Brianna, gadis berumur 20 tahun. Yang selalu menghabiskan harinya hanya untuk bersenang-senang. Tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi dan hanya menjadi benalu di rumah. Anak tunggal yang pasti akan mewarisi semua harta kekayaan orang tuanya.
Henry, pria dewasa berumur 35 tahun yang belum menginginkan untuk menikah selepas kehilangan tunangannya 10 tahun silam. Olivia yang merupakan tunangannya dinyatakan hilang dan jejaknya tak dapat dicari hingga detik ini.
Abraham yang merupakan ayah dari Brianna menjodohkan putrinya dengan putra dari sahabat lamanya. Berharap setelah menikah Brianna akan berubah menjadi seseorang yang lebih menghargai hidup dan masa depannya.
Saat Brianna bertemu dengan sosok Henry, mereka berdua sama-sama terkejut. Karna mereka sebelumnya pernah bertemu dalam sebuah tragedi tak terduga.
Bagaimana kisah rumah tangga Anna si gadis nakal dan Henry si pria dewasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutrieRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 RENCANA BULAN MADU
Dari kejauhan Dave memperhatikan. Saat keadaan mulai kondusif, ia pun menghampiri tuannya.
"Kita pulang sekarang, Tuan?" tanya Dave.
Henry mengangguk, ia duduk di sebelah istrinya. Anna memalingkan wajahnya karena merasa kesal.
"Kita pulang ke rumah."
"Baik, Tuan," jawab Dave.
"Ke rumah Anna," kata Henry lagi. Anna langsung menolehkan kepalanya. Ia mengernyitkan dahinya heran.
"Kenapa ke rumahku?" tanyanya bingung.
"Agar orang tuamu tahu bahwa kau masih saja ingin pergi ke club."
"Hey kenapa seperti itu! Kau ingin mengadukan aku ke orang tuaku? Kenapa seperti ini? Bukankah kita sudah saling berjanji?" Anna bersungut-sungut. Ia benar-benar tidak percaya akan ucapan suaminya barusan. Itu sama saja mengancamnya.
"Iya perjanjian. Tapi bukan kebebasan seperti ini yang aku maksud. Kamu boleh bersenang-senang di luar sana tapi dengan hal-hal yang baik," tuturnya.
"Apa ada yang salah? Aku masih muda. Anak muda di luar sana juga sama sepertiku," jawabnya tak mau kalah.
"Mereka belum menikah. Dan kau sudah! Setidaknya kau harus menjaga nama baik suamimu!" Tak sadar Henry berbicara terlalu keras, ia bahkan meninggikan suaranya.
Anna menciut, ia takut melihat raut wajah suaminya yang sedang marah.
Dave yang sedang menyetir sampai terjingkat kaget. Kupingnya merasa berisik mendengar perdebatan keduanya.
Kini Anna terdiam, cairan bening sudah menggenang di kedua matanya. Tapi Anna tahan sebisa mungkin agar tidak jatuh di pipinya.
Henry masih diselimuti perasaan emosi. Tak mau emosinya semakin menjadi, ia memalingkan wajahnya ke arah jalanan. Ia berusaha menurunkan emosinya sendiri.
"Tuan, lalu kita ini kemana? Ke kantor apa pulang ke rumah?" Dave pun kebingungan, mereka akan kemana.
"Pulang ke rumah!" jawabnya.
"Ke rumah Tuan?" tanya Dave kembali.
Henry tak menjawab, ia malas mengeluarkan suaranya. Dave yang kebingungan akhirnya memutuskan sendiri bahwa mereka akan pulang ke rumah Henry.
Mobil telah masuk ke halaman rumah. Henry keluar dari mobil dan berjalan lebih dulu. Sedangkan Anna masih menetap di dalam mobil begitu pun Dave.
"Nona tidak keluar?" Di sini Anna baru bisa meneteskan air matanya. Ia tidak tahan sedari tadi berusaha menahan air matanya yang memaksa keluar.
"Nona, Anda menangis?" Dave kebingungan melihat Anna yang menangis. Kemudian ia mengetikkan pesan untuk dikirimkan ke Henry.
Anna dengan cepat menghapus air matanya. Ia tak mau lama-lama bersedih. Tapi saat ia ingin turun dari mobil, ia pun menyadari sesuatu.
"Hmm Dave, bisakah kamu menunjukan dimana kamar kak Henry?" Anna belum tahu dimana letak kamar suaminya. Ia pun meminta bantuan Dave. Karna suaminya sudah lebih dulu jalan.
Dave pun mengangguk, ia pun menemani nonanya menuju kamar Henry.
"Ini, Nona. Sepertinya tuan sudah ada di dalam." Anna berterima kasih, ia pun membuka pintu kamar. Terlihat Henry sedang duduk di sebuah sofa kecil. Ia melirik saat istrinya masuk ke dalam kamarnya. Tak saling tegur, saat Anna berjalan melintasinya. Anna pun seperti tak menyadari keberadaannya. Ia memilih berbaring dan mencoba terlelap di atas ranjang.
