Elea Zara adalah seorang remaja ceria yang bersekolah di SMA favorit, dia bertemu dengan cowo kaya raya dan super nyebelin yaitu Aksara Zean yang ganteng dan hits di sekolah.
Pada hari pertama pertemuan mereka pun aksara sangat benci kepada elea karena kecerobohan elea, dan tidak patuh pada peraturan aksara. Sedangkan teman satu angkatannya sangat takut dan menghormati aksara.
Di perbatasan gerbang sekolah elea berlari sambil menangis pada saat bersamaan hujan deras ikut turun. Elea mulai kehilangan keseimbangan dan kehilangan arah pada saat berlari karena perasaan yang sangat menyakitkan seseorang yang menyakitinya ternyata rasa berlebihan itu sangat amat fatal.
Bagi elea, cinta itu adalah suatu yang sangat indah yang bisa di rasakan semua orang, mengapa baginya itu luka dan kenapa harus merasakan kerinduan yang menyakitkan.
Apa yang akan terjadi dengan kisah cinta elea dan aksara ?
Tunggu yaaa part selanjutnya !!!
Jangan lupa follow dan komen ya teman-teman, saya pemula yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sweet Pen ASIAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan itu ...
Angin pagi terasa sejuk sekali dan matahari mulai menampakan wajahnya. Mobil terparkir tepat di depan rumah dan seseorang terlihat sedang duduk menyender di luar depan mobil dengan memakai seragam rapih.
"Hei, udah lama nunggu nya ?" Nada lembut terdengar sambil merapikan helai rambut yang tertiup angin.
Rafi menengok ke aras suara itu "mmm lumayan sedikit."
"Sorryyyy yaa." suara dengan gerakan clingy.
"Iyaaaaa ell, masuk yuk keburu telat nih."
Tak lama mobil mereka melesat melewati jalanan kota yang sedikit padat. Elea selalu curi-curi pandang tidak mau sedetik pun melewatinya. Elea menanyakan kenapa dia mau menjemput dan baik padanya. Rafi yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum.
Aksara yang sudah tiba di sekolah masih berada di parkiran karena di hadang oleh vicky yang sedang membujuk untuk makan malam bersama. Fely dan luna hanya bisa melihat kelakuan vicky tanpa berani mengajaknya masuk kelas.
Ezra, robert dan alice baru saja tiba dan sedang menunggu kedatangan elea matanya terbelalak melihat mobil yang baru datang. Aksara dan geng elit fokus nya sekarang ke mobil yang baru datang. Mereka tidak percaya seorang rafi berangkat bareng cewe dan cewe itu adalah elea.
Elea dan rafi keluar dari mobil seperti ada efek slowmo yang tertiup angin menerbangkan helai rambut elea membuat semua murid ikut melongo. Fely yang sedang bercanda dengan luna pun berubah menjadi merah padam, dia tidak suka sama mereka. Sambil mengepalkan telapak tangan dia semakin yakin secepatnya membuat pelajaran kepada elea.
Aksara memasang muka heran dan sedikit kesal pasalnya sahabat nya bisa dateng bareng cewe yang dia benci "ko lo bisa bareng cewe itu ?"
"Kebetulan aja gue lewat, tenang aja ga lebih ko hehe." Sambil merangkul aksara dan berjalan menuju kelas
Elea yang mendengar pernyataan itu pun kembali menyedihkan karena dia sudah berharap lebih tapi ternyata cuma kebetulan. Elea langsung berjalan menuju temannya dengan mimik muka kecewa.
Kelas pun berlangsung seperti biasanya, mereka tidak berinteraksi apapun selama di kelas entah kenapa yang membuat mereka menghiraukan elea. Hanya alice yang mencoba mengajak ngobrol dan menceritakan drakor yang baru dia tonton.
Bel jam pulang sekolah pun tiba. Elea berinisiatif mau mencuci muka dulu supaya lebih segar, dia melipir ke arah toilet tanpa melihat sekitar. Sesampainya dia langsung mencuci muka sambil berbicara depan kaca "kenapa perasaan gue sedih banget pas rafi bilang ga ada apa-apa, berarti dia ga ada persaan lebih dong ke gue. Kenapa gue terlalu berharap lebih, deket juga baru beberapa bulan ini." Sambil menghela nafas panjang.
