Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adel dan Juna
Di dalam sana, Adel masih berdiri dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Ia menatap Kayla dan Juna di balik pintu dengan tatapan tajam. Gadis itu lalu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku dan kemudian mengarahkan benda itu ke arah keduanya yang masih asyik mengobrol di salah satu kursi outdoor kafe.
Cekrek! Cekrek!
Adel menangkap dua foto dengan jelas. Foto pertama memperlihatkan Juna yang sedang tertawa lepas menatap Kayla, dan foto kedua pas Kayla sedang memukul lengan Juna pakai buku menu dengan wajah cemberut. Di kamera, mereka beneran kelihatan kayak sepasang kekasih yang lagi bucin dan gemas.
Wajah Adel berubah masam. Tanpa pikir panjang, ia langsung membagikan foto itu ke grup obrolan angkatan SMA mereka dengan caption, "Gila! Ternyata ini alasan Juna nolak semua cewek di sekolah. Selera dia ternyata tante-tante kuliahan, Guys! ".
Dalam hitungan menit, grup langsung pecah. Notifikasi di ponsel Juna yang diletakkan di atas meja kafe mulai bergetar tanpa henti, tapi cowok itu memilih mengabaikannya karena terlalu sibuk berdebat soal martabak manis keju susu dengan Kayla.
Keesokan paginya di SMA, suasana kelas XI-A mendadak berubah aneh begitu Juna melangkah masuk melewati pintu depan. Langkah kakinya yang biasanya santai kini disambut oleh tatapan tajam dan bisik-bisik dari hampir seluruh penghuni kelas.
Beberapa siswi yang duduk di barisan depan bahkan terang-terangan meliriknya sambil saling menyenggol lengan teman sebangkunya.
Juna menaikkan sebelah alisnya, merasa risih. Namun, ia tetap berjalan cuek menuju kursinya di pojok belakang.
Belum juga bokongnya menyentuh bangku, Rendy dan dua teman tongkrongannya, Dimas dan Farel, sudah langsung merubung meja Juna dengan wajah heboh. Rendy bahkan sampai menggebrak meja pelan.
"Gila lo, Jun! Diam-diam menghanyutkan ya lo!" seru Rendy heboh.
"Asli, Jun. Pantesan spek bidadari sekolah lo tolak semua, ternyata pawang lo di luar ngeri amat," timpal Dimas sambil geleng-geleng kepala.
Juna mengerutkan keningnya, menaruh tas ranselnya dengan kasar. "Apaan sih? Pagi-pagi udah heboh. Nggak jelas lo pada."
"Nggak jelas matamu! Nih, lihat!" Farel langsung menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Juna.
Di sana, terpampang jelas grup obrolan angkatan mereka yang notifikasinya sudah menyentuh angka 999+. Juna memicingkan mata, melihat dua buah foto yang dikirim tadi sore di Elder De Cafe.
Foto dirinya yang sedang tertawa lepas menatap Kayla, dan foto saat Kayla memukul lengannya dengan buku menu. Di bawahnya, ada caption kompor: 'Gila!Ternyata ini alasan Juna nolak semua cewek di sekolah. Selera dia ternyata tante-tante kuliahan, Guys! '
Mata Juna langsung menggelap. Rasa kaget dan kesal bercampur jadi satu di dadanya. Rahangnya mengeras saat ia menggulir layar ponsel Farel ke atas untuk melihat siapa dalang di balik penyebaran foto tersebut.
08******789
"Sialan," umpat Juna lirih. Tangannya mengepal kuat.
Dia tahu pemilik nomor ini. Itu nomor Adel. Ia ingat betul tiga angka terakhir nomor gadis itu.
Juna baru saja mau berdiri untuk mencari Adel di kelas sebelah, namun niatnya terpaksa urung. Langkah kaki yang tegas terdengar dari koridor, disusul masuknya Bu Lina, guru matematika mereka yang terkenal killer, sambil membawa penggaris kayu panjang.
"Selamat pagi anak-anak, kembali ke tempat duduk masing-masing. Hari ini kita kuis dadakan," suara lantang Bu Lina sukses membuat seisi kelas buyar dan kembali ke meja masing-masing dengan lemas.
Tiga jam berlalu dengan sangat lambat. Begitu bel istirahat berbunyi, Juna langsung melesat keluar kelas sebelum teman-temannya sempat mengintrogasinya lagi. Namun, sepanjang koridor menuju kantin, ia tetap menjadi pusat perhatian. Bisik-bisik miring mengenai gosip kemarin terdengar jelas di kanan-kirinya.
