Hidup tak akan berpihak pada mereka yang lemah dan kalimat itu membuat Kenzo Orlando menjalani hidup dengan topeng kemunafikan. Kelamnya masa lalu membuat Kenzo semakin bersikap kejam.
Sampai suatu saat kekejaman itu menyeretnya kembali dalam arus kubangan air mata, kehilangan serta permainan takdir mewarnai kehidupan Kenzo.
Kisah ini tak sesimpel yang tertulis di sini
maka persiapkan hatimu untuk menjadi saksi perjalanan hidup Kenzo Orlando mengapai bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Air’a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 10
Pov Keyra
Aku menegang seketika, perasaan ku hancur lebur. Saat terlihat jelas bahwasanya, tatapan itu hanya tertuju padaku. Apakah sekarang dia mengataiku j*lang?. Maksudku, haruskan sejelas itu dia menyadarkan status ku?
Aku merasa seolah-olah saat ini ribuan jarum menghujam hatiku. Sakit! ini teramat sangat sakit. Benar jika cinta di padukan dengan luka. Kau seperti menabur air jeruk pada luka yang menganga lebar .
Aku salah, Aku benar-benar salah saat menggap seorang Kenzo menganggapku sebagai temanya, Ternyata sikap baiknya hanyalah bualan belaka. Karena dia tetap menganggap ku seorang j*lang. Oke, dia benar! dan semua ini memang salahku, karena statusku yang sesungguhnya memang seperti apa yang ia katakan, seorang J*lang. Tapi apa dia tidak bisa bersikap bijaksana?, atas sikapanya itu membuat hampir semua wanita mencemooh dan menertawaiku.
"Liat, pak kenzo saja tahu kau itu wanita seperti apa!" suara seorang wanita yang tak kenali, karena fokusku hanya melihat kaki jenjang itu pergi meninggalkanku.
Dan semuanya berlalu meninggalkanku yang masih terduduk di lantai. Aku memaksakan kakiku berlari ke arah toilet melepaskan semua tangis, semua sesak yang menggrogoti dada, hatiku benar-benar hancur. Bukan karena malu tapi aku merasa hatiku sangat hancur. Sampai aku tak sanggup berdiri lagi. Tangis ku pecah menggema di toilet kosong itu. Rinduku? Terbalaskan dengan penghinaan yang menyakitkan.
Saat diruangan pun, cemoohan para staf bagai hujan. Aku tak bisa berbuat apa pun. Selain diam dan melanjutkan pekerja.
Marah?
Melawan?
akan memperburuk keadaan. Mengingat diriku memang seorang j*lang, apa yang harus ku luruskan? karena memang begitu adanya, aku seorang wanita yang hanya di nikahi untuk kepuasan bukan karena cinta. Menunggu jam menunjukan angka 5 terasa menuju ratusan tahun untukku hari ini.
Aku menyuruh Delvan menjemputku lebih cepat. Jam 4.25 aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku. Aku mengambil tas dan mengabaikan semua tatapan yang terarah padaku, diam adalah solusi terbaik untuk pergi dari semua masalah ini.
Mobil Audi R8 berwarna silver sudah terparkir manis di depan kantor. Mobil mewah itu fasilitas untuk Delvan yang betugas menjagaku. kali ini Pria tampan itu keluar dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk ku.
"Bisakah kita ke BROOKLYN BRIDGE sebentar?!"
"Tentu" pria tampan itu melajukan mobil meninggalkan perkarangan kantor tanpa bertanya apa pun.
Aku hanya ingin menenangkan diri. Tidak ada sedikitpun niatku untuk loncat dari jembatan itu. Seberat apa pun masalah yang aku hadapi selama ini. Aku takan pernah berfikir untuk mengakhiri hidupku, aku sangat tahu bahwa itu salah, aku hanya berharap bahwa Tuhan selalu memberikan kekuatan padaku, terutama untuk masalahku saat ini yang membuatku hampir gila.
Di sepajang perjalanan, aku hanya terdiam. aku hanya bisa menatap keluar jendela kaca mobil ini. Begitu juga dengan Delvan yang hanya sesekali melirikku. Aku bisa melihatnya pantulan dari kaca kananku karena dia sedari tadi tidak begitu fokus dengan perjalanan kami. saat mengetahui sebutir kristal bening membasahi pipi, lantas membuat Delvan langsung menepikan mobil ke bahu jalan.
"Apa kau baik baik saja Key?" suara Delvan teramat lembut masuk kedalam indra perdengaranku, Dia terlihat begitu mengkhawatirakanku.
Aku menoleh saat tangan kekar mencengkal lenganku dengan lembut. dan langsung saja aku menurunkan cekalannya, kita memang berteman dan aku juga sadar bawah aku milik pria lain, Kenzo.
"A.. aku baik-baik saja" mungkin cuma itu yang bisa ku ucapkan saat ini.
"Apa wanita murahan itu--"
"Tidak.. aku baik-baik saja. Hanya saja Suasana hatiku tidak begitu baik" aku berusaha menampilkan senyum terbaikku untuk menjelaskan bahwa hatiku sedang baik. tapi, tetap saja mata tak bisa berbohong.
"Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja" Delvan menekan setiap ucapanya "Kau tidak sendiri adik kecilku" Delvan kembali menyakinkan "Kau ada aku yang akan menjagamu" Delvan mengusap perlahan rambutku. Mendengar ucapanya hatiku kembali rapuh. Tak munafik, aku hanyalah wanita biasa. setiap wanita butuh perhatian dan kata-kata lembut hingga dia menawarkanku semua pelukan.