Di luar toilet fely berhasil menjalankan rencana nya, dia merubah toilet yang sedang dalam perbaikan menutupnya dengan stiker lain sehingga pas elea masuk ke toilet dia tidak melihatnya. Toilet itu di kunci dari luar dan membuka lagi stiker yang baru dia tempel kembali terlihat tulisan toilet sedang dalam perbaikan supaya orang-orang ga bisa nemuin elea di toilet.
Semua murid, guru dan office boy sudah meninggalkan gedung sekolah. Hanya satpam yang masih berjaga di pintu masuk gerbang sekolah
Elea berjalan membuka pintu toilet tapi ga bisa terbuka, dia heran siapa yang menguncinya dari luar. Mencoba lagi beberapa kali sambil teriak minta tolong tapi tidak ada yang membuka nya. Dalam keadaan panik dia mencoba beberapa kali mengetuk, memukul pintu sambil meminta pertolongan sampai suara nya sedikit serak. Dia melihat hp menunjukan pukul 7 malam, sontak dia kaget dan menangis, dia takut sendirian cahaya lampu yang remang hanya ada 1 lampu yang menyala yang lainnya mati. Dia baru terpikirkan ingin menelpon orang yang bisa membantunya, tapi baterai hp nya tinggal 2% semalam dia lupa charger hp dan hari ini dia lupa membawanya.
Dia panik dengan tangan gemetar sembarang dia ngeklik nomor tanpa sadar ternyata terhubung ke nomor aksara. Suara lirih, gemetar dan terisak pun terdengar "To... Tolllo.... Tollongiiin gueee plissssss, baterai hp guu ..gueee habiss gue di toilet." Belum sempat dia memberikan detail toilet nya dimana telpon itu terputus. Aksara mencoba nya lagi berkali-kali tapi tidak tersambung.
Aksara yang sedang makan malam bersama papa nya, langsung mengambil jaket dan kunci mobil. Papanya pun keheranan kenapa aksara terlihat panik dan buru-buru, baru pertama kalinya lagi papa melihatnya setelah beberapa tahun dia cuek dengan kehidupan orang lain kecuali orang terdekat.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi melewati heningnya malam. Orang tua elea ikut panik karena elea sampai saat ini belum pulang ke rumah dan biasanya elea mengabari. Ayah nya yang sudah menghubungi berkali-kali tidak tersambung.
Satpam yang sedang berjaga tertidur setelah makan. Aksara mencoba klakson pun tidak di buka kan pintu gerbangnya, lalu dia turun mengecek pintu gerbang tidak terkunci lalu membukanya. Mobil pun memasuki area parkiran sekolah. Buru-buru aksara masuk ke gedung sekolah, membuka satu persatu toilet di lantai satu tapi dia tidak menemukan elea. Lanjut ke toilet lantai dua pun sama hasilnya nihil dia tidak menemukannya. Dia berpikir kalau mencari seperti ini akan membutuhkan lebih lama dan mengeluarkan energi yang full bagaimana tidak, sekolah ini luas toilet nya juga banyak. Jadi, dia mulai memikirkan opsi yang lebih gampang yaitu toilet yang tidak terpakai atau toilet yang sedang dalam perbaikan.
Aksara berlari menuju lantai tiga menaiki anak tangga. Langsung teruju toilet itu.
"Ell elll elea kamu disana?." sambil mengetok ngetok pintu
Elea yang mendengar suara itu pun terbangun mengusap air mata lalu berdiri. "Toloong tolong buka pintunya aku di dalem takut." air mata itu mulai bercucuran lagi.
Aksara yang sudah memastikannya, mencari kunci toilet tapi tidak di temukannya. Tanpa berpikir panjang aksara akan mendobrak pintunya. "El kamu tenang yaa, aku nyari kuncinya ga nemu. Kamu mundur dulu aku mau mendobraknya. Kalo kamu udah mundur kasih tau aku sekarang ya."
Elea mendengar itu pun mengangguk lalu mundur menjauhi pintu. "Aku udah mundur."
Aksara bersiap-siap sedikit mundur lalu mendobrak pintunya, tapi gagal pintu itu tidak terbuka nya. Dua kali percobaan lagi dia gagal karena pintunya keras, di dalam suara elea menangis mulai terdengar lebih kencang.
