Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9 – MENCARI PERSEDIAAN
Saat ini Lily sedang berada di kamarnya. Setelah reuni keluarga yang cukup menegangkan tadi, ia akhirnya meminta izin untuk beristirahat sejenak.
Begitu pintu kamar tertutup, Lily langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
"Akhh... pegal banget. Gila, badan gue rasanya mau remuk," keluhnya sambil meregangkan tubuh yang terasa kaku.
Hari ini benar-benar melelahkan.
Mulai dari menghadapi zombie, menyelamatkan keluarganya, hingga menjelaskan banyak hal tentang kiamat yang akan datang.
Lily kemudian menatap langit-langit kamar sebelum bertanya kepada sistem.
"Sistem, kira-kira berapa poin yang aku dapat dari kristal zombie level 0 tadi?"
Tak lama kemudian, suara mekanis sistem terdengar di dalam kepalanya.
DING!!!
(Nona memperoleh 40 poin sistem.
Berikut penjelasan mengenai kristal zombie:
Level 0 : Tidak memiliki kegunaan khusus. Dapat ditukar menjadi 10 poin sistem.
Level 1 : Menambah stamina dan kecepatan. Dapat ditukar menjadi 15 poin sistem.
Level 2 : Meningkatkan level elemen dalam jumlah kecil. Dapat ditukar menjadi 20 poin sistem.
Level 3 : Meningkatkan level elemen serta menambah stamina dalam jumlah sedang. Dapat ditukar menjadi 25 poin sistem.
Level 4 : Meningkatkan level elemen, stamina, dan kecepatan secara signifikan. Dapat ditukar menjadi 40 poin sistem.
Level 5 : Meningkatkan level elemen, stamina, dan kecepatan hingga tiga tingkat. Dapat ditukar menjadi 70 poin sistem.
Poin sistem dapat digunakan untuk membeli berbagai barang di Toko Sistem.
Terima kasih -_-)
Lily hanya bisa memijat pelipisnya.
"Kenapa penjelasanmu selalu diakhiri dengan wajah datar begitu sih?"
Sayangnya sistem tidak menjawab.
Lily hanya menghela napas pasrah.
Untuk saat ini, kristal level rendah memang belum terlalu berguna baginya. Ia harus menunggu beberapa minggu lagi hingga para zombie kembali bermutasi dan naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Setelah beristirahat beberapa menit, Lily bangkit dari kasurnya.
Tubuhnya masih dipenuhi bercak darah hitam zombie yang mengering.
"Yah... sekarang mandi dulu deh."
Beberapa saat kemudian.
Lily sedang berendam santai di dalam bathtub berisi air hangat.
Rasa lelah yang menumpuk sejak pagi perlahan menghilang.
"Ahhh... segarnya."
Ia memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya.
"Seandainya kehidupan sebelumnya seperti ini, mungkin aku bisa hidup lebih lama."
Kenangan masa lalunya kembali muncul.
Kehidupan yang dipenuhi kelaparan, pertarungan, pengkhianatan, dan kematian.
Hampir setiap hari ia hidup dalam ketakutan.
Namun kini semuanya berbeda.
Lily membuka matanya perlahan.
"Tapi tidak apa-apa."
Senyuman tipis muncul di wajahnya.
"Aku bersyukur telah diberi kesempatan kedua."
Kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Kesempatan untuk melindungi keluarga yang dulu gagal ia selamatkan.
Kesempatan untuk hidup lebih baik.
"Terima kasih..."
Lily mengucapkan rasa syukurnya dalam hati.
Setelah selesai mandi, Lily mengenakan pakaian rumah yang nyaman sebelum turun ke lantai satu.
Begitu memasuki ruang keluarga, ia melihat seluruh anggota keluarganya sedang berkumpul dan mengobrol.
"Siang semuanya."
Semua orang menoleh ke arahnya.
"Paman, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Lily kepada Damar.
Meski tadi Damar terlihat santai dan bercanda, Lily tahu pria itu sebenarnya masih syok.
