NovelToon NovelToon
JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: silasepentin

Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.

Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.

Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: RAHASIA DI BALIK NILAI NOL

Mekanisme pegas bekerja seketika. Laba-laba karet itu melompat tepat ke arah wajah Raina.

"Aaaah!"

Raina menjerit kaget, tubuhnya bertolak ke belakang secara mendadak karena refleks ketakutan luar biasa. Sialnya, kaki kursi kayu yang didudukinya tersangkut pada selang kabel di lantai. Kursi itu hilang keseimbangan dan meledak goyah.

Brak!

Raina terjatuh keras ke lantai kayu perpustakaan. Siku tangannya menghantam sudut meja bawah dengan amat telak, dan buku-buku tebal berjatuhan menimpa kakinya.

"Raina!"

Tawa Devan menghilang dalam sekejap mata. Wajahnya mendadak pucat pasi. Ia meloncat dari kursinya dan berlutut di samping Raina yang meringis kesakitan sambil memegang siku tangannya.

"R-Raina! Kamu gak apa-apa?!" suara Devan gemetar panik. Mainan laba-laba karet yang tadi terasa sangat lucu kini tergeletak mengenaskan di lantai, tak lagi menarik.

Raina memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya menahan nyeri yang menjalar hebat di tangannya. Air mata refleks menetes di pipinya—bukan hanya karena rasa sakit fisik, tapi juga rasa lelah dan frustrasi yang menumpuk.

"Jangan sentuh aku..." bisik Raina dengan suara serak.

"Gua... gua bener-bener gak maksud bikin kamu jatuh, Raina. Gua cuma..." Devan menatap siku Raina yang mulai memerah memar dengan sangat menyesal. Tangannya terulur ingin membantu, tapi ia ragu dan merasa bersalah luar biasa.

Raina perlahan duduk, mengusap air matanya dengan tangan kanan yang tidak sakit, lalu menatap Devan tanpa sedikit pun kemarahan yang membara—hanya ada kekecewaan yang sangat dingin.

"Kamu pikir semuanya itu candaan, ya, Devan?" kata Raina pelan namun menusuk. "Aku di sini berusaha bantu kamu biar kamu gak dikeluarkan dari tim basket. Tapi kamu cuma sibuk mikirin gimana caranya bikin aku celaka."

"Raina, dengarin gua dulu—"

"Cukup, Devan," potong Raina sambil berdiri perlahan, merapikan barang-barangnya dengan tangan yang agak gemetar. "Les hari ini selesai. Dan mungkin... kita gak usah lanjutin les ini lagi."

Tanpa menengok lagi ke arah Devan yang mematung, Raina berjalan pincang meninggalkan perpustakaan. Devan berdiri sendirian di tengah keheningan, menatap mainan karet di tangannya dengan perasaan sangat bersalah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

BAB 11: MINTA MAAF TANPA GENGSI

Pagi itu, suasana koridor lantai dua terasa berbeda bagi Raina. Sikunya masih dipasangi gips tipis dan perban elastis, meninggalkan rasa ngilu yang belum sepenuhnya hilang. Ia berjalan pelan menuju kelasnya, bersiap mengabaikan Devan jika cowok itu kembali berulah.

Namun, di depan pintu kelas 11 IPA 2, langkah Raina terhenti.

Devan sudah berdiri di sana sejak lima belas menit lalu. Penampilannya hari ini bersih dan sangat rapi—seragamnya dimasukkan sempurna, dasi terpasang kencang, dan tidak ada earphone melingkar di lehernya. Di tangan kirinya, Devan memegang sebuah kantong kertas cokelat dan sekotak susu stroberi hangat.

Saat mata mereka bertemu, tidak ada cengiran konyol atau tatapan jahil dari Devan. Wajah cowok itu tampak amat serba salah dan serius.

"Raina," panggil Devan pelan, melangkah mendekat tanpa sedikit pun keraguan.

Raina membeku di tempatnya, menatap Devan dari balik kacamata tebalnya tanpa bersuara.

Devan membungkukkan badannya sedikit, menyejajarkan tingginya dengan Raina. "Gua mau minta maaf. Gua tahu kata maaf aja gak bakal nyembuhin siku kamu yang terkilir gara-gara ulah bodoh gua kemarin. Tapi gua beneran nyesel, Raina."

1
sila
novel goot
sila
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!