NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Pagi yang Pecah

...

Sisa-sisa tangisan Ryan semalam membekas menjadi gumpalan hawa dingin yang menggantung di kamar utama. Ketika fajar menyingsing tembus dari balik celah gorden kelabu, Zidan membuka matanya dengan rasa pening yang luar biasa di pelipisnya. Di sampingnya, Ryan masih tertidur pulas dengan posisi meringkuk memeluk guling, napasnya sesekali masih terdengar sesenggukan kecil.

Zidan perlahan menggeser tubuhnya, turun dari ranjang tanpa ingin membangunkan putranya. Tubuhnya terasa remuk. Tidur sekamar dengan anak kecil yang terus bergerak dan mengigau mencari ibunya sepanjang malam adalah hal baru yang menguras seluruh energinya.

Pria itu melangkah keluar kamar dengan langkah kaku, masih mengenakan kaos hitam semalam. Begitu kakinya menapak di koridor lantai dua, bau menyengat sesuatu yang terbakar langsung menusuk indra penciumannya. Bau gosong itu begitu pekat, merambat naik dari arah lantai bawah.

"Bau apa ini?" gumam Zidan, dahinya berkerut dalam. Langkah kakinya bergegas menuruni anak tangga dengan cepat.

Semakin dekat ke arah dapur, suara kepanikan dan teriakan melengking terdengar bersahut-sahutan.

"Aduh, Bi Sumi! Cepat matikan kompornya! Asapnya ke mana-mana ini, nanti alarm kebakarannya bunyi!" Teriakan itu berasal dari suara Keysha yang terdengar melengking panik.

"Sudah saya matikan, Non Keysha! Tapi wajannya masih keluar asap hitam! Ini airnya mana, Bi Inah?!" sahut Bi Sumi tak kalah panik dengan suara gemetar.

Zidan melangkah lebar memasuki dapur dan seketika terbatuk-batuk kecil. Asap hitam tipis memenuhi ruangan skandinavia yang tadinya selalu bersih itu. Di atas kompor induksi mewah, sebuah wajan antilengket mahal tampak gosong menghitam, berisi gumpalan hitam legam yang tidak jelas lagi bentuk aslinya 7yang sepertinya tadinya adalah usaha untuk membuat roti bakar telur.

Di sudut meja konter, Mama berdiri sambil mengibas-ngibas jubah tidur suteranya ke udara dengan wajah merah padam karena kesal dan sesak napas. Sementara Karina berdiri agak jauh di dekat pintu penghubung taman, menutup hidungnya rapat-rapat dengan saputangan, matanya menatap dapur dengan pandangan luar biasa muak.

"Ada apa ini pagi-pagi?!" bentak Zidan, suaranya yang berat dan menggelegar langsung memotong seluruh kepanikan di dapur itu. Sifat dingin dan narsisnya terusik hebat melihat kekacauan fisik di rumahnya sendiri.

Semua orang menoleh. Bi Sumi langsung menunduk ketakutan sambil memegang kain lap basah.

"Zidan! Lihat ini pembantu-pembantu bodoh kamu!" adu Mama langsung, suaranya meninggi mencari pembelaan. "Mama cuma minta dibuatkan roti panggang mentega sama telur setengah matang buat sarapan. Masa begini saja gosong dan bikin dapur kebakaran?! Benar-benar tidak becus kerja!"

Bi Sumi memberanikan diri mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Mo-mohon maaf, Nyonya Besar... kompor induksinya mendadak panas sekali dan rotinya langsung gosong. Biasanya... biasanya Non Pamela yang selalu mengatur suhu kompornya dari awal dan tidak pernah ditinggal..."

"Halah! Alasan saja kamu! Bilang saja malas!" potong Keysha ketus, wajahnya yang penuh krim jerawat tampak masam. "Gara-gara asap ini, baju kuliah Keysha yang digantung di dekat lorong jadi bau sangit semua! Kesal banget sih!"

Zidan memijat pangkal hidungnya, merasakan denyutan di kepalanya semakin menjadi-jadi. Dia menatap wajan yang gosong, lalu beralih menatap ibunya dan adiknya yang hanya tahu cara menuntut tanpa mau menggerakkan jari mereka sendiri. Ego tingginya mulai merasa muak dengan drama harian yang tidak kunjung selesai ini.

"Kalau pembantu gak becus, kenapa gak kalian sendiri yang buat?" tanya Zidan, suaranya terdengar sangat dingin dan menusuk. "Cuma panggang roti. Masa tiga perempuan di rumah ini gak ada satu pun yang tahu cara membalikkan roti di atas wajan?"

Kata-kata Zidan membuat Mama terbelalak tersinggung. "Zidan! Kamu bicara apa?! Mama ini orang tua, masa kamu suruh masak sendiri?! Lagipula ada Karina di sini, jaga ucapan kamu!"

Karina yang merasa namanya disebut langsung menurunkan saputangannya, menatap Zidan dengan tatapan tajam berbalut manja yang dipaksakan. "Iya, Sayang. Kamu kok malah nyalahin kita sih? Aku kan lagi hamil, bau asap begini bikin aku mual tahu gak. Harusnya kamu cepat panggil jasa pembersih rumah atau sewa koki baru, bukan malah marah-marah gak jelas begini."

