Bercerita tentang seorang gadis SMA kelas 2 bernama Ran. Diam-diam Ran jatuh cinta pada teman barunya bernama Saka. Saka adalah murid pindahan yang memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Cinta Ran pun berbalas. Namun, ternyata ada satu hal yang membuat mereka ngga dibolehkan untuk pacaran lebih dari 30 hari. Sebuah rahasia yang ngga ada satu orang pun di sekolahnya tau tentang kehidupan Ran, dan hal itu membuat Saka sangat penasaran. So, what is Ran’s secret?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Semalaman Ran tak bisa memejamkan kedua matanya dengan sempurna, karena ia terus menangis.
Alhasil, begitu ia terbangun pagi ini matanya jadi kesulitan untuk dibuka, karena terasa sakit dan sembab.
Ran pun jadi merasa tak bersemangat karena masalahnya dengan Ale. Rasanya ia males untuk keluar dari kamarnya, apalagi kalau harus melihat pria yang selalu ada bersamanya selama 8 tahun lamanya.
Akhirnya Ran pun kembali menutup wajahnya dengan selimut. Tapi saat ia mau menutup wajahnya, matanya melihat keluar jendela dari atas tempat tidurnya, dan ternyata diluar sana…
"Hujan?”
Flashback
“Bang Ale tau ngga kenapa hujan turun dari langit?”
“Dalam proses kondensasi, uap-uap air berubah menjadi embun yang diakibatkan oleh suhu di sekitar uap air lebih rendah daripada titik embun air. Suhu udara yang semakin tinggi membuat titik-titik dari embun semakin banyak dan memadat lalu membentuk menjadi awan. Oleh karena itu butir-butir air jatuh menjadi hujan.”
“Huaaa keren. Semua hal Abang tau, termasuk isi hati aku. Selalu tau apa yang lagi aku mau.” Kata Ran, memuji.
Ale langsung tertawa mendengarnya.
“Sekarang coba Bang Ale tebak. Apa yang lagi aku mau sekarang?” Tanya Ran, sambil bergaya manis menunjukkan wajahnya pada Ale.
Ale pun langsung memandangi wajah Ran, dan mencoba menebak apa yang sedang Ran mau sekarang. Tapi, yang menjadi fokusnya Ale malah berubah. Bukanlah apa yang Ran inginkan saat ini, melainkan
“Ran pake lip balm?” Tanya Ale, sambil menyentuh bibir Ran.
“Hah? I-iya. Bibir aku kering.” Jawabnya, kikuk.
“Ran, kamu ngga apa-apa kalo mau pake lip balm, tapi jangan pas kamu lagi sekolah.”
“Kenapa?”
Sembari menghapus lip balm di bibir Ran, Ale pun menjelaskannya.
“Ran masih pelajar, masih kelas 2 SMP. Lebih manis kalo bibirnya natural. Bukannya kamu suka pake es batu di bibir kamu? Makanya bibir kamu warnanya pink.”
“Tapi…bibir aku pucat kalo ngga pake lip balm.”
Ale tak menyahuti ucapan Ran. Ia hanya tersenyum sambil menunjukkan raut wajah yang membuat Ran langsung menurut padanya.
“Iya, aku ngga akan pake lip balm lagi kalo ke sekolah.”
Ale semakin tersenyum mendengarnya.
“Oh iya, Bang Ale belum tebak mau aku apa sekarang.”
“Ngga akan Abang kasih yang kamu mau sekarang.” Kata Ale.
Tanpa harus mengatakannya, Ale sudah bisa langsung menebak apa yang sedang ada di dalam kepala Ran saat ini.
“Hah? Tapi…” Ran mulai panik begitu Ale tahu apa maunya dan langsung ditolak.
“Ayo pulang, tugas sekolah kamu banyak.” Kata Ale, sembari memakaikan helm di kepala Ran.
“Tapi kan masih hujan. Nanti kalo Bang Ale sakit gimana?”
“Kan ada Ran yang bakalan jadi dokter Abang.”
“Hah?”
“Ayo naik.”
“Bang Ale” Rengeknya.
“Ran”
Ran tak bisa mengatakan apa-apa lagi selain menurut pada Ale. Dengan terpaksa ia pun naik ke atas motor Ale. Sementara Ran memakai jas hujan, Ale hanya memakai jaket, dan itu hanya sia-sia saja karena air hujan tetap menebus sampai ke tubuhnya.
***
“Bahkan hal sekecil itu pun Bang Ale bisa langsung tau, kalo saat itu yang aku mau adalah tetap menunggu hujan sampai reda.” Ran kembali teringat masa dimana Ale rela kehujanan demi dirinya.
