Novel keempat berjudul TELUH SAMBER NYOWO.
Sejak awal, Fani sudah menduga bahwa ia akan ditugaskan di desa setelah lulus dari pendidikan kebidanan.
Namun, ia tak pernah menyangka bahwa desa tempat ia ditugaskan sangat terpencil dan berada di tengah hutan.
Pergolakan batin, kerap ia rasakan.
Terlebih, gangguan ghaib tak henti-hentinya meneror setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKAR 2
Fani terlihat tengah duduk santai sembari melihat luka lecetnya akibat jatuh dari sepeda yang perlahan mulai mengering. Empat hari telah berlalu sejak kejadian penampakan pemikul keranda waktu itu. Selama itu juga hidup Fani terasa tenang. Baik di puskesmas atau pun di rumah, ia tidak mengalami gangguan apa pun.
Lilis juga dinas di puskesmas lagi. Sesuai instruksi dari dokter Agung, dia mengajarkan para pasien di desa Sendang, desa Sugihan dan desa Mbalong perihal cara untuk merawat luka agar mereka bisa mandiri dan Lilis pun tidak perlu melakukan kunjungan setiap hari.
"Sudah sembuh mbak lukanya?" tanya Lilis sembari duduk di kursi depan meja Fani.
"Bentar lagi Lis, ini udah pada mengering," jawab Fani.
...Tok... tok .. tok.....
Terdengar suara ketukan. Dengan cepat, Fani mempersilahkan orang yang mengetuk itu untuk masuk. Setelah tahu bahwa pasien yang datang, Lilis lekas berdiri lalu pamit untuk keluar. Sementara itu, Fani tertegun untuk sesaat sebelum si pasien menyadarkannya dari lamunan.
"Bu bidan..."
"Oh iya, maaf! silahkan duduk mbak!"
Seorang perempuan muda yang tempo hari pernah datang berobat ke dokter Agung, kini datang kembali.
"Sekar," ucap Fani di dalam hati sebelum kemudian menanyakan perihal namanya untuk memastikan.
Ternyata benar, perempuan itu bernama Sekar. Pasien perempuan yang memiliki rupa sangat mirip dengan hantu perempuan yang sering menjahilinya di rumah dinas. Meski jantungnya berdegup dengan kencang namun, Fani masih bisa mengendalikan diri. Banyak sekali pertanyaan di otaknya hingga ia kesulitan untuk memulai dari mana.
"Oh, mbak Sekar ini yang kapan hari pernah berobat karena sakit batuk ya?"
Kiranya, pertanyaan itulah yang paling tepat untuk Fani lontarkan sebagai pembuka perbincangan.
"Benar bu bidan, bu bidan masih ingat saya ternyata."
Fani tersenyum.
"Puskesmas sangat sepi mbak, hanya ada satu atau dua pasien saja yang datang. Jadi, saya masih bisa mengingat dengan jelas."
"Begitu..."
"Kali ini keluhannya apa?"
Sekar lekas tersenyum ketika mendengar pertanyaan Fani.
"Saya hamil bu bidan. Mual, muntah dan tidak enak makan."
"Apakah sudah dicek pakai tespek?"
"Belum."
Fani membuka lemari besi di belakangnya lalu mengulurkan sebuah tespek kepada Sekar.
"Gimana cara pakainya bu bidan?"
"Nanti, mbak sekar taruh air kencing mbak Sekar di wadah kecil ini lalu celupkan tespek ini sampai batas max ya! setelah itu, tinggal tunggu hasilnya, jika yang muncul dua garis merah maka artinya positif hamil. Jika yang muncul hanya satu garis merah berarti negatif."
"Baik bu bidan, sebentar ya!"
"Iya mbak."
"Kamar mandinya di sebelah mana?"
"Di.. mari saya antar saja!"
Fani dan Sekar pun berjalan bersama.
"Di sini mbak, saya tunggu di luar kamar mandi ya!"
"Iya bu bidan."
Lima menit, sepuluh menit hingga lima belas menit telah berlalu namun Sekar, tak juga kunjung keluar. Bahkan, suara kran yang dinyalakan pun tidak terdengar. Fani telah memanggilnya beberapa kali tapi tidak mendapat jawaban.
"Kenapa nih?"
Karena khawatir, Fani mencoba mengetuk seraya memutar gagang pintu kamar mandi.
...Deg......
Pintu terbuka begitu saja. Fani menelan ludahnya sembari mendorong pelan pintu kamar mandi.
"Kosong," gumamnya.
...Siiir.......
Seolah dapat Fani rasakan, desir darah yang mengalir cepat hingga ke otak. Dengan tenang, masih coba ia cari jawaban yang masuk akal hingga Adi menepuk pundaknya.
"Kenapa bengong?" tanya Adi.
"Mas.."
"Iya."
"Lihat pasienku gak yang tadi masuk ke sini?"
"Pasien?"
"Iya, cewek, namanya Sekar. Kapan hari periksa ke dokter Agung."
"Sekar.. oh, yang katamu mirip sama.."
"Iya-iya, mas Adi lihat?"
"Enggak. Dari ruanganmu tadi, kamu cuma jalan sendirian ke kamar mandi."
...Deg......
"Gak mungkin."
"Kenapa sih Fan, ada apa sebenernya?"
"Lilis mana Lilis?"
Fani panik memanggil Lilis hingga membuat semua orang berkumpul di ruang tunggu puskesmas.
