Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KARMA ITU BERNAMA CURIGA
Tidak ada yang lebih menakutkan daripada seorang perempuan yang mulai curiga.
Karena saat perempuan masih percaya, ia akan memaafkan banyak hal.
Ia akan menerima alasan.
Ia akan menelan kebohongan.
Ia akan menghibur dirinya sendiri.
Namun ketika rasa curiga mulai tumbuh...
Semua hal kecil berubah menjadi petunjuk.
Semua kebohongan mulai terlihat.
Dan semua luka lama perlahan terbuka.
Pukul sebelas malam.
Rumah Bu Sri sudah sepi.
Raka tertidur pulas di kamar.
Shella dan Sherly juga sudah tidur setelah belajar untuk kegiatan sekolah esok hari.
Lampu ruang tamu hanya menyala satu.
Seline duduk sendirian di sofa.
Di tangannya ada ponsel.
Tatapannya tidak lepas dari layar.
Sudah hampir satu jam.
Namun ia tidak benar-benar membaca apa pun.
Pikirannya ada di tempat lain.
Pada foto yang dilihatnya beberapa hari lalu.
Foto Wisnu bersama perempuan asing di Korea.
Awalnya ia mencoba melupakan.
Mencoba percaya.
Mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu tidak berarti apa-apa.
Namun semakin dipikirkan.
Semakin banyak hal yang terasa janggal.
Kenapa Wisnu semakin jarang menelepon?
Kenapa uang kiriman terus berkurang?
Kenapa setiap video call selalu terburu-buru?
Kenapa tidak pernah lagi memperlihatkan tempat tinggalnya?
Kenapa sekarang lebih sering marah saat ditanya?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Seline.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk.
Dari Wisnu.
"Aku baru selesai kerja."
Biasanya pesan seperti itu akan membuatnya senang.
Namun malam ini berbeda.
Seline langsung menekan tombol panggil video.
Panggilan pertama ditolak.
Panggilan kedua juga.
Baru panggilan ketiga diangkat.
Wajah Wisnu muncul.
Namun hanya sebagian.
Seolah sengaja tidak memperlihatkan keadaan di sekitarnya.
"Ada apa?"
tanya Wisnu.
"Aku kangen."
jawab Seline.
Wisnu tidak tersenyum.
"Oh."
Hanya itu.
Dulu.
Saat masih menjadi selingkuhan.
Seline sering melihat bagaimana Wisnu berbicara kepada Nandin.
Dingin.
Singkat.
Tidak sabar.
Dan malam itu.
Untuk pertama kalinya.
Ia mendengar nada yang sama ditujukan kepadanya.
"Kamu lagi di mana?"
tanya Seline.
"Di kamar."
"Sendiri?"
Wisnu langsung mengernyit.
"Maksudnya?"
"Gak apa-apa."
Wisnu menghela napas.
"Aku capek."
"Nanti saja ya."
Lalu panggilan berakhir.
Begitu saja.
Tanpa kata sayang.
Tanpa basa-basi.
Tanpa kehangatan.
Seline menatap layar yang gelap.
Dadanya perlahan terasa dingin.
Karena jauh di dalam hati.
Ia mulai mengenali sesuatu.
Pola yang dulu pernah dilakukan Wisnu kepada Nandin.
Pola yang sama persis.
Dan sekarang.
Ia mulai berada di posisi yang pernah ditempati perempuan itu.
Sementara itu.
Di pondok rehabilitasi.
Seseorang sedang memegang foto dengan tangan gemetar.
Nandin.
Foto itu diberikan Bu Rini saat berkunjung.
Foto lama.
Foto Shella dan Sherly ketika masih kecil.
Air mata terus mengalir dari matanya.
"Aku ingat..."
bisiknya.
"Aku ingat mereka..."
Bu Rini langsung menggenggam tangannya.
"Nak..."
Nandin menatap foto itu lama sekali.
Sangat lama.
Seolah takut jika berkedip maka kenangan itu akan hilang lagi.
"Ini Shella."
katanya pelan.
Jarinya menunjuk salah satu anak.
"Lalu ini Sherly."
Bu Rini langsung menangis.
Karena selama bertahun-tahun.
Ia menunggu momen ini.
Momen ketika Nandin kembali menjadi seorang ibu.
Pak Kiai Abdul Manaf yang mendengar kabar itu segera datang.
Beliau duduk di samping Nandin.
"Masih ingat?"
tanyanya lembut.
Nandin mengangguk.
Meski tidak semua.
Meski masih samar.
Namun kini nama itu tidak lagi hilang.
Shella.
Sherly.
Dua nama yang selama ini terkubur dalam luka.
Pak Kiai terdiam cukup lama.
Lalu berkata,
"Nduk."
Nandin menoleh.
