Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole
Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!
Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10: Lari Darimu
"Pintar," pria itu memuji Nara yang dari tadi menekuni perintahnya. Dia sedang menyuapi Nara. Kemeja tipis menutupi tubuh kekar berototnya. Dasi dan kemeja kantornya, dibiarkan bertengger di pegangan sofa.
Nara yang disuapinya, cukup diam. Dia tak berani berkata sepatah kata pun walau dia sudah kenyang. Dia takut pria itu akan menyakitinya yang kedua kali setelah kejadian semalam.
"Kau sudah kenyang?" tanya pria itu. Nara mengangguk. Pria itu meletakkan piring yang sudah tiada sisa lagi di meja. Dia mengambil segelas air putih. Didekatkan bibir cangkir ke mulut Nara. Nara meneguknya perlahan-lahan sembari menutup kedua matanya. Selepas minum, Nara baru berani membuka matanya.
Aku ingin pergi darinya, batin Nara.
Aku akan menjagamu seketat mungkin hingga setitik pun gerakan mencurigakan itu tak berani kau ciptakan, batin pria itu.
Nara menunduk. Tubuhnya sedikit digeserkan ke samping. Tujuan Nara sekarang hanya lari darinya. Nara lupa bahwa dia masih sakit. Digeserkan kaki kirinya dengan cepat.
"Argh!" Nara menjerit sambil memejamkan kedua matanya erat-erat hingga terlihat kerutan di wajahnya. "Nyeri... nyeri sekali."
Pria itu tersenyum pulas. "Mau ke mana tadi?"
Pertanyaannya berhasil membuat Nara kaget. Jantungnya berdetak keras. Nara mulai duduk diam dan tertunduk.
"Ke mana?"
Tidak ada jawaban dari Nara.
"Ke mana, Nara? Jawab aku."
Sekali lagi, tidak ada jawaban yang pasti dari Nara. Tapi tenang, pria itu sudah tahu jawabannya, yaitu Nara ingin pergi darinya.
"Haha," pria itu tertawa singkat, "kau pikir aku tidak tahu kau ingin ke mana?"
Pria itu berbicara sambil menaikkan kedua kakinya ke kasur. Dengan cepat dia mengubah posisi duduknya ke samping Nara. Tangan kirinya merangkul tubuh mungil Nara. Jari-jemarinya menyentuh permukaan rambut Nara. Pria itu tersenyum mulus.
"Pergi? Tidak... tidak ada cela untuk pergi. Mengerti?" suara kasar itu merasuki batin Nara. Ingin sekali Nara menghindar, tapi tetap saja tidak bisa. Tubuhnya menjadi kaku.
Suara mengambil napas dalam-dalam, membuat bulu kuduk Nara berdiri. Pria itu berhasil membuat otot Nara terkunci. Keringat dingin muncul di kening Nara. Rasanya, tak ada guna hidup bila terus-menerus dikekang seperti ini.
"Tidurlah. Besok akan jauh lebih baik dari hari ini. Tapi, ingat satu hal, bahwa kau tidak bisa pergi dariku."
-oOo-
"Ekhem," suara dehaman tidak jauh dari telinga Nara. Napas panas menyentuh permukaan leher Nara.
Subuh ini, Nara ingin melarikan diri dari rumah agar terhindar dari pria misterius otoriter itu. Saat Nara bangun tadi, Nara melihat pria itu masih tertidur pulas. Sekarang, malah sebaliknya. Nara tertangkap basah saat sedang menggenggam genggaman pintu rumah
Tiba-tiba saja tubuh Nara terangkat. Tangan Nara langsung mengalungi leher pria tersebut. Bibir Nara membentuk huruf O. Mata Nara menatap mata garang milik pria itu. Alisnya yang berkerut, menambah kegarangan wajah pria itu.
"Ke mana? Ke mana lagi pagi-pagi seperti ini, ha?" ancam pria itu. Pupil mata Nara membesar. Nara menelan ludah.
Pria itu berjalan sambil menggendong Nara ke kamar. Ditempatkan Nara ke kasur. Nara duduk sambil menunduk. Pria itu berdiri sambil mengintimidasi dengan mimik wajahnya dan sikap dinginnya.
"Kau ingin melarikan diri dariku?" kata pria itu. Dia menatap Nara dengan garang, namun hatinya tertawa bahagia melihat Nara tertekan seperti ini. Dia tak ingin Nara dekat dengan orang lain kecuali dirinya.
Tubuhnya membungkuk, masing-masing tangannya berada di kasur dekat dengan tubuh Nara untuk menopang tubuhnya sendiri. Nara agak mundur untuk menghindarinya.