“Dan setelah itu…” Ran malu kalo harus mengingatnya kembali.
Karena keesokan harinya Ale langsung jatuh sakit. Setelah membaca pesan yang dikirim oleh Ale setelah sholat subuh, Ran langsung berlari ke rumah Ale. Langit masih gelap, tapi Ran sudah bertamu ke rumah Ale. Begitu Mama membukakan pintu untuknya, Ran langsung masuk ke dalam rumah Ale dan berlari memeluk Ale yang sedang berdiri di depannya. Saat itu juga Ran langsung menangis sambil mengatakan “Bang Ale maafin aku. Bang Ale sakit gara-gara aku. Bang Ale harus cepat sembuh.”
Mama, Papa, Ale dan Fahri sampai tercangah melihatnya. Mereka tak menyangka kalau Ran akan sekhawatir itu pada Ale.
“MALU!”
Satu kata itu yang mewakili perasaannya saat itu dan saat ini. Hal yang masih terlintas dalam benaknya, setiap kali teringat dengan kejadian hari itu.
“Kenapa aku bisa sejahat itu sama laki-laki yang jelas tulus sayang sama aku? Malahan sekarang dia udah jadi suami aku.” Ran menghela berat napasnya. Ia merasa menyesal dengan ucapan kasarnya pada Ale semalam.
“Aku harus gimana ya?” Ran mencoba memikirkan cara terbaik untuk meminta maaf, tanpa harus mengucapkannya langsung pada Ale.
Satu menit…dua menit…tiga menit…
“AHHAAA!” Akhirnya ia mendapatkan ide cara untuk meminta maaf pada Ale.
***
SMK DWI KARYA
“Ran”
Ran mengangkat wajahnya saat sedang membuka seatbelt di kursinya.
“Abang minta maaf, kalo ternyata pernikahan ini ngga buat Ran bahagia. Selama ini Abang berpikir, kalo Ran punya perasaan yang sama seperti yang Abang rasain ke Ran. Makanya Abang menikahi Ran. Abang minta maaf.”
Mendengar Ale meminta maaf padanya dengan raut wajah memelas, membuat Ran semakin tak tega dengan suaminya.
Tapi Ran juga tak bisa mengatakan apapun pada Ale saat ini. Ia masih sulit untuk membuka diri pada Ale seperti dulu lagi. Jadi Ran memilih untuk diam dan cukup mendengarkannya saja.
“Abang sayang sama Ran.”
Wajah Ran perlahan menunduk lemas mendengarnya. Sudah ribuan kali kalimat itu ia dengar dari Ale. Tapi sampai saat ini tak ada sedikit pun celah ruang di hatinya untuk menempatkan Ale sebagai prianya.
“Aku…sekolah dulu.” Kata Ran, lemah.
Ada rasa kecewa di hati Ale saat Ran merespon ucapannya dengan kalimat itu. Tapi ia tetap berusaha tegar menerima tolakan Ran saat ini.
“Iya.” Hanya satu kata itu yang mampu Ale ucapkan.
Ran segera keluar dari mobil dengan rasa bersalah.
Namun saat ia mengangkat wajahnya, ia langsung melihat
“Saka?”
Bergegas Ran berlari menghampiri Saka. Dengan cepat ia langsung mencegat Saka yang sedang berjalan sendirian.
“Tunggu!” Pinta Ran, dengan napas tersengal-sengal.
Saka langsung terkejut melihat kemunculan Ran yang tiba-tiba ada di depannya.
“Ini” Ran memberikan sebuah paper bag pada Saka.
“Hadiah buat gue?”
Mendengar kegeeran Saka, kedua mata Ran langsung menyipit seraya mengatakan “Jaket lo.”
“Owhhh”
Saka pun mengambilnya.
“Thanks.” Ucapnya, singkat. Lalu pergi begitu saja.
Saka menggeleng melihat sikap Ran. Ia masih tak bisa percaya bisa berurusan dengan cewek seperti Ran. Padahal sudah sangat jelas, kalau kemarin mereka cabut sekolah bareng. Bukannya semakin akrab, ini justru terlihat biasa aja.
08:50 Ruang Guru
Bu Aluna memberikan surat pemanggilan orangtua pada Saka dan Ran.
Ran tidak menyangka kalau ia akan mendapat surat seperti ini. Entah harus siapa yang akan datang untuk memenuhi pemanggilan akibat ulahnya kemarin, Ran bingung dan panik.
“Baik Bu.” Ucap Ran, pasrah.