Begitu pula dengan Mauren dan Athar.
Damar menghela napas panjang.
"Paman baik-baik saja."
Ia tersenyum pahit.
"Hanya sedikit sulit mempercayai kejadian hari ini."
"Maksud Paman?"
"Paman masih tidak percaya kalau kita benar-benar berada di tengah gerombolan mayat hidup."
Suasana ruang keluarga menjadi sedikit sunyi.
Tidak ada seorang pun yang bisa menyalahkan Damar.
Beberapa jam lalu mereka hanyalah keluarga biasa.
Kini mereka hidup di tengah awal kiamat zombie.
"Semua orang pasti butuh waktu untuk beradaptasi," ucap Lily pelan.
Damar mengangguk setuju.
Saat suasana mulai tenang, Lily teringat sesuatu yang penting.
"Mom, bagaimana persediaan makanan di rumah?"
Grace terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Sebenarnya stok makanan kita mulai menipis."
Wajah Lily langsung serius.
"Seberapa banyak yang tersisa?"
"Kalau dihemat mungkin cukup untuk dua minggu."
"Dua minggu?"
Lily mengerutkan kening.
Itu jauh dari cukup.
Apalagi jika jumlah anggota keluarga bertambah.
"Tapi kami juga tidak bisa keluar," lanjut Grace. "Keadaan di luar terlalu berbahaya."
Semua orang langsung terdiam.
Mereka tahu ucapan Grace benar.
Namun Lily juga tahu mereka tidak bisa terus bersembunyi.
"Kalau begitu kita harus mencari persediaan makanan secepat mungkin."
Semua orang menoleh ke arahnya.
"Sebelum orang lain mengambil semuanya."
Ayah Lily langsung menggeleng.
"Tapi di luar sangat berbahaya. Zombie ada di mana-mana."
"Karena itulah kita harus bergerak sekarang."
Lily berdiri dari sofa.
"Semakin lama kita menunggu, semakin sedikit persediaan yang tersisa."
Semua orang mulai mempertimbangkan ucapannya.
Lily kemudian melanjutkan.
"Kita akan membagi tugas."
"Aku, Kak Lea, dan Bang Alex akan keluar mencari makanan."
"Kami yang bertugas menjaga rumah," sambung Grace.
Lily mengangguk.
"Mom, Daddy, Paman Damar, Tante Mauren, dan Athar akan tetap di sini."
Belum sempat yang lain menjawab, Lea langsung berdiri.
"APAAA?!"
Lea menunjuk dirinya sendiri.
"Lo nyuruh gue lawan makhluk menjijikkan itu?!"
Ia langsung bergidik.
"Ihhhhh! Nggak mau!"
Lily memutar matanya.
"Kak."
"Apa?"
"Lo harus mulai terbiasa."
Lea langsung cemberut.
"Kiamat ini nggak akan selesai dalam sehari."
"Tapi mereka jelek banget..."
"Itu zombie, bukan model majalah."
Alex yang mendengar percakapan mereka langsung tertawa.
Lea mendelik kesal.
Namun pada akhirnya ia menyerah.
"Fine. Gue ikut."
"Nah gitu dong."
Lea mendengus kesal.
Sebelum berangkat mencari persediaan, Lily memutuskan melakukan sesuatu yang penting.
"Aku ingin mengecek sesuatu."
Semua orang memandangnya bingung.
"Mengecek apa?" tanya Mauren.
"Kemampuan kalian."
Lily berdiri dan mulai mengumpulkan energi elemen metal di dalam tubuhnya.
Lapisan energi tipis muncul di kedua matanya.
Perlahan penglihatannya berubah.
Kini ia bisa melihat cahaya elemen yang tersembunyi di dalam tubuh manusia.
Lily mulai mengamati satu per satu anggota keluarga pamannya.
Beberapa detik kemudian, matanya membelalak.
"Paman Damar..."
Di tubuh Damar terdapat cahaya biru terang.
Elemen Air.
Lily lalu beralih kepada Mauren.
