NovelToon NovelToon
Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Selingkuh / Tamat
Popularitas:97.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

*** (Disarankan membaca cerita sebelumnya)
Sekuel CINTA UNTUK ARUNA

Gloria, wanita 24 tahun, yang harus menerima kepahitan hidup sejak orang tuanya meninggal dunia. Sering dijadikan suaminya sendiri sebagai wanita penghibur hanya demi uang.

Pertemuannya dengan seorang Richardo, pria 26 tahun, membuat hidupnya berubah. Tak hanya memperlakukannya dengan baik, memberinya perhatian, Richardo bahkan berani menantang badai hanya demi mendapatkan cintanya.

Bagaimanakah kisah Richardo dan Gloria selanjutnya? Akankah Richardo mampu menaklukkan wanita yang sudah menyandang status istri orang tersebut?

Ikuti kisah selengkapnya di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Kontak Baru

Bab 9. Kontak Baru

Ardo melangkah gontai memasuki kamar pribadinya di lantai dua. Di lantai itu adalah area pribadinya. Dimana semua fasilitas yang ia butuhkan ada di lantai itu. Mulai dari mini theatre hingga peralatan fitnes yang ia gunakan di waktu luangnya.

Ia mengambil duduk di tepian tempat tidur. Menghembuskan napasnya panjang serta pikiran yang mulai melambung.

Bayangan Gloria kembali hadir di benaknya. Sejak pertamakali bertemu, wanita itu selalu saja menyisakan tanya yang membuat rasa keingintahuannya kian membuncah. Wanita itu terkesan menyimpan banyak rahasia.

Bagaimana bisa Gloria bekerja paruh waktu sebagai wanita bayaran.

Astaga!

Apakah Gloria sungguh tengah didesak oleh kebutuhan hidup hingga wanita itu berani kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita?

Ardo merebahkan tubuhnya dengan kepala berbantal kedua telapak tangannya. Dipandanginya langit-langit kamar. Yang anehnya malah menampilkan wajah Gloria.

Ia menggeleng cepat begitu menyadari Gloria mulai mengambil alih pikirannya. Ia lantas bangun dari pembaringan, mengayunkan langkahnya lesu menuju kamar mandi. Mungkin dengan mengguyur tubuhnya dengan air hangat bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari Gloria. Wanita yang bukan tipenya namun mulai mencuri perhatiannya perlahan.

.

Ferrari 488 spider red menepi di depan pintu masuk TRF pagi itu. Yang serta merta merebut perhatian para wanita.

Ardo turun dari mobil itu penuh percaya diri dengan kacamata hitam yang membingkai wajahnya. Seorang petugas parkir datang menghampirinya, meraih kunci mobil dari tangannya. Untuk kemudian memarkirkan mobil itu di tempat parkir khusus.

Ia mengayunkan langkah panjang menyusuri loby. Ia tak terusik sedikitpun oleh banyak pasang mata yang memandanginya penuh kekaguman. Diantaranya ada Reva. Sementara seorang wanita yang berjalan bersama Reva, sedikitpun tak mengalihkan pandangannya pada makhluk tampan yang menjadi pusat perhatian saat ini.

Pemandangan yang menyegarkan mata di pagi hari. Namun pemandangan itu tak mengalihkan perhatian seorang Gloria dari benda pipih di tangannya.

"Glori, Pak Ardo Glor," ucap Reva kagum sambil  menarik-narik lengan kanan Gloria.

Gloria terusik oleh lengannya yang ditarik-tarik Reva, membuat fokusnya terganggu dari ponsel di tangannya. Ia jadi kesulitan melihat gambar pada layar ponselnya.

"Reva, apaan sih?" sungutnya kesal. Namun pandangannya masih saja tertunduk. Lebih memperhatikan ponsel daripada seorang pria tampan yang kini menjadi pusat perhatian banyak pasang mata. Pria itu kini sudah melewati mereka.

Gloria kembali memusatkan perhatian pada ponselnya saat tiba-tiba seseorang merebut ponselnya dengan cepat. Sontak ia mengangkat wajahnya. Memandangi punggung seorang pria dalam balutan blazer biru dongker.

Pria itu, pria yang berjalan beberapa langkah di depannya itu telah merebut ponselnya. Ia kesal, lalu menyusul langkah pria itu. Ia hendak mengambil kembali ponselnya.

Sungguh berani orang itu mengambil yang bukan miliknya.

"Hei, kembalikan handphone ku. Kamu mau mencuri ya?" seru Gloria menyusul langkah pria itu.

"Glori, jangan Glori." Pekik Reva demi mencegah Gloria. Sebab orang yang merebut ponsel Gloria bukan orang sembarangan.