Setelah menyalimi wali kelasnya, Saka dan Ran keluar dari ruang guru.
Betapa lemasnya tubuh Ran saat ini, karena harus memikirkan hal buruk yang akan ia hadapi sekarang. Tapi begitu melihat ke arah Saka yang berjalan 3 meter dibelakangnya, Ran langsung merasa kesal.
“Kok lo kelihatan ngga ada beban sih dapet surat ini?” Tanya Ran, heran.
“Kenapa harus beban? Emang kita salah kan?” Sahutnya. Benar-benar terlihat tanpa beban.
Sangat jauh berbeda dengan Ran yang sangat berpikir keras karena surat yang ada di tangannya. Saka malah terlihat sangat santai.
“Sesial ini nasib gue sejak dekat sama lo.” Kata Ran, menyesali.
“HAH? Maksud lo apa?”
“Tau ahh.” Ran tak ingin membahasnya. Ia pun pergi meninggalkan Saka.
“Himawari, tunggu.” Bergegas Saka segera mengejarnya.
“Saka, tolong berhenti deketin gue. Gue benar-benar ngga mau deket lagi sama lo. Gue selalu sial setiap kali deket sama lo.” Kata Ran, dengan langkah terburu-buru untuk menghindari Saka.
Saka masih tak mengerti dengan ucapan Ran.
Ia pun berhenti mengejar Ran, dan saat ini ia ingin berpikir untuk mencerna kalimat Ran yang terus mengatakan sial saat bersama dengannya.
***
09:15 11Multimedia1
Tak hanya Ran yang memandangi surat pemanggilan orangtua, tapi juga Devanya yang ikut memandanginya dengan raut wajah nyeri.
“Emangnya lo kemana kemarin? Sampe susah gue hubungin. Sengaja lo matiin ya hp lo?” Tanya Devanya.
Ran mengangguk. Masih dengan rasa lemas yang belum juga hilang dirasakan olehnya.
“Saka juga dapet surat yang sama kayak lo. Emangnya lo cabut bareng Saka?”
Dengan cepat Ran langsung membantahnya “Ngga mungkinlah.”
“Ya udah sih biasa aja kali, kalo emang lo ngga cabut bareng Saka.”
“Ckk”
“Tapi, emangnya kemarin lo tuh kemana sih?” Desak Devanya, penasaran.
“Pokoknya ke tempat yang bikin gue…bahagia.” Jawabnya. Semakin membuat Devanya penasaran.
“Iya. Tapi kemana?” Devanya semakin gemas dengan jawaban Ran yang terlalu bertele-tele.
“Rahasia.”
“Ckkk” Kecapnya, kesal.
“Terserah lo deh kalo lo belum mau kasih tau kemana lo cabut kemarin. Tapi, hari ini gue boleh duduk ya sama Kenan?” Rayunya, dengan senyuman maut.
“Ya bolehlah.”
“Tapi lo duduk sama Abizar.”
“Iya.”
“Thank youuuu my sweetheart.” Serunya, sambil memeluk erat Ran.
“Iya…iya…”
Devanya pun segera pindah ke kursi belakang, begitu juga dengan Abizar yang pindah duduk ke kursi di depannya.
Bukan baru kali ini saja Devanya meminta Ran dan Abizar untuk duduk bersama, dan keinginan Devanya itu sangat dimaklumi oleh mereka. Tapi…
Ternyata seseorang dari kejauhan sedang memperhatikan mereka. Seseorang yang tidak lain adalah Saka.
Kedua mata Saka langsung mengerucut tajam pada satu fokusnya, yaitu Ran. Ia langsung tidak terima begitu melihat Ran duduk dengan cowok lain.
“Juna, itu kenapa Himawari duduk sama Abizar?” Tanyanya.
Juna yang sedang bermain game di hpnya, langsung melihat ke arah Ran.
“Ran maksud lo?”
“Iya.”
“Mana gue tau.” Sahutnya tak peduli. Ia pun kembali meneruskan bermain game.
“Kok lo ngga tau sih?” Protesnya, kesal.
“Kalo lo penasaran, lo tanya aja sendiri.”
“Ngga. Lo aja yang tanya.” Ujarnya, dan langsung memelankan suaranya yang sejak tadi menggebu.
Tiba-tiba Juna jadi merasa aneh dengan Saka. Ia kembali menghentikan permainan gamenya.
“Eh Ka, lo kok jadi peduli sih Ran duduk sama teman cowok? Biasanya juga lo ngga peduli kalo ada teman cewek kita yang duduk sama cowok.” Tanya Juna, curiga.