Sisa tenaga terakhir dengan banyak kekuatan akhirnya pintu itu terbuka. Elea yang melihat pintu terbuka langsung berlari memeluk erat aksara sambil menangis kencang. Aksara balik memeluk elea dan mengelus rambutnya. Tepat kepala elea berada di dada nya aksara, dia beberapa kali mengelus rambut dan punggungnya. Tanpa sadar dia mencium kepala nya elea, karena terbawa suasana yang menakutkan dan sedih.
"Aku taku .... Takutt." Suara menangis tersedu-sedu
"Ell tenang ya, kamu udah aman sekarang." suara aksara mencoba menenangkan.
Elea mengangguk masih memeluk aksara erat.
Aksara merasakan suhu tubuh elea yang sangat dingin karena sekitar 5 jam dia berada di toilet dengan ac 17 derajat. Dia mencoba melepaskan tangan elea yang sedang memeluk lalu meraih kepala elea dan sedikit mengangkatnya sehingga mereka saling menatap terlihat muka elea yang manis itu di banjiri air mata "heiii kamu kedinginan ya?."
Elea mengangguk dan masih mengeluarkan air mata sedikit gemetar kedinginan. Aksara yang melihat air mata itu, mencoba menghapusnya dengan lembut penuh perasaan dengan keadaan saling tatap. "Jangan nangis lagi yaa, jelek tauu." aksara berusaha meledeknya.
Elea tidak memperdulikan perkataan itu karena dia masih trauma. Lalu aksara membuka jaket yang dia pakai dan memakaikannya ke badan elea. "Sekarang ga dingin lagi kan?." aksara memastikannya
Elea mengangguk "makasii ya."
Aksara mengangguk sambil tersenyum, lalu merangkul badan yang sedikit sempoyongan itu berjalan menuju anak tangga karena lift sedang tidak bisa beroperasi. Baru saja menuruni 5 anak tangga, elea seperti mau terjatuh karena kaki nya masih lemas. Aksara pun menggendongnya menuruni tangga dari lantai 3 ke lantai 1.
Elea di bantu masuk dan duduk di kursi mobil, dia membantu memasangkan safety belt sambil melihat ke arah elea yang kasian. Aksara pun mulai menghidupkan mesin mobil dan berjalan ke gerbang sekolah.
Tettt. Tettt. Suara klakson mobil terdengar aga kencang membangungkan satpam. Buru-buru satpam itu membuka pintu gerbang, sedikit kebingungan kapan "aksara masuk ya" sambil menggaruk kepala.
Mobil itu meninggalkan sunyi nya gedung sekolah, di perjalanan dia melihat ke arah samping ternyata elea mulai tertidur karena ketakutan, kelelahan, kedinganan dan kepanikan bercampur aduk.
Mata aksara kembali berfokus pada jalanan, mulai memikirkan kenapa dia mau membantu elea padahal dia sangat membenci nya jangankan membantu menyapa aja ga sudi. Tanpa sadar kepala elea terjatuh menyender ke pundak nya aksara, dan tangan elea mencari tangan aksara lalu tangan elea menggengam tangan aksara dengan sangat kencang dan berkata "jangan tinggalin aku, aku takut hmmhmmmhmm." Aksara pun kaget dengan genggaman erat dan suara itu dia menoleh ke sampingnya ternyata elea mengigau masih terbawa ke mimpi atas kejadian menakutkan tadi. Detak jantung aksara mulai berdegup sedikit kencang ketika tangan itu saling menggengam.
Setelah beberapa menit akhirnya tiba di halaman rumah elea, genggaman erat tadi perlahan aksara lepaskan. Ibu dan ayah yang mendengar suara mobil langsung keluar berharap cemas. Mereka melihat aksara turun dari pintu melangkah membuka pintu sampingnya, lalu mengangkat tubuh elea yang tertidur dan membawanya berjalam menuju rumah.
"Maaf aku menggendong elea, kamarnya dimana ya bu ?."
"Di atas nak." suara panik itu terdengar khawatir
Aksara mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Ayah yang membukakan pintu kamar mempersilahkan masuk dan meletakan badan elea di kasurnya.
