematikan!" teriak salah satu murid Awan Azure, mencoba memperingatkan.
Namun, kejadian yang membuat rahang mereka kembali jatuh ke tanah terjadi. Saat Lin Tian menyentuh pelindung tersebut, kubah emas itu tidak bereaksi sedikit pun. Tubuh Lin Tian menembusnya dengan mulus layaknya berjalan melewati tirai air.
Berada di dalam area istana, Lin Tian menoleh sedikit ke arah luar.
"Jika kalian tidak ingin mati, carilah tempat bersembunyi. Area pusat ini bukan tempat untuk serangga yang mengais sisa makanan," ucap Lin Tian dingin sebelum berbalik dan mendorong gerbang perunggu istana yang berat.
Dengan suara decitan logam kuno yang panjang, gerbang itu terbuka, melepaskan aura kuno yang telah terkunci selama ribuan tahun. Lin Tian melangkah ke dalam kegelapan istana, siap untuk memanen warisan sesungguhnya dari Reruntuhan Kaisar.