Langkah Juna terhenti tepat di dekat mading sekolah saat melihat Adel sedang asyik mengobrol dengan gengnya sambil tertawa-tawa. Begitu menyadari keberadaan Juna, Adel langsung pamit pada teman-temannya dan berjalan menghampiri Juna dengan senyuman lebar.
"Hai, Juna! Kebetulan banget ketemu di sini," sapa Adel dengan nada flirting yang kental, tangannya sengaja merapikan rambutnya di depan Juna. "Gimana kuis Bu Lina tadi? Susah ya? Mau aku temenin ke perpus buat belajar bareng nanti pas pulang?"
Juna tidak membalas senyuman Adel. Ia berdiri tegak, menatap Adel dengan pandangan sedingin es dari balik matanya.
"Nggak usah sok akrab," kata Juna datar, suaranya berat dan menusuk.
Senyum di wajah Adel agak luntur, tapi ia buru-buru menutupinya dengan tawa kecil yang dipaksakan. "Ih, Juna kok galak banget sih pagi ini? Oh iya, soal foto di grup itu... maaf ya, aku nggak bermaksud. Aku cuma kaget aja kemarin liat kamu di kafe sama tante-tante itu. Kamu tuh masih muda, Jun, masa mau sih dimanfaatin sama cewek kuliahan kayak dia? Mendingan sama yang seumuran, yang jelas-jelas bisa selalu ada buat kamu di sekolah..."
Adel maju selangkah, mencoba memegang lengan jaket Juna, namun Juna dengan cepat mundur menjauh, membuat tangan Adel menggantung di udara.
"Pertama, dia punya nama, namanya Kayla. Dan dia bukan tante-tante," ucap Juna, menekankan setiap kata dengan penuh penekanan. "Kedua, selera gue emang tinggi. Gue sukanya cewek yang mandiri, dewasa, dan cantik kayak dia. Bukan bocah labil yang hobinya stalking orang, foto diem-diem, terus nyebar gosip murah karena sirik nggak dapet perhatian."
Wajah Adel langsung memucat seketika. Beberapa siswa yang lewat di koridor sampai ikut menoleh karena mendengar ucapan telak Juna.
"J-Juna... kok kamu ngomongnya gitu sih? Aku kan cuma—"
Juna menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menatap Adel dengan tatapan dingin.
"Gue ingetin sekali lagi ya, Del," potong Juna, memajukan wajahnya sedikit, menatap Adel dengan tatapan mengancam yang membuat nyali gadis itu menciut. "Jangan pernah berani senggol atau cari tahu soal cewek gue lagi. Sekali lagi gue dapet lo macem-macem di belakang gue, gue nggak bakal segan-segan laporin akun lo ke pihak sekolah atas kasus cyberbullying. Paham?"
Juna kini berbalik dan meninggalkan Adel yang masih berdiri terpaku di koridor. Adel mengepalkan tangannya erat. Kuku-kukunya yang bening terlihat memutih, menekan telapak tangannya sendiri demi menahan gelombang tangis yang siap pecah.
Di sekelilingnya, koridor terasa mendadak sunyi meski riuh bisik-bisik murid lain justru makin berdengung di telinganya. Tatapan-tatapan kasihan sekaligus mencemooh dari siswi-siswi lain yang selama ini iri padanya kini terasa seperti jarum yang menusuk kulit.
Dengan langkah tergesa-gesa dan kepala tertunduk dalam, ia lantas berlalu pergi dari tengah keramaian murid-murid di koridor, mengabaikan panggilan teman-teman satu gengnya yang kebingungan.
"Sialan lo, Juna... Sialan!" bisik Adel di antara isak tangisnya yang tertahan saat ia berhasil bersembunyi di dalam bilik toilet paling ujung.
Rasa malunya hari ini benar-benar berada di puncak tertinggi. Namun, alih-alih membuat nyalinya ciut, makian dingin Juna justru memantik api baru di dalam dadanya.
Rasa cemburu yang awalnya sederhana kini bermutasi menjadi sebuah obsesi yang pekat. Jika Juna berpikir ancaman soal cyberbullying itu bisa membuatnya mundur, maka cowok itu salah besar.
"Kayla, ya?" Adel mengeja nama itu dengan penuh penekanan di depan cermin toilet setelah membasuh wajahnya yang sembap.
"Seberapa berkelasnya lo sampai bisa bikin Juna sekasar itu sama gue."
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan