Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Bibir yang Tidak Boleh Disentuh
"Pak Renard, halaman tujuh."
Liana mengetuk dokumen dengan ujung pena.
Tatapan Renard tetap berada di bibirnya.
Senin pagi, ia sudah tiga kali kehilangan bagian laporan. Pertama ketika Liana mengucapkan angka penjualan. Kedua saat ia membasahi bibir karena kopi terlalu panas. Ketiga sekarang, ketika mulut itu membentuk kata `halaman tujuh` dengan kesabaran yang mulai menipis.
"Ada yang salah dengan riasan saya?" tanya Liana.
Renard tersadar. "Tidak."
"Kalau begitu, data retur ada di halaman tujuh."
Ia menunduk ke dokumen. Angka-angka tampak seperti baris tak bermakna. Yang muncul justru ingatan tentang ujung jarinya di bibir Nona Terapis dan tulisan yang ditinggalkan perempuan itu di telapak tangannya.
Untuk orang yang aku cintai.
Renard menutup map. "Kamu punya orang yang disukai?"
Liana berhenti bernapas.
"Maaf?"
"Seseorang yang kamu cintai. Ada?"
Pertanyaan itu terlalu mirip dengan percakapan di kamar gelap. Liana menahan kedua tangan di atas tablet agar tidak bergerak gugup.
"Tidak ada."
Jawaban tersebut membuat kerutan di antara alis Renard mengendur.
Liana menangkap perubahan itu. "Kenapa Bapak bertanya?"
"Pemeriksaan latar belakang."
"Status percintaan tidak ada di formulir karyawan."
"Mungkin harus ditambahkan."
"Divisi HR akan sangat sibuk kalau semua pegawai ditanya begitu."
Renard menatapnya lama, lalu mengalihkan mata. "Cukup untuk laporan ini."
Liana keluar dengan telinga panas.
Di area kerja, Rizal menyambutnya dengan wajah penuh harap. "Rapat pribadi selesai?"
"Itu laporan retur."
"Kenapa wajah Mbak merah?"
Bayu meletakkan setumpuk map di antara mereka. "Karena AC kantor bos sekarang dua puluh satu derajat. Sejarah baru."
"Pak Renard menaikkan suhu?"
"Sejak kemarin. Katanya terlalu dingin untuk bekerja." Bayu melirik Liana. "Padahal tiga tahun kami bekerja dengan suhu lemari pendingin."
Liana pura-pura sibuk membuka surel. Namun ujung jarinya menyentuh bibir sendiri, mengingat sentuhan Sabtu malam yang berhenti tepat ketika ia meminta.
Pukul dua belas, Rizal dan Bayu mengajaknya makan di food court gedung sebelah. Liana memilih soto dan duduk di kursi yang menghadap kaca.
"Jadi benar tidak punya orang yang disukai?" Rizal bertanya sambil mengaduk es teh.
Liana hampir menjatuhkan sendok. "Kalian dengar dari mana?"
"Tidak dengar. Wajah Mbak sejak keluar dari kantor bos tadi seperti habis ditanya begitu."
"Mas Rizal seharusnya bekerja di divisi intelijen."
Bayu menggeleng. "Jangan. Negara bisa kacau."
Liana menatap kuah sotonya. Apakah ia menyukai seseorang? Ia menyukai cara Renard menjaga persetujuan, cara pria itu mengingat luka di matanya, dan cara suaranya berubah lembut dalam gelap. Namun menyukai Renard berarti juga mengakui bahwa kontrak mulai merembes ke kehidupan siang.
"Belum," jawabnya akhirnya.
"Belum ada, atau belum mau mengaku?"
Liana mengambil kerupuk Rizal sebagai hukuman. "Makan saja."
Di seberang kaca, sebuah mobil hitam berhenti. Renard turun bersama tamu bisnis, melihat ke arah food court, dan menemukan Liana sedang tertawa bersama kedua asistennya. Tatapannya tertahan lebih lama daripada yang diperlukan.
Ia tidak tahu apa yang dibicarakan mereka. Ia hanya tahu senyum itu berbeda dari senyum yang diberikan Liana kepadanya.
Entah mengapa, hal tersebut mengganggunya.
***
Di dalam kantor, Renard membuka ponsel khusus terapi.
Percakapan dengan Nona Terapis hanya berisi jadwal, laporan gejala, dan pesan singkat. Tak ada foto. Tak ada suara. Bahkan nama kontak itu dimasukkan Karina, bukan dirinya.
