Di saat orang tua terlalu campur tangan dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya, maka kehancuran menunggu di ujung jalan.
______
Tidak ada pelakor di sini. Fokus cerita hanya tentang konflik sederhana yang sangat berpengaruh dalam keharmonisan sebuah rumah tangga.
Selamat membaca🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GDB 9
Hari berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah sepekan aku di Ponorogo. Tadi malam, Mas Labiq memberi kabar bahwa ia belum bisa menjemputku minggu ini. Berhubung ada giat yang tidak bisa ditinggalkan sama sekali, jadi kepulanganku harus ditunda minggu depan.
Namun, ketika aku sedang menyirami tanaman di halaman depan, tiba-tiba ada sebuah taksi umum yang berhenti tepat di depan gerbang. Aku tak langsung membuka pagar besinya yang hanya berukuran sepinggang orang dewasa. Melainkan, masih bergeming--ingin memastikan dulu siapa yang datang.
Setelah pintu mobil belakang terbuka, munculnya sesosok pria tampan dengan setelan kaos lengan panjang yang dipadukan dengan celana jeans berwarna biru. Mengenakan sepatu kets berwarna putih dan menenteng sebuah ransel berbentuk koper di tangannya.
Aku membekap mulut tak percaya. Senyuman bahagia pun turut mengembang. Kulepaskan selang air yang tadinya berada dalam genggaman, lalu melangkah setengah berlari untuk membuka gerbang.
"Sayang!" pekikku setelah ia berdiri tepat di hadapan.
"Kejutan!" balasnya tak kalah memekiknya sambil merentangkan kedua tangan, setelah meletakkan ranselnya di atas paping blok.
Sangking bahagianya, aku langsung membenturkan tubuh padanya dan memeluk suamiku dengan erat.
"Aku kangen banget sama kamu," ucapku dengan nada manja dan bibir mengerucut.
Ia masih asik menggoyang-goyangkan tubuhku ke kiri dan ke kanan seraya menopangkan dagunya di pucuk kepala.
"Aku lebih kangen lagi, sayangnya gak punya sayap buat terbang." Ia mulai bersuara.
"Katanya belum bisa ke sini," gumamku.
"Namanya juga mau ngasi kejutan, Sayang." Ia mengecup puncak kepalaku.
Aku meregangkan pelukan, hendak menenteng ransel kopernya. Namun, ia lekas menepis pelan tanganku, dan membawa benda itu sendiri.
Kami masih saling rangkul ketika memasuki rumah. Febri yang hendak pergi ke kampus, lantas menjerit seenak perutnya seperti sedang memimpin aksi demo di depan kantor DPRD, setelah menyadari kehadiran kakak iparnya.
"Bu, mantumu teko ki (Bu, menantumu datang)."
"Opo? (Apa)?" respon ibu tak kalah menggelegarnya. "Ya Allah Gusti, bojone April teko, Pak (Ya Allah, suaminya April sudah datang, Pak)." Kali ini ibu yang berteriak.
"Apaan sih, Dek. Pake teriak-teriak segala. Ibu jadi latah, 'kan?" Aku protes.
"Biar viral, Mbak." Febri terkekeh geli. Geli sendiri dengan tingkahnya pasti.
Setelah bersalaman dan saling bertanya kabar dengan Mas Labiq, Febri pun pamit.
Aku langsung mengajak suamiku masuk untuk menemui bapak dan ibu yang sudah berdiri di ruang tamu--siap meyambut kedatangan sang menantu.
"Sayang, ini handuknya, ya." Aku meletakkan handuk baru di atas tempat tidur, lalu melangkah ke arah berlawanan. "Sikat giginya udah aku ganti yang baru juga." Masih terus berceloteh seraya memasukkan beberapa lembar pakaian suamiku ke dalam lemari.
Mas Labiq yang tadinya duduk di atas sofa sembari memainkan ponsel, tahu-tahu sudah berdiri di belakangku.
"Ya, ampun ... Sayang!" Aku tersentak bukan main, karena kedua lengannya sudah melingkari pinggang.
"Aku kangen," bisiknya lirih. Aku menggeliat.
Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang keras menyentuh bokongku. Semakin aku berontak, Mas Labiq semakin mengetatkan pelukan. Ia mulai mengendus tengkukku. Bergerak perlahan di sekitarnya dengan mendaratkan kecupan-kecupan kecil.
"Sayang ... ini masih sore loh," ucapku seperti orang yang sedang menggigil. Jelas saja, tubuhku bereaksi dan seketika merasa geli karena ulahnya.
"Memangnya ada larangan untuk bercocok tanam di sore hari?" Ia terus memperluas daerah kekuasaan.
Aku terkekeh kecil. Bahasa kiasannya lumayan menggelitik perut.
Setelah beberapa kali memberikan pengertian, akhirnya aku hanya bisa pasrah. Menolak panggilan alam sang suami sama saja dengan membuang-buang tenaga. Sekeras apa pun aku melontarkan berbagai alasan, sebanyak itu pula ia memberikan sanggahan. Rayuan Mas Labiq dalam hal ini patut diacungi empat jempol karena sangking mautnya.
Selembar baju yang sudah terlipat rapi dan siap dimasukkan ke dalam lemari pun harus terkulai lemah di lantai, karena tubuhku bereaksi lebih gila dari sebelumnya. Sentuhan demi sentuhan kecil yang suamiku berikan membuatku menginginkan lebih. Akhirnya pergulatan panas kami pun berakhir di kamar mandi.
"Mas, malam ini ada festival reog loh, di alun-alun kota. Nonton, yuk!" celoteh Febri.
Kami baru saja selesai makan malam bersama. Makan malam yang sangat nikmat dengan menu sederhana, tetapi cukup menghangatkan jiwa.
"Wah, seru itu, Dek." Suamiku merespon secepat kilat.
Sekilas untuk menambah wawasan.
Reog merupakan salah satu seni budaya dari Jawa Timur bagian barat-laut, dan Ponorogo dianggap sebagai kota asalnya. Tarian ini menampilkan sosok topeng macan berhias bulu merak dan berukuran besar. Nah, pertunjukan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturrahmi antar masyarakat di kota Ponorogo. Maka tidak heran, tarian reog sering dipertontonkan dalam berbagai acara-acara resmi mau pun non resmi.
Contohnya seperti malam ini. Ada pergelaran seni besar-besaran di alun-alun kota dalam rangka memperingati hari jadi kota Ponorogo untuk yang ke sekian tahun. Biasanya ada bazar dan ekspo-nya juga. Febri lebih tahu tentang semua ini. Sementara aku ... aku jarang sekali menghadiri acara-acara seperti itu. Ditanya kenapa? Kalian pasti sudah tahu jawabannya. Namun, malam ini aku harus ikut, karena suamiku sangat menyukai hal tersebut.
Dari sebelum mengenalku, katanya Mas Labiq memang sudah menyukai tarian reog. Walaupun ia tinggal di Malang, tetap saja masih menyempatkan diri bertandang kemari hanya untuk menyaksikan pertunjukan tarian reog secara langsung.
"Jam berapa acaranya, Feb?" tanya ibu.
"Jam setengah delapan, Bu. Bentar lagi." Febri langsung melihat penunjuk waktu yang melingkar posesif di pergelangan tangannya.
"Bukannya Bapak ada rapat dengan pengurus desa, ya?" Ibu lantas menoleh ke arah bapak. Ya, bapakku adalah kepala desa di sini.
Aku paham maksud ibu, tidak mungkin kami menggunakan mobil bapak, sementara beliau juga akan pergi ke kantor desa. Apalagi, di luar sudah mulai gerimis, tidak mungkin bapak menaiki motor malam-malam dalam cuaca yang tidak bersahabat.
"Bapak bisa minta jemput Pak Pairan, Bu." Lelaki baya itu menatap sang istri. "Kalian berangkat saja pake mobil," ucapnya pada kami bertiga.
Febri langsung bersorak setelah mendengar tanggapan dari bapak.
kembalikan dulu Labiq
Emang nenek-nenek cuma satu di dunia??
Rasanya gue paham
pantes aja sering ditindas
Otak anak juga butuh nutrisi, Mak. Apa perlu Penulis Keparat yang jadi pengamat gizi biar ibu mertua bisa mingkem
jagoannya dataaaaang 🤣
benar-benar meragukan pembaca 🤣