NovelToon NovelToon
Bidadari Dalam Sangkar.

Bidadari Dalam Sangkar.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest
Popularitas:169.8k
Nilai: 5
Nama Author: ekha dewi

Alyra Almeera adalah gadis sederhana, Setelah kematian sang ibu, membuatnya menjadi wanita yang senang mengurung dirinya di rumah, dia hanya menghabiskan waktu, dengan melanjutkan bisnis usaha kue milik peninggalan ibunya.

Dahulu saat dia baru saja kuliah di pertengahan semester delapan, tiba-tiba harus menghentikan kuliahnya, akibat terhambat biaya yang bentrok dengan biaya kebutuhan sehari-hari, dia malah terus mendorong sang adik untuk terus sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Dia berharap sang adik yang akan meneruskan cita-citanya.

Tidak ada kisah cinta sebelumnya, hingga sang ayah sakit, dia rela jadi pembantu demi biaya pengobatan sang ayah yang tiba-tiba harus di operasi.

Dia hanya mengabdi pada ayah dan adik satu-satunya. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk keduanya.

Hingga dia bertemu dengan pria yang bernama Bayu Samudra, juga keluarga lainnya, dia tidak menyangka jika pertemuan setiap hari akan membuat keduanya jatuh cinta.



ikuti kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ekha dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BDS.Chapter 9(Wewe gombel)

Pletak..

"Aw."

Alyra meringis saat sendok melamin bekas seduhan kopi mendarat di alisnya,

Dia melirik kearah pria tampan yang berwajah jutek di sampingnya.

"Kenapa mereka tidur di kasur mu semalam, bagaimana kalau mereka sakiit?" tatapan menyelidik Bayu tanpa berkedip saat melihat Alyra dengan wajah datarnya pokus pada pisau di tangannya yang sedang memotong sayuran.

"Mana saya tahu."

Lyra hanya mengedikan bahunya, tanda isyrat ketidak tahuannya, dengan bicara seperlunya. bukan marah, namun mencoba menyembunyikan kegugupan, takut majikannya marah, karena memang dia juga tidak tega kedua majikannya ikutan tidur bersamanya.

"Mbak hari ini kita masak apa?"

Suci mengerutkan Alis melihat sang kakak masih tak bergeming, melihat Alyra yang sedang pokus memotong sayuran.

"Hey."

Suci menggeretak sang kakak dengan hentakan kaki yang di buat keras. Dia ingin menggoda sang kakak yang tidak biasanya berdiri di dapur pagi-pagi.

"Aw."

Lyra meringis dia kaget mendengar Suci, mengagetkan kakaknya dia teriris pisau yang sedang dia pegang, kupas bawang menjadi merah dengan darah yang mengucur dari jari telunjuknya.

"Darah darah darah."

Lyra panik dia phobia darah sejak kecil, wajahnya mulai pias memejamkan matanya, dia gemetar melihat darah yang mengucur dari jarinya.

Dia mengumpatkan tangannya kebelakang, dengan menyembunyikannya pada lap yang menggantung.

"Mbak tidak apa-apa?"

Pertanyaannya Suci di perkecil, saat melihat Bayu dengan replek dia mengambil jari Lyra lalu memasukan kemulutnya, menghentikan pendarahan dari jari itu.

Suci menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana kakaknya peduli dengan itu semua, Mbak keren mbak teruskan .

Gerutu Suci dengan hati senang, entah kenapa dia bahagia melihat pandangan di depan matanya.

Prannkkk suara gelas pecah terdengar dan sudah tercecer di lantai, Sonia menatap nyalang pada pandangan di depan matanya. Dia kesal menahan tangannya ingin mendamprat wajah yang sedang menikmati pengobatan gratis penuh kemistri yang di tunjukan Bayu.

Lyra menarik tangannya, dari mulut Bayu mencucinya di keran air, dia bingung harus berbicara apa, akhirnya dia mengambil singkup sampah lalu menyapu bekas pecahan gelas disana.

Saat akan berjongkok dorongan tercipta dari tangan Sonia, Namun Lyra tidak bergerak sama sekali, dia menahan bobot badannya agar tidak terjatuh.

