Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.
Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.
Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.
Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
009. Episode 09
Nita mengikuti pelajaran dengan tidak fokus. Semua pertanyaan yang diajukan gurunya dijawab olehnya secara tidak logis. Sampai pada akhirnya, amarah gurunya pun meledak.
“Nita, silahkan keluar dari kelas saya! Daripada tidak menghargai saya, lebih baik kamu keluar bermain saja! Sudah SMA, tapi kelakuannya tidak lebih baik dari anak SD kamu. Keluar!” hardik Bu Tuti dengan galak.
Semua mata tertuju pada Nita yang ada di depan kelas. Nita hanya menunduk. Tangannya bergetar.
Semua ini gara-gara si perempuan sialan itu, batinnya geram.
Nita berjalan keluar kelas diiringi sorot mata semua temannya. Perasaan malu dan marah memuncak mengisi ubun-ubunnya. Ia berjalan cepat sambil menunduk, menuruni anak tangga, dan berjalan melewati markasnya. Saat akan berbelok, dirinya menabrak sesuatu. Sepertinya orang. Karena dirinya berjalan cepat, sambil menunduk juga, ia jadi tidak bisa melihat jalan.
Saat Nita mendongakkan kepalanya, dirinya terkejut bukan main. Adeth terjatuh di anak tangga paling bawah karena saat tertabrak tadi, dirinya sedang berlari.
“Maaf, aku tidak sengaja.” Adeth berkata lirih sambil mengusap lututnya yang berpotensi memar.
Bukannya meminta maaf, dengan sombongnya sambil membusungkan dada, Nita menyalahkan Adeth yang terluka karena dirinya.
“Makanya, kalau jalan jangan songong,” jawab Nita kasar.
Adeth yang tidak ingin memancing masalah langsung pergi begitu saja sesaat setelah mendengar kata-kata tajam Nita. Ia segera naik ke atas. Namun, saat menjejaki anak tangga ke tiga, dirinya teringat kata-kata Nita tadi saat bertemu di dekat sini juga.
Dejàvu, pikirnya. Adeth kemudian kembali dan bertanya kepada Nita.
“Tunggu, Nit!”
Nita menggigit bibirnya, memejamkan matanya, dan menggenggam tangannya dengan kuat. Ia balikkan badan dengan keras.
“Apa?!” tanyanya dengan ketus.
Adeth yang menyadari aura yang tak mengenakkan dari Nita langsung mengambil jarak aman.
“A-aku …,” Adeth merasa ragu untuk bertanya “Aa … hehe. Tidak jadi.”
Setelah mengatakan itu, Adeth segera berlari menuju kelasnya, berlari melewati tangga. Mukanya panas, malu.
Nita yang kesal membalikkan badannya secara keras—lagi—menuju tempat sepi, seperti gudang sekolah. Ia mendudukkan dirinya di tumpukan kardus-kardus bekas, sejenak untuk melepaskan segala beban yang dialaminya.
Nita merenung. Pikirannya memuat banyak hal. Gambaran ekspetasi akan masa depan jika dirinya berhasil mendapatkan Bimo muncul. Bayangan akan masa depan yang indah dengan beberapa malaikat mungil di tengah-tengah keluarga beterbangan. Nita terisak. Napasnya berat. Hatinya menyuarakan sesuatu.
*Kak Bimo, aku hanya ingin kita seperti dulu lagi. Saling berbagi rasa dan cerita. Suka maupun duka. Dari hal itu pula, aku menyadari. Rasaku padamu, bukan sekedar rasa biasa.
Namun, semua berubah semenjak kau bertemu anak itu beberapa bulan lalu. Aku tidak membenci hal itu. Aku hanya membenci perubahan sikapmu padaku sejak hari itu. Kau jadi dingin, tidak peduli, dan menghindar setiap bertemu denganku. Kau tahu? Hatiku hancur karenanya. Tapi aku tak sanggup melakukan apa-apa lagi. Karena kau terlalu menyakitkan untuk diingat, juga terlalu indah untuk dilupakan.
Aku pernah mencuri dengar perbincanganmu dengan temanmu. Kau berkata, “Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Nita.” Dan hal itu membuatku tambah sakit hati. Tapi hal itu lantas tak membuatku benci padamu. Aku malah makin semangat untuk mendapatkan kembali perhatianmu dan menyingkirkan anak itu.
Aku hanya ingin kita dapat seperti dulu lagi*.
___________________________________
Ada yang pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan? Komen di bawah, ya!
Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
bocah Kambil itu apa ya artinya??
salken
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,