"Ingat, sekali saja kau pergi dariku, maka kau takkan melihat hidup yang kau jalani saat ini, melainkan kau berada di dalam sisi gelapku. Kau takkan pernah bertemu teman-temanmu lagi, kau takkan bisa tinggal di sini lagi, dan namamu dicabut dari kampus Ochado. Aku sudah bilang, aku bisa jadi malaikat jika kau menekuni apa yang kukatakan," kata pria itu. Nara menahan sesak di dada.
Apa salahku, Tuhan? Kenapa aku bertemu dengan pria se-posesif ini? Kenapa dia tak bisa bertobat? Kenapa dia mencintai dengan jalan yang salah? Apakah ini adalah ujian untuk menerima pria sepertinya? kata hati Nara.
"A-apa yang Bapak inginkan dariku?" Nara mulai angkat suara, tapi dia masih menunduk.
"Heh?" pria itu tertawa kecil merendahkan kata-kata Nara. Tangan kanannya mulai mendekati dagu Nara. Dia memaksa Nara mendongak. Mata mereka saling bertemu.
"Cintamu," jawab pria itu singkat. Nara menatap bingung. "Kau tak mengerti, Nara?"
"Tidak. Tapi aku benar-benar ingin pergi darimu," kata Nara tegas.
"Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku?" tanya pria itu. Matanya mulai menyipit dan alisnya agak mengerut. Bibirnya mengecil.
"Ya dan aku akan melakukan apa yang kumau. Aku bukan wanita lemah yang bisa kau manfaatkan. Kesabaranku sudah—"
Bungkaman hangat langsung membungkam bibir Nara. Dorongan demi dorongan, membuat Nara berbaring penuh di kasur. Pria itu menindihnya. Lumatan itu semakin lama membuat kebencian di hati Nara pudar. Kenikmatan itu seakan menjadi racun kepada Nara.
Pria itu berhenti melakukannya. Dia melihat pipi wanitanya memerah. Nara terdiam. Jantungnya berdetak kencang dan malu saat melihat pria itu.
Pria itu mulai bangkit dan berdiri tegas. Dia tersenyum halus melihat wanitanya berbaring dengan pikiran yang terbayang-bayang kejadian tadi. Lima detik kemudian, pria itu meninggalkan Nara sendiri. Pintu dikuncinya, berusaha menjaga Nara agar tidak lari dari rumah.
Di dalam kamar, semua tentang pria itu terlintas di pikirannya. Nara perlahan-lahan bangkit dari kasur. Dia berjalan ke meja hias. Cermin itu memperlihatkan betapa merah pipinya. Kejadian tadi masih saja terbayang di pikirannya. Kebenciannya sedikit terkelupas, namun masih saja dia ingin lari dari pria se-posesif itu.
Kenapa pikiranku terisi olehnya?! Kenapa?! bantah hati Nara.
Nara membalikkan tubuhnya, berdiri mematung sambil melihat sekeliling ruangannya. Bayang-bayang pria itu masih saja terlihat di matanya. Wangi parfum khas pria itu tercium. Nara mendaratkan bokongnya ke kasur dengan frustasi. Dia menutup kedua matanya, meyentuh keningnya, dan tetap saja pria itu berada di pikirannya.
Nara terbangun dari lamunannya. Matanya membulat sejenak. Dia bangkit dari kasur lagi. Berlari mendekati pintu kamar. Dia menarik-narik gagang pintu, rupanya terkunci. Dia bergegas mencari kunci di sekitar ruangan, untung saja ada kunci serap di lemari. Dia berlari ke pintu kamar lagi. Memasukkan kunci itu di lubang kunci, memutarnya, dan mendengar kunci pintu terbuka. Dia menarik gagang pintu lagi. Suara pintu yang belum ditaruh minyak, mengganggu pendengaran.
Nara langsung melepaskan kunci yang ia pegang. Suara besi menyentuh lantai granit, menggema di ruangan. Pupil matanya membesar. Kakinya gemetar. Detak jantungnya tak beraturan. Pria berjas biru tua di hadapannya yang sedang melipat kedua tangan di depan dada dan bahu kiri yang bersandar di dinding, membuat harapan untuk pergi jatuh total.
Tatapan marah terus tertuju pada Nara. Nara diperlakukan seperti anak perempuan di bawah usia 20 tahun olehnya. Dikurung, taangisan, kemarahan, itulah yang tiap hari terjadi.
"Subuh ini, kau membuat kesabaranku hilang dan mengganggu waktu tidurku. Sekarang, kau melakukan hal yang sama. Melarikan diri. Apa kau pikir setelah melarikan diri dariku, kau bisa bahagia di luar sana?" tanyanya. Dia tertawa merendahkan sejenak. "Oh, tidak. Tidak semudah itu."
"Baiklah, apa hukumanmu untuk hari ini, anak kecil?" tanya pria itu. Lalu senyuman miring itu mulai sarkartis. "Tentu saja bukan hukuman yang ringan."
-oOo-
Bye, nyelam lagi.
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
ahh hasil nya sama aja
berawal dr WP