Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Kebohongan Pertama
Happy Reading!
* * *
Suatu kebetulan dan kejadian langka kedua kalinya Adista melihat Evan yang sudah duduk di meja makan untuk makan malam bersama.
Selama Adista beranjak dewasa dan mengerti tentang Evan dan Anita, Adista jarang melihat Evan duduk di meja makan atau menyicip makanan yang dimasakan oleh Anita.
“Wah ... Papa pulang lagi. Udah selesai kerjaan di luar kota, Pa?” tanya Adista sambil menarik kursi dan duduk disana. Evan hanya diam tidak menjawab Adista dan makan dalam kebisuan. “Payah nih Papa, Adista nanya malah dicuekin.”
“Adista!!”
“Apa, Ma?” Adista mengambil sayur serta lauk ke dalam piringnya dan melihat ada udang yang tersaji di piring. Adista mengambilnya dan menaruhnya ke dalam piring Evan membuat Evan berhenti mengunyah dan menatap Adista. “Makanan kesukaan Papa, kasihan Mama udah masak tapi gak dimakan sama Papa. Adista gak terlalu suka udang, Papa yang suka. Ambil aja.”
Adista tidak bisa menatap Evan saat ini, jauh di lubuk hatinya dia amat merindukan pria yang tengah duduk yang
menatapnya itu. Adista ingin menangis tapi bukan sekarang dan bukan hadapan Evan dan Anita.
Adista memiliki tiga orang pria yang dia sayangi di dalam kehidupannya. Pertama, Evan. Kedua, Kakeknya. Dan ketiga, Oppanya, mungkin saja saat ini ada orang keempat yang akan dia sayangi. Langit Alaric.
Adista belum tahu permasalahan antara Evan dan Anita karena saat ini Adista masih tetap mengawasi Papanya itu, meskipun tidak sering. Dia sering datang ke kantor Papanya dan selalu saja mengatakan kalau Papanya tugas di luar kota. Seakan-akan memang benar bahwa Papanya itu memang bekerja.
Mikko : Dis, gue ke rumah lo ya. Mau main.
Tumben sekali teman satunya itu mengirim pesan dan mengatakan kalau dia mau main ke rumah Adista.
Adista : Ada Papa di rumah, entar gue kena ceramah.
Actually, nope!
Darimana Adista bisa mendengarkan ceramah panjang lebar kalau bukan dari Mamanya, untuk saat ini Adista masih tahan mendengarkan ceramah dari Anita tapi dia juga ingin mendengar ceramah dari Evan.
Dimana masa remajanya dimarah oleh Papanya karena pulang malam, tidak belajar, suka keluar, selalu pacaran. Adista pengin! Sangat pengin seperti itu. Tapi apa daya, sepertinya Tuhan tidak memberikannya Papa seperti itu.
Mikko : Gue bareng Dinda, sekalian Langit juga sih. Hehe.
Adista : Ngomong aja lo disuruh Langit, gak usah sok muna deh lo, Mik.
Mikko : Ih, tahu banget sih. Cowok lo itu agak aneh, kenapa coba gak dia aja yang
kirim pesan ke lo? Kenapa juga gue yang harus jadi perantara kalian?
Adista : Mana gue tahu. Datang aja, gue baru pulang dari mini market, banyak snack.
Mikko : Asique. Caw nih.
* * *
Gabut.
Di jam segini dan di malam minggu, pacarnya Langit sedang menonton drama Korea. Dan Langit harus memberikan waktunya untuk tidak menganggu pacarnya itu.
Langit pernah sekali ikut Adista nonton drama Korea di rumahnya, bukannya memperhatikan dramanya, Langit lebih suka memperhatikan Adista yang tersenyum dan tertawa sendiri karena baper dengan drama Korea yang dia
tonton.
Sekarang hanya Mikko seorang yang bisa menemai kegabutan Langit.
Langit mengambil ponselnya dan mendial nomor Mikko kemudian dia menaruhkan benda pipih itu ke telinganya.
“Ada apa? Tumben banget lo nelepon gue. Kesambet Oppa mana lo?”
Langit kesal saat suara Mikko sudah mendahuluinya dalam bertanya dimana keberadaan Mikko sekarang.
“Denger, gue sekarang lagi gak dalam mode suka basa-basi,” ujar Langit. “Lo sekarang dimana?”
“Lo punya cewek, kan? Ini malam minggu, Bro! Waktunya pacaran, serasa jomblo aja lo nyariin gue di malam minggu yang cerah ini.”
“Jawab aja pertanyaan gue!”
“Di rumah Dinda. Kenapa? Adista lagi sibuk sama Oppanya ya?”
“Gue kesana sekarang.”
“Eh ... gue mau jalan—”
Langit segera mematikan sambungan teleponnya dan segera melesat menggunakan Libert kesayangannya yang telah dicucinya hingga mengkilat tadi sore.
“Cepet chat Adista, bilang kalo kita mau main ke rumahnya,” kata Langit yang telah duduk di samping Mikko, untuk saat ini Dinda belum selesai berdandan kata Mikko saat Langit bertanya dimana Dinda.
“Kenapa gak lo aja?”
“Ada alasan tertentu yang gak bisa gue sebutin satu per satu ke lo.”
Mikko berdecak kemudian mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Adista.
“Eh gila, ini malam minggu, kan?” tanya Langit saat melihat ponsel Mikko yang menampilkan balasan pesan Adista. “Gue chat dia lama banget balasnya, dia bilang dia lagi nonton drama.”
“Memang harus jadi orang ganteng biar chatnya dibalas cepat, kayak gue.”
“Memang lo ganteng—”
“Thanks,” jawab Mikko cepat tanpa memperdulikan Langit yang tengah kesal karena Mikko dan tentunya Adista. “Dia bilang kalo gue disuruh sama lo.”
Langit mengabaikan saja segala ucapan Mikko yang mengatakan Adista inilah, Adista itulah. Tidak lama setelah itu muncul Dinda yang mengenakan gaun selutut.
“Langit? Ngapain?”
“Gak jadi kita pergi jalan, Yang. Kita harus ke rumah Adista,” ucap Mikko membuat Dinda mengernyit bingung. “Nih cowok lagi galau.”
“Ah ...,” Dinda terkekeh. “Ini waktunya Adista nonton drama Korea, kan? Wajar aja.”
Langit menatap kedua orang yang berada di depannya ini dengan tatapan datar. Memang cuman Libert yang mengerti dirinya. Hanya Libert seorang.
* * *
Adista membukakan pintu saat suara mobil terdengar dari kamarnya, dia melihat Dinda dan Mikko yang langsung masuk saja ke dalam rumah Adista dan sekarang Adista menatap canggung Langit yang masih
berdiri di depan pintu rumah Adista yang juga menatap Adista dengan tatapan yang sama.
“Udah selesai nonton drama Koreanya ya, By?” tanya Langit berbasa-basi.
What the!! No! Langit sedang tidak basa-basi saat suaranya terdengar datar dan tidak bersahabat, dan juga dia memanggil Adista dengan sebutan By.
“Hehe ...,” Adista menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Udah selesai dari tadi kok, Ric. Ayo masuk.”
Langit mengangguk dan masuk ke dalam rumah, disana Dinda dan Mikko sudah bergulat dengan snack yang baru saja dibeli oleh Adista. Omong-omong snack itu Adista simpan di kamarnya buat makan sambil nonton drama Korea.
“Dasar! Kalian masuk kamar gue ya?” tanya Adista sambil duduk di karpet berbulu yang memang disediakan disana untuk menonton televisi. “Minumnya mana?”
“Lo beli minum cuman satu, ya dihabisin Mikko lah,” jawab Dinda.
“Adis ...,” panggilan Anita membuat semua teman Adista langsung membalikkan badannya dan mengampiri Anita untuk bersaliman. Langit yang berada di samping Adista juga ikut berdiri dan menghampiri Anita. “Udah lama gak pernah nonton drama Korea lagi bareng Adis, Lang.”
Langit hanya terkekeh dan menggaruk tengkuknya. “Adistanya yang gak mau ngajak saya, Tan.”
Adista mendelik menatap Langit tapi sebenarnya memang Adista yang tidak mau lagi mengajak Langit nonton bersamanya, karena Langit bukan memperhatikan drama dan dia memperhatikan Adista membuatnya tidak nyaman.
“Kalo mau makanan ambil sendiri di kulkas ya, Tante mau ke kamar dulu.”
“Siap Tan!” seru Mikko bersemangat.
TBC
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