Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas
Mata Bian semakin panas bersamaan dengan hatinya yang entah kenapa terus bergemuruh melihat tarian Bunga saat ini. Terlebih ketika gadis itu semakin meliuk-liukan tubuhnya seirama sengan dentuman musik. Bian panas dan itu karena Bunga.
Belum sempat Bian bertindak. Mata jelalatan ketiga temannya sudah menangkap keberadaan Bunga.
**** umpat Bian dalam hati. Pasalnya Andre tidak berkedip melihat Bunga saat ini.
"Sumpah demi apa ada si sexy woi!" Roni tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gila..gila..gila...tariannya bangunin singa gue aja," celetuk Oki tanpa berkedip.
Berbeda dengan Andre yang mulai menaik turunkan jakunnya secera cepat. Cowok itu benar-benar tidak tahan melihat Bunga dengan tarian erotisnya saat ini.
"Tuh cewek suka dugem juga ternyata," komentar Roni masih dengan tatapan setianya. Menatap Bunga pastinya.
Adanya Bunga seakan menarik perhatian mereka. Tidak ada yang lebih menarik lagi di tempat itu selain seorang Bunga dengan segudang kesexy-an yang diperlihatkan oleh bentuk tubuhnya.
"Ah....panas gue liat Bunga gituan." Andre mulai kelimpungan.
"Wah..menang banyak pacar doi." Oki masih geleng-geleng kepala. Sesekali tangannya meraba bagian bawahnya yang terasa aneh, sudah mulai tegang mungkin. "Sabar lo Jon," ucapnya perihatin melihat bagian bawahnya.
Bian tampak diam. Tetapi mendengar ucapan teman-temannya membuatnya kian meradang. Rasa kesal Bian semakin bertambah ketika ada seorang laki-laki yang berjoget dan sengaja mendekat dengan Bunga.
Laki-laki itu punya maksud terselubung.
"****," umpat Bian bangkit dari duduknya.
"Eh...Ian..kemana lo?" teriak Roni melihat Bian yang berjalan menjauh dari meja mereka tadi.
Bugh
Sebuah pukulan melayang tepat di pipi kiri pria tersebut. Semua yang berada di sana terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bian.
Pria itu tersungkur. Menatap Bian tidak suka, dia ingin membalas apa yang Bian lakukan. Tetapi sudah lebih dulu dicegah oleh teman-teman Bian.
"Bangs*t!" umpat Bian lalu menarik tangan Bunga untuk menjauh dari kerumunan tersebut.
Bian menarik Bunga untuk keluar dari klub. Dia mendorong Bunga untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan melajukan mobil meninggalkan tempat tersebut.
Membiarkan teman-temannya yang kini sedang terkejut dengan perlakuan Bian, ditambah Bian yang meninggalkan mereka dengan mobilnya. Itu berati mereka harus memesan taxi. Karena mereka tadi datang menggunakan mobil Bian.
"Bian nawa kabur Bunga," lirih Roni masih tidak percaya.
Sementara di dalam mobil. Bian melirik Bunga yang sudah memejamkan matanya. Bisa-bisanya gadis itu mabuk di saat seperti ini.
Bunga tampak terlelap. Sesekali gadis itu bergumma lirih yang tidak dimengerti oleh Bian.
"Errgghh." Bunga mengganti posisi duduknya menjadi sedikit terlentang. Mencari posisi ternyaman untuknya.
Bian melirik cara duduk Bunga yang tidak biasa itu. Sudah dua kali Bunha duduk dengan posisi seenaknya begitu. Iya enak untuk Bunga tetapi menyiksa untuk Bian.
Dengan sedikit kesal. Bian menutup paha Bunga dengan jaket yang tadi dikenakan olehnya. Lalu kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemen. Bian tahu tempat tinggal Bunga karena beberapa kali mereka selalu bertemu di lift.
Tetapi Bian tidak tahu dimana tepatnya apartemen Bunga.
"Hei...bangun lo!" suruh Bian melirik ke arah Bunga yang masih terpejam.
Karena tidak ada jawaban ataupun pergerakan dari Bunga membuat Bian berniat untuk menepuk pipi gadis itu.
