Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Seseorang Dibalik Mobil Hitam
Suasana ruang VIP berubah mencekam Haris berdiri berhadapan dengan Bryan. Tatapan keduanya sama-sama tajam, Alvania yang berdiri di belakang Bryan mulai merasa tidak nyaman.
Ia tahu sifat ayahnya, ketika Haris sudah dipenuhi amarah, ia sering mengambil kesimpulan sendiri tanpa mendengarkan siapa pun. Dan benar saja, tatapan Haris beralih dari Bryan kepada Alvania.
Lalu kembali lagi kepada Bryan seolah sedang menyusun potongan-potongan puzzle di kepalanya.
Tiba-tiba ia tertawa pendek, "Hahaha...Oh... jadi begitu..."
Alvania mengernyit, "Maksud Papa apa?"
Haris mengabaikannya, ia menatap Bryan dengan sinis.
"Sekarang saya mengerti kenapa Anda ikut campur."
Bryan tetap tenang, "Saya tidak mengikuti jalan pikiran Anda."
"Tentu saja..."
Haris melangkah maju, "Karena Anda dekat dengan Alvania..."
Alvania membelalak, "Papa!"
"Diam!" Suara Haris menggema di ruangan.
Bryan sedikit mengerutkan kening, ia mulai menyadari ke mana arah tuduhan itu. Namun Haris sudah terlanjur terbawa emosinya.
"Anda datang membelanya. Anda melindunginya. Bahkan berani menentang saya." Haris tertawa dingin.
"Sepertinya hubungan kalian cukup dekat ya. Gue yakin semua berawal dari hubungan ranjang beralih pada asmara...?"
Alvania langsung membantah, "Itu gak bener!"
Bryan juga menjawab datar, "Anda salah paham! Saya bukan tipikal pria seperti itu."
Namun Haris tidak mendengarkan penjelasan dari Bryan dan Alvania, orang yang sedang marah sering kali lebih percaya pada pikirannya sendiri daripada fakta.
"Bukankah itu alasan sebenarnya?" ujar Haris.
"Anda menyukai Alvania?"
Ruangan mendadak sunyi Alvania menatap Bryan dengan wajah memerah karena sedikit kesal pada tuduhan sang ayah sedangkan Bryan hanya menghela napas pelan.
"Saya baru bertemu dengannya malam ini, di ruangan ini bersama Anda." Jawaban itu seharusnya cukup jelas.
Namun Haris justru semakin tidak percaya, "Kalau begitu kenapa Anda membelanya?"
Bryan menatap lurus ke arahnya, "Karena tidak semua orang layak diperlakukan dengan tekanan dan ancaman seperti ini."
Kalimat itu membuat Haris terdiam sesaat, Alvania juga ikut terdiam. Entah kenapa, untuk pertama kalinya malam ini, ia merasa seseorang benar-benar melihat dirinya sebagai manusia, bukan sebagai alat atau beban.
Haris mengepalkan tangannya, "Kalian berdua menentang saya sekarang?"
"Tidak," jawab Bryan tenang.
"Saya hanya menentang cara Anda."
Suasana kembali tegang namun sebelum situasi semakin memburuk, Arlian melangkah maju.
"Tuan Bryan..."
Bryan menoleh sedikit.
"Kita sebaiknya pergi."
Bryan mengangguk. Ia kemudian menatap Alvania.
"Kalau Anda membutuhkan bantuan, hubungi pihak berwenang atau seseorang yang Anda percaya. Atau bisa hubungi saya, ini kartu nama saya..."
Alvania sedikit terkejut mendengar itu Bryan tidak menawarkan janji besar. Tidak menawarkan perlindungan berlebihan, hanya mengingatkannya untuk mencari bantuan yang aman.
Setelah itu Bryan berbalik menuju pintu Arlian pun mengikuti di belakangnya. Sementara Haris masih berdiri dengan berbagai dugaan di kepalanya.
Dan Alvania hanya bisa menatap kepergian pria misterius itu, bertanya-tanya mengapa seseorang yang bahkan tidak mengenalnya mau membela dirinya malam ini.
Di luar club, langit malam semakin gelap. Tanpa mereka sadari, takdir Bryan, Alvania, dan Viona semakin terjalin erat, meski masing-masing masih menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap.
