Tajuk Hendrawan adalah seorang CEO muda yang terkenal akan keuletannya, tapi saat dia jatuh cinta kembali dengan seseorang yang tiga tahun lalu pernah hadir dalam hidupnya, membuat semuanya berubah, bahkan Tajuk yang belum merelakan cinta lamanya memilih untuk mengejarnya kembali, apa lagi perpisahannya dahulu karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab, membuat Tajuk tidak bisa menerima kenyataan perpisahan mereka.
sedangkan Rindu adalah seorang wanita biasa, sebagai karyawan biasa tidak ada hal yang menonjol darinya. sampai saat kisah cintanya yang rumit terulang kembali. Kini cinta segitiga yang di alaminya begitu membuat Rindu serba salah.
Alfian orang yang paling peduli akan Rindu, mencintai Rindu dengan setulus hati. Bahkan Alfian dengan sabar menanti kesiapan Rindu menerima cintanya.
Lantas bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Bagaimana kisah asmara mereka???
Silahkan di baca ya!!
PERINGATAN!!!
BANYAK TYPO DIMANA MANA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbuatan siapa??
"Mas kok masih di sini?" Kata Rindu yang baru keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandinya.
"Sweetheart mana handuknya?" Tanya Tajuk tanpa menjawab pertanyaan Rindu dia malah minta handuk. Rindu pun berjalan menuju lemari bajunya, dan mengambilkan handuk yang baru buat Tajuk.
"Nih, abis itu cepat pergi dari sini, aku gak mau jadi bahan gunjingan di sini." Kata Rindu sambil memberikan handuk itu padanya, Tajuk hanya tersenyum tak mengindahkan ucapan Rindu.
Tok... tok...tok...
Ceklek...
"Maaf nyonya, ini baju tuan Taj"
"Oh, iya pak." Kata Rindu sopan.
"Panggil saja Joe, nyonya."
"Oh,ok Joe, makasih."
"Baik nyonya, kalau begitu saya pergi dulu nyonya." Kata Joe
"Iya Joe."
Rindu pun menaruh paperbag itu di meja kecil di samping kasur, meja yang merangkap untuk meja makan.
Karena memang masih terlalu pagi, Rindu pun keluar untuk membeli sarapan di depan kostnya. Biasanya dia berangkat kerja jam tujuh pagi dan ini masih jam enam jadi masih banyak waktu pikirnya.
Tajuk yang sudah selesai mandi itu bersiap dengan memakai baju yang barusan di kirim oleh Joe.
Tajuk melihat seisi kamar kost Rindu, melihat buku yang bertumpuk di meja, dia pun tersenyum teringat bahwa Rindu memang suka membaca.
"Apa dia tidak melanjutkan kuliahnya?" Gumam Tajuk yang membuka buku tentang desain. Pandangannya kini tertuju pada buku diary kecil yang terselip di antara buku yang lain di rak buku di depan meja.
Tajuk pun meraihnya, dia penasaran apa isi dari diary tersebut. Diapun mulai membukanya. Lembar pertama lolos di bacanya dan itu membuatnya tersenyum karena buku itu menceritakan tentang dirinya sewaktu dulu masih pacaran dengan Rindu.
Ceklek...
Suara pintu terbuka, ketika melihat Rindu datang, dia memasukkan buku diary itu di balik jasnya, dan memasukkan di saku dalam jas, lalu dia pun menoleh.
"Kamu dari mana, sweetheart?" Tanya Tajuk.
"Ini ada sarapan kalau mas mau." Kata Rindu datar sambil dia menyiapkan dan di tuangnya ke piring. Tajuk pun mulai memakan lontong sayur yang di beli oleh Rindu tersebut.
"Sweetheart ada yang ingin aku tanyakan, kenapa kamu selalu menyebutkan kalau kita sudah bercerai?" Kata Tajuk memulai pembicaraannya, Rindu pun menghentikan makannya dan melihat Tajuk dengan tatapan tidak mengerti akan maksud pertanyaan Tajuk untuknya saat ini.
"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran mas, dulu mas pura-pura jadi orang miskin, untuk mendekatiku lalu menikahiku, setelah menikah mas bilang ada kerjaan di luar kota, dan ternyata mas ngurus surat cerai, hingga aku tidak sempat bertanya apa alasannya, nah sekarang mas tiba-tiba muncul seakan tidak terjadi apa-apa, beginikah sikap orang kaya selama ini? Atau apa memang semua orang kaya seperti itu?" Kata Rindu panjang lebar dengan nada kekecewaan di sana.
"Sweetheart aku...---" Kata Tajuk
"Sudahlah mas, mas ga usah bersandiwara lagi, aku sekarang sudah bisa menerimanya kok, aku sadar orang miskin kayak aku tidak pantas menikahi orang kaya seperti mas, mungkin karena hal itu jadi mas bisa mempermainkan pernikahan kita dengan mudah." Potong Rindu.
" ....."
"Sudah jam 07.00 sebaiknya mas segera ke kantor." Kata Rindu. Tanpa menjawab Tajuk pergi keluar meninggalkan Rindu. Melihat Tajuk keluar dari kamar kostnya melihat punggung orang yang di cintainya membuat Rindu semakin sesak.
"Aku gak tahu harus gimana menghadapimu mas." Gumam Rindu
Setelah selesai memakan sarapannya Rindu pun membersihkan bekas makan tersebut dan dia pun mengambil tasnya lalu pergi berangkat kerja.
Tajuk sengaja meninggalkan Rindu, setelah mendengar kata-kata Rindu tadi, dia semakin tidak mengerti, karna dia tidak merasa menceraikan Rindu, waktu itu dia pergi ke Belanda karena ada masalah dengan perusahaannya di sana makanya dia pergi dengan alasan pergi dinas keluar kota pada Rindu.
"Joe, kamu ke ruanganku 15 menit lagi, sekarang aku di jalan." Kata Tajuk lewat teleponnya.
"Baik tuan."
Seperti yang di minta Tajuk, maka Joe menuju ke ruangan Tajuk, bossnya belum datang jadi dia menunggu sambil duduk di sofa ruangan Tajuk.
Setelah 15 menit Tajuk pun masuk ke ruangannya, dia melihat Joe yang sudah ada di ruangannya.
"Bawakan aku hasil penyelidikanmu tentang Rindu dua minggu lagi, dan aku tidak ingin ada yang terlewatkan. semuanya harus lengkap." Kata Tajuk dengan ekspresi datar.
"Ba-baik tuan," Jawab Joe.
"Sekarang katakan perusahaan mana saja yang kini menjadi saingan terberat kita." Lanjut Tajuk
"Perusahaan Shasi tuan muda, perusahaan itu sekarang jadi saingan terberat kita untuk bersaing memperoleh tender dari Jepang."
"Ok aku mengerti, sekarang pergilah."
"Baik tuan muda." Jawab Joe.
Lalu Joe pun keluar dari ruangan Tajuk, waktu dua minggu yang di berikan Tajuk sangatlah singkat, tapi dia tidak ada pilihan lain karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan bosnya.
Kata-kata Rindu masih terngiang jelas di telinganya seperti rekaman tape recorder baginya, dia tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya. Pikirannya selalu pada sosok Rindu.
"Sebenarnya siapa yang berani memalsukan akta cerai dengan memakai namaku?" Gumam Tajuk
"Gara-gara hal itu aku berpisah dengan Rindu selama tiga tahun ini, aku tidak akan membiarkan dia, aku akan mencari tahu siapa dia." Gumam Tajuk dengan wajah merah memendam amarah.
Dia pun membaca buku diary yang tadi di ambilnya dari kamar kost Rindu, di dalam buku itu adalah curhatan hati Rindu, curhatan mulai dia berpacaran dengan dirinya , sampe dia menikah, dan di situ juga tertulis bahwa dia memang benar menerima surat cerai ketika dirinya sedang berada di Belanda.
Tajuk menghela nafas panjangnya, dia tidak mengerti dengan apa yang sudah terlewatkan ketika dia berada di Belanda, dan siapa yang sudah dengan berani membuat sandiwara perceraiannya dengan Rindu.
Kini pikiran Tajuk di penuhi tanda tanya siapa dalang di balik semua kejadian ini, apa mungkin papanya, begitulah yang ada di pikirannya saat ini. Tapi untuk apa papanya melakukan itu? Padahal justru papanya lah orang pertama yang mendukungnya, lalu siapa? Siapa orang di balik perpisahannya dengan Rindu yang memakan waktu begitu lama.
☆Bersambung ke eps 10 ya☆
semangat 💪💪
jgn main potong" ajha 😏😏😏
rindu bilangnya ke Alfian tajuk yg meninggalkan
aku baru terjumpa dgn novel mu
keren sungguh jalan ceritanya.
ada sambungannya tak?