Namun terlambat, Gloria telah lebih dulu menarik kasar lengan pria itu sebelum Reva mencegahnya. Saat pria itu menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya, sontak saja membuat Gloria terbelalak dengan mulut menganga. Ia tak mengira kalau pria yang merebut ponselnya itu adalah Ardo.

"Ma-maafkan saya Pak." Gloria menundukkan wajahnya segera. Disertai irama jantung tak beraturan.

"Kamu bilang aku pencuri?" Ardo melepas kacamatanya lalu menatap tajam Gloria yang masih menunduk. Tak berani menatapnya.

"Maafkan saya Pak. Saya tidak tahu Anda yang mengambil handphone saya." Gloria masih menunduk takut bercampur malu. Pertemuan kemarin di Club masih membayanginya. Membuatnya malu bertemu Ardo.

Sebetulnya hari ini Gloria enggan datang ke kantor. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana nanti jika bertemu pria yang satu ini. Lantaran malu yang teramat, kini ia hanya bisa memilih untuk menghindarinya. Paling tidak, sebisa mungkin menghindari tatapannya.

"Lain kali, perhatikan dulu sebelum berkata." Sembari menyerahkan kembali ponsel Gloria. Yang diterima Gloria tanpa mengangkat wajahnya. Ia ditundukkan oleh rasa malu.

Pemandangan itu sontak menjadi pusat perhatian setiap karyawan yang baru berdatangan. Ada yang menyindir, ada yang mencibir, bahkan ada yang menghina lantaran iri melihat Gloria bisa berada dekat dengan Ardo.

"Kak Ardo." Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis memanggil Ardo. Sontak mereka menoleh ke arah sumber suara.

Seorang gadis cantik berlari menghampiri. Begitu dekat, gadis itu langsung menggamit lengan Ardo manja.

Leona.

"Kak, Opa udah janji mau membelikanku mobil baru," ujar Leona gembira.

"Oh ya? Senang kamu sekarang?" Sembari mulai melangkah. Leona masih menggamit lengannya. Ingin ikut bersamanya.

"Tentu saja dong Kak. Eh, Kak, tunggu dulu." Leona menghentikan langkahnya tiba-tiba.

"Ada apa?"

Bukannya menjawab pertanyaan Ardo, Leona malah melepas tangannya dari lengan Ardo. Lalu ia berbalik dan kembali menghampiri Gloria dan Reva yang masih berdiri di tempatnya.

"Kamu?" seru Leona mentap Gloria intens. Dahinya mengerut seperti sedang memikirkan sesuatu.

Gloria yang sedari tadi menunduk pun akhirnya mengangkat wajahnya. Dipandanginya Leona penuh tanya. Raut wajahnya menyiratkan seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.

"Kamu bukannya dulu pernah bersekolah di SMA Harapan Bangsa?" tanya Leona mengarahkan telunjuknya kepada Gloria.

Gloria terhenyak, lalu mengangguk membenarkan.

"Iya." Namun hati masih bertanya-tanya.

"Ya ampun, kamu masih ingat aku tidak? Sepertinya kita pernah bertemu di toilet kemarin." selidik Leona. Kini rona wajahnya terlihat sumringah.

Ardo yang merasa penasaran pun kembali menghampiri.

Gloria menggeleng sembari mengulum senyum.

"Aku Leona. Leona Anggara. Kita pernah sekelas dulu."

Gloria tampak sedang mengingat-ingat. Detik berikutnya wajahnya pun sumringah.

"Oh iya, aku ingat. Kita pernah sekelas dulu." Dan akhirnya membenarkan.

Ardo memandangi Leona dan Gloria bergantian dengan hati diselimuti rasa penasaran.

"Ya ampun, sudah lama ya sejak kita lulus tidak pernah bertemu lagi. Oh ya, apa kamu bekerja di perusahaan ini?"

"Iya. Sudah setahun."

"Di bagian mana?"

"Product Marketing."

"Di bagiannya Kak Ardo dong." Leona beralih menatap Ardo yang membalas tatapannya sembari mengulas senyum manisnya.

Namun Gloria enggan mengalihkan tatapannya. Ia memilih kembali menunduk. Sebab itu lebih baik daripada harus terhipnotis oleh tatapan mata hitam nan tegas itu.

"Oh iya, kamu Gloria kan? Aku baru ingat. Apa kabar kamu?"

Gloria mengulum senyum manisnya. "Baik. Oh ya, kenalin. Ini sahabatku, Reva."

Reva menyunggingkan senyumnya kepada Leona, tetapi takut dan malu-malu saat memandangi Ardo yang kembali memakai kacamata hitamnya. Kemudian pria itu beranjak pergi sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

"Eh, Kak Ardo, tunggu aku. Kak Ardo tega deh." Leona bergegas menyusul Ardo begitu menyadari pria itu telah beranjak pergi.