Pintu ruang VIP tertutup dengan keras Haris akhirnya pergi bersama para pengawalnya. Setelah menyadari bahwa malam ini ia tidak akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya justru hanya mendapatkan pukulan dari seorang Bryan. Sebelum pergi, ia sempat menatap Alvania untuk terakhir kalinya.
"Kita belum selesai!"
Lalu ia menghilang di balik pintu. Ruangan mendadak sunyi. Akhirnya Alvania bisa bernafas dengan lebih lega kembali.
Ia perlahan duduk di sofa tangannya masih sedikit gemetar, sudut bibirnya yang ada setitik darah perlahan disekanya.
Pertemuan dengan Haris selalu menguras tenaga dan emosinya. Ia menundukkan kepala beberapa saat, mencoba menenangkan diri. Kemudian pandangannya jatuh pada sebuah kartu nama yang tertinggal di atas meja.
Kartu itu diberikan Bryan sebelum ia pergi, Alvania mengambilnya perlahan. Jarinya menyusuri tulisan yang tercetak rapi di permukaannya.
"Bryan Anggara Wijaya."
Di bawahnya terdapat informasi kontak dan identitas perusahaan yang dipimpinnya. Alvania membaca nama itu beberapa kali.
"Bryan...?"
Nama yang sebelumnya tidak pernah ia dengar, namun entah kenapa terasa sulit dilupakan. Ia teringat kembali kejadian beberapa menit lalu, cara Bryan berbicara, cara pria itu berdiri di hadapannya ketika suasana menjadi tegang.
Dan ketenangan yang tetap terjaga meskipun berhadapan langsung dengan Haris. Biasanya orang-orang memilih menghindar ketika mengetahui siapa ayahnya.
Namun Bryan berbeda, ia tidak terlihat takut. Juga tidak berusaha mencari keuntungan seolah ia membantu hanya karena merasa itu memang hal yang benar untuk dilakukan.
Alvania tersenyum tipis, senyum yang jarang muncul di wajahnya.
"Orang aneh...tapi terimakasih banyak..."gumamnya pelan.
Namun kali ini nada suaranya tidak terdengar kesal. Ia kembali melihat kartu nama itu, di balik kehidupan malam yang selama ini dijalaninya, Alvania telah bertemu banyak seorang pria kaya.
Pria berkuasa, pria yang berpura-pura baik.
Namun malam ini, Bryan meninggalkan kesan yang berbeda. Bukan karena kekayaannya, bukan karena pengaruhnya.
Melainkan karena sikapnya, yang untuk pertama kalinya, seseorang membelanya tanpa meminta apa pun sebagai imbalan darinya.
Alvania menyimpan kartu nama itu ke dalam tasnya. Awalnya ia berniat langsung membuangnya namun entah mengapa ia tidak jadi melakukannya.
Mungkin karena rasa penasaran atau mungkin karena ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin mengetahui lebih banyak tentang pria misterius tersebut.
Di sisi lain kota Bryan duduk di kursi belakang mobilnya. Lampu-lampu jalan raya melintas di balik jendela.
"Tuan," ujar Arlian.
Bryan membuka mata.
"Ya?"
"Menurut saya, Anda terlalu jauh ikut campur malam ini..."
Bryan terdiam beberapa saat lalu menoleh ke luar jendela.
"Gue hanya tidak suka melihat orang diperlakukan seperti itu Lian, lo lihat sendiri kan berapa kejamnya seorang ayah itu kepada anaknya."
Arlian tersenyum tipis jawaban yang sederhana namun cukup membuatnya paham bahwa ada alasan lain yang bahkan Bryan sendiri belum sepenuhnya menyadarinya.
Sementara itu, jauh di apartemen Viona akhirnya tertidur tanpa mengetahui bahwa malam ini namanya telah menghubungkan dua orang asing seorang pria yang sedang mencarinya.
Malam semakin larut mobil merah milik Bryan melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu gedung tinggi memantulkan cahaya ke kaca jendela kendaraan.
Di kursi belakang, Bryan duduk diam dengan mata terpejam namun pikirannya tidak benar-benar beristirahat. Bayangan Alvania yang duduk sendirian di ruang VIP terus terlintas sesekali. Begitu pula nama yang disebut Haris malam ini.
Viona...
"Tuan..." Suara Arlian memecah keheningan.
Bryan membuka mata perlahan.
"Ada apa?"
Arlian melihat layar tablet di tangannya, "Tim kita baru saja mengirim konfirmasi."
