Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 9 Dasar Tua Bangka
Aska membuka pintu kamar Arifah dengan membantingnya. Arifah yang sedang tiduran kaget bukan main. Ia berusaha bangkit dari tidurnya dengan sekuat tenaga, tubuhnya sangat lemah.
Aska masuk lalu menarik tangannya dengan kasar.
Arifah yang masih kaget dengan ulah Aska meringis kesakitan dan berusaha melepaskan tangannya, namun ia tidak memiliki kekuatan, tubuhnya sangat lemah dan tak bertenaga.
Aska yang tidak peduli dengan rintihannya terus membawa Arifah diruangan ujung. Aska membuka sebuah kamar yang tak lain adalah gudang. Gudang itu penuh dengan sarang laba-laba dan berbau. Dengan kasar Aska menarik tangan Arifah untuk masuk kegudang itu hingga membuatnya terbentur meja. "Auu." Arifah meringis kesakitan dan memegang kepalanya yang berdarah.
Arifah melihat kearah Aska yang penuh emosi dan melepas ikat pinggangnya. Arifah yang ketakutan dan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, berusaha mundur menjauhi Aska. Namun tetap saja masih bisa dijangkau Aska. Aska melibasnya dengan membabi buta. Ia tidak peduli dengan rengekan Arifah yang meminta ampun.
Aska menghentikan kegiatannya setelah melihat darah ditangan dan kaki Arifah.
"Ampun Mas, kenapa Mas melakukan ini?" Rengek Arifah dengan bersimpuh dikakinya.
Aska mencengkram dagunya dengan sangat kuat, "Kenapa katamu heh? Apa yang telah kamu lakukan sungguh mencoreng nama baik keluarga! Dan kamu masih bilang kenapa!!" Aska melepaskan dagunya dengan sangat kasar hingga membuatnya kesakitan dan menangis sesenggukan.
Arifah tidak berani menatap Aska, "Mas tidak mempercayaiku kan?" Tanyanya memberanikan diri.
Tanpa menjawab pertanyaannya, Aska pergi meninggalkan Arifah didalam gudang dan menguncinya.
Arifah sangat ketakutan, ia sangat takut kegelapan, dan tubuhnya lemah tak berdaya. Arifah memeluk lututnya erat menangisi hidupnya yang malang, ia merasa hidupnya tidak berguna lagi.
Aska pergi kekamar membersihkan dirinya yang sangat kotor karena telah menyiksa adik kecilnya. Aska tidak punya pilihan lain, ia ingin Arifah kapok agar tidak melakukan kesalahan lagi kedepannya.
Selesai dengan urusan mandinya Aska menemui orang tuanya diruang tamu.
"Aska, Mami akan Menemani Papi keluar kota lagi untuk beberapa hari. Jaga Arifah, jangan sampai dia keluar rumah!" Perintah Mami.
"Baik Mi!". Jawab Aska. Ia lalu mengantar orang tuanya hanya sampai dipintu pagar dan mencium punggung tangan keduanya.
Setelah mengantar Mami dan Papi, Aska pergi kekamar Arifah dan membawa beberapa buku pelajaran yang harus dipelajari karena sebentar lagi Arifah akan menghadapi ujian akhir. Tak lupa Aska membawa beberapa roti isi, susu dan air putih juga kotak P3K.
Aska membuka pintu gudang dan melihat Arifah yang tampak takut dengan kedatangannya. Bagus jika yang aku lakukan membuatnya takut, dia pasti akan trauma dan tidak akan mengulangi kenakalannya lagi, Aska membatin.
Aska menaruh apa-apa yang diambilnya tadi dilantai, "Kamu harus makan, obati luka-lukamu, dan jangan lupa belajar, karena sebentar lagi kamu harus ujian. Kamu harus bisa mendapat nilai yang bagus!" Ucap Aska dengan nada tingginya lalu menutup dan mengunci pintu gudang.
Arifah mengambil roti dan memakannya lahap sampai habis tak tersisa, ia hampir mati menahan lapar. Setelah selesai dengan makanannya, ia membersihkan luka dan mengobati lukanya dengan kotak P3K yang dibawa Aska.
***
Memasuki gerbang sekolah, Arifah berjalan menunduk, ia tidak berani melihat siapapun. Semua iswa dan Siswi memperhatikannya.
"Ada apa dengannya, kenapa terlihat pucat seperti mayat hidup?"
"Dia terlihat kurus!"
Mereka menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi dengan Arifah.
"Sepertinya aku berhasil!" Ucap Vika.
"Aku kasihan padanya." Ucap Siska tanpa menatap Vika.
Vika menatap tajam Siska, "Hei, kamu ini dipihak siapa?" Tanya Vika dengan melebarkan matanya.
"Aku hanya kasihan, sudahlah jangan menatapku seperti itu." Ucap Siska yang merasa risih dengan tatapan Vika.
Vika beralih menatap Arifah yang sedang berjalan menuju ruangannya dengan tatapan sinis dan penuh kebencian.
"Arifah!" Panggil Januar dari kejauhan, namun Arifah tidak memperdulikannya.
Mungkin dia tidak mendengar, batinnya, "Arifah!" Januar mengulangnya lagi dengan nada agak tinggi, hasilnya tetap sama.
