Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bintang Kecil yang dirindukan Reis
Deru napas Ella memburu, ia segera bangkit dari tidurnya. Gadis kecil itu terduduk lemas sembari berusaha menstabilkan napas yang mengebu.
Keringat bercucuran disekujur tubuhnya, badan Ella sedikit gemetar. Ia menggenggam kedua tangannya sendiri berusaha untuk tenang. 'A-apa itu ta-tadi?'
Ella bermimpi dirinya berada di tengah hutan lebat. Ia tidak sendirian, Ella juga melihat ada dua orang yang terjebak di dalam sebuah ruangan transparan, seperti sihir? yang memiliki pola aneh seperti jam. Mereka terluka dengan darah yang menghiasi tubuh dan menangis.
Namun mereka bukan terlihat menangis karena merasakan sakit ditubuh mereka, tapi seperti ... menangisi keadaan satu sama lain.
Anehnya Ella tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas. Bahkan proposi badan mereka, semuanya terlihat buram di pandangan Ella, dirinya seperti hanya tengah menonton siluet dari dua orang itu.
Ella berpikir mereka merupakan sebuah pasangan. Tapi kenapa mereka bisa terluka?
Di mimpinya tidak ada siapapun selain dua orang yang berada di dalam ruang transparan itu, dan dirinya yang bagaikan bayangan tembus pandang yang hanya bisa membeku melihat dan mendengar jeritan memilukan.
Sebuah ketukan pintu dan suara dari arah luar kamar kembali menyadarkan gadis kecil itu dari lamunan.
Dua orang pelayan wanita dari kediaman Luelle di ibu kota, memasuki kamarnya. "Tuan Putri, kami akan membantu anda bersiap untuk pesta."
Ella melirik sekilas ke arah jendela besar yang berada di dalam kamar. Langit yang mulai kehilangan cahaya matahari membuatnya tertegun. Rupanya ia tertidur sampai sore! Mungkin efek lelah di perjalanan yang panjang.
"Ba-baik, terima ka-sih." Ella tersenyum kepada kedua pelayan kediaman Luelle.
'Lembut sekali tuan putri kepada kami... padahal sekarang ia tahu dirinya kini bukan lagi orang biasa, melainkan bangsawan kelas atas di kekaisaran.' pikir mereka.
...****************...
Ella memandangi dirinya di pantulan cermin besar. Rambut panjangnya yang telah dicuci bersih bahkan diberikan perawatan lain yang tidak ia mengerti, kini tampak lebih berkilau dan lembut, tergerai indah dengan dua jepit rambut yang memiliki mata merah menawan khas ruby yang elegan di setiap sisi kepalanya.
Gaun bewarna merah muda yang tidak menyakiti mata. Dengan hiasan simpul pita dibagian pinggang dan beberapa mutiara yang memperindah gaun berlengan pendek yang cantik itu.
Tangan Ella yang dibaluti sarung tangan cantik berenda kecil dengan pola pita merah muda yang manis, serta sepatu merah muda cantik yang tetap sangat nyaman dipakainya.
Gadis kecil itu terpaku, ia kembali merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Seolah ini merupakan perasaan, yang pernah ia rasakan sebelumnya.
"Permisi Tuan Putri."
Derix muncul dari balik pintu kamarnya, sontak kedua pelayan yang tengah menata dan merapihkan gaun yang dikenakan Ella memberi salam dan segera mengambil langkah pergi saat dirasa tugas mereka telah selesai.
"Kami permisi, Tuan Putri, Tuan Derix." Kedua pelayan tersebut membungkukan badannya kepada Ella sebelum benar-benar pergi. "Semoga keberkahan dan kebahagiaan selalu menyertai Bintang Kecil Kekaisaran."
"Semoga keberkahan dan kebahagiaan selalu menyertai Bintang Kecil Kekaisaran."
Ella tersentak kaget. Ia menatap bingung ke arah dua pelayan yang telah pergi dan menutup pintu kamar. Gadis itu semakin kebingungan, ia merasa ini semua sudah pernah terjadi. Dan kalimat tadi, seolah sudah pernah diucapkan mereka dan sudah Ella dengar.
"Tuan Putri, apa ada sesuatu yang tidak nyaman?" Derix menatap bingung ke arah gadis kecil yang terlihat seperti melamun. 'Tuan Putri yang masih sangat kecil ini, beliau berpikir apa sampai seserius itu ya? Apa beliau merasa takut? Atau sedikit gugup karena akan bertemu kembali dengan keluarganya?'
