Raja Manusia adalah seseorang pendekar terhebat di benua tengah, Namun Raja dari dataran lain tidak bisa membiarkan Raja manusia bertambah kuat. Raja benua lain bekerja sama untuk membunuh Raja Manusia. Namun tidak menyangka Raja Manusia Bereinkarnasi kembali di sebuah keluarga sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EON, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.10 - Pertempuran Pertama.
Setelah tiga hari berlari Aura melihat dari kejauhan ada sebuah kota.
“Berhenti!! Tunjukan kartu identitas mu.” Aura di berhentikan oleh penjaga gerbang.
Aura menunjukkan kartu identitas yang sudah di buatkan oleh Pemilik toko Assosiasi.
“Ini kartu identitas palsu.” Salah satu penjaga tersebut berbicara.
“Palsu? Tidak mungkin itu palsu, Aku membuatnya di kota awan.” Aura mengetahui ada keanehan dan mengikuti alurnya.
“Kamu tahu memalsukan identitas akan di tahan.” Penjaga tersebut ucap dengan sombong.
“Aku tidak ingin ditahan, mohon bantuannya pak.” Aura mengikuti alur.
“Anak muda, Kamu harus membayar denda Sepuluh koin emas.” Penjaga senang melihat Aura masuk kedalam rencananya.
“Tapi aku tidak mempunyai uang sebanyak itu.” Aura memasang wajah panik.
“Jika seperti itu kami akan menahan mu.” Penjaga yang senang menjadi kesal dan ingin menahan Aura.
“Tunggu sebentar pak, Bagaimana aku memberikan ini.” Aura mengeluarkan sebuah lencana yang terbuat dari giok.
“Tuan muda, Ampuni kami.” Kedua penjaga tersebut langsung berlutut setelah melihat lencana tersebut.
Lencana giok tersebut merupakan Lencana yang hanya di miliki oleh orang yang terpenting di Assosiasi Pil Cahaya.
Lencana tersebut diberikan kepada Aura bersama dengan kartu identitasnya.
“Aku bisa membiarkan hal ini, tapi tidak berarti aku mempermudah ini.”
“Ahh.” Ucap salah satu penjaga gerbang.
Aura mematahkan salah satu jari penjaga tersebut. Penjaga yang satunya langsung berkeringat dingin.
“Pergi bawa dia, Jangan kulihat lagi kejadian seperti ini.” Ucap Aura dengan tajam.
“Baik tuan muda!” Penjaga tersebut membawa teman yang kesakitan.
Aura berjalan ke sebuah penginapan, Setelah memesan sebuah kamar di lantai atas Aura langsung beristirahat.
Di dalam kemar Aura mendengar sebuah Keributan di lantai bawah dan ingin melihatnya.
“Hahaha putri, Kamu tidak bisa kemana lagi.” Orang tersebut sambil melepaskan Aura pembunuh.
“Tuan putri kami akan membuka sebuah jalan untuk membiarkan putri kabur.”
Ucap seseorang yang tidak lain merupakan seorang pendekar.
“Tidak Leo Aku tidak bisa meninggal kan kalian semua.”
“Kenapa mereka yang malah tertekan.” Aura melihat pihak dari putri tersebut unggul.
Pihak putri tersebut memiliki Satu pendekar Tinggi dan Empat pendekat menengah.
Sedangkan pihak lawan hanya mempunyai tiga pendekar menengah.
“Ah, Pantas saja.” Aura melihat dua orang datang, dan bergabung di pihal lawan. Dua orang tersebut merupakan seorang pendekar tinggi.
“Hahaha sebelum kami membunuhmu, Akan aku nikmati tubuh mu.” Ujar dari salah satu pendekar tinggi dari kubu lawan.
“Brengsek.” Leo yang mendengar hal tersebutpun menjadi murka.
Pertempuran pun terjadi Leo melawan dua pendekar tinggi dan empat pendekar menengah di pihak putri melawan tiga pendekar menengah.
“Aku yang mengurus ini kamu bantu mereka.” Salah satu pendekar tinggi membantu tiga pendekar menengah yang kesusahan.
“Hahaha, tinggal kalian berdua saja.” Pendekar tinggi di pihak lawan sudah membunuh semua pendekar menengah yang berada di pihak putri
.