Ia berpindah ke percakapan kerja Liana.
Foto profilnya sederhana. Liana berdiri di halaman panti asuhan bersama Ibu Sri dan beberapa pengasuh. Senyumnya terang, tidak seperti senyum profesional yang diberikan di kantor.
Dua perempuan.
Dua pasang bibir yang belum pernah ia cium.
Dua orang yang sama-sama tidak membuatnya mual.
Pikiran itu terasa tidak masuk akal. Jakarta dihuni jutaan orang. Tubuhnya memilih dua, dan ia justru tertarik kepada keduanya.
Ia menelepon Elvin, lalu menyesal ketika panggilan langsung dijawab.
"Kalau ini soal dosis, jawabannya tetap jangan tambah."
"Bukan."
"Lalu?"
Renard memutar pena. "Apakah kondisi medis bisa membuat seseorang salah mengartikan rasa aman sebagai ketertarikan?"
"Bisa. Tapi kamu menelepon bukan untuk jawaban umum. Siapa orangnya?"
"Tidak penting."
"Kalau begitu tutup telepon."
Renard mengerutkan dahi. "Dua orang."
Hening, lalu suara Elvin menahan tawa. "Kamu yang tidak tahan berada dekat satu manusia sekarang menyukai dua perempuan?"
"Aku bilang mungkin."
"Jangan jadikan salah satunya obat dan yang lain fantasi. Kenali apa yang kamu rasakan saat gejalamu tidak kambuh."
Renard memandang Liana melalui kaca. Saat ini tubuhnya tenang. Namun keinginannya memanggil perempuan itu masuk tetap ada.
Itu jawaban yang tidak ingin ia akui.
Renard menyandarkan kepala ke kursi. "Aku pasti sudah gila."
Ponselnya berdering. Nama Vino Halim muncul.
"Apa?"
"Cara menjawab teleponmu selalu membuat orang merasa dicintai," suara Vino terdengar riang. "Sabtu malam ada acara kecil di rumah Bram. Datang."
"Tidak."
"William datang. Gue datang. Bahkan Bram datang karena itu rumahnya. Lo tidak punya alasan."
"Aku punya jadwal."
"Jam berapa?"
Renard melihat kalender. Acara mulai pukul tujuh. Terapi tengah malam.
"Sabtu?" ulangnya.
Melalui dinding kaca, ia melihat Liana mendadak kaku di mejanya. Pena di tangannya berhenti di atas kertas.
Kebetulan kecil itu membuat rasa curiga menggesek pikirannya.
"Bawa asisten lo kalau perlu," lanjut Vino. "Sekalian biar kami tahu manusia macam apa yang bisa bikin Renard Tan menaikkan suhu AC."
Renard memutus sambungan sebelum Vino selesai tertawa.
Ia menekan interkom. "Liana, masuk."
Liana datang membawa tablet. "Ya, Pak?"
"Sabtu malam ada acara pribadi. Kamu ikut."
Wajahnya tetap profesional, tetapi jari yang memegang tablet memutih. "Sampai jam berapa?"
"Belum tahu. Ada masalah?"
"Tidak. Saya hanya perlu menyesuaikan jadwal."
Renard mengamati wajahnya. "Jadwal pribadi?"
"Ya."
"Dengan orang yang kamu sukai?"
"Tadi saya sudah bilang tidak punya."
"Benar."
Ia seharusnya merasa lega. Sebaliknya, rasa ingin tahu tumbuh semakin tajam.
Liana keluar dan langsung membuka laci. Di dalamnya, ponsel khusus terapi terasa seperti benda bukti.
Sabtu akan mempertemukan jadwal bos dan pasien dalam malam yang sama.
Dan hanya Liana yang tahu kedua pria itu adalah orang yang sama.
Ia mengambil ponsel khusus, mengetik permintaan pemindahan sesi, lalu belum mengirimnya. Jika Renard pulang sebelum tengah malam, tak ada masalah. Jika tidak, ia harus menjelaskan pembatalan tanpa membiarkan bos melihatnya mengetik.
Untuk pertama kalinya, pekerjaan siang dan malam tidak sekadar berdekatan.
Keduanya sedang berebut jam yang sama.
Liana menutup laci dan menatap pintu kantor Renard. Sabtu belum tiba, tetapi perang kecil antara dua identitasnya sudah dimulai.
Tak ada pihak yang boleh menang dengan membongkar rahasianya terlalu dini.