NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:777
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuan Pribadi?

Widitama menyeringai sejenak, lantas mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Amaia. “Saya nggak butuh pernikahan kontrak dan saya benci perceraian.”

Dadanya didorong oleh telapak tangan Amaia sehingga tubuh kekar itu sedikit mundur. Seringai penuh kemenangan lagi-lagi terlibat di bibirnya. Bagi Widitama, melihat Amaia tampak tak berdaya adalah kepuasan tertentu. Bagaimana bisa gadis muda itu bisa ia relakan menjadi korban Rakha dan Sasti?

"Jangan gila, Mas." Amaia menyergah. "Aku nggak mau hidup sama kamu selamanya. Gimana bisa kita menjalani hidup dalam pernikahan dengan orang yang nggak kita cinta?"

Ekspresi Widitama berubah datar. Cinta? Ah, benar. Amaia terlalu bodoh dan sudah dibutakan oleh Rakha Tedjakusuma. Padahal selama ini Widitama yang banyak mengalah untuk mereka. Widitama sendiri yang berusaha merelakan Amaia bahagia dengan Rakha. Walaupun sebenarnya dia bisa saja menjadikan gadis itu miliknya sejak lama.

Amaia memangkas jarak mereka. Hari ini ... tidak, tapi dari beberapa hari lalu sejak menghilangnya Rakha dan pembatalan rencana pernikahan, Amaia tampak berbeda. Padahal di dalam ingatan Widitama, dia hanyalah gadis kecil yang hanya bisa meringkuk ketakutan.

Namun, kali ini tidak. Amaia bahkan berkali-kali meneriakinya.

Bagi Widitama, itu tak masalah. Justru lebih menyenangkan melihatnya marah-marah seperti beberapa detik lalu.

"Kita menikah kontrak dan berpisah," ucap Amaia.

"Nggak bisa. Saya nggak punya alasan apa pun untuk menerima keinginan kamu." Kedua tangan Widitama masuk ke saku celananya kainnya. Alis kanannya terangkat saat menatap Amaia setengah remeh. "Biar saya yang atur, kamu nggak berhak membuat kesepakatan apa pun atas pernikahan itu."

"Kamu gila!" Amaia menyergah. Napasnya memburu seiring kemarahan yang terlihat di matanya. "Harusnya aku mendengarkan Kak Rakha. Kalau dari dulu, aku nggak usah menganggap kamu adalah bagian dari keluargaku atau menyikapi kamu selayaknya seorang adik kepada kakaknya."

"Bodoh." Widitama terkekeh. "Memangnya kapan saya mau dianggap keluarga dan kakak oleh kamu? Kamu sendiri yang salah paham."

"Mas ...." Suara lirih Amaia terdengar.

Bagus sekali! Itulah suara lembut Amaia. Suara yang terdengar begitu putus asa. Suara yang sangat Widitama suka. Ia memang suka melihat Amaia berani dan berteriak-teriak. Tapi melihatnya menjadi gadis patuh tak bisa mengalahkan segalanya.

"Keputusan ada di tanganmu." Widitama mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan rekaman suara yang belum sempat didengar seluruhnya oleh Amaia. "Menikah dengan saya. Tanpa kontrak. Tanpa perceraian. Setelah itu, saya akan memberitahu kamu rencana saya."

"Rencana?" Alis tipis Amaia menukik.

Sebenarnya Widitama enggan memberitahu siapa pun tentang tujuan pribadinya. Benar. Ia masuk ke perusahaan dan menjadi patuh pada ayahnya semata bukan karena cuma-cuma atau rasa patuh seorang anak pada orang tua. Namun, karena hal lain. Karena tujuan pribadi.

Amaia menggeleng. "Aku nggak ngerti."

"Kalau kamu ingin tau, saya harus jadi pengantin pria kamu." Dia duduk di tepi meja kerjanya sambil memegang erat tepian meja. Kedua matanya menatap lekat Amaia dan tersenyum tipis penuh rahasia. "Saya nggak pernah cerita pada siapa pun. Bertahun-tahun saya menyimpannya sendiri. Kalau kamu setuju, saya akan berbagi rahasia denganmu."

"Kalau aku membocorkan pada orang lain bagaimana?"

Widitama bangkit di dari tempat. Kedua kaki panjangnya bergerak cepat mendekati Amaia dan menarik pinggangnya. Gadis itu terkesiap saat tubuhnya membentur dada bidang Widitama. Ia berusaha memberontak, tapi Widitama menahan pinggangnya dengan tangan kiri dan menangkap pergelangannya dengan tangan kanan.

"Coba saja," bisik Widitama seraya menundik dan mendekatkan bibir ke telinga Amaia. "Saya pastikan kamu nggak bisa bicara."

"Lepasin aku!"