Jantung Bian kembali terpompa dengan begitu cepat, hatinya berdebar hebat dengan keadaan dirinya dan Bunga saat ini. Wajah Bunga sangat dekat dengan dirinya. Dalam keadaan mabuk saja Bunga masih terlihat begitu cantik, bulu mata yang lentik, bibir kecil dan sedikit berisi, juga hidung mancung dan alis tebal alami. Pantas saja teman-temannya selalu membicarakan gadis itu. Rupanya nama Bunga memang menggambarkan sosok Bunga sendiri.
Bian dibuat salah tingkah sendiri setelah mengamati wajah cantik Bunga, sampai akhirnya jantung Bian semakin berdetak dengan cepat saat Bunga menggeser tubuhnya. Kali ini baju yang dikenakan Bunga sangat jelas memeprlihatkan bagian atasnya. Bian meneguk air ludahnya dengan susah payah.
Bisa-bisanya anak SMA memakai baju se sexy yang Bunga kenakan.
"Hei...bangun lo!" Bian menepuk pelan pipi Bunga.
Tetapi tetap tidak ada pergerakan dari gadis itu. Mau tidak mau Bian memilih untuk membawa Bunga menuju ke apartemennya.
Dengan segala kesulitan Bian tadi menggendong Bunga sampai di apartemennya. Bian membaringkan Bunga di ranjang kamarnya. Ini untuk yang pertama kalinya Bian membawa seorang gadis ke kamarnya. Dalam keadaan mabuk juga.
"Errgghh...jangan pergi," rintih Bunga.
Bian mengernyit. Melihat Bunga yang masih memejamkan matanya, tetapi tahu jika dirinya tadi berniat pergi dari kamarnya.
"Hei..sadar lo-"
Seketika ucapan Bian terputus saat Bunga merubah posisinya saat ini. Bunga menindih Bian yang kini berada di bawahnya. Mata Bunga masih terpejam. Tetapi gadis itu terus bergumam tidak jelas.
"Bangun lo!" suruh Bian membuat Bunga membuka matanya secara perlahan.
Hal yang pertama kali Bunga lihat ialah mata indah Bian. Sorot mata yang selalu menemani Bunga dan menenangkannya.
Bunga tersenyum begitu manis. Senyuman yang jelas langsung menyihir Bian untuk tidak berontak dengan posisi mereka saat ini. Tetapi sedetik kemudian apa yang dilakukan oleh Bunga diluar dugaannya.
"Ini sepesial," ucap Bunga sebelum akhirnya mencium bibir Bian.
Ciuman yang begitu lembut Bunga berikan. Bahkan sampai membuat Bian shok dengan apa yang dilakukan oleh Bunga. Gadis itu berani menciumnya. Entah Bunga sudah tersadar atau masih dalam keadaan mabuk. Hati Bian semakin berdebar tidak karuan disaat bibir mereka masih saling bertautan, sampai pada akhirnya Bunga kembali limbung di atasnya. Gadis itu benar-benar tidak sadarkan diri lagi karena ternyata masih mabuk.
Bian tidak bodoh. Keadaan dirinya dan Bunga saat ini membuat dirinya tidak bisa berpikir dengan jernih. Hawa di sekitar semakin panas Bian rasakan. Entah karena ciuman yang baru saja diberikan oleh Bunga atau tubuh Bian yang sudah bereaksi lain. Dengan tubuh sexy Bunga yang menimpanya saat ini membuat sekujur tubuh Bian bekerja tidak semestinya. Ada aliran yang seakan mendorongnya untuk menyalurkan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.
Bian merasa dibodohi oleh tindakan Bunga tadi. Entah dia harus bersyukur atau mengutuk kejadian ini. Karena posisi Bunga yang masih menindihnya membuat dirinya harus menahan diri sekuat mungkin.
Puk
Bian mendorong Bunga untuk menyingkir darinya. Lalu berdiri untuk menuju ke kamar mandi. Dekat dengan Bunga membuat tubuhnya menggila. Bian sadar reaksi tubuhnya karena kenormalannya. Tetapi dia bukan pengecut yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Arrghhh!" Bian meninju dinding kamar mandinya Bersamaan dengan gemericik air yang mulai turun membasahi tubuhnya.
Bunga itu beda, tapi penuh dengan kemisteriusan. Gadis itu terlalu gila untuk Bian mengerti.
"Cepat atau lambat gue tahu siapa lo," gumamnya menyisir rambutnya yang mulai basah karena air.