NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Keseimbangan Yin-Yang dan Tantangan Pedang Iblis

Koridor menuju Ruang Dewan Tertinggi adalah koridor yang berbeda dari semua koridor lain di Akademi Langit Biru.

Bukan karena panjangnya—panjangnya hanya sekitar tiga puluh langkah dari persimpangan utama. Bukan karena lebarnya—lebar yang sama dengan koridor-koridor murid senior lainnya. Yang membuatnya berbeda adalah kualitas kesunyiannya. Di seluruh akademi, selalu ada suara dari suatu arah—latihan, percakapan, angin yang melewati sela-sela bangunan yang melayang. Namun di koridor ini, suara-suara itu berhenti di batas yang tidak terlihat namun sangat terasa, seperti seseorang menutup jendela yang tidak ada.

Langkah kaki Yu Fan bergema di sana dengan cara yang terasa terlalu nyata untuk ruangan yang seharusnya tidak penting.

Pintu kayu ek raksasa di ujung koridor itu diukir dengan simbol awan dan naga yang saling melilit—bukan dalam posisi pertarungan, melainkan dalam posisi yang lebih mirip dengan dua hal yang sudah sangat lama bersama-sama hingga tidak lagi bisa dibedakan mana yang mengikuti mana. Di permukaan kayunya, energi formasi mengalir sangat tipis—tidak cukup untuk terasa mengancam, namun cukup untuk memberitahu bahwa kayu ini bukan kayu biasa dan pintu ini bukan pintu biasa.

Yu Fan menarik napas satu kali yang panjang. Kemudian mendorong pintu.

Cahaya di dalam ruangan itu berasal dari lilin-lilin yang tidak berkedip meski tidak ada alasan bagi lilin untuk tidak berkedip kecuali ada formasi yang menstabilkan nyalanya. Cahayanya remang dengan cara yang bukan karena kekurangan sumber cahaya, melainkan karena kualitas cahaya itu sendiri—lebih hangat, lebih berat, lebih penuh dari cahaya biasa. Cahaya yang terasa seperti sesuatu yang sudah sangat lama ada di ruangan ini dan tidak berencana untuk pergi.

Dekan Shen Mingzhi duduk di kursi utama di balik meja panjang—bukan duduk dalam posisi formal pertemuan resmi, melainkan duduk dengan cara seseorang yang sudah sangat lama duduk di tempat yang sama sehingga kursi itu sudah menjadi bagian dari cara tubuhnya mengambil ruang. Kedua tangannya di atas meja, jari-jarinya tidak bergerak namun tidak kaku—posisi seseorang yang sedang berpikir dengan cara yang tidak membutuhkan gerakan eksternal.

Wakil Dekan Ruan Jing berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke sisi utara akademi—sisi yang memperlihatkan pegunungan di kejauhan, puncak-puncaknya tersembunyi di balik awan yang selalu ada di sana pada jam ini. Punggungnya menghadap ke pintu saat Yu Fan masuk, namