NovelToon NovelToon
Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Berondong / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:41.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andi Putri Yasmin

Elza adalah seorang gadis berumur 27 tahun yang dijodohkan dengan pria yang lebih muda 3 tahun di darinya, karena paksaan dari kedua orang tua, Elza tak dapat menolak perjodohan tersebut.

"What?! Apa dia calon suamiku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi Putri Yasmin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah, Mama

"Ke mana tuh bocah? Kok dia gak ada di kamar?" ujarku saat tak melihat sosoknya di dalam kamar. Aku baru saja selesai mandi, tapi saat aku keluar, aku tak menangkap seluet bayangnya.

Ceklek!

Aku berbalik untuk melihat siapa yang membuka pintu ternyata itu Devan. Dia sudah tampak rapi dengan pakaian santainya. Dia belum pergi bekerja karena baru semalam kami menikah. Jadi, pasti dia mengambil cuti.

"kamu sudah mandi?" tanyaku padanya. Dia hanya mengangguk lucu. Aku sangat suka jika Devan terlihat patuh seperti itu dibandingkan jika dia sedang kumat.

"Mama suru aku buat panggil kamu sarapan," tutur Devan pelan yang membuatku kembali menoleh ke arahnya.

"Oh, tunggu aku keringkan dulu rambutku," balasku sembari kembali fokus untuk mengeringkan rambutku. Kulihat Devan menghampiri. Aku tidak terlalu memperdulikannya, aku masih fakus untuk mengeringkan rambutku. Jika, dilihat-lihat Devan memang tampan sekaligus imut secara bersamaan. Akan tetapi, tidak ada yang tahu kalau dia punya sifat seperti es batu.

"Mau Devan bantu, soalnya aku sudah lapar sepertinya masih lama jika menunggumu selesai," ucapnya tiba-tiba menawarkan diri. Aku tertegun mendengar penuturannya. Aku menatapnya sejenak melalui pantulan cermin.

"Ini, aku akan merepotkanmu," ujarku sembari menyerahkan hairdryer ini kepadanya.

Devan tanpa banyak bicara lagi langsung membantuku. Uh, romantisnya, aku menahan senyuman agar tidak merekah. Ternyata dia cukup peka juga. Devan sangat tampan dengan balutan pakaian casual. Kakinya yang mulus tanpa bulu itu dibalut celana sebatas lutut berwarna putih dan memadukannya dengan kaos berwarna putih.

"Rambutmu wangi sekali," tutur Devan sembari mencium rambutku.

"Ya, makanya kamu harus pakai shampo yang sama juga agar rambutmu juga wangi sepertiku," balasku sedikit mempermosikan shampo yang kugunakan.

"Hm." Nah, kan dia kambuh lagi.

"Udah beres, ayo kita turun Mama sama Ayah udah nunggu, kebetulan hari ini adalah hari minggu jadi kita masih cuti. Besok aku akan kembali bekerja dan sore ini kita pindah rumah kamu tidak keberatan 'kan?!" jelas Devan tentang planning kita sore nanti.

"Ok, sip. Aku juga besok mau cek restoku udah hampir 3 hari aku gak cek," balasku sembari tersenyum manis. Setidaknya jalani saja dulu sebagaimana mestinya.

"Ayo, kita turun," ajak Devan sembari menarik tangan ini. Aku hanya diam ketika Devan menarik tanganku tidak mengeluarkan sepatah kata pun begitu pun sebaliknya.

Saat kami sudah sampai di meja makan, kami disambut senyuman Ayah dan Mama sedangkan orang tua Devan telah pulang sejak semalam.

"Ayo, Sayang. Kalian pasti lelah, kemari untuk sarapan," panggil Mama lembut.

"Devan, sini Sayang," panggil Mama lagi yang dihadiahi senyum sopan oleh Devan. Aku tidak habis pikir apakah Mama sangat menyukai Devan.