Sonia semakin marah, dia akan melayangkan tamparan namun dari arah belakang Murni memegang tangannya.

Membuat Sonia geram bukan main.

"Dasar pembantu tidak tahu diri, kamu mencoba merayu calon suamiku, ya?"

Sonia geram dengan napas naik turun, dia menepiskan tangan Murni. dan pergi dengan kemarahan.

Bayu sadar yang dia lakukan adalah penghantar konflik yang akan di hadapinya, dia kesal sendiri kenapa harus menolongnya tadi.

Harusnya aku biarkan saja dari pada terjadi kesalahpahaman seperti ini.

tapi aku tidak tega, dia takut melihat darahnya sendiri tadi aneh memang.

Geutu Bayu dalam hati.

"Akhhh."

Dia pergi dari sana dengan perasaan prustasi tidak menentu, dia membawa gelas kopi yang baru saja dia seduh tadi, dia menolak saat akan di buatkan oleh Lyra.

"Mbak nggk apa-apakan?"

Suci mendekat dan Murni masih mematung melihat keadaan sekitar.

Lyra menggeleng dengan perasaan yang tidak menentu juga, kenapa dia tidak menepis saat tangan Bayu meraih tangannya, mungkin karena shock jadi dia tidak bisa berpikir jernih.

"Nggak apa-apa Nona."

Dengan kikuk Lyra menjawab, hingga Murni mendekat meraih tangan Lyra menempelkan pelester pada jari yang terluka tadi.

Mereka bingung, dan kembali Lyra tersentuh hatinya, majikan yang di anggap sebagai biang rusuh dan di anggap musuh, ternyata dia sudah berkali-kali memberikan perhatiannya.

Dia ingin menyentuh kepala gadis itu namun, takut di anggap nggak sopan, Akhirnya menggantung di udara dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Nona terimakasih."

Lyra terharu dan Suci merasakan hal yang sama, dia menghangat melihat perubahan yang ada di diri sang kakaknya.

Murni melengos pergi dan tanpa bersuara, dia rasa sudah menyelesaikan tugasnya. "Ajaib mbak!"

Lyra mengerutkan Alis, "Ada apa Nona?"

Suci hanya menggeleng, dia melihat diri dari kedua kakaknya menunjukan sikap yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

Dan bahkan dia pertama kali melihat perhatian Bayu yang selalu tidak peduli pada wanita lain bisa bersikap begitu manis pada Lyra.

Capcai sudah tersaji, kerupuk, dan ikan yang di goreng sudah siap matang, juga sambal matah yang di sajikan dengan lalapan rebus membuat perutnya berbunyi.

Dia menghidangkannya di meja, lalu dia kembali bergegas, menuju kesamping halaman, setelah memanggil semua majikannya, dia bergegas kembali kedapur, langsung melihat pekerjaan yang lain, ya itu menjemur cuciannya tadi yang belum dia jemur. Melangkah menaiki satu persatu anak tangga yang berada di samping ketika membawa cucian basah dia naik melewati tangga sana, menghirup udara luar saat berada di lantai tiga.

Ada kebun kecil di bawah tepat di belakang rumah majikannya, mungkin tanah kosong milik pemerintah.

Pagi ini dia tidak kesiangan, dia bisa melakukan tugasnya lebih awal. dia merentangkan tangannya dengan air mata menetes, dia mampu melewati pekerjaan yang membuat badannya bekerja keras.

"Ayah Luna aku rindu kalian."

Terisak, dengan wajah terpejam, menikmati bayangan kedua orang yang di cintainya selama ini, berdatangan lembar demi lembar bayangan mereka memenuhi pikirannya.

"Jangan ada pelangi hari ini tuhan, biarkan panas hari ini yang akan meringankan aku untuk tidak naik turun memindahkan jemuran."

Suaranya Lirih sambil menghela napas panjang, dan tiba-tiba dia teringat perhatian Bayu dan Murni pagi ini, membuat dia tersenyum.

