Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IDE KONYOL
"Wanita itu lagi," Menatap pungung Nasya yang berlari meninggalkannya.
"Walaupun penampilannya hari ini sedikit berbeda, tetap terlihat cantik. Guman Edho pelan.
Dring... (Suara ponsel ya guys)
Edho terkejut mendengar suara ponselnya.
📞Varel....
"Ada apa Varel menelponku." Menatap layar ponselnya.
"Hallo, ada apa?" Menjawab panggilan Varel.
"Lo di mana? kenapa belum ke kantor? "
"Masih di apartemen, sebentar lagi gue nyampe kantor. Kenapa ngak biasanya lo nyariin gue pagi-pagi begini?"
"Gue mau curhat."
"Curhat? kayak anak ABG aja pakai curhat-curhatan."
"Cepatan ke sini,"
"Iya, bentar juga gue nyampai kok."
"Cepat gue tunggu di ruangan gue sekarang."
"Iya, gue otw nih."
Tiba ruko tiga lantai yang bertuliskan VARDO GAMES, Edho masuk langsung menemui Varel sahabatnya.
Varel dan Edho berkerja sama mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan games online. Empat tahun lebih mereka merintis perusahaan ini, sehingga bisa seperti sekarang.
"Ada apa sih? pagi-pagi udah heboh." Ucap Edho setelah tiba di ruangan Varel.
"Sebentar lagi gue bakal nikah." Varel mengawali ceritanya.
"Nikah?" Edho kaget mendengar penuturan Varel. "Siapa calon istrimu?"
"Lo masih ingat cewek yang pernah gue ceritain?"
"Si wanita idaman itu?"
"Iya, gue bakal nikah sama dia."
"Kok bisa?"
"Lo masih ingat Nasya?"
"Ingatlah, si manja itu."
Cinta pertamaku mana mungkin aku lupa.
"Nasya dan wanita idaman adalah orang yang sama. Gue baru tahu semalam."
"Serius, kenapa dunia Novel begitu sempit sih."
"Ini namanya takdir bro."
"Jadi lo menerima perjodohan kalian itu?"
"Ngak juga, ada sebuah kejadian yang mengharuskan gue menikahi Nasya."
"Kejadian apa?"
"gue tidur satu ranjang dengan Nasya semalam dan ketahuan oleh paman Kenzo."
"Lo perawanin anak orang.gila lo, anaknya paman Kenzo pula. Lo ngak di hajar bebak belur? Memperhatikan Varel lebih teliti, hanya terdapat sobek sedikit di sudut bibir kanan Varel."
"Hustt, ngomong sembarang, lo kira gue PK gitu."
"Lah terus maksudnya tidur satu ranjang apa ngak lagi bikin dede."
"Tidur biasa aja, ngak seperti perkiraan lo."
"Ngak percaya gue, kucing kalau di kasih ikan mah pasti dimakan walaupun kenyang."
"gue ngak begitu ya, gue mah cowok baik. Ngak akan menyentuh wanita sebelum dia menjadi istri gue."
"Sok suci lo, Jadi gimana? lo senang?
"Ya elah, ngak percaya banget sih lo, ya gimana ya, gue juga binggung dengan perasaan gue sendiri."
"Respon Nasya bagaimana?"
"Sepertinya dia ngak suka."
"oh.... "
"Menurut lo gue harus bagaimana?"
"hmmm, bagaimana ya. Menikah berarti menyatukan dua orang yang berbeda dalam satu ikatan yang suci. Tanpa rasa cinta, apakah lo siap menerima pernikahan ini. Apa lo udah bisa move on dari dia?
Kalau menurut gue sih lo harus bertemu lagi dengan Nasya untuk membahas masalah ini dan menemukan titik tengah mengenai permasalahan ini."
"iya juga ya. Lo memang sahabat terbaik bro,"
Menatap haru pada Edho.
"Udah ah acara curhat-curhatannya, gue mau kembali keruangan gue dulu."
Edho berdiri, meninggalkan Ruang kerja Varel.
"Apakah aku bisa move on dari Naura. Apakah aku siap membuka hatiku untuk Nasya. Betul kata Edho, aku tidak mungkin menikahi Nasya tanpa rasa cinta. Tetapi aku sudah berjanji akan mempertanggung jawabkan apa yang terjadi diantara kami.
***
"Cieee,..." Yang sebentar lagi bakal nikah."
Zoan mengoda kakaknya yang baru saja tiba di kantornya.
"Apa sih ade,"
Nasya bersemu merah digoda oleh adiknya.
