Cinta Kania untuk Danang tetap terjaga meskipun berbagai skenario kehidupan yang menghampiri dirinya.
Ujian Cinta yang menggoda hatinya untuk memilih pria lain dapat ditepis oleh Kania, meskipun berat.
Deni kakak Danang juga hampir menikahi Kania setelah ia melihat betapa sikap empati Kania yang tulus, ketika dirinya dirawat di pondok pesantren Daaru Huda akibat kecanduan narkoba setelah keluar dari penjara.
Pernikahan yang dipaksakan oleh bu Marwan, membuat hati Kania hancur karena permintaan itu langsung diajukan kepada kedua orang tuanya.
Alzhaimer yang dialami Kania dalam suatu tragedi kecelakaan menyelamatkan pernikahan yang dipaksakan itu.
Irfan seorang dokter syaraf sudah mengenal Kania ketika cuti kuliah dari Amerika, ia juga ingin mempersunting Kania.
Kania tetap mengharapkan Danang sebagai pendamping hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herawati Kamal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Air Kehidupan
Tak bisa dibayangkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh Pak Marwan dan istrinya. Kejadian yang tidak menyenangkan itu datang bertubi-tubi.
Itulah kehidupan tidak selamanya senang dan tidak selamanya sedih. Senang dan sedih datang silih berganti seperti siang dan malang.
Kania hadir menghibur pasangan suami istri ini, dengan kata2nya yang menyejukkan namun tidak bermaksud menggurui.
" Bu Marwan, saya yakin ini karena Allah sayang kepada ibu dan bapak,"
sambil mengarahkan ibu jarinya ke arah Pak Marwan dan istrinya.
" Benarkah Kania, Allah sayang pada kami berdua? "
"Benar bu, karena Allah sayang kepada bapak dan ibu."
"Kenapa begitu Kania, mengapa kalau sayang diberi cobaan begini?"
Kania kembali mengusap punggung istri pak Marwan. Kania pun menjawab dengan berbisik.
"Karena ibu dan bapak masih ditegur oleh Allah, itu tandanya Allah peduli dengan bapak dan ibu."
Danang melihat Kania penuh keheranan, mengapa semudah itu bisa dekat dengan kedua orang tuanya. Padahal sudah banyak yang tahu bahwa kedua orang tuanya adalah orang yang keras.
Hari kedua dari kejadian tersebut adalah hari dimana Pak Marwan harus memberi upah kepada buruh2nya. Padahal keuangan Perusahaan bisnis ini sedang morat marit.
Setelah berunding akhirnya mereka sepakat akan menggadaikan rumah yang mewah itu agar dapat bertahan dalam bisnis ini.
..........................
Ternyata istri pak Marwan belum bisa membaca Alquran, ia tertarik untuk mempelajari Alquran. Ia sangat senang jika Kania yang membimbing dan mengajarinya.
Jadilah setiap hari setelah maghrib Kania menyempatkan diri pergi ke rumah Pak Marwan.
Bertambah beban hati Kania antara menolak dan mengiyakan tapi atas saran dari abahnya Kania setuju juga.
Hal yang paling dihindarinya adalah bertemu dengan Danang. Kania khawatir perasaan sukanya berlebihan dan menimbulkan fitnah yang sangat tidak diinginkannya.
Kania pasti tidak akan setuju membimbing istri pak Marwan, jika ia tahu Danang juga menyukai dirinya.
Hari pertama membimbing istri Pak Marwan hati Kania tidak karuan, karena untuk datang ke rumah yang mewah itu ia harus melewati halaman yang luas.
Ngeri melewati halaman rumah Pak Marwan.
Tiba-tiba ada orang yang memanggilnya.
"Kania.. Kania..."
Kania menoleh ke arah suara, ternyata istri pak Marwan sudah menunggu di depan garasi mobil.
"Lewat sini,"
katanya sambil melambai.
Kania dibawa oleh istri pak Marwan ke kamarnya,
"ayo masuk, ngajinya di kamar ibu aja ya...."
Lalu Kania masuk, alangkah terkejutnya Kania ternyata di dalam kamar itu sudah ada seseorang yang tengah berbaring dan berselimut.
"Jangan kaget ya... Deni sengaja ibu suruh tidur di sini biar gampang merawatnya, dia baru selesai dioperasi.
"Iy...iya bu tidak apa."
Sejak malam itu dan malam-malam selanjutnya istri pak Marwan belajar mengaji kepada Kania selepas maghrib di tempat yang sama.
Suatu malam ketika selesai belajar mengaji, istri pak Marwan pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Tiba-tiba Kania dikejutkan dengan suara yang memanggil,
" bu... bu..!"
Ternyata Deni memanggil ibunya.
Kania pun bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Deni. Sambil berkata,
"sebentar Kak, ibunya sedang ke belakan."
Deni pun kaget mengapa suaranya berbeda dengan suara ibunya. Ia pun memicingkan matanya, ternyata ada seorang gadis dalam kamar ibunya itu.
Deni kaget dan terperanjat sambil berkata,
"siapa kamu, mengapa ada dalam kamar ini? "
"Saya Kania... ibu yang menyuruh membimbing baca Quran di kamar ini."
Raut muka Deni seperti orang yang marah tapi tak berdaya untuk berkata-kata yang lebih dari bertanya seperti itu karena kepalanya masih pusing.
Maaf yaa thor, baru mampir lagi