Mencintai adalah hal yang harus dilakukan oleh semua insan di muka bumi ini. Namun tak semua orang boleh dicintai, tapi boleh disayangi. Salah satu contoh kisah seorang pemuda dan pemudi yang dipisahkan jauh oleh takdir karena sebuah kecelakaan yang tidak diinginkan. Namun ketika mereka sudah dewasa, takdir mempertemukan mereka kembali. Pertemuan ini adalah pertemuan yang tidak diinginkan oleh orang mana pun. Namun bukan Aqila namanya jika ia tidak hidup bersama kakaknya yang sudah ia rindu selama hidupnya. Ia pun memilih untuk menyusul sang kakak demi kebahagiaan hidupnya yang sudah pudar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenth
Bsstt.
Mau ngasi liat aja penampakan kakak beradik yang belom tersatukan😆.
Mungkin pas ini di up author enggak tau bakal nyeritain kedua orang ini sedang dimana dan sedang apa. Tapi sepertinya tidak karena semua alur yang kalian tebak salah!
Menurut kalian gimana?
Mau lagi?
Sudah! Nanti kalian yang suka kakaknya Aqila!
Selamat membaca!
***
Dimas terkejut.
Aqila meraba kepalanya yang terasa sakit. Tersentuhnya cairan kental agak lengket membuat nya ingin melihat apa benda itu.
Tangannya penuh dengan darah! Bahkan darahnya terus mengalir ke tembok dan seluruh badan nya!
Dimas yang sangat panik buru-buru membawa Aqila pergi ke luar.
***
"Loh, kayaknya member Nayla kurang satu nih," ucap Swita.
"Iya mam. Aqila enggak bisa ikut," jawab Nayla.
"Kenapa?" tanya Swita kembali.
"Katanya kasian abangnya udah khawatir, gitu," jawab Gisell.
"Oh. Tapi di geng Alfid bukan membernya yang enggak ada tapi ketuanya. Mana Alfid?" tanya Pharsa.
"Duh om kita juga bingung kemana dia. Kita juga disambut sama Nayla," jawab Kelvin.
"Ke rumah Aqila kali om," jawab Angga sembarang.
"Ngapain?" jawab semua kompak.
"Eh, ngasal doang gue," ucap yang sibuk mengemil.
***
"Ngapain lo di sini!" teriak Dimas sambil memangku Aqila.
"Apa yang lo lakuin sama dia?" bentak Alfid.
"Bukan urusan lo! Minggir!" Dimas mendorong Alfid sehingga dia terjatuh.
"Woy!"
Alfid mengejar Dimas yang terus menggendong Aqila.
Terus dia kejar sampai pada rel kereta yang ada di dekat perkampungannya.
Terlihat kereta api yang jaraknya sekitar 2 kilo meter sedang menuju kearah mereka.
Dengan sengaja Dimas menyimpan Aqila di atas rel dan membuat Alfid yang jaraknya lumayan jauh dengan Dimas benar benar khawatir dan terdiam.
"Ucapin kata kata terakhir lo buat Qila!" teriak Dimas.
Dimas langsung pergi lari menjauh dari rel kereta.
Tutt tutt.
Alfid benar benar tekejut dengan suara kereta api yang mulai mendekat.
Dia melihat tubuh Aqila yang tertidur pulas di atas rel kereta api.
"Aqila!"
Alfid langsung berlari ke rel dan berusaha menyelamatkan Aqila.
Jarak dari Alfid ke rel lumayan sangat jauh.
Ia berbalap-balapan dengan kecepatan kereta yang tak busa di kendalikan.
Tutt tutt
Kereta semakin dekat membuat Alfid manambahkan kelajuan lari nya.
"Aqila!"
Teriak Nadiva yang terbangun dari tidurnya.
"Kenapa sayang?" tanya Wisnu.
"Mas, aku mimpi buruk soal Aqila! Kita pulang ya mas!" pinta Nadiva.
"Nadiva! Tiket dari sini ke Indonesia itu tidak murah! Tahu gitu ngapain kamu ikut aku!" bentak Wisnu.
"Mas, kamu ngertiin perasaan aku dong!" pinta kembali Nadiva.
"Ah! Masa kamu enggak percaya sama Dimas! Dia kan abang yang baik buat Qila, ngapain kamu khawatir!" tegas Wisnu lalu kembali tidur.
Ya Allah lindungi lah selalu anak ku batin Nadiva.
Alfid menciup pucuk kepala Aqila sambil memeluknya diatas rumput dan batu.
"Kamu selamat sayang," rintih Alfid.
Ia pun segera bangkit dan menggendong Aqila perlahan.
Ia menahan sakit yang amat drastis.
"Kamu selamat Qila!"
Alfid terus benjalan menggendong Aqila dipunggung nya walau merasa sangat sakit.
Flasback on
Alfid langsung loncat dan memangku Aqila. Belom menghindar dengan keseluruhan, bahu kiri Alfid tertabrak kereta dan membuatnya terpental agak jauh.
Alfid terus memeluk Aqila sampai akhirnya mereka mendarat di bebatuan yang amat besar.
Flasback off
Alfid mengendarain mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
ponselnya terus berdering, namun ia tak bisa fokus pada dua hal sekaligus.
"Tahan Qila, gue bakal bantu lo!" teriak Alfid sambil menangis.
***
"Alfid mana sih, lama banget urusan ibu negaranya," ketus Noval.
"Emang Kak Alfid ke Aqila?" tanya Zahra.
"Ya kali aja gitu," ucap Noval kembali.
"Iya ih udah malam gini mana si dia, telpon enggak diangkat" sambung Nayla yang semakin khawatir.
Dritt drrit
Ponsel Vaisal berbunyi.
Vaisal tak memberi tau yang lain siapa yang menelponnya.
Dia mengangkatnya dan diam tak bersuara juga tak berekspresi.
Vaisal mengangguk melihat keadaan di sekitar.
"Gue pamit duluan ya, nyokap gue udah nunggu, soalnya lagi enggak ada siapa-siapa di rumah," ucap Vaisal.
"Yaudah hati-hati ya Vaisal," balas Swita.
Vaisal mengangguk lalu menghampiri Swita dan Pharsa untuk bersalaman.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab semua serempak.
Vaisal pun keluar rumah dan memasuki mobilnya.
Tanpa berfikir panjang dia menancap gas secepat kilat.
***
"Keadaan Aqila sangat kritis. Darah yang dia butuh kan adalah A+, apa anda memilikinya?" tanya sang dokter.
"A+? sepertinya keluarga saya mempunyainya," jawab Alfid.
"Tolong segera dibawa pendonornya, karena kita tidak punya waktu lagi!" seru sang dokter. Alfid pun mengangguk dan langsung berbalik badan.
Dilihatnya sang sahabat baru saja berlari menghampirinya dengan wajah cemas.
"Lo enggak papa?" tanya Vaisal.
"Gue butuh ayah gue," jawab Alfid.
"Buat apa?" tanya Vaisal kembali.
"Aqila darahnya sama kaya bokap gue" jawab Alfid.
"Apa darahnya?" Vaisal mendekati Alfid.
"A+"
btw mampir yuk ke novelku yang berjudul Athariz, kalau suka vote ya, btuh kritik dan saran juga,makasih hehe:)