"Ya, Ma. Ayo Sayang," balas Devan yang membuatku menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

Apa tadi? Sayang? Devan manggil aku sayang?! Dia nggak lagi kesambet 'kan? Aku bertanya-tanya dalam hati, karena melihat sikapnya yang berbeda dari sebelumnya. Bukannya dia membenciku?

Sedangkan Mama dan Ayah hanya saling lirik dan tersenyum ambigu.

"Ayo, kita sarapan. Setelah ini ada yang ingin Ayah sampaikan kepada kalian berdua," tutur Ayah sembari tersenyum hangat has seorang Ayah.

"Devan juga ada yang ingin Devan sampaikan kepada Ayah," terang Devan sembari masih tersenyum. Aku hanya meliriknya sekilas dia makin tampan saja jika sedang tersenyum. Sttt! Mikir apa kamu Za gak usah mikir yang aneh-aneh entar kamu jatuh cinta lagi sama ni bocil lacnut.

Kami pun memulai sarapan dengan khidmat tiada pembicaraan yang keluar hanya ada dentingan sendok yang saling bersahutan. Devan sesekali menyuapiku entah kesambet setan apa dia pagi ini yang makin membuatku bingung. Aku tak ingin baper terlebih dahulu siapa tahu dia hanya jaga image di depan orang tuaku. Bisa saja bukan? Bukannya dia sebelumnya sangat menentang pernikahan ini. Pikirku dalam hati.

"Jangan banyak berpikir makanlah," ucapnya tiba-tiba yang menyadarkan ku dari lamunan.

"Ah, aku tidak melamun," elakku dan Devan hanya memutar matanya jengah.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Mama yang mendengar teguran Devan tadi.

"Gak papa Ma," jawab ku seadanya, dan Mama kembali fokus pada makanannya.

Seteleh sarapan, kami berkumpul di ruang keluarga. Seperti yang Ayah katakan beberapa jam yang lalu, beliau ingin menyampaikan sesuatu pada kami. Apakah mengenai keberangkatan mereka? Semoga saja bukan.

"Begini, Sayang." Ayah mulai membuka suara sembari menatapku dengan senyuman lembutnya. Perasaanku jadi tidak enak.

"Apa, Yah?" tanyaku penasaran. Aku tak ingin menebak-nebak mengenai apa yang ingin disampaikannya.

"Ayah ingin menyampaikan bahwa, besok kami akan mengurus keberangkatan kami menuju New Zealand," jelas Ayah masih dengan senyuman yang sama. Aku menutup mataku rapat. Secepat itukah? Pantas mereka terburu-buru ingin menikahkanku, tapi kenapa perasaanku jadi tidak enak ya.

"Jadi, Mama sama Ayah mau ninggalin Elza gitu?" tanyaku pada keduanya.

"Iya, Sayang. Soalnya perusahaan kita di sana mengalami sedikit problem dan Ayah sendiri yang harus turun tangan dan Ibu juga harus ikut untuk menemani Ayah, kamu tidak akan kesepian lagi. Karena Devan akan menjagamu, kamu tidak usah pindah rumah kalian tinggallah di sini selagi kami pergi. Kami takut nantinya jika rumah ini tidak ada yang huni malah makhluk dari dunia lain ya datang menghuninya," jelas Ayah panjang lebar diakhiri dengan candaan recehnya.

"Eum, baiklah. Devan tadinya ingin menyampaikan bahwa sore nanti Devan bakalan bawa Elza ke rumah baru kami, tapi karena Ayah sama Mama akan pergi besok. Jadi, Devan batalkan saja niat itu," balas Devan sembari tersenyum. Aku melongo, wah dia ternyata bisa bicara panjang lebar juga ya.

"Ayah, Mama, apa harus secepat ini? Elza baru kemarin lho nikahnya masak Ayah sama Mama udah ninggalin Elza?" tanyaku kepada keduanya. Suaraku sedikit bergetar menahan tangis.

