Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datangnya masa lalu.
Di depan jendela kantornya, Gavin berdiri menatap jauh dengan tatapan kosong. Ekspresinya rumit.
Hanya tinggal 6 hari lagi batas waktu tunggu perceraian mereka, tapi Gavin tidak juga menemukan keberadaan Azalia.
Sementara Alvin duduk di sofa. Tangan kanannya menggenggam bolpoin sambil menatap ke arah Gavin. "Aku sudah menduga, perempuan itu sengaja menyetujui perceraian, lalu kabur di waktu yang sudah ditentukan. Karena dia tahu, jika salah satu dari kalian tidak datang, maka perceraian akan dianggap batal. Keturunan keluarga itu memang tidak bisa diberi kepercayaan sama sekali." Ia mendengus, lalu melempar asal bolpoin di tangannya sampai menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
Gavin tidak bereaksi. Mengabaikan perkataan Alvin.
Seseorang mendorong pintu ruangan Gavin. Seorang wanita muncul perlahan dari balik sana. Kaki jenjangnya yang seksi, wajahnya yang cantik, dan bibirnya yang menawan mengulas senyum.
Gavin belum menyadari kehadirannya, tapi berbeda dengan Alvin yang sudah melihatnya lebih dulu. Wanita pujaan hati Gavin itu kini muncul tepat di depan matanya.
Wajah Alvin berbinar. Dia hampir meneriakkan nama Renata, tapi dia sengaja tidak melakukannya karena tahu kalau Gavin akan jauh lebih bahagia dengan ini. Dia tidak ingin mengacaukan kejutan kakak lelakinya.
Dengan gerakan isyarat, Alvin meminta Renata untuk memanggil nama Gavin sendiri.
Renata menggangguk, masuk lebih dekat. Dada wanita itu sedikit bergetar, bahkan hanya melihat punggung Gavin saja.
"Gavin."
Suaranya lembut, familiar, tetapi juga terasa asing setelah sekian lama. Gavin berbalik, melihat sumber suara itu.
Renata berdiri dengan senyum mengembang menatap hangat mantan kekasih yang masih sangat dicintainya, wajahnya masih sama bahkan mungkin lebih cantik dari yang Gavin ingat.
Ternyata Gavin tidak langsung mendekat, seperti yang Alvin dan Renata bayangkan. Gavin hanya menghela napas pelan, sebelum bibirnya menyebutkan nama wanita itu.
"Renata."
Harusnya mereka berbunga-bunga, Alvin berdiri, menyadari kecanggungan Gavin, ia berdehem lebih keras. "Sepertinya... Sudah waktunya aku pergi. Kalian nikmati saja waktu ini."
Alvin dengar cengar-cengir melewati Renata, menepuk bahunya."lain kali saja kita ngobrol, oke? Aku beri waktu kalian untuk melepas rindu."
Renata melangkah masuk dengan anggun, setelah Alvin menutup pintu di belakangnya. "Sudah lama, ya?" Tayanya. Suaranya terdengar ringan, seolah perpisahan mereka dulu hanyalah jeda singkat yang tak membuatnya mengutuk keluarga Sanjaya berhari-hari.
Gavin mengangguk, mencoba merangkai kata yang tepat. Tapi anehnya, ribuan kata yang ada di kepalanya, sama sekali tidak keluar sebagai rangkaian.
Harusnya, pertemuan kembali dengan seseorang yang dulu begitu dicintai akan memicu banyak emosi salah satunya adalah kerinduan, atau bahkan sedikit kepahitan. Tapi sekarang, yang Gavin rasakan hanyalah... Kekosongan.
"Aku baru saja kembali." Renata melanjutkan, melangkah lebih dekat. "Dan tentu saja, kau adalah orang yang pertama kali ingin kutemui."
Dulu, kalimat itu mungkin akan membuat Gavin tersenyum atau setidaknya merasa tersentuh. Tapi saat ini, ia hanya menatap wanita itu dengan ekspresi yang sulit dimengerti.
"Kau..sibuk?" Tanya Renata, memperhatikan wajah Gavin dengan seksama.
Gavin menggeleng pelan, lalu akhirnya mendekati wanita yang harusnya masih memiliki hatinya secara utuh."Tidak juga."
Renata tersenyum lagi, tetapi kali ini lebih lembut. "Kalau begitu, bisakah kita keluar sebentar? Aku ingin bercerita banyak hal padamu, aku ingin tahu kabarmu. Dan mungkin, mengenang sedikit tentang hubungan kita dulu."
Dulu.