“Ngga apa-apa.” Jawab Saka, sambil mengalihkan perhatian ke hal lain.
“Gue ngga percaya.” Kata Juna, tetap curiga.
Juna pun langsung menatap tajam mata Saka, dan membuat Saka jadi kikuk karena tatapan elangnya itu.
“Oke. Himawari tuh menarik buat gue.” Kata Saka, terpaksa mengakuinya.
“HAH???” Juna sangat kaget mendengarnya.
“Serius yang lo bilang barusan tentang Ran?” Tanya Juna, memastikan.
“Iya. Emang kenapa?”
“Yaa Ran emang cantik, cantik. Tapi…dia kan cuek banget.”
“Karena kecuekkannya makanya gue suka.”
Juna menggeleng mendengar pengakuan Saka yang hampir tak bisa ia percaya.
“Jadi, ternyata tipe cewek lo itu selevel Ran?” Ledeknya, dengan tawa.
“Maksud lo?” Saka tak terima mendengar cara Juna membicarakan tentang Ran.
“Sadarlah kau prince of SMK DWI KARYA.” Kata Juna, sembari menepukkan tangannya tepat di depan wajah Saka.
Juna melakukan hal itu dengan tujuan agar Saka sadar tentang Ran. Tapi ternyata hal itu tak berpengaruh oleh Saka.
Saka malah semakin kesal pada teman sebangkunya itu, dan ia pun tak ingin menyahuti lagi ucapan Juna. Ia pun memutuskan untuk menghampiri Ran sambil membawa tasnya.
“Eh Ka, lo mau kemana?” Tanya Juna, terkejut.
Tapi Saka mengabaikan pertanyaan Juna.
Langkahnya terus berjalan menuju kursi Ran yang berada jauh dari kursinya.
Tuk.Tuk.Tuk.
Saka mengetuk meja setibanya ia berdiri di samping meja Ran. Abizar yang duduk berada dekat dengan Saka berdiri, langsung menaikkan
wajahnya ke atas.
Saka memberinya kode pada Abizar agar Abizar segera pindah dari tempat duduknya sekarang. Tapi Ran langsung mencegahnya.
“Gue ngga mau duduk sama lo.” Kata Ran, menegaskan.
“Tapi gue mau.”
“Kok lo maksa?”
“Gue suka maksa.” Sahutnya, meledek dengan santai.
Ran geram melihat kelakuan Saka yang terlihat childish.
“Tapi gue ngga suka dipaksa.”
“Terserah. Pokoknya gue mau duduk disini.”
Perdebatan Ran dan Saka pun langsung menjadi pusat perhatian teman-teman di kelasnya.
“Zar, cepat lo pindah.” Perintah Saka, bak preman.
“Jangan.” Cegah Ran, sambil memegang lengan Abizar.
Meskipun tak menyentuh langsung kulit Abizar, lantaran Abizar memakai jaket. Tapi Saka tetap tak suka melihatnya.
Saka pun langsung tak terima. Dengan cepat Saka langsung menarik tangan Abizar agar menjauh dari tangan Ran.
“Pokoknya gue mau duduk disini, di sebelah lo.” Kata Saka, semakin mempertegas keinginannya.
“Lo ngga malu ya sama kelakuan lo?”
“Ngga. Kan gue…”
“AAAAAAAAAARRRGGGHHHHH” Ran langsung berteriak sangat kencang sebelum Saka mengatakan kalau dia adalah pacar Ran.
Seisi kelas langsung memusatkan perhatiannya pada Ran.
Ran pun jadi malu.
Lagi. “Gara-gara Saka gue jadi malu setengah mati, malahan mau mati.” Kata Ran, membatin sangat kesal.
“Ya udah! Lo boleh duduk disini.” Kata Ran dengan terpaksa.
Saka pun langsung tersenyum bahagia begitu Ran mengizinkannya, dan Abizar segera pindah duduk bersama Juna.
Sedangkan Ran, ia langsung duduk kembali dengan perasaan sangat dongkol sambil memalingkan wajahnya ke dinding tanpa mau melihat Saka sedikit pun.
Devanya dan Kenan yang duduk dibelakang mereka tentunya semakin bertanya-tanya. Ada apa antara Ran dan Saka???
Kenan langsung menggambar hati satu halaman penuh di buku catatannya, dan Devanya…
“Ooh ya??” Mempertanyakan dugaan Kenan tentang hubungan dua teman sekelasnya yang ada didepan mereka.
***
16:00 Taman 400 meter
Saka dan Ran saling terdiam satu sama lain. Mereka berdua sedang mempertahankan ego mereka masing-masing.