Melihat jari telunjuknya yang terbungkus plester, dia merasakan kebahagiaan, dia bukan mengharapkan cinta, namun menikmati perhatian mereka.

Tiba-tiba cengkraman keras terasa, di lehernya, membuat kerudungnya ikutan tertarik kebelakang, dia ingin melihat tangan siapa di belakangnya. terdengar napas naik turun dari mulut si pelaku.

"Berani sama gw, ayah loh sekarat di rumah sakit. jangan harap bisa menggodanya, dia miliku."

Meraih tangan Lyra dan menarik paksa plester pembungkusnya, "jangan mbak."

Suara ringisan terdengar hingga Sonia menggigit keras telunjuk Lyra.

"Aww."

Perih, panas, sakit, melihat darah mengalir kembali, dari telunjuknya.

Lyra terpejam demi menghindari ketakutan melihat darah yang berlebihan dari dirinya.

"Itu belum seberapa, berani kamu macam-macam tangan mu ini yang nanti akan ku potong."

Suara bengis berdesis, dengan kilatan Amarah memuncak. meludah menghilangkan bau amis dari darah yang menempel di giginya.

"Ingat jangan sesekali mengganggu hubungan gue kampungan." menusuk dada Lyra dengan jari telunjuknya.

Sonia pergi dari sana, dia puas membalas dendam yang tadi. melihat telunjuk Lyra di masukan kemulut Bayu membuat dia semakin tidak sabar ingin segera menjadikan dirinya ratu di rumah itu, ingin mendepak Lyra pergi jauh.

Lyra terduduk melipir menuju wastapel yang ada di lantai tiga, dia memejamkan matanya saat mencuci darah dari jari telunjuknya.

Dia sadar perhatian Bayu justru mengundang petaka untuk dirinya dia harus waspada, tidak boleh terjadi lagi kejadian menyakitkan seperti sekarang yang di rasakan pagi ini.

telunjuknya bengkak memar merah, dan lukanya menganga, membuat periiih saat luka tersentuh air.

"Ayah segeralah sembuh, aku tidak bisa terperangkap terlalu dalam di pekerjaan ini, bukan keinginan ku mendapat perhatian darinya."

Sesak, matanya memerah, melihat darah yang samar dan sudah semakin encer saat terbilas dengan air yang mengucur, membilas luka yang baru saja terjadi lagi.

Si kanibal dasar wewe gombel.

Grutu Lyra kesal melihat wajah Sonia yang tersenyum penuh kemenangan, saat menyantap hidangan di meja makan pagi ini.

Lyra masa bodo dia melewati saja tanpa menyapa, dia hanya pokus pada jalan yang di laluinya, namun wajah Lyra terlihat dingin tidak ada senyum seperti biasanya.

Kenapa wajah mbak Ly kusut begitu

Gerutu Suci sambil memperhatikan gerak langkah dari pembantunya yang berjalan tanpa menyapanya.

"Dasar tidak beretika, lewat seperti anjing tanpa permisi." suara lantang Sonia, membuat mereka terkejut.

Ada apa dengan mereka. kenapa mereka seperti sedang marah sekali.

Gerutu Suci, namun Bayu nampak cuek saja, dia masih pokus menghabiskan makanan di piringnya, dia aku memang setelah kehadiran Lyra menu makan di rumahnya menjadi berpariasi.

Tidak selalu mie instan Go-food dan paling menyebalkan di kulkas penuh dengan makanan instan.

Lyra masuk kekamarnya menghitung hari bekerja disana, padahal tidak perlu di hitung juga tetap belum genap seminggu, namun hatinya sudah tidak sabar nunggu sebulan, dia sudah rindu dengan saudaranya.

_________

Dirumah sakit tempat ayah mereka di rawat, nampak perubahan sang ayah berangsur membaik, dia terus kepikiran putri sulungnya, kata dokter mungkin seminggu lagi boleh pulang, jika perkembangan sang ayah tidak kembali drop, dan terus membaik seperti sekarang

"Sayang kapan kakak mu pulang?"

Sang Ayah masih dengan topik yang sama, dalam kurun sehari bisa sepuluh sampai dua puluh kali bertanya tentang keberadaan Lyra.

