Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Karantina Kamar Utama
Bab 9 - Karantina Kamar Utama
Begitu lift pribadi berdinding kaca itu berdenting halus di lantai penthouse Kuningan, pintu geser otomatis terbuka. Sinta melangkah keluar lebih dulu tanpa menunggu Dean. Dia melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan se-anggun mungkin, meletakkannya di rak, lalu berjalan cepat menuju kamar tidur utama tanpa menoleh satu senti pun.
Klik. Cklek!
Suara kunci pintu yang diputar dua kali dari dalam kamar tidur terdengar luar biasa nyaring di keheningan koridor penthouse.
Dean yang baru saja melangkah masuk ke ruang tamu langsung menghentikan gerakannya. Tangannya yang memegang tablet perak menggantung di udara. Pria kaku itu mengerjap, menatap pintu kayu ek tebal sewarna abu-abu arang yang kini tertutup rapat di hadapannya.
Wajahnya? Masih lempeng. Tetap sekaku papan pengumuman kelurahan yang baru selesai dicat. Namun, di dalam kepalanya, seluruh sistem kecerdasan korporat sang CEO Wijaya Group mendadak mengalami malfungsi massal tingkat nasional.
[POV Dean]
Akurasi data visual: Pintu kamar utama dikunci dari dalam pada pukul 00.12 WIB. Berdasarkan regulasi operasional domestik pasal satu, kamar utama adalah wilayah bersama dengan hak akses penuh bagi kedua belah pihak. Tindakan Nona Sinta mengisolasi area tersebut secara sepihak adalah pelanggaran protokol hak milik yang nyata. Saya mendeteksi adanya anomali psikologis yang semakin memburuk pada dirinya. Saya harus melakukan negosiasi taktis untuk mengembalikan hak akses tidur saya malam ini. Tidur di sofa ruang tamu memiliki tingkat efisiensi pemulihan fisik yang sangat rendah, hanya berkisar di angka empat puluh dua persen.
Dean melangkah tegap mendekati pintu kamar, mengabaikan fakta bahwa jam dinding sudah menunjukkan larut malam. Dia mengetuk pintu dengan ketukan yang sangat teratur. Tiga kali ketukan konstan.
Tok. Tok. Tok.
"Nona Sinta," panggil Dean dengan suara berat andalannya yang datar tanpa intonasi naik turun. "Pintu kamar terkunci. Berdasarkan sistem keamanan digital dan hak legal rumah tangga, tindakan ini tidak efisien. Mohon buka pintunya agar kita bisa melakukan sinkronisasi waktu istirahat."
Di dalam kamar, Sinta yang sudah berhasil melepaskan korset pengantinnya yang menyiksa langsung merebahkan diri di atas kasur king-size yang luas. Mendengar suara kaku suaminya dari balik pintu, sifat asli "toa masjid"-nya yang sudah ditahan sejak di meja makan Mama Ratna langsung meronta-ronta kegirangan. Sinta menarik selimutnya sampai ke dada, lalu membalas dengan nada bicara datar buatan yang meniru persis gaya bahasa robotik Dean.
"Mohon maaf, Pak Dean," sahut Sinta dari atas kasur, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar jelas melalui celah pintu. "Berdasarkan analisis keselamatan kerja medis dasar yang saya pelajari, area kamar utama malam ini sedang berada dalam status karantina wilayah akibat kontaminasi emosional tingkat tinggi. Tindakan penguncian ini sangat direkomendasikan demi menjaga stabilitas mental saya agar besok pagi tidak mengalami penurunan performa di poli anak Rumah Sakit Santika."
Dean yang berdiri di luar kamar tertegun. Pria kaku itu memproses kalimat istrinya selama lima detik penuh. "Karantina emosional? Kontaminasi jenis apa yang kamu maksud, Nona Sinta? Saya tidak mendeteksi adanya zat berbahaya di dalam penthouse ini sejak sore tadi."
Sinta menahan tawa mati-matian di atas bantal saking gemasnya. Zat berbahaya matamu, Pak Robot! Anda yang berbahaya buat harga diri saya!
"Zat pembeberan data internal ranjang tanpa saringan filter di depan mertua, Pak Dean!" balas Sinta lagi, kali ini intonasi anggun buatannya sedikit retak karena menahan dongkol. "Tindakan pelaporan operasional tanpa pengaman yang Anda paparkan di meja makan tadi telah merusak sistem harga diri saya hingga tersisa nol persen. Jadi, untuk memulihkan energi sosial saya, pintu ini akan tetap terkunci selama delapan jam ke depan. Prosedur ini sudah sangat adil dan efisien."
Dean kembali terdiam di depan pintu. Kuping tegapnya mendadak berangsur memerah untuk kedua kalinya malam ini karena menyadari apa yang sebenarnya membuat sang istri mogok bicara. Pria seksi bertubuh kekar itu memegangi tengkuknya yang tidak gatal, berdiri kaku seperti patung Yunani salah kostum di koridor yang sepi.
"Laporan itu... adalah data yang valid dan transparan demi akurasi informasi keluarga, Nona Sinta," bela Dean dengan suara yang sedikit melemah, namun tetap mempertahankan nada lempengnya. "Saya tidak melihat adanya pelanggaran hukum dalam penyampaian fakta medis."
"Validitas Anda membuat saya ingin menghilang dari muka bumi, Pak CEO!" potong Sinta jengkel. "Sudah, tidak ada sesi tanya jawab lagi malam ini. Rapat ditutup. Selamat tidur di sofa ruang tamu, Pak Dean."
Keheningan kembali melanda koridor luar kamar tidur. Sinta mendengarkan dengan saksama, menunggu apakah pria kaku itu akan mendobrak pintu atau menggunakan kunci cadangan yang dipegang tim legalnya. Namun, setelah dua menit berlalu, hanya terdengar suara langkah kaki tegap Dean yang menjauh dengan ritme teratur menuju area ruang tamu.
Sinta langsung berguling di atas kasur, menenggelamkan wajahnya di bantal sambil melepaskan tawa hebohnya yang sejak tadi menyiksa tenggorokan.
"Hahaha!, Pak Robot! Rasain tidur di sofa malam ini!" Sinta membatin heboh, menendang-nendang selimutnya dengan gemas. "Lagian mulut tidak ada filternya banget! Rasain itu malam Kamis tidur ditemenin laptop sama grafik saham! Ngambek ini tidak bakal saya kasih kendor sampai kamu tahu caranya minta maaf tanpa pakai istilah operasional korporat!"
Sinta memeluk gulingnya dengan senyuman puas yang menghiasi bibir manisnya. Ngambek kali ini benar-benar terasa sangat menyenangkan.
Sementara itu, di ruang tamu utama yang luas dan dingin, seorang CEO Wijaya Group yang sanggup mengguncang bursa saham metropolitan kini sedang duduk kaku di atas sofa kulit abu-abu yang sempit. Dean menatap bantal sofa kecil di pangkuannya dengan wajah lempeng andalannya, benar-benar bingung bagaimana cara memperbaiki kesalahan sistem domestik yang sama sekali tidak tertulis di dalam buku panduan manajerial perusahaan mana pun seumur hidupnya.