"Ih, kakak malu-malu meong. Gimana perasaan kakak sekarang, Zoan tahu kakak memendam rasa untuk Kak Varel.
"Itu dulu ade, sekarang mah biasa aja."
"Cinta pertama itu sulit dilupakan lo Kak. Jangan membohongi perasaan sendiri. Zoan tahu rasa itu masih ada di hati kakak."
"Tahu apa kamu tentang cinta, pacaran aja belum pernah."
"Kakak juga belum pernah pacaran, belum bisa move on dari cinta pertama ya."
"Apaan sih de, bahas cinta pertama mulu dari tadi."
Ketika tengah ngonbrol bersama Zoan, Nasya dikagetkan dengan bunyi ponselnya.
Ting.... (Pesan masuk guys)
💌Bisa kita bertemu?
Ternyata pesan dari nomor baru yang tidak di kenal oleh Nasya. Nasyapun mengabaikan pesan tersebut melanjutkan aktifitasnya.
"Kembali keruangan mu sana, kakak masih banyak pekerjaan nih," Nasya mengusir Zoan yang terus mengodanya sejak tadi.
"Kakak mah sok sibuk, aku balik deh."
Zoan meninggalkan Nasya kakaknya yang terlihat bersemu malu ketika mereka membahas cinta pertama.
Ting... (pesan masuk lagi guys)
💌aku ke kantormu ya.
Nasya kembali melihat ponselnya, ternyata pesan dari nomor yang sama. Nasya tetap mengabaikan pesan tersebut.
Nasya meneliti setiap berkas yang baru diberikan oleh sekertarisnya. Keasikan bekerja, Nasya tidak tahu kehebohan yang dibuat oleh para karyawanan karena kedatangan Varel.
"Kenapa pesanku tidak dibalas?" Suara Varel mengema di seluruh ruangan Nasya. Membuat si empunya ruangan spot jantung karena kedatangan Varel yang tiba-tiba.
"Varel... "
Berdiri mematung terpesona dengan ketampanan Varel.
"Hey," Varel menjentikan jarinya di depan muka Nasya yang terlihat bengong.
"Hah? pekik Nasya kaget
"Lo kenapa?" Tanya Varel.
"Ada apa lo kesini?" bertanya balik, mengabaikan pertanyaan Varel sebelumnya.
"Karena gue ingin menemui lo."
"Kenapa ngak kabarin dulu kalau mau kesini?"
"Sudah gue kabarin kok, lo aja yang ngak balas pesan dari gue. Tapi ngomong-ngomong gue ngak di suruh duduk dulu nih."
"Hah, maaf. Ayo kita duduk di situ saja." Mempersilahkan Varel duduk di sofa yang terdapat di ruang kerja Nasya.
"Jadi, kenapa lo mau ketemu?"
"Gue mau membahas tentang yang tadi pagi."
Varel berbicara serius.
"Kenapa?"
"Apa lo mau menikah sama gue? jawab dengan jujur, apa yang lo rasain saat bersama gue.
Nasya terkejut mendengar ucapan Nasya barusan, melihat ada keseriusan di mata Varel membuat Nasya sedikit gugup.
"Maksud lo bagaimana perasaan gue terhadap lo?"
"Iya,"
"Sebenarnya gue belum memahami perasaan gue ke lo, kita baru bertemu beberapa kali,gue belum merasakan apa-apa. Kalau masalah menikah sebenarnya gue tidak terlalu suka. Bagaimana mungkin kita menikah jika tidak saling mencintai. Jawab Nasya jujur.
Walaupun sedikit kecewa mendengar penjelasan Nasya, Varel berusaha bersikap biasa saja untuk menutupi rasa kecewanya.
"Apa yang harus kita lakukan dengan rencana pernikahan kita?" Tersenyum pahit.
"Kita ikuti saja keinginan para orang tua, lagian kita juga tidak bisa menolak."
"Tetapi kita tidak boleh mempermainkan sebuah pernikahan. Pernikahan adalah ikatan yang suci, kita tidak boleh menodainya."
"Aku juga tahu akan hal itu. Aku tidak ada niat untuk mempermainkan sebuah pernikahan."
"Bagaimana kalau kita mencoba untuk menikah selama satu tahun, kita lihat apakah ada benih cinta tumbuh di antara kita."
"Sama saja kita menodai ikatan penikahan kalau begitu."
"Memangnya kamu punya ide lain? Kamu tahu sendiri Papimu orang yang seperti apa. Mana mungkin kita bisa menolak keinginanya.
Nasya hanya diam, dia mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Varel. Ide konyol Varel tergiang di telinganya.
.
.
.
.
.