"Makanya Ayah harus cepat sembuh, biar kak Lyra cepat pulang, dia bisa berkumpul dengan kita lagi."

Suara Luna, terdengar lebih bijak, dalam mengayomi sang ayah, kepergian Lyra menuntutnya agar bisa lebih dewasa, dia merasa terpukul begitu Lelah ternyata menjalani peran seperti yang selalu di lakukan kakaknya, dia baru sadar selama ini dia di urus tanpa tahu apapun.

dan hanya membantu sekenanya saja, tanpa peduli apa-apa yang menjadi tugas sang kakak.

"Ayah hari ini aku kuliah siang, ayah dengan suster dulu, secepatnya aku pulang, setelah kelasku selesai."

Suara Luna membuat pandangan sang ayah menatap wajah si cantik Luna, mengusap rambut hitam milik putrinya.

"Maafkan ayah."

Suara sedih nampak tercetak dari wajah sang ayah, gara-gara dirinya dua putri yang harusnya menikmati masa-masa kebebasan, malah harus menjaganya terus dan merampas waktu mereka untuk bersenang-senang.

Prankkk..

Gelas yang di pegang Ayah Akbar terjatuh, tiba-tiba ada yang mengganjal di hatinya, Lyra sayang kamu baik-baik saja kan

Gerutu Papa Ali, dan membuat Suci kaget, dia buru-buru mendekat setelah mencuci tangan di keran wastapel.

"Ayah ada apa?"

Suci mendekat mengusap lembut tangan sang ayah, memberi kekuatan agar dia tidak kepikiran tentangnya dan sang kakak.

"Sayang telpon kakak mu, ayah ingin melihat wajahnya." Luna melihat jam tangan, dia menunggu waktu yang di sebutkan kakaknya jika masih pagi di larang menelpon karena sedang bekerja.

Dia takut kena omel sang majikan.

Namun, saat Luna masih bimbang, getaran di hp nya terasa, dan nampak wajah sang kakak dalam panggilan video.

"kakak"

Matanya berkaca-kaca ketika melihat wajah sang kakak yang udah 4 hari ini belum menelponnya.

"Assalamu'alaikum Luna sayang mana Ayah?"

Suara Lirih terdengar menyapa, Lyra mengumpulkan kata-kata dan tidak kuat melihat wajah sang ayah nampak menatap rindu pada dirinya, Lyra melambai tangan pengganti suaranya yang tercekat.

"Aku baik-baik saja, jangan khawatir, ayah cepat sembuh biar kita, rawat ayah di rawat di rumah."

langsung pada inti maksud kekhawatiran sang ayah, Lyra tahu kata-kata itulah yang utama yang ingin di dengar sang ayah, tentang keadaan yang harus terlihat selalu baik-baik saja.

Senyum terbit dari wajah sang ayah ketika melihat Lyra sedang menyendok nasi kemulutnya, kekhawatiran berkurang setelah melihat keadaan putrinya, hingga panggilan video berakhir, tidak banyak yang di utarakan oleh ketiganya, terlalu banyak yang ingin di ucapkan namun hilang saat melihat langsung wajah yang mereka selalu rindukan.

panggilan berakhir, Lyra bahagia, setidaknya dia bisa mulai mencari rencana kedepan untuk mencari pekerjaan lain yang tidak harus meninggalkan sang ayah seperti sekarang.

"Mbak Ly sedang apa?"

Suci mengetuk pintu kamar Lyra, dan tidak lama lyra keluar dengan piring kosong di tangannya.

"Kenapa tidak ikutan makan dengan kita di meja?"Lyra tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu. dia melangkah sambil menuju keran wastapel di hadapannya.

"Mbak kenapa lukamu jarimu bengkak?"

kembali pertanyaan keluar dari bibir majikan perempuannya.

"Mungkin terkena air Nona, lukanya jadi bengkak, udah aku kasih salep luka nanti juga baik-baik saja, terimakasih atas perhatian nona."