Henry menatap istrinya yang tidur membelakanginya. Ada perasaan bersalah saat di dalam mobil ia berbicara keras pada gadis kecil itu. Apalagi membaca pesan yang baru saja dikirimkan Dave.
Baru hari pertama menikah, sudah banyak permasalahan yang terjadi pada mereka. Henry menatap dirinya di cermin. Di usianya yang sudah 35 tahun, wajahnya perlu diakui masih tampan. Tapi ia baru tersadar bahwa ia belum memiliki apa-apa di usianya yang sudah memasuki kepala 3. Perusahaan juga masih milik ayahnya. Dia belum memiliki apa pun.
.
.
.
Siang berganti malam. Malam kedua bagi pasangan pengantin baru itu. Anna baru saja selesai mandi, ia memilih memakai piyama panjang. Ia duduk di meja rias sekedar untuk menyisir rambutnya dan memakai pelembab.
"Ayo keluar, kita makan malam bersama," ajaknya.
Anna sedari siang masih diam. Lebih tepatnya mendiamkannya. Berkali-kali Henry mencoba mengalah untuk mengajaknya berbicara lebih dulu, tapi Anna tak mau merespon.
"Cieee pengantin baru. Keluarnya lama banget sih." Jason menggoda kakaknya, ia memang suka jahil.
Naomi si gadis mungil ikut tertawa kecil. Membuat siapa pun gemas melihatnya.
"Naomi sayang, kenapa kamu tertawa?" tanya Jane pada cucunya.
"Tidak apa-apa, Nek," jawabnya malu-malu.
Mereka yang ada di meja makan pun tertawa.
"Henry, apa kamu tidak ada rencana untuk bulan madu?" tanya Jane.
Henry berdehem, ia kesulitan untuk menjawab. Ia melirik istrinya yang sedang menyantap makanan. "Belum ada rencana, Bu. Henry masih sibuk."
"Untuk apa ada asisten dan sekretaris kalau mereka tak bisa diandalkan. Luangkan waktu 3 hari atau seminggu untuk berbulan madu. Naomi juga butuh teman."
Uhuk.
Uhuk.
Untuk kali ini Anna benar-benar terkejut. Tidak menduga ibu mertuanya akan berbicara seperti itu. Itu artinya ia harus memberikan seorang cucu? Ia menatap suaminya yang tampak tenang.
"Anna, kau tidak apa-apa sayang?" Jane mengambilkan minum untuk menantunya. Henry juga berusaha membantu.
"Tidak apa-apa, Bu."
"Maafkan Ibu, kalau perkataan Ibu mengagetkan mu. Bukan berarti Ibu meminta cepat-cepat diberikan cucu. Semuanya mengalir saja, tapi Ibu ingin kalian berbulan madu. Nanti Ayah dan Ibu yang akan memilihkan tempatnya, semuanya Ibu yang urus."
"Tidak usah, Bu. Nanti Henry cari sendiri," tolaknya.
"Tidak mau, kau harus menurut dengan Ibu!" Jane bersikukuh ingin ia mencarikan tempatnya. Tak mau adanya penolakan.
Suasana makan malam kali ini cukup ramai. Banyak yang dibahas di meja makan ini. Tak terkecuali soal rencana pernikahan Zion dan Bella.
Anna berjalan duluan ke kamarnya. Ia ingin segera beristirahat. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari ibunya-Shopia.
"Hallo, Bu."
Suara putri satu-satunya seakan menentramkan hatinya. Padahal baru sehari tidak bertemu. Shopia sudah merasakan rindu.
"Anna, apa kau sudah makan, Nak?" tanya Shopia lembut.
"Sudah, Bu. Apa Ayah dan Ibu sudah makan juga?" tanyanya balik.
"Sudah. Anna, Ibu hanya mau bilang, kau ini sudah menjadi seorang istri. Ingat kata-kata Ibu ya, kau harus menurut pada suamimu. Ingat ya, Anna. Hilangkan kebiasaan buruk kamu, juga kurangi pergi bersama teman-temanmu."
"Kenapa Ibu tiba-tiba berbicara seperti ini? Apa dia mengadukan aku pada Ibu?"
"Hmm iya, Bu. Anna akan selalu ingat pesan Ibu."
Sesaat panggilannya terputus, Henry masuk ke dalam.
"Jadi yang seperti anak kecil itu siapa? Aku atau kamu?" Anna tiba-tiba berteriak keras pada suaminya.
Henry berjalan mendekat, ia tak mengerti apa maksud istrinya.
"Maksudmu apa?" tanyanya dengan wajah heran.
"Kau mengadukan aku pada ibu, kan? Tentang di restoran tadi? Kau ini memang tukang ngadu!" Anna bertolak pinggang, benar-benar kesal dengan sikap suaminya.
"Mengadu apa? Kau ini jangan bicara omong kosong!" Henry menoyor kepalanya, selalu seperti itu jika merasa gemas dengan istri kecilnya.
Congrats Henry!!!
buang Olivia kelaoot 😂😂😂