Di tubuh wanita itu terdapat cahaya cokelat pekat.
Elemen Tanah.
Namun saat melihat Athar...
Lily membeku.
Di tubuh sepupunya itu terdapat cahaya hitam pekat yang sangat dalam.
Jauh lebih pekat dibanding elemen biasa.
"Itu..."
Jantung Lily berdetak lebih cepat.
Elemen Kegelapan.
Salah satu elemen paling langka di dunia.
Hanya sekitar satu dari sepuluh orang yang memiliki peluang membangunkannya.
Namun kelangkaan bukanlah alasan Lily terkejut.
Elemen kegelapan memiliki kesadaran dan naluri yang sangat kuat.
Jika penggunanya tidak mampu mengendalikan diri, elemen itu bisa menelan kepribadiannya sedikit demi sedikit.
Lily menarik napas panjang.
"Baiklah."
Ia memutuskan menjelaskan semuanya.
"Mungkin apa yang akan aku katakan terdengar aneh."
"Tapi kalian akan membutuhkannya."
Semua orang menatapnya penuh rasa penasaran.
"Lihat baik-baik."
Lily mengangkat tangan kanannya.
Beberapa saat kemudian, bola air sebesar bola tenis muncul di atas telapak tangannya.
Air itu berputar perlahan.
Semua orang langsung terbelalak.
"I-I-Itu apa?!"
"Tidak mungkin..."
"Itu sihir?!"
Lily tersenyum tipis.
"Bukan sihir."
"Ini disebut kemampuan elemen."
Selama beberapa menit berikutnya, Lily menjelaskan mengenai para pengguna elemen.
Tentang kebangkitan kemampuan.
Tentang mutasi manusia.
Dan tentang peluang setiap orang memperoleh kekuatan khusus.
Setelah penjelasannya selesai, Damar langsung bertanya.
"Jadi... kami juga punya kemampuan itu?"
Lily mengangguk.
"Iya."
Ia menunjuk Damar.
"Paman memiliki elemen air."
Kemudian ia menunjuk Mauren.
"Tante Mauren memiliki elemen tanah."
Lalu pandangannya beralih kepada Athar.
"Kamu memiliki elemen kegelapan."
Athar tampak terkejut.
"Elemen kegelapan?"
Lily mengangguk serius.
"Elemenmu sangat kuat."
"Tapi juga sangat berbahaya."
"Berbahaya?"
"Karena elemen itu memiliki kecenderungan memengaruhi pikiran penggunanya."
Athar langsung menelan ludah.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Kendalikan emosimu."
"Jangan biarkan kemarahan atau kebencian menguasaimu."
Athar mengangguk pelan.
"Aku mengerti."
Setelah itu, ketiganya mulai mencoba membangkitkan elemen mereka.
Mereka memusatkan energi menuju inti elemen yang berada di dalam tubuh.
Beberapa saat kemudian—
WUSHH!
Aliran air muncul dari tangan Damar.
Air itu berputar mengelilingi tubuhnya seperti ular biru yang hidup.
"Aku berhasil!"
Damar terlihat sangat bersemangat.
Tak lama kemudian terdengar getaran dari bawah lantai.
GEMURUH!!
BRAK!!
PYARRR!!
Batu-batu besar muncul dari lantai dan membentuk pelindung di sekitar Mauren.
Wanita itu sendiri terkejut melihat kemampuannya.
"Ya Tuhan..."
Sementara itu, suhu ruangan perlahan menurun.
Udara menjadi dingin.
Suasana berubah mencekam.
Aura hitam pekat mulai memenuhi sudut ruangan.
Lily langsung menoleh.
Athar berdiri diam dengan mata tertutup.
Di sekeliling tubuhnya berputar kabut hitam yang pekat dan menyesakkan.
Elemen kegelapan telah bangkit.
Lily mengepalkan tangannya tanpa sadar.
Dalam hati ia hanya bisa berdoa.
"Semoga kau mampu mengendalikan kekuatan itu, Athar..."
"Dan semoga kau tidak kehilangan dirimu sendiri."