Kulihat keduanya tersenyum dan mengelus kepalaku lembut. "Sayang, kalau kami tidak pergi bagaimana nasib karyawan di sana? Ayah harus mempertanggungjawabkan semuanya nanti di depan Allah jika terjadi sesuatu di luar kendali karena ketidakpedulian Ayah."

Aku terdiam mendegar penjelasan Ayah. Iya, aku tidak boleh egois karena banyak karyawan yang bergantung dengan perusahaan Ayah di sana.

"Hm, baiklah, yang penting kalian harus sering-sering hubungi Elza." Keduanya hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Terima kasih, Sayang. Oh iya, kalau kalian ingin pergi ke rumah Ibu Filza silahkan, beliau pasti sudah menunggu kalian," ujar Mama menambahkan.

"Kalau begitu kami permisi Ma, Ayah, mau siap-siap pulang ke rumah Devan," ucap Devan sembari mengajakku pergi dari sana. Sedangkan Mama dan Ayah hanya tersenyum kecil.

Sekarang aku sedang di kamar bersama Devan tentunya. Dia sedang siap-siap untuk ke rumah Ibunya yaitu Ibu mertuaku. Aku hanya terduduk di tengah tempat tidur sembari melamun. Rasanya aku tidak rela Ayah sama Mama pergi. Entah kenapa hati ini rasanya berat untuk melepaskan keduanya.

Tok!

"Awh! Kenapa kamu ketok kepalaku? Dasar bocil laknat," amukku padanya sembari menatap Devan tajam yang sedang menatapku datar. Tuh, 'kan dia pasti kambuh lagi.

"Kenapa kamu tidak siap-siap?" tanyanya sembari naik di tempat tidur dan duduk tepat di depanku.

Devan menatapku dengan manik hitamnya. Devan, kumohon jangan tatap, kamu mau jadi duda muda, hm?

"A-ah, gak. Sana jauh-jauh, entar kamu ketok keningku lagi," jawabku terbata sembari mengalihkan pandanganku. Jujur, selama Devan ada di dekatku pasti kerja jantung ini selalu bermasalah.

"Devan ada di sini, Devan akan jaga kamu, Devan janji," ujarnya sembari mengulurkan jari kelingkingnya.

'En, Devan kenapa? Dia makin menggemaskan. Ya Allah, please jangan sampai ada pelakor yang mau merebutnya dariku,' batinku menjerit frustasi.

"Aku pegang kata-katamu," tuturku sembari menautkan jari kelingking kami.

"Devan janji, kalau gitu kamu siap-siap, kita ke rumah Mama," pintanya padaku. Aku hanya mengangguk dan pergi untuk bersiap-siap.

Setelah bersiap, aku tampil cantik dengan menggunakan setelan kemeja berwarna putih dipadukan dengan rok berwarna hitam. Tak lupa tas berwarna hitam menjadi pelengkap penampilanku. Rambutku aku gerai bebas, sehingga aku terlihat seperti wanita dewasa tanpa mengurangi kecantikanku. Aku turun ke bawah di mana Devan sudah ada di sana bersama dengan Ayah dan Mama yang sedang terkekeh geli, aku melihat mereka sangat akrab. Aku masih bingung Devan begitu cepat mengambil hati kedua orang tuaku padahal mereka hanya bertemu sekali dua kali sebelum pernikahan kami, tapi mereka terlihat seperti orang tua dan anak kandung.

"Ehem!" dehemku saat sudah sampai di depan mereka.

"Eh, anak Mama cantiknya. Udah siap?" tanya Mama yang kujawab dengan anggukan.

"Devan, kamu jaga anak Ayah baik-baik ya," petuah Ayah kepada Devan.

"Iya, Yah, kalau gitu kami pergi dulu. Ma, kami pamit," balas Devan sembari tersenyum ramah dan menyalami kedua orang tuaku begitupun dengan diri ini.

Devan memakai jaket untuk menutupi kaos abu-abunya serta dia memakai kacamata hitam untuk melengkapi penampilannya. Jujur, Devan gateng gak ada obat.

Untung saja aku gak sampai ileran liat dia. Cuman terdiam saja. Ternyata oh ternyata, dia, dia sangat tampan. Terima kasih Ma, Yah, udah jodohin Elza sama pria unyu-unyu ini.

"Ayo," ajak Devan dan aku pun masuk ke dalam mobil pajeronya. Devan kemudian melajukan mobilnya membela jalan raya kota Jakarta.

Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara sampai dering ponsel Devan menghancurkan dinding yang bernama keheningan itu. Aku tidak terlalu ambil pusing karena aku lebih suka diam sekarang terlalu malas untuk bicara lebih baik aku diam saja jika tidak ditanya. Dia 'kan sok cool aku juga bisa dong sok cool ala Elza.

"Iya?"

[... ]

"Baik, Devan ke sana sekarang," ujar Devan setelahnya mematikan sambungan telepon.

Aku melirik Devan sekilas. Baru aku ingin bertanya dia memutar balik mobilnya tidak menuju ke rumah Ibu mertuaku lagi.

"Kita mau ke mana, Cil?" tanyaku heran. Namun, tidak ada tanggapan.

Hu! Jika Devan seperti ini rasanya aku ingin menenggelamkannya ke dalam lautan Amazon biar dia dimakan sama ikan piranha. Lebih baik dia bersikap seperti Devan beberapa waktu lalu, Devan yang imut dan penurut.

Akhirnya kami sampai di sebuah taman yang bernama taman spathodea. Aku bingung kenapa Devan membawaku kemari. Devan memberhentikan mobilnya dan dia langsung saja keluar tanpa memperdulikanku.

Deg! Dan semuanya terjawab saat Devan dipeluk oleh seorang wanita cantik. Tentunya wanita itu seumuran dengan Devan bahkan lebih mudah lagi. Aku mematung tepat di samping mobil. Rasanya seperti ada yang menjanggal di hati ini, sesak rasanya. Akan tetapi, aku tidak akan pergi-Devan suamiku, aku ingin egois.

"Woi, kenapa lo peluk-peluk suami gue, ha?!" teriakku. Untung di tempat kami tidak terlalu ramai. Bodohlah aku dikatain alay, pokoknya gak ada yang boleh nyentuh milikku.

Kulihat Devan dan wanita itu yang sialnya jelek cantikan juga aku ke mana-mana. Melepas pelukan mereka, Devan menatapku aneh.

"Lo kenapa peluk-peluk suami orang?" tanyaku lagi seraya menarik Devan ke belakangku.

"Za," sahut Devan tenang.

"Kamu gak usah ngomong," sentakku padanya.

"Gue ini sepupunya Devan," ujar wanita itu sedikit congkak. Ha, sepupu? Terus kenapa gaya bicaranya kek nantangin gitu.

"Za, dia sepupuku. Kamu gak sempet ketemu sama dia waktu nikahan kita kemarin," jelas Devan sembari mesejajarkan posisi kami.

"Ouh!" balasku singkat. Aku ini wanita jadi aku tahu jika sepupu Devan ini menyukai suamiku layaknya seperti wanita mencintai pria bukan kasih sayang sebagai Adik dan Kakak.

"Kak Devan, kayaknya istri Kak Devan gak suka sama Amel," ujar Amel sembari memasang wajah sok imut. Aku rasanya ingin muntah.

"Gue cuman gak suka suami gue dipeluk-peluk cewek lain, kalau kalian punya urusan silahkan di selesaikan, by," ketusku padanya. Hu, ingin berakting agar aku jelek di mata Devan, tidak akan aku biarkan. Liat saja. Aku langsung pergi setelah mengatakan hal demikian. Aku tidak ingin satu mobil dengannya, pasti dia akan minta diantar sama Devan. Ck, aku sebaiknya naik taksi dan pergi ke restoranku daripada di sini, panas hati Adek Bang. Inginku ucapkan kata-kata itu.

Aku pergi meninggalkan Devan. Jangan harap dia mengejarku, tidak? Dia tidak mengejar diri ini. Hu, awas kau ya Devan.