“Aku mau mereka tau kalo kita pacaran.” Kata Saka, jelas.
“Aku ngga mau mereka tau kalo kita pacaran.” Kata Ran, menegaskan.
“Emangnya kamu ngga cemburu lihat para cewek setiap hari ngedeketin aku? Pepet-pepet aku? Cari perhatian ke aku? Kamu ngga cemburu?” Tanya Saka, ingin tau.
“Ngga.” Jawab Ran, yakin.
Saka tak percaya ada cewek berhati batu yang malah ia pacari.
“Kalo kamu anggap hubungan ini serius, aku ngga masalah kita putus.” Kata Ran, seraya beranjak dari ayunan lalu berjalan melewati Saka.
Saka frustasi mendengar ucapan Ran yang kembali acuh padanya.
Namun dibalik wajah Ran yang terlihat tegar, tanpa Saka tahu kalau sebenarnya ia rapuh, menangis, dan tak ingin putus dari pacar pertamanya, Saka.
Tapi Saka memanglah tidak tahu hati Ran yang sebenarnya padanya. Ia tetap melihat kesal ke arah Ran yang berjalan semakin menjauh darinya. Ia sendiri bingung dengan dirinya. Permainan isengnya malah menjebaknya dalam perasaan nyata.
“Aku ngga mau kita putus sekarang.” Kata Ran, dalam hatinya, sambil terus berjalan menjauh meninggalkan Saka.
***
19:30 Rumah Susun
Ale duduk di depan meja makan. Makan malam yang sudah ia siapkan dari satu jam yang lalu sekarang sudah dingin.
Kedua matanya masih belum melepas dari pintu berwarna putih, dengan gantungan bertuliskan “Don’t distrube me!”
Ran benar-benar tidak ingin diganggu saat ini.
Ale membuka kepalan ringan tangannya. Selembar kertas berwarna merah muda dengan gambar wajahnya membuatnya sedikit tersenyum.
8 jam yang lalu
Ale membuka tasnya untuk mengambil lembar berkas yang sudah ia siapkan dari rumah. Tapi,
“Ini??” Selembar kertas berwarna merah muda kecil yang dilipat membentuk bunga ada di dalam tasnya.
Ale langsung membuka lipatan kertas itu dan melihatnya. Ternyata sebuah surat permintaan maaf dari Ran.
“Maafin aku. Ini voucher makanan untuk hari Sabtu besok.” Kata Ran, dalam surat kecilnya.
“Voucher?”
***
“Ran, Abang harus berbuat apa lagi supaya kamu ngga terus bersedih?”
Ale mulai ingin menyerah dengan cintanya. Bukan karena hatinya yang tak lagi mencintai Ran, melainkan ia merasa tak tega melihat Ran terus bersedih karenanya.
Matanya mulai melihat ke arah jam dinding di ruang tengah. Ternyata sudah hampir dua jam lamanya Ran mengurung diri di dalam kamarnya.
Rasa khawatir mulai hadir dalam diri Ale. Ia pun beranjak dari kursi makan, lalu berjalan menghampiri kamar Ran.
Ale tak langsung membuka pintu kamar Ran. Ia berdiri diam sejenak di depan pintu kamar Ran untuk memastikan kalau yang akan dilakukannya sekarang tidak akan salah.
Cklek.
Ale merasa lega karena Ran tidak mengunci pintu kamarnya. Ia mulai melangkah masuk ke dalam kamar Ran yang gelap dan hening.
“Hikss”
Suara isak tangis itu yang pertama terdengar olehnya. Entah apa yang sedang terjadi pada Ran, tapi untuk saat ini Ale hanya ingin memeluknya untuk menenangkannya.
“Bang Ale” Ran memanggil nama Ale dengan suara lirih. Ia sedikit mengangkat wajahnya sambil melihat ke arah Ale yang masih berdiri di dekat pintu kamarnya.
Saat itu juga Ale langsung menghampiri Ran dan memeluknya.
“Ada Abang disini. Ran ngga usah sedih.” Kata Ale, sambil membelai lembut kepala Ran.
Pelukan Ale berhasil membuat Ran langsung merasa tenang.
***
gk ad kelanjutanya kah....??
smngat thor.. smg kamu sehat...selalu
tapi lagi otw review. tunggu aja ya ☺️
atau juga aluna????
thooor katanya mau posting foto bang ale yg asli manaaaaa??
jg lupa si ran nya juga ya....
kalem ga ??
aku suka bngt...
iya kan thor??
uuh makin sayang bgt sama bang ale
lnjut dong thor