"Kamu ingin bertemu anak-anakmu?"
Tangis Nandin langsung pecah.
Seolah seluruh pertahanan yang tersisa runtuh saat itu juga.
"Aku mau..."
suaranya bergetar.
"Aku mau sekali..."
Malam itu.
Pak Kiai memanggil Bu Rini ke ruang tamu pondok.
Suasana tenang.
Hanya ada suara jangkrik dari luar.
"Bu Rini."
"Iya Kiai."
"Saya rasa waktunya sudah dekat."
"Maksud Kiai?"
Pak Kiai menatap ke arah halaman.
"Nandin harus bertemu anak-anaknya."
Bu Rini langsung mengangguk.
Karena itu juga yang selama ini ia inginkan.
Namun masalahnya satu.
Keluarga Wisnu.
"Saya sudah mencoba."
kata Bu Rini.
"Tapi Bu Sri selalu menolak."
Pak Kiai tersenyum tipis.
"Kalau satu pintu tertutup."
"Kita cari pintu lain."
Di rumah Bu Sri.
Pintu lain itu ternyata sudah mulai terbuka tanpa disadari siapa pun.
Namanya Shella.
Semakin besar.
Semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam kepala anak itu.
Terutama setelah ia mendengar percakapan Bu Rini beberapa waktu lalu.
Ia kini yakin.
Ibunya masih hidup.
Dan itu mengubah segalanya.
Suatu sore.
Saat membantu menjaga toko.
Shella melihat album foto lama di lemari.
Rasa penasaran membuatnya membukanya.
Lembar demi lembar.
Sampai akhirnya ia menemukan foto seorang perempuan.
Cantik.
Tersenyum.
Sedang menggendong dirinya dan Sherly yang masih bayi.
"Mama..."
bisiknya.
Saat itu Seline datang.
Dan langsung membeku melihat foto tersebut.
Untuk sesaat.
Mereka berdua hanya diam.
Shella menatap foto.
Seline menatap Shella.
"Tante."
kata Shella pelan.
"Iya?"
"Ini Mama ya?"
Seline tidak bisa menjawab.
Karena untuk pertama kalinya.
Ia melihat kerinduan yang sangat besar di mata anak itu.
"Kenapa Mama gak pulang?"
Pertanyaan sederhana.
Namun membuat dada Seline sesak.
Karena sebenarnya.
Ia tahu jawabannya.
Ia tahu semua yang terjadi.
Ia tahu siapa yang menjadi penyebabnya.
Dan ia juga tahu.
Bahwa dirinya termasuk bagian dari penyebab itu.
Malam itu.
Seline tidak bisa tidur.
Ia terus memikirkan Shella.
Memikirkan Nandin.
Memikirkan Wisnu.
Dan untuk pertama kalinya.
Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah semua yang ia dapatkan benar-benar sepadan?
Keesokan harinya.
Kecurigaan terhadap Wisnu semakin besar.
Seline mulai mencari tahu.
Diam-diam.
Pelan-pelan.
Ia membuka akun media sosial Wisnu.
Melihat daftar teman.
Melihat foto-foto.
Melihat komentar.
Dan di sanalah ia menemukan sesuatu.
Sebuah akun perempuan Korea yang sangat sering muncul.
Terlalu sering.
Komentarnya akrab.
Terlalu akrab.
Seline membuka profil perempuan itu.
Jantungnya langsung berdebar.
Karena hampir semua foto terbaru perempuan itu memiliki satu kesamaan.
Ada Wisnu di sana.
Kadang di belakang.
Kadang di samping.
Kadang hanya bayangan.
Tetapi cukup jelas untuk dikenali.
Malam itu.
Seline tidak menangis.
Tidak marah.
Tidak berteriak.
Ia hanya duduk diam.
Persis seperti yang dulu dilakukan Nandin ketika mulai mengetahui perselingkuhan Wisnu.
Dan tanpa sadar.
Lingkaran itu mulai berputar.
Karma mulai berjalan.
Pelan.
Tenang.
Tanpa suara.
Namun pasti.
Sementara itu.
Di pondok rehabilitasi.
Nandin memeluk foto Shella dan Sherly sebelum tidur.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun.
Ia memiliki alasan untuk sembuh.
Karena sekarang ia tidak lagi berjuang untuk dirinya sendiri.
Ia berjuang untuk pulang.
Dan seorang ibu yang sedang berjuang untuk anak-anaknya sering kali jauh lebih kuat daripada siapa pun.
semangat pejuang rupiah..
semangat pejuang garis dua..
dan semangat untuk menulisnya, kak..
🥰🥰🥰
aku mampir lagi..
cerita yg bikin aku sadar, jgn trlalu percaya ke siapapun meski itu suami sndiri..
🥲🥲🥲