" Apa yang terjadi nak ?." suara ayah terasa berat
"Tadi elea terjebak dan terkunci di toilet yang sedang dalam perbaikan sekitar kurang lebih 5 jam. Untungnya sebelum baterai hp nya habis total dia menelpon saya pak." aksara menjelaskan.
"Kasian sekali kamu sayang pasti dia ketakutan sampai kelihatan lelah sekali, makasih ya nak sudah membantu anak saya."
"Sama-sama pak, kalau begitu saya izin pulang dulu ya."
Ibu dan ayah mengangguk, lalu aksara yang hendak pergi meninggalkan kamar tertahan. Tangan aksara di tarik lagi oleh elea sambil berkata "Jangan pergi aku...akuu takut." Suara lirih itu terdengar lagi.
Aksara balik badan dan melihat ternyata elea sedang mengigau lagi. "Elea kamu sudah aman sekarang, sudah ada ibu dan ayah jadi kamu ga usah khawatir ya." aksara mulai melepaskan genggaman itu lagi. Dan mulai meninggalkan elea yang sedang beristirahat di susul oleh ayahnya berjalan menuju pintu keluar.
Sambil memegang kacamata ayahnya mengucapkan terimakasih lagi kepada aksara. Aksara mengangguk lalu salam berpamitan.
Mobil aksara meninggalkan halaman rumah itu.
"Pak siapa yang mencoba melakukan ini pada anak kita?." air mata ibu pun terjatuh sedih melihat anaknya, karena mereka tau kalo elea itu takut sendirian belum lagi tadi pasti dia kedinginan sampai sekarang tubuhnya masih aga dingin.
"Entahlah bu, untungnya ada nak aksara yang membantu anak kita bu." ayah berusaha menenangkan ibu sambil merangkulnya.
Jam pun berlalu matahari pagi menyinari kamar elea dan terkena ke mukanya. Dia pun membuka matanya pelan karena silau dan berusaha untuk duduk dengan mata satu terpejam.
"Huaaaammmmmmm." Elea menggeliat. Melihat sekitar dan mengingat kejadian semalam, ya dia teringat yang membantunya itu aksara. Dia inget juga bahwa semalam memeluk dan menatap aksara "ternyata dia bisa romantis juga ya." Dia buru-buru menepis ingatan dan kata yang barusan terucap. Dia menggaruk kepala berusaha mengingat kejadian apalagi yang dia lupa semalam. Lalu dia melihat kaki nya masih terpasang kaos kaki dan seragam sekolah, lalu melihat jaket yang masih dia pake.
"Hahh tidakk, kenapa jaket aksara masih di pakee aaaa ga mau gamauu." Elea berteriak merengek.
Elea langsung melompat dari kasurnya buru-buru melepaskan dan mencuci jaket itu karena hari ini juga dia harus ngembaliin. Dia ga mau pake jaket cowo super duper nyebelin itu.
Di rumah megah aksara sedang sarapan bersama papa nya. "Semalem kamu buru-buru mau kemana ? Papa berkata sambil menyendok nasi goreng.
"Oh itu pah, semalem elea terjebak di toilet sekolah selama kurang lebih 5 jam." aksara menjelaskan setelah minum teh
"Siapa yang menjebaknya?." papa kaget penasaran
"Aksara kurang tau siapa yang melakukannya pah."
"Semoga ketemu ya, papa hari ini mau ke luar negeri bersama klien mungkin sekitar 1 mingguan ada rapat urgent sekaligus mau surpei. Kamu hari sabtu ini ada rencana kemana ?."
"Oh oke pa, ga kemana-mana pah."
Elea yang selesai mencuci kering di mesin cuci, menyetrika dan sudah rapih berlari menuju pintu keluar rumah.
"Ehhh stop el, mau kemana ?." Ibu memanggil sambil menuangkan teh ke gelas ayah.
Elea menyeringai sambil merapikan rambut "Ini bu mau ngembaliin jaket aksara semalem."
"Nah kebetulan juga ibu sudah masak pisang goreng kesukaannya nak aksara, sekalian bawa ya." Ibu menghampiri elea sambil membawakan tupperware berisi pisang goreng."
Elea berusaha menolak tapi ibu memaksanya. Akhirnya elea mau tidak mau membawanya, dan langsung menaiki motor ojek online.
Setelah menempuh beberapa kilometer akhirnya sampai di depan pintu rumah aksara.