“Tidak ku sangka walaupun berumur tujuh tahun sudah menjadi pendekar menengah, dia seorang jenius.” Aura dapat melihat tingkatan putri tersebut.
“Sini bantu aku menahan dia biar mereka yang mengurus sisanya.” Pendekar tersebut bergabung dalam pertarungan Leo.
Leo pun menghadapi dua sekaligus pendekar tinggi.
“Putri, Saatnya giliran mu.” Ucap dari Salah satu tiga pendekar yang berjalan di hadapan putri tersebut.
Tubuh putri tersebut menjadi pucat akibat Aura pembunuh yang di keluarkan tiga pendekar menengah secara bersamaan.
“Matila..” tiba-tiba kepala dari pendekar menengah yang ingin membunuh putri tersebut malah lepas dari tubuhnya.
“Apa yang terjadi.” Salah satu pendekar menengah menjadi waspada.
“Apa kalian pikir bisa membunuh dia dengan mudah.” Tiba-tiba ada seorang yang berdiri di hadapan putri tersebut, yang tidak lain Aura sendiri.
“Siapa Kamu?” Tanya salah satu pendekar menengah tersebut.
“Buat apa memberi tahu kepada seseorang yang akan mati.” Aura langsung berlari ke arah dua pendekar tersebut.
“Jangan meremehkan kami.” Pendekar menengah pun berlari ke arah Aura.
“Tidak, tidak mungkin.” Aura membunuh salah satu pendekar menengah dengan sangat cepat.
“Dia bukan manusia dia iblis.” Pendekar menengah yang tersisa lari ketakutan setelah melihat kekuatan Aura.
“Kamu kira bisa pergi dengan mudah.” Aura melemparkan pedang dia.
Pendekar menengah tersebut mati dengan pedang yang menembus kepalanya.
“Siapa pria itu, Kenapa dia membantuku.” Putri tersebut melihat Aura yang membunuh ketiga pendekar menengah.
Aura pun tidak basa basi, Aura berlari untuk membantu Leo yang sudah tidak sanggup lagi akibat luka yang di terimanya.
Dua pendekar tinggi yang ingin mengakhiri nyawa Leo harus berhenti karena Aura sudah berada di hadapan mereka.
“Anak ini bukan seorang sembarangan, jangan bergerak dengan gegabah.” Salah satu pendekar merasakan bahwa Aura bukan orang lemah.
“langkah bayangan.” Aura menggunakan Ilmu yang dia gunakan di kehidupan lalu.
Aura berhasil mengambil nyawa dari salah satu pendekar tinggi.
“Ampun tuan muda.” Pendekar tinggi yang tersisa tiba-tiba sujud ketika pedang Aura selangkah lagi menusuk dirinya.
“Ampun tuan muda, aku menyerah, aku tidak akan melakukan kejahatan lagi.”
Pendekar tersebut pun berbicara sambil menangis.
“Haha dia pasti membiarkan ku pergi.” Pendekar tersebut berbicara di dalam hati.
“Ah kamu pikir aku pendekar aliran putih.” Aura tersenyum dengan dingin.
“Maafkan saja, cara bekerjaku sangat berbeda dengan aliran putih.” Aura mengayunkan pedang nya ke arah pendekat tinggi.
“Bajinga...” Pedang Aura memotong kepala pendekar tinggi yang belum sempat selesai berbicara.
“Tuan tunggu.” Putri tersebut ingin memberhentikan Aura yang ingin pergi menuju kamarnya setelah pertarungan selesai.
“Ada apa, Kamu ingin aku membersikan mayat mereka?” Aura terus berjalan tanpa melihat putri tersebut.
“Kau!!” Putri itu menjadi kesal.
“Putri, jangan marah kepadanya.” Leo takut Aura akan membalasnya.
“Tapi aku hanya ingin berterimakasih kepadanya.” Putri tersebut menjawab dengan kesal.
“Iya saya tau, tapi kita harus mengurus mayat mereka dan juga mengganti rugi kerusakan ini.” Leo ingin memakamkan mayat saudara seperjuangannya dan membakar mayat yang menyerang mereka.
BERSAMBUNG>>>
Jozzzzzzzzzzz jozzzzzzzzzzz jozzzzzzzzzzz Gandozzzzzzzzzz Author 👍