Zidan tidak membalas ucapan Karina. Sifat narsisnya menolak untuk berdebat lebih jauh. Dia berbalik dengan kasar, berniat kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke kantor. Dia merasa lingkungan rumah ini perlahan-lahan berubah menjadi racun yang menguras kewarasannya.

Namun, baru dua langkah Zidan meninggalkan dapur, langkah kakinya kembali terhenti oleh sebuah suara tangisan yang cempreng dari arah ruang tengah. Riana berjalan mendekat dengan daster tidurnya yang berantakan, air matanya mengalir deras membasahi pipi.

"Papa... rambut Riana gatal... perih..." tangis anak perempuan itu sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya dengan kasar.

Zidan berlutut di depan putrinya, mencoba menepis tangan Riana yang terus menggaruk. Saat dia menyingkap rambut panjang anak perempuannya, Zidan tertegun. Kulit kepala bagian belakang Riana tampak memerah, bahkan ada beberapa bagian yang lecet dan mengeluarkan sedikit darah tipis akibat garukan yang terlalu kuat.

"Ini kenapa bisa begini?" tanya Zidan, suaranya bergetar menahan emosi. Dia menoleh tajam ke arah Keysha. "Keysha! Kemarin kamu apain rambut Riana?!"

Keysha yang ditatap begitu langsung mundur selangkah, wajahnya memucat namun berusaha membela diri. "K-Keysha gak ngapa-ngapain! Kemarin sore Keysha cuma nyisir rambutnya karena kusut banget! Dia aja yang manja, jerit-jerit terus dari kemarin!"

"Sisir kamu kekencangan sampai kulit kepalanya luka begini, Keysha?!" bentak Zidan, kekerasan verbalnya pecah seketika di dapur yang masih berasap itu. "Kamu punya otak gak sih?! Dia ini anak kecil, bukan boneka pajangan kamu!"

"Zidan! Jangan bentak adikmu hanya karena urusan sepele begitu!" bela Mama ikut berteriak, tidak terima anak perempuannya disalahkan. "Itu pasti karena si Pamela yang gak becus jaga kebersihan rambut anaknya selama ini! Makanya gatal-gatal!"

"Cukup, Ma! Cukup!" teriak Zidan frustrasi, suaranya memenuhi seluruh sudut ruangan hingga membuat Riana semakin menangis histeris ketakutan.

Zidan menyambar tubuh Riana ke dalam gendongannya. Gendongannya kaku, namun dia tidak peduli lagi. Dengan napas memburu, pria itu membawa anaknya naik kembali ke lantai dua, meninggalkan dapur yang kacau dan tiga wanita yang masih terpaku diam dengan ego mereka masing-masing.

Di dalam kamar utama, Zidan mendudukkan Riana di tepi ranjang berdampingan dengan Ryan yang baru saja terbangun akibat teriakan di bawah. Kedua anak kembar itu kini duduk saling merapatkan tubuh, menatap ayah mereka dengan pandangan asing yang penuh rasa takut.

Zidan berjalan ke kamar mandi, mengambil kotak obat kecil yang biasa disimpan di sana. Saat dia membukanya, lagi-lagi dia menemukan sebuah catatan kecil dari Pamela yang ditempel di bagian dalam tutup kotak.

'Obat merah dan salep luka ada di sekat pertama. Kalau si kembar lecet karena jatuh atau gatal, pakai salep yang tutupnya hijau, oles tipis-tipis setelah mandi. Jangan dipakein minyak kayu putih, kulit mereka sensitif nanti perih.’

Jemari Zidan gemetar saat membaca tulisan tangan itu. Rasa perih yang asing kembali merayap di dadanya. Pamela selalu ada di setiap detail kecil luka anak-anak mereka. Pamela selalu menyiapkan penawarnya bahkan sebelum luka itu terjadi. Sementara dia, sang ayah yang kaya dan narsis, bahkan tidak tahu salep mana yang harus dia ambil untuk mengobati rasa gatal anak kandungnya sendiri.

Zidan mengambil salep tutup hijau itu dengan gerakan lambat. Dia kembali ke kamar dan duduk di depan Riana. Dengan tangan yang kaku dan canggung, dia mulai mengoleskan salep itu ke kulit kepala anaknya yang lecet. Setiap kali Riana meringis lirih kesakitan, setiap kali pula jantung Zidan terasa seperti diremas oleh rasa bersalah yang lambat laun mulai menembus lapisan keangkuhannya.

Pagi yang pecah ini baru merupakan lembar awal dari harga mahal yang harus dibayar oleh seluruh isi rumah mewah itu atas kesombongan mereka. Pamela telah pergi membawa seluruh kehangatannya, dan yang tersisa di rumah ini hanyalah rasa dingin yang perlahan-lahan mulai membakar ego mereka satu per satu hingga menjadi abu penyesalan.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!