"Menangislah Princes" Delvan mengusap rambutku, dia benar-benar memberikan perhatianya untuku "kau akan sedikit merasa tenang, bukankah aku kakak mu?" Katanya menepuk nepuk pelan punggungku. Sontak saja hal itu membuat tangisan ku pecah di pelukanya.
Kenapa kau begitu tega padanya Tuhan. Di terlalu kecil untuk menanggung hidup yang kejam ini. Seandainya saja aku yang menemuimu lebih awal Key, pasti aku sudah membawa mu lari Key. Aku menyayangi mu Princes.batin Delvan.
semilir angin nan sejuk menerpa rambut coklat keemasanku. Aku mengerai rambutku, dan sesekali helaian rambut-rambut halus menerpa wajahku. Aku menatap lurus kedepan tapi pikiranku tidak disana. Pikiran ku masih terarah pada sosok Kenzo.
Entahlah aku tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan. Apa benar ini cinta atau keobsesian sesaat. Aku takut bila ini cinta. Aku takut semakin jauh jatuh dalam pelukanya. Seharusnya aku tak pernah bermain dengan hati. Itu titik sensitif kehidupan, dan saat ini aku selalu mengabaikan hatiku.
Aku tidak membayar kalian untuk membuat keributan. Jangan bersikap seperti ******
Aku berdiri di tepi jembatan. Perkataan kenzo terus bermain di pikiranku. Tanpa terasa butiran kristal bening kembali membasahi pipi.
Sementara Delvan yang melihatku dari sisi lain jembatan, hanya bisa terdiam. Dia membiarkanku melepas semua kesakitanku.
Aku sadar betul saat ini aku telah terperangkap di sikap manis pria itu. Aku terlalu terlena, Padahal acap kali Kenzo telah mengingatkanku untuk tidak jatuh cinta padanya. Ya, Semua ini memang salahku.
Kau bodoh. Jangan mencoba mengapai bintang. Kau hanya kerikil kotor. Cinta itu menyakitkan dia dan sudah memperingatkanmu. Jadi ku mohon sadarlah Key .batin keyra
Lamunanku terhenti saat Delvan yang tergesa-gesa menarik tanganku untuk masuk kedalam mobil.
"Tetaplah di dalam, kau aman selama ada aku! dengar!" Ucap Delvan memberikan titahnya dengan wajah datarnya, lantas pria itu langsung menutup pintu mobil dan berjalan ke depan mobil. Ternyata ada delapaan oh tidak sepuluh pemuda yang berpenampilan seperti preman menghampirinya.
Tidak mungkin aku membiarkan Delvan sendirian menghadapi para pemuda itu. Terjadi perkelahian antara Delvan dan beberapa preman itu. Dengan langkah sigap Delvan melawan. Bahkan tak perlu di ragukan lagi jika Delvan memang orang terlatih di bidang ini.
Salah satu pria yang merasa temannya hampir kalah ingin memukul Delvan dengan sebuah kayu. aku tak bisa berdiam diri disini dan menonton, itu membuatku keluar dari mobil dan menedang pria itu hingga dia jatuh ke aspal keras.
Aku mengejarnya dan kembali memberikan pukulan anggap saja mereka menjadi tempat aku melepaskan semua amarahku. sampai Delvan saja sempat terkejut dengan kemampuan ku. hingga akhir para pereman itu lari terbirit-birit.
"Kau baik-baik saja, Key?" tanya Delvan dengan wajah cemasnya. Delvan mencengkram kedua bahuku erat seolah menjelaskan bahwa dia benar-benar khawatir.
"Aku baik-baik saja" aku menampilkan senyum terbaikku.
"Jangan melakukan itu lagi. Bila pun aku tidak bisa mengalahkan mereka. maka Larilah!"
"Tapi kau---?"
"Apa pun yang terjadi padaku. Keselamatanmu lebih penting. Mengerti!" Ucap Delvan menatapku tajam. Seketika aku ciut dengan tatapanya. Lalu ia mengusap kepalaku dan tersenyum.
"Jangan takut, aku hanya tidak ingin kau terluka. Kau wanita terhebat, Key" Delvan mulai tersenyum "walapun kau bisa bertahan, pria bukanlah tandinganmu" kemudia pria itu tergelak dan berbalik ingin masuk kedalam mobil, tapi langkahnya terhenti.
"jika sesuatu terjadi padamu tadi, aku tidak akan mati di tangan preman itu, melainkan di tangan suamimu" jelasnya lagi dan perkataan itu membuatku tersenyum miris. suami? itu adalah kata-kata paling mengerikan saat ini.
Rasa marahku telah lepas dengan adanya preman itu dan setidaknya aku tak merasa sendiri lagi, sebab kali ini ada sosok Delvan yang bertindak sebagai kaka laki-laki buatku. Sedari tadi Aku menyadari sebuah mobil memperhatikan kami dan sekarang mulai menjalankan mobilnya lalu melaju meninggalkan kami.
"Ada apa?" tanya Delvan yang sedari tadi memperhatikanku.
"Entahlah" aku menjeda kalimatku "Tapi ku rasa tidak penting, mungkin hanya kebetulan"
"apa?" tanya Delvan
"Nothing, ayo kita pulang" jawabku, malas menjelaskan.
**TBC
eyak-eyak
kira kira sapa yang beb?
Elroy atau Kenzo? atau kang somay yg jualan simpang sD 🤣🤣🤣🤣**
sekarang udh banyak iklan ky yg lain.hahaha
ay semangat ya sehat selalu di sana😘