"Jawab dulu." Widitama menatap wajah Amaia dari jarak yang bahkan kurang sejengkal. "Kamu sepakat atau tidak dengan tawaran saya? Saya nggak suka perpisahan dan mempermainkan pernikahan adalah hal menjijikkan buat saya, Mai Kecil."

"Tapi bagaimana bisa ...."

"Menikah tanpa cinta?" Widitama menyela. Wajahnya kian dekat. Ia tatap bibir tipis perempuan muda itu lekat-lekat. "Itu gampang sekali. Kita hanya perlu jatuh cinta."

"Jangan bicara sembarangan! Aku nggak mungkin ...."

Kalimat Amaia tertahan saat Widitama tersenyum lagi. "Kamu terlalu lama mengulur waktu, Mai Kecil. Tawaran saya akan berakhir dalam sepuluh detik. Satu, dua, tiga ...."

"Oke!" Amaia berseru dan mendorong Widitama untuk menjauh. Pegangan Widitama refleks terlepas. "Aku akan meladeni permainan kamu."

Widitama menggeleng. "Bukan, bukan permainan. Saya nggak lagi bermain-main. Saya serius ingin kamu menjadi istri saya, Amaia."

"Kenapa aku?"

"Akan saya beritahu kalau kita sudah resmi menikah." Widitama mendekat dan menepuk puncak kepala Amaia. "Bersiaplah, kita akan mengumumkan pernikahan dalam waktu dekat."

—oOo—

Ayah Ferdian: Rakha sedang dicari oleh orang-orang Ayah. Kita harus persiapkan pernikahan kamu dan Amaia. Karena kalau tidak secepatnya, kita bisa kehilangan kesempatan dan kepercayaan mereka.

Widitama berjalan mendekati balkon unit apartemen seraya melepas kancing lengan kemeja panjangnya. Percakapan singkat via pesan yang dikirim oleh sang ayah, kini memenuhi isi pikiran. Diam-diam wajah naif Amaia ikut serta melesak masuk dalam ingatannya.

Seringai tipis terlihat di bibir Widitama. Memang sudah saatnya dia bertindak. Setelah bertahun-tahun membiarkan gadis itu terjebak dalam kebodohannya sendiri. Seharusnya Widitama pintar-pintar membuatnya keluar dari permainan keluarga Tedjakusuma.

Meski ia juga pada akhirnya mau tak mau harus terseret mengikuti rencana sang ayah. Rencana untuk memanfaatkan keluarga Amaia.

“Lihat nanti saja, Amaia.” Dia bergumam seraya membuka satu per satu kancing kemeja. Sehingga tubuh bagian atasnya tidak tertutup sehelai benang. “Saya pastikan kamu menjadi milik saya seutuhnya.”

Widitama menuangkan wiski ke rock glass yang sudah diisi es batu. Pria itu duduk menatap lurus balkon seraya menyaksikan pemandangan kota dari ketinggian lantai 40. Sesekali ia menyesap minumannya setelah memainkan dengan gerakan pelan.

Sebenarnya ia tak suka kembali ke rumah lama yang dihadiahkan oleh sang ayah ketika mereka bertemu setelah belasan tahun. Widitama lebih suka tinggal di tempat lain sehingga membeli unit sendiri. Sudah cukup ia masuk ke kantor dan berurusan dengan keluarga Tedjakusuma. Ia tak mau segala menikmati semua fasilitas yang disediakan oleh ayahnya.

Setelah tahu putra kesayangannya tak bisa diharapkan, papanya datang meminta Widitama untuk kembali. Awalnya Widitama menolak tegas. Sudah cukup apa yang selama ini dialami oleh sang ibu. Namun, Widitama tak bisa melihat mereka yang merampas kebahagiaan ibunya, hidup dengan tenang.

Ibunya pergi bersama rasa sakit dan kekecewaan. Namun, orang-orang itu hidup dengan baik dan penuh tawa. Mana bisa seperti itu? Widitama harus merampas semua kebahagiaan itu dari mereka.

"Permisi Pak Widi," kata Edgar yang baru saja menghampirinya.

"Kenapa, Edgar?"

"Barusan saya dikabari oleh Akmal. Minggu depan Pak Ferdian ingin semua orang berkumpul di rumah utama. Termasuk keluarga Bu Atika."

Widitama menoleh ke belakang, tepat pada asistennya yang berdiri tak jauh dari sana. "Oh, ya? Ada apa?"

"Mengumumkan pernikahan."

Tawa pelan Widitama terdengar, membuat Edgar sedikit mengernyit. Begitu tawanya berhenti, Widitama meneguk kembali sisa wiski di gelasnya. "Tak sabaran sekali orang tua serakah itu. Saya rasa rencana kali ini akan berjalan lancar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!