Gloria menghembuskan napasnya lega begitu Ardo dan Leona menjauh. Sedari tadi untuk bernapas saja terasa sesak, bahkan ia dibuat kikuk lantaran kejadian kemarin di Club masih terbayang-bayang. Yang jelas-jelas menjatuhkan nama baiknya di mata Ardo.

Ardo pasti merasa ia adalah wanita tak bermoral, wanita rendahan. Wanita yang rela menjual harga diri hanya demi uang.

Tapi, terserah lah apapun pemikiran Ardo tentangnya. Ardo hanya tidak tahu saja seperti apa peliknya hidup yang ia jalani. Penderitaannya dimulai sejak ia menikahi Bary.

"Glori, aku sampai lupa kasih tahu kamu. Kalau Pak Ardo itu cucunya Tuan Danu," ujar Reva kemudian.

"Apa?" Gloria terkejut, berpaling muka cepat. Ditatapnya Reva lekat-lekat. Raut wajahnya pun terlihat panik seketika.

Reva mengangguk. "Iya. Dia itu anaknya Pak Dirut."

Gloria membekap mulutnya yang menganga. Ia hampir tak mempercayai ucapan Reva.

"Dan Leona itu sepupunya. Anaknya Pak Bram."

"Yang benar kamu?"

"Emang kamu dulu sekelas ya dengan Leona?" Bersama-sama mereka melangkahkan kaki menuju lift. Divisi product marketing berada di lantai 4. Sembari Gloria menceritakan masa-masa sekolahnya dulu.

 

Gloria menghembuskan napas panjang sembari mengambil duduk dibalik kubikelnya. Tas kecilnya ia letakkan di meja, lalu ia menghidupkan komputer.

Ia hendak mengambil kunciran rambut dari dalam tasnya saat terdengar suara denting ponselnya. Segera ia mengambil ponsel dari dalam tas itu dan membuka isi pesan singkat yang masuk.

Ia mengernyit saat membaca isi pesan dari seseorang yang tidak ia kenal. Sebuah kontak baru yang ia sendiri merasa tidak pernah menuliskan kontak itu di ponselnya.

Si Tampan

Mana kopiku?

Ia lantas melayangkan pandangannya ke sebuah ruangan yang berdinding kaca. Dimana sangat terlihat jelas penghuni ruangan itu tengah sibuk di depan layar laptopnya.

Apakah Ardo pemilik nomor kontak itu?

Kapan Ardo menulis nomor kontaknya di ponsel itu?

Gloria

Mau kopi yang bagaimana?

Si Tampan

Yang manisnya pas.

Gloria kembali melayangkan pandangannya ke ruangan itu. Dan penghuni ruangan itu pun akhirnya memandanginya dari balik dinding kaca yang membatasi.

Cepat Gloria memalingkan muka, menghindari sebisa mungkin menatap sorot mata pria itu. Ia pun terhenyak saat terdengar denting ponsel untuk kesekian kalinya.

Si Tampan

Bawa ke ruanganku sekarang juga

Ia pun kembali menghembuskan napas panjang. Tak bisa ia menghindari perintah atasan. Dan akhirnya ia hanya bisa menuruti perintah itu.

Bersambung

1
Cinta Rodriques
langsung PD intix thour jngn mutar2 nanti yg baca bosan...
Cinta Rodriques
ya g taulh kmkn tukang CELUP mnjijikn
redmi Notetujuh
😂😂😂😂😂
Aisyah farhana
yaaahhh sudah end aja kak adakah boncap nya ???
lovely
yangyang pacarrr gue😍
Aisyah farhana
gaa sabar nunggu baby launching
Syahrul
jangan lupa mampir ya
💖 NAMA Q CINTA 💖
DASAR... CABUL" HHH
Aisyah farhana
hhhhmmmmm dasar pengantin baruuuuu
Aisyah farhana
hayoooo udah sah yahh Ardo loly
💖 NAMA Q CINTA 💖
TABUR TUAI KAN HHHH...GABISAH DI ELAK PASTI TERJADI
Syahrul
mampir dong ke novelku
Aisyah farhana
kirain kemana kak lama ga up up sehat selalu kak semangaaaaaatttttt
mama Al
Semesta merestui kami hadir
Syahrul
like
Syahrul
hai thor aku mampir nih
jangn lupa berkunjung ya
Elisabeth Ratna Susanti
keren 😍
Rani mdvpriangan
yah gagal deh mau mesra"an nya. mmah mlh nongol 😁
Aisyah farhana
aahhhh mamah ganggu ajah
💖 NAMA Q CINTA 💖
DASAR OTAK BOCA...BISAH2 NYA MIKIRIN MAKAN LGI URJEN HHHHH
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 😁😁emang dasar bocah ya, pikirannya gak jauh² dr mknan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!