Akhirnya taksi yang kupesan datang juga. Bentaran deh ke rumah Mama mertua, sekarang mau tenangin diri dulu. Apa Devan akan mencariku? Entahlah.

Hanya butuh waktu lima belas menit akhirnya aku sampai di restoranku. Restoran yang bergaya klasik itu sangat sedap dipandang. Kulihat banyak pelanggan yang sedang makan ataupun sedang selfie. Karena restoranku menyediakan tempat untuk pelanggan yang ingin mengambil gambar.

Aku masuk dan kulihat Riri Arinita yang bertanggung jawab di restoran ini selagi aku sibuk. Dia yang menyadari kehadiranku langsung saja mengampiri diri ini.

"Elza kapan datang? Ayo, aku siapin sesuatu untuk pengantin baru kita," tuturnya sembari mempersilahkan ku duduk. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah Arin. Mereka tidak ku izinkan memanggil ku bos atau panggilan kehormatan lainnya menurut ku itu sangat berlebihan.

"Makasih ya, Rin, aku ke sini cuman mau cek resto serta data-data yang kamu kirimkan semalam," ujarku sebelum Arin berlalu. Dia hanya tersenyum menanggapi perkataanku.

Ah, sebaiknya aku menelepon Dinda. Siapa tahu dia lagi free. Ku ambil ponsel di dalam tas tangan ini kemudian mencari kontak Dinda.

Tut! Tut! Tut!

"Halo, assalamualaikum Din. Lo bisa ke resto gue, gue mau curhat." Aku berucap saat Dinda mengangkat telepon ku.

[Oh, ok, tunggu gue ya,] balas Dinda di seberang sana

"Ok." Sambungan pun terputus sembari menunggu Dinda aku mulai memeriksa data pengeluaran dan pemasukan restoku tiga bulan terakhir ini dan seperti biasanya selalu ada perkembangan. Aku ditemani oleh ice cofee yang begitu nikmat sembari masih fokus pada map hitam yang kupegang.

Setelah selesai aku menyuruh Arin untuk mengambilnya kembali. "Rin, jangan lupa kirim filenya ke emailku ya," ucapku padanya yang diangguki oleh gadis cantik tersebut

Tak lama Dinda pun datang dengan senyum cerahnya.

"Kangen!" ucap kami serempak dan langsung berpelukan. Bodohlah, dengan pengunjung yang menatap kami aneh.

"Duduk, Din, lo mau pesan apa?" tawarku.

"Samain aja sama pesanan lo," balasnya.

Aku mengangguk kemudian memanggil waiters dan kusuruh mencatat pesanan Dinda. Setelah waiters itu pergi aku langsung saja mengajak Dinda berbasa-basi.

"Lumayan jauh ya ke sini?" tanyaku basa-basi.

"Lumayan sih, tapi demi lo apa sih yang gak," jawab Dinda sembari tersenyum jenaka.

"Oh iya, Za. Itu, anu." Aku mengeryitkan dahi, saat Dinda tak dapat mengucapkan apa yang ingin dia katakan. Dia menatapku malu-malu. Kesambet apa nih anak?

"Woi, lo kenapa? Kesambet ya?" tanyaku akhirnya.

Langsung saja air mukanya berubah dari malu-malu menjadi datar.

"Sembarangan, gaklah. Itu gue cuman, eum, penasaran," ujar Dinda kembali malu-malu yang membuatku memutar bola mata jengah.

"Bicaralah, apa sih yang mmaulo ucapin?" tanyaku tidak sabar.

Dinda mendekat ke arah telingaku.

"Itu, gimana malam pertama lo, apa Devan jago di atas ranjang?" tanya Dinda lirih. Aku langsung saja membulatkan mataku. Aku sudah paham kenapa dia bertingkah malu-malu seperti remaja yang baru saja kasmaran.

Plak! Kutabok saja kepalanya, kenapa pikiran Dinda selalu mengarah ke hal yang kalian tahu sendirilah.