Karena kesal Januar mencoba mengejar Arifah, "Hei kamu kemana saja? Aku mencarimu setiap hari, tapi kamu tidak ada dikelas. Aku senang kamu kembali kesekolah, apa kamu sudah siap menghadapi ujian?" Tanya Januar bersemangat. Namun Arifah tidak menghiraukan Januar yang mengikutinya sepanjang jalan menuju kelas. "Kamu terlihat pucat, kamu sakit?" Tanya Januar lagi, khawatir. Lagi-lagi Januar tidak mendapatkan jawaban, Arifah hanya menunduk tak mau menatap siapapun. Januar menghentikan langkahnya. Ada apa dengannya? Tidak seperti biasanya dia begini. Januar membatin.
Maya yang melihat Januar tidak mendapat respon dari Arifah, tertawa bahagia. Aku akan menunggumu Januar.
Arifah berada didalam kelas seorang diri, ia melihat dirinya yang tampak buruk dan menyedihkan. Selang beberapa menit seorang guru memasuki ruangannya. Seorang pengawas, ya tidak tanggung-tanggung pengawas yang datang adalah Pak Hasibuan langsung, sang kepala sekolah yang terhormat, yang ditakuti para Siswa dan Siswi. Dengan kaca mata tebal, kepala botak, kumis tebal menjuntai ditambah lagi perut yang buncit berjalan tegak penuh wibawa.
Arifah tampak gugup, kaki dan tangannya bergetar, wajahnya murung dan menunduk, ia takut menatap beliau.
Pak Hasibuan mendekati Arifah lalu menyerahkan lembar soal ujian. Beliau melihat wajah Arifah tampak pucat pasi. "Apa kamu baik-baik saja Nak?" Tanya Pak Hasibuan dengan menggenggam tangan Arifah.
"Saya baik Pak." Jawabnya dengan suara serak sembari melepaskan tangannya dari genggaman beliau.
Beliau hanya tersenyum melihat tingkah Arifah. "Santai saja, kita hanya berdua, kamu tidak perlu gugup seperti ini." Ucapnya dengan menggenggam tangan Arifah kembali.
Arifah sangat takut, Arifah berkeringat dingin. Benar-benar tidak tahu diri, dasar tua bangka. Batinnya.
Melihat Arifah yang tidak melepaskan tangannya, beliau lalu duduk disamping Arifah. Beliau kemudian menggenggam tangan Arifah dengan kedua tangannya. "Dengar, Saya bisa memberikan apapun yang kamu mau, kamu juga tidak perlu repot-repot mengikuti ujian, Saya yang akan mengurus semuanya nanti. Asalkan..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya.
"Asalkan Bapak mau menyelesaikan masalah saya?" Potong Arifah memberanikan diri.
"Tentu, tapi dengan syarat." Jawab Pak Hasibuan.
"Apa?" Tanya Arifah menatapnya dengan perasaan ngeri.
"Selesai ujian kamu harus ikut dengan Saya, kita akan bermain." Jelas Pak Hasibuan lembut sembari menyipitkan matanya sebelah.
"Tidak!" Jawab Arifah lantang hingga membuat Pak Hasibuan kaget. Arifah segera melepaskan tangannya dengan penuh amarah.
Beliau lalu bangkit pergi meninggalkan Arifah, dan duduk dikursi pengawas. Berani sekali dia membentakku, lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan. Batinnya dengan senyum kelicikan.
Sesegera mungkin Arifah menyelesaikan soal ujian, Arifah sudah sangat ketakutan, ia ingin segera pulang.
Setelah selesai dengan ujiannya, Arifah berlari tanpa memperdulikan yang lainnya. Ia terus berlari melihat kedepan, ia sangat ketakutan.
Arifah melihat mobil Aska sudah terparkir dekat pagar sekolah, ia langsung masuk kedalam. Perlahan Arifah mengatur nafas, mengambil nafas perlahan lalu mengeluarkannya dengan perlahan pula. Jantungnya terasa sangat berdenyut dan nyeri sekali setelah kejadian tadi. Ia masih ketakutan meskipun sudah ada Aska disampingnya.
Aska hanya meliriknya, ia ingin tahu apa yang terjadi dengan adiknya. Namun diurungkan. Ia tidak ingin Arifah berpikir bahwa ia peduli, Arifah harus menyelesaikan hukumannya sampai waktu yang ditentukan Papi. Batin Aska.
Setelah keadaannya sedikit normal, Arifah ingin menceritakan apa yang terjadi dengannya tadi. Namun ia masih sangat syok dan juga takut dengan Aska. Arifah juga takut jika Aska tidak akan mempercayainya. Arifah sangat bingung, ia merasa seorang diri, bagaimana dia harus mengadu, dan kepada siapa? Tak ada seorangpun yang mempercayainya. Arifah menangis terisak dengan menutup mulutnya.
Bagaimana aku harus menghadapi ujian besok jika pengawasnya masih beliau, batin Arifah ditengah isak tangisnya.
.
.
.
TBC...
Terima Kasih Sudah Mampir, Jangan Lupa Like n Vote yaa 😊
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️