"Ti-tidak apa-apa, Tuan Derix."
"Anda bisa memanggil saya dengan Derix saja, Tuan Putri."
Ella menutup mulutnya terkejut, ia merasa telah salah berucap dan melanggar suatu peraturan bangsawan yang belum ia ketahui.
Derix yang menyadari kekhawatiran atasan kecilnya itu pun sontak kembali memberikan sedikit pengetahuan kepada tuan putri mereka yang baru saja kembali. "Anda tidak melakukan kesalahan apapun, Tuan Putri. Tapi biasanya, para bangsawan apalagi mereka yang berpangkat tinggi hanya akan memanggil bawahan mereka dengan nama, tanpa embel-embel jabatan mereka. Terkecuali kepada seseorang yang mengajari anda ilmu pengetahuan atau yang biasa disebut guru."
Ella menatap serius ke arah Derix, memahami sesuatu, kini gadis kecil itu tersenyum. "Tuan Derix," panggilnya kembali.
Derix mengernyit bingung sebelum kembali menangkap apa yang di maksud lewat wajah antusias Ella yang seolah merasa apa yang ia lakukan sebelumnya sudah benar.
'Ah! Barusan aku mengajarkan sesuatu, jadi tuan putri menganggapku seorang guru baginya dan bisa memanggilku 'Tuan' ' Derix terkekeh kecil sebelum kembali berdehem untuk menstabilkan perasaan gelinya kepada atasan kecilnya yang lucu ini. "Maafkan saya Tuan Putri."
"Oh iya, lagipula untuk kedepannya, anda tidak perlu takut untuk melakukan sesuatu. Karena anda adalah 'Reis', kesalahan apapun apalagi anda adalah bintang kecil yang dirindukan Reis, tidak ada seorangpun yang berani memarahi atau bahkan menghukum anda, Tuan Putri," ucap Derix berujar dengan serius.
Netra Ella memandangi Derix serius, ia berusaha mencerna dan memahami apa yang diucapkan oleh Derix. "Ehm! Mengerti!" jawab Ella antusias.
"Terima kasih sudah mendengarkan saya, Tuan Putri. Mari kita pergi sekarang, tuan grand duke sudah menunggu anda diluar dengan kerta kuda."
'Paman!' Mendengar nama grand duke Aghasa, senyuman Ella kembali merekah. Ella kembali mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
...****************...
Aghasa mengalihkan pandangannya ke arah gadis kecil yang sangat cantik, yang kini tengah berjalan menghampiri dirinya dengan Derix yang siaga di belakang Ella.
"Paman!" sapa Ella sedikit antusias saat melihat penyelamatnya yang kini bernotabene pamannya, yang berarti pria di depannya kini merupakan salah satu keluarganya.
Aghasa tersenyum menanggapi, dirinya berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan gadis itu. Ia menatap Ella yang kini sudah mengenakkan pakaian layaknya seorang tuan putri yang seharusnya memang menjadi haknya dari dulu, dengan sedikit haru.
"Jangan, me-nangis,"ucap Ella panik kala melihat raut sedih Aghasa.
Derix yang berada dibelakang keduanya tak tahan melihat momen haru tersebut.
Aghasa menyunggingkan senyumnya dan segera mengusak sudut matanya yang sedikit berair. "Mari kita pulang, ke rumahmu yang sebenarnya, Ella."
Ella sedikit tertegun kala mendengar kalimat 'pulang' yang keluar dari mulut Aghasa.
"Mereka semua telah menunggumu dari lama. Ibu, Ayah, dan para Kakakmu, mereka sangat merindukan dirimu, Arcangella von Reis."
Kini netra keemasan Ella yang terlihat sedikit berair, keluarganya, mereka semua menunggu dirinya? Ia tidak ingat sama sekali karena jika menurut keterangan Aghasa yang mengatakan dirinya diculik saat berumur 2 tahun itu berarti daya ingatnya masih belum optimal terhadap sekitar.
Tapi bukan berarti tidak ingat sama sekali. Dorongan untuk kabur dari panti juga dikarenakan karena mimpinya setiap malam.
Dimana di dalam mimpi itu ia berada di dalam hangatnya keluarga, ia tidak bisa melihat mereka, hanya siluet dan suara lembut dan hangat yang memanggil namanya setiap malam.
Aghasa mengusap pelan pipi keponakannya saat menyadari perasaan sedih gadis kecil itu. "Mari kita pulang ke rumah."