Wajah Lyra kembali datar, tidak biasanya wajah seperti itu di tunjukan pada majikannya. Dia harus menjaga jarak dengan mereka, agar tidak terlalu dekat, dan berharap mereka menganggapnya saudara, ucapan Sonia menyadarkannya jika dia tidak boleh merosok masuk pada kehidupan majikannya.

Apalagi perhatian-perhatian yang akan malah menyulitkan dia untuk meninggalkannya nanti, ketika keluar dari pekerjaan itu.

"Mbak aku mandi dulu hari ini aku bagian masuk siang di kantor, bisa membantu bikin bekal nggak untuk siang nanti, aku bawa makan aja dari rumah, agar tidak harus turun mencari makan."

"Baiklah Nona."

Lyra langsung menyahut dengan wajah datarnya, dia berbeda hari ini, membuat Suci berpikir keras. "Ada apa dengannya kenapa setelah kejadian tadi mbak Ly jadi berubah, apakah dia marah pada kakak Bayu."

Suci bermonolog sendiri , tanpa terasa dia sampai di depan kamarnya, saat pintu terbuka dia melihat kamarnya berantakan buku-buku novel sudah tidak di tempatnya, kasurnya berantakan.

Padahal semalam saat turun baik-baik saja. "Siapa yang melakukan ini." rutuk Suci sambil memungut satu persatu buku yang berserakan.

"Nggak usah di bereskan adik ipar, kita punya pembantu, jadi biarkan dia mengerjakan semua ini." wajah sinis yang di tunjukan Sonia membuat perasaan Suci semakin yakin, perubahan wajah Lyra pasti ada hubungannya dengan wanita licik di hadapannya.

Dia tidak bisa menuduhnya hanya terdiam lalu mengabaikan ucapan Sonia.

"Heh..kalau aku bicara di dengerin, aku ini calon istri kakak mu, yang sopan kalau bersikap, jika nanti kamu ingin tetap disini ketika aku sudah sah menjadi istrinya."

Tanpa tedeng aling-aling menggertak adik dari kekasihnya.

Dasar tidak punya urat Malu.

Gerutu Suci kesal, dengan sikap Sonia yang semakin menunjukan keberaniannya, Suci semakin bimbang dengan wanita pilihan kakaknya.

Dia merendam badannya di air, bagaimana menyadarkan Kakaknya tentang calon istri pilihan kakaknya, yang tidak ada kecocokan sama sekali dalam kriteria penerus, dan pengganti yang lebih baik dari ibunya, kalau melihat seperti itu Sonia malah lebih buruk dari sang ibu yang membuat hidup mereka hancur berantakan, tidak ada sikap yang patut untuk di jadikan contoh sebagai seorang ibu.

"Huuhhh." Menarik napas melepaskan sesak dalam angan-nya kembali Suci menenangkan otaknya terpejam merendam badannya.

1
Zaim Jepara
mau ketawa takut dosa🤭, semangat Thor sudah 2 novelmu ku baca dan semuanya menguras air mata😭
Ria dardiri
bagusss
Nurul
hmmm dah banyak bc crt... tp cerita ni terasa nyata GT...
Ratna Faidilna
jangan pelit up nya thor
semoga aja mey jodoh nya derek
fairy
up lagi dong
Lasmi Kasman
bahagia
Lasmi Kasman
Sonia engak kapok2
Lasmi Kasman
penasaran
Lasmi Kasman
sunguh menyakitkan
Lasmi Kasman
takut di jual jadi bilang TDK perawan
Lasmi Kasman
semangat Kak
Lasmi Kasman
orang jahat
Lasmi Kasman
Bayu kasihan lyra
Lasmi Kasman
sehat terus Alyra
Lasmi Kasman
lucu
Lasmi Kasman
kasihan
Aisyah Yuni Novita
lanjut thor..segera up donk
♨ˢᶜⰼ⃞☪🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧ🥑⃟ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
Kenapa enggak dilanjut Thor, ayo up lagi
Nur Wahyu
Thor kapan up lagi?
Dini Anggoro
kok di part ini karakter nya alira berubah ya thor.. jd kyk orng gila. td baca di part awal alira aku udh sreg, mungkin di part ini aja kali ya thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!