"Kok lo tabok gue, sih?" tanyanya kesal sembari memayun-mayunkan bibirnya.

"Sapa suruh tuh otak isinnya mesum semua," balas ku juga ikut kesal.

"Ya, gue cuman mau tahu. Supaya nanti gue bisa mempraktekkannya kepada suami gue nanti," ujar Dinda tanpa malu yang makin membuatku tidak habis pikir.

"Gue jawab ya, gue sama Devan belum ngelakuin 'itu' soalnya dia belum paham, lo tahulah kalau bocil masih polos dan gue gak mau rusak kepolosannya," jawabku sambil berbisik juga takut kedengaran oleh pengunjung resto.

Setelahnya aku menjauh lagi dari Dinda ke posisi semula. Terlihat perempatan siku-siku muncul di dahi Dinda ya membuatku bingung sekaligus bertanya-tanya dia kenapa lagi?

"Aduh, Elza sayang. Bukan Devan yang terlalu polos, tapi lo sayang, tapi gue salut juga sama Devan karena bisa tahan gak nyentuh lo, pasti dia nunggu lo siap baru dia mau nyentuh lo," tutur Dinda sembari tersenyum.

"Apa jangan-jangan karena Devan gak suka ya sama gue jadi dia gak nyentuh gue gitu?" tanyaku ngawur.

"Ah, gak mungkin Devan tuh cinta sama lo Za, jelas banget dari tatapannya dia, percaya deh sama gue," balas Dinda menenangkan.

"Buktinya Din, dia gak ngejar gue. Dia malah asik bareng sepupunya. Lo tahu Din sepupunya itu kayaknya suka sama Devan diliat dari tatapannya yang menyiratkan sesuatu gitu kepada Devan, rasanya gue pengen bunuh tuh cewek sok kecentilan banget main peluk-peluk suami orang, Devan juga gak mau ngehindar saat dipeluk, apa mereka saling suka ya? Mereka awalnya pancaran, tapi karena Devan dijodohin jadi mereka tidak bisa melanjutkan kisah-kasih mereka yang belum kelar," ujarku menggebu dan menebak segala kemungkinan di antara mereka.

Tak!

"Awh!" ringisku.

"Lo terlalu banyak mikir, Za. Maunya lo pertahanin suami lo dong jangan biarin tuh pelakor dapat celah buat hancurin hubungan kalian yang baru terjalin kemarin," tutur Dinda menasehati.

Tiba-tiba aku tersenyum saat ide gila bersarang di kepala cantikku yang membuat Dinda bergidik ngeri.

"Lo kenapa, Za. Jangan aneh-aneh deh, perasaan gue gak enak," ujar Dinda sok drama.

"Bener yang lo bilang, Din. Bukannya pernikahan kami baru kemarin ya. Bagaimana jika gue mengajukan cerai kepada Devan supaya dia bisa bahagia dengan kekasihnya itu. Gue anak baik lho, jadi gue mau, ah sepertinya bukan ide buruk," tuturku menyampaikan ide yang mungkin sangat bertentangan dengan hati kecilku yang sedikit merasakan perih.

"Ya Allah, Elza. Lo harus sadar! Berarti lo kasih si pelakor itu jalan, gak-gak gue gak setujuh, lo mau dapet suami yang modelan kek Devan di mana, Za? Jarang ada yang kek dia, " kata Dinda sembari menggeleng kuat tidak setujuh dengan ide gilaku.

"Tapi, dia kayaknya suka sama sepupunya, jadi gue harus gimana?" tanyaku dengan raut wajah senduh.

Tak! Tiba-tiba ada yang menggenggam tanganku, baru saja aku ingin menyentak dan memerahi si pelaku karena berani-beraninya menyentuh tanganku, tapi ketika kulihat siapa pelaku itu, aku terkejut! Ternyata Devan yang memegang tanganku sembari menatapku lembut.