"Ada apa mbak?"
"Kamu tadi lihat pasienku kan di ruangan? kita lagi ngobrol pas dia datang."
"Iya-iya aku lihat."
"Sekarang, kamu tahu gak dia di mana?"
"Enggak."
"Kamu lihat kan tadi aku jalan sama dia ke kamar mandi? aku nganterin dia."
"Hemm.." Lilis berdehem seraya menatap nanar ke arah Fani.
"Sejujurnya, aku gak lihat mbak Fani jalan sama siapa pun. Mbak Fani cuma jalan sendirian ke kamar mandi," jawabnya kemudian.
"Hah?"
Fani lantas berlari masuk ke dalam ruangannya yang ternyata, kosong. Tak ada siapa pun juga di sana. Kini, dia bingung, Sekar ke mana dan kapan perginya.
"Sekar pasti bukan manusia."
"Fani tenang ya!" pinta dokter Agung.
"Apa ada yang lihat pasien keluar dari puskesmas?"
"Gak ada," serentak menjawab hal yang sama.
Fani terduduk lemas, tatapannya kosong tapi otaknya begitu ribut dengan banyak sekali tanya yang tak bisa ia temukan jawabannya.
"Apa lagi ini?" tanyanya dalam hati.
"Mbak.."
"Bisa sakit jiwa aku kalau begini terus."
"Tenang Fan! kami tidak meragukan ucapanmu. Karena Lilis juga melihat saat pasien itu datang maka bisa dikatakan bahwa ucapanmu benar. Kalau soal dia berjalan denganmu ke kamar mandi, tidak ada satu orang pun yang melihat, kecuali kamu. Mungkin memang benar, pasien ini hantu yang usil," tutur dokter Agung.
"Dia Sekar dok yang tempo hari datang berobat ke sini."
"Hantu bisa menyerupai siapa saja Fan. Bisa saja itu hantu yang sengaja menyerupai wajah Sekar karena tahu kamu memiliki pemikiran seperti itu."
Fani menghentakkan kakinya seraya menegang kepalanya.
"Bisa gila lama-lama."
"Mbak Fani minum dulu ya!"
Fani menatap Lilis sesaat sebelum kemudian menerima uluran air mineral dari Lilis lalu meminumnya.
...🌸🌸🌸...
Ternyata, ketegangan tak lekas berakhir. Di rumah, Sekar kembali datang yang tentu saja mengagetkan Fani. Hari sudah petang kala Sekar tersenyum manis di depan rumah dinas. Hampir saja Fani terjatuh kalau tidak segera memegang pintu sebagai penahan bobot tubuhnya. Fani berusaha berdiri setegak yang ia mampu.
"Kamu.."
"Maaf bu bidan, saya pergi gak bilang-bilang! Tadi, ada urusan yang sangat mendadak."
"Bukan urusannya yang jadi masalah tapi, kapan kamu keluar dari kamar mandi?"
"Saat bu bidan terlihat melamun."
"Kapan saya melamun?"
"Ini bu tespeknya, positif kan?"
Sekar mengulurkan tespek dengan hasil positif. Dengan ragu, Sekar menerimanya sembari kembali memeriksa.
"Kamu ini manusia apa bukan sih?" tanya Fani di dalam hati.
"Kenapa kembali di malam selarut ini?" tanya Fani kemudian.
"Karena saya kepikiran, takut bu bidan khawatir."
"Saya takut mbak, bukan cuma khawatir. Semua orang tidak ada yang mempercayai saya. Mereka bilang, saya hanya berjalan sendiri ke kamar mandi."
Sekar tersenyum. Sialnya, semakin lama, senyum itu semakin terlihat ganjil. Fani yang tadi kesal mulai merasa takut kembali.
"Mbak.."
Sekar tidak menjawab.
"Silahkan masuk, saya ambilkan vitaminnya!" pinta Fani coba menghilangkan nuansa seram yang terlanjur tercipta.
Sekar masih berdiri diam.
"Mbak.."
Sekar mulai tertawa cekikikan membuat Fani bingung sesaat.
"Kenapa ketawa mbak?"
Fani baru sadar kala Lilis menarik lengannya, memaksa Fani untuk masuk ke dalam lalu mendorong pintu dengan kencang.
"Mbak Fani kok diam saja sih?" tanya Lilis panik.
"Kenapa Lis?"
"Itu hantu mbak, kuntilanak."
"Hah?"
Fani memberanikan diri mengintip dari balik jendela dan ternyata benar, sosok perempuan yang tadi Fani lihat sebagai sekar si pasien ternyata kuntilanak berbaju putih lusuh dengan rambut awut-awutan. Fani terhenyak seketika dan lekas berteriak histeris saat kuntilanak menoleh ke arahnya. Fani dan Lilis berlari masuk ke dalam kamar. Saling menyembunyikan diri di balik selimut tanpa berani membuka mata hingga pagi menjelang.
"Astaghfirulloh."
...🍂 Bersambung... 🍂...
skrg yg dksih liat tu reka ulang'y Fan.....
serem'y
hii
hhaahhaayy de
ngiler nih....
suruh dtg ksono mah ogah.... hii
g ada asal muasal'y y knpe trjdi pnmpkan trus
cus ahh... lnjoot
kebuut fan.... ayo w bntu doa
skrg antiq
suka² otor bae ah 👻👻