Bryan mengangkat pandangan, "Konfirmasi apa?"
Arlian menarik napas pelan, "Informasi tentang Viona."
Bryan langsung memperhatikan, "Dia tinggal di apartemen yang sama dengan Anda."
Mobil mendadak terasa lebih sunyi. Bryan tidak segera menjawab.
"Seberapa yakin?"
"Sembilan puluh sembilan persen." Arlian memperbesar data yang ada di layar.
"Nama terdaftar, akses kartu penghuni, dan beberapa rekaman CCTV mengarah pada orang yang sama."
Bryan menatap layar itu di sana terdapat foto Viona yang diambil dari kamera lobi beberapa hari sebelumnya, ia mengenali wajah itu.
Gadis yang pernah ditemuinya suatu malam, gadis yang terus muncul dalam berbagai informasi yang ia kumpulkan.
"Gedung yang sama..." gumam Bryan.
"Ya, Tuan." Arlian mengangguk.
"Hanya berbeda lantai dan unit."
Bryan terlihat benar-benar terkejut, selama ini ia mencari ke berbagai tempat. Sementara orang yang dicarinya ternyata berada tidak jauh dari tempat tinggalnya sendiri.
...****************...
Beberapa puluh menit kemudian mobil memasuki area parkir apartemen. Bryan dan Arlian turun, udara malam terasa dingin. Mereka berjalan menuju lobi, petugas keamanan langsung memberi salam hormat dengan ramah.
"Selamat malam, Pak Bryan..."
Bryan mengangguk singkat namun langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju ke luar gedung melalui dinding kaca lobi.
Sebuah mobil hitam masih terparkir di seberang jalan. Mesinnya menyala namun tidak ada tanda-tanda pengemudinya akan pergi Arlian juga menyadarinya.
"Tuan..."
Bryan menyipitkan mata, "Sudah berapa lama mobil itu di sana?"
Petugas keamanan terlihat berpikir, "Kurang lebih dua jam, Pak."
Arlian langsung bertukar pandang dengan Bryan. Dua jam bukan waktu yang singkat, terlalu lama untuk seseorang yang hanya menunggu.
Bryan mengamati mobil itu beberapa detik, samar-samar terlihat sosok pria duduk di kursi pengemudi seolah sedang mengawasi gedung apartemen.
"Tolong periksa keamanan lebih lanjut."
"Baik, Tuan."
Arlian segera menghubungi beberapa orang kepercayaannya. Sementara itu di dalam mobil hitam, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan menurunkan sedikit kaca jendela.
Tatapannya tertuju ke arah gedung apartemen di tangannya terdapat sebuah foto. Foto Viona, pria itu kemudian tersenyum tipis.
"Akhirnya ketemu juga."
Ponselnya bergetar, ia mengangkat panggilan itu.
"Ya?"
Suara dari seberang terdengar berat, "Apa targetnya sudah ditemukan?"
Pria itu kembali melihat foto di tangannya, "Sudah."
"Pastikan jangan sampai hilang lagi."
Pria itu mengangguk, "Tenang saja tuan."
Panggilan berakhir namun sebelum ia sempat menyalakan gulungan tembakau halus yang berada di tangannya, matanya menangkap sesuatu.
Bryan baru saja keluar dari lobi apartemen, pria itu langsung membeku, raut wajahnya berubah.
"Bryan Anggara Wijaya...?"
Ia mengenali sosok tersebut dan itu bukan kabar baik karena jika Bryan ikut terlibat dalam urusan Viona, maka situasi akan menjadi jauh lebih rumit dari yang diperkirakan.
...****************...
Di sisi lain lift bergerak naik menuju lantai tempat unit Bryan berada, Arlian berdiri di sampingnya.
"Tuan..."
Bryan menatap pintu lift.
"Hm?"
"Menurut Anda, siapa pria di mobil itu?"
Bryan terdiam beberapa saat lalu menjawab pelan.
"Seseorang yang mencari Viona yang kabur dari club malamnya."
Lift berbunyi, pintu perlahan terbuka. Tatapan Bryan berubah tajam.
"Dan saya ingin tahu alasannya."
Tanpa mereka sadari, malam ini bukan hanya Bryan yang berhasil menemukan jejak Viona ada orang lain yang juga sedang memburunya dan permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.
BERSAMBUNG.