"Maaf Mbak, saya pinjam temennya dulu," tutur Devan meminta izin kepada Dinda yang melongo melihat kedatangan Devan secara tiba-tiba.

"I-iya, dia 'kan istri lo jadi tidak perlu izin," balas Dinda terbata.

"De-Devan, ngapain lo di sini? Bukannya lo punya urusan dengan sepupu lo itu? Sana pergi jangan ganggu gue dulu," usirku padanya sembari mencoba melepas genggamannya yang sangat erat.

"Aku sudah tidak punya urusan dengannya lagi," terang Devan masih menggenggam tanganku. Seketika kami jadi sorot perhatian oleh para pengunjung, sepertinya mereka menganggap kami ini sebagai tontonan seruh.

"Gak mau," kekeuhku tidak mau kalah.

"Ok, kalau gitu," tutur Devan sembari melepaskan tanganku yang membuatku sedikit kecewa entah kenapa, harusnya aku senang 'kan? Namun, tindakan Devan selanjutnya membuatku hampir jantungan.

"Akh! Turunin, malu diliatin sama orang!" teriakku padanya. Bagaimana tidak Devan menggendongku seperti karung beras.

"Diam, atau aku cium kamu di tempat ini," sentak Devan yang membuatku langsung kicep. Tidak berontak lagi.

"Gadis pintar." Devan berujar lirih yang masih mampu kudengar.

1
Vitri Aditya
kedewasaan memang gak bisa diukur dengan usianya. kelihatan disini devan yg lebih muda tp lebih dewasa. dan Elza yg lebih dewasa malah kekanakan
Ade Bunda86
kayaknya si Amel suka sama Devan deh,.ihhhh
Ade Bunda86
mulai berani y
Ade Bunda86
seru bgt nih ceritanya ....lanjut Thor....
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: siap" Terima kasih udah baca ya😭☺
total 1 replies
Ayu Kartika II
gk jelas ngkunya istri tpi ma suami songong giliran ada cewe deket" suaminya cemburu,,aneh nih orang critanya yg jelas thorr,,,
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: hrap sabar ya☺🙏
total 1 replies
Ade Bunda86
walau LBH tua tp masih ori y bang Dev...heheheh
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: hehe😌🤫
total 1 replies
Dida Sa'diah
knp Elza selalu berpikiran gitu sih,kan aku jadi kesel sendiri dengan sikap Elza😡
Dida Sa'diah: 😊😊 ya kakak
total 2 replies
Dida Sa'diah
Elza yang lebih dewasa tapi yang manja nya Elza,,tapi gak papa sama suami sendiri,jadi lucu sendiri baca nya
Ayu Kartika II
elza koq kyk anak kecil masa iya pikirannys sampe sejauh itu apa coba motifnya devan mau bunuh kmu gk masuk akal dehh
bisa gk sih torr critnya agk sdikit dipersingkt gtu gk diulang" jdi kurang seru gitu thorr critanya itu biar ringkas padat dan berisi gtu lho,,😊🙏
faula Ana
lanjut donk
😘 sweet baby😘
haduuhhh.... makin rumit aja thor 😏😏
Sri Wigati
lanjut
Fha Fisha
cepat satu kan Elza lagi tor
Imer Merlin
geram pengen ku jambak2 tuch si setan Laras yg GX tw diri😤😤😤😤😤😤
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: sabar, zheyeng. tapi auhtor salut sama Laras dia rela lakuin apa pun demi mendapatkan seorang yg dicintai
total 1 replies
Egik
moga Elsa cepat di temukan devan
😘 sweet baby😘
up lg donk thor.. pinisirin akuh 👍
Imer Merlin
jangan lma2 misahin Elza sama Devan Thor, kasian tw😞😞😞😞😞😞
Imer Merlin
keren Elza, ngadepin pelakor emang harus cerdik,, jangan oke emosi👍👍👍👍👍
Egik
moga devan bisa secepatnya menemukan Elsa
Fha Fisha
next

cepet temukan Elza dan Devan kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!