Gavin seharusnya bisa merasakan sesuatu ketika mendengar kata itu. Tapi yang ada hanya perasaan ganjil yang tidak bisa ia jelaskan.
Seolah Renata membawa sesuatu dari masa lalunya yang dulu begitu ia kejar, tetapi sekarang terasa seperti sekedar bayangan samar yang tidak lagi relevan.
Gavin tidak mengiyakan, tetapi dia mempersilahkan Renata duduk di sofa yang ada di ruangannya. Gavin sendiri berjalan ke meja, menuangkan segelas air putih untuknya.
Saat ia menyerahkan gelas itu, jemari Renata sedikit menyentuh tangannya. Dulu, mungkin sentuhan itu akan membuatnya merasakan sesuatu. Getaran mungkin? Tapi kini, Gavin hanya menarik tangannya kembali dengan gerakan biasa.
"Gavin...." Renata menatapnya dengan mata yang teduh. "Sedang banyak pikiran?"
Gavin mengangkat alis. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Renata tersenyum kecil, menyesap air dari gelasnya sebelum menjawab. "Entahlah. Kau terlihat kurang fokus. Sikapmu agak berbeda."
Berbeda?
Gavin tidak yakin apa yang berubah darinya. Tapi memang, ia merasa aneh dengan pertemuan ini.
Renata yang dulu ia harapkan untuk kembali, ini ada di hadapannya. Tapi ia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan yang semestinya.
Sedangkan, jauh di dalam pikirannya, ada sesuatu yang lebih mengganggu. Sesuatu yang membuat dadanya terasa berat, meskipun ia tidak bisa mengartikulasikannya dengan jelas.
Dan itu bukan tentang Renata.
"Mungkin karena aku sedikit kelelahan, dan ini adalah pertemuan pertama kita setelah sekian lama."
Renata mengangguk samar, meneguk minumannya lagi. "Alvin banyak bercerita mengenai pernikahanmu dengan Azalia. Kalian sedang proses bercerai, dan tinggal menghitung hari."
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Alvin baru akan masuk kedalam mobil setelah usai menelpon. Namun saat dia akan menutup pintu mobilnya, dia tertegun ketika melihat Renata yang keluar dari lift.
Langkah perempuan itu cepat dan lebar, lebih seperti buru-buru. Ketenangan di wajahnya tadi juga lenyap, hanya ekspresi tegang dan kekesalan.
Alvin urung masuk mobil, ia segera menghampirinya. "Hai, ada apa? Kenapa sudah keluar?"
Bukannya menjawab pertanyaan Alvin, air mata Renata malah berjatuhan.
Alvin juga tidak banyak bertanya lagi. Dia membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya pergi dari sana menuju cafe terdekat.
"Apa yang terjadi?" Alvin bertanya lagi setelah melihat Renata cukup tenang.
"I don't know. Aku sungguh sangat merindukannya, tapi dia bahkan tidak menyentuhku sama sekali. Aku kira setelah aku buru-buru datang padanya dia akan memberiku sebuah pelukan selamat datang, tapi ternyata dia bahkan tidak tersenyum padaku."
Renata menatap Alvin. "Apa.. Gavin sudah tidak mencintaiku lagi? Bukankah kau bilang mereka dalam proses perceraian. Tapi kenapa aku justru melihat kegelisahannya?"
"Apa yang aku katakan adalah benar. Kakakku gelisah bukan mengenai apa-apa, justru perceraian mereka yang akan sah beberapa hari lagi mungkin akan gagal, dan dia sedang meresahkan itu. Azalia, wanita itu sengaja kabur sampai Gavin tidak bisa menemukannya hingga saat ini. Wanita itu sengaja pergi agar perceraian mereka batal."
"Jadi ini karena Gavin takut perceraiannya gagal?"
"Ya." Alvin mengangguk cepat. "Renata aku yakin perasaan Gavin masih sama seperti dulu. Asal kau tahu, dia menceraikan Azalia karena mendengar kau akan kembali. Azalia saja yang sangat licik, melakukan berbagai cara agar bisa mempertahankan statusnya sebagai nyonya Gavin."
"Lantas, bagaimana jika perceraian mereka benar-benar batal?" Tiba-tiba saja Renata ikut khawatir.
"Percayalah, Gavin pasti akan segera menemukannya. Aku juga tak akan tinggal diam. Keluarga Sanjaya sudah seperti benalu, sudah seharusnya disingkirkan. Hanya kau yang pantas mendampingi kakakku, karena keluarga kita sangat setara."
########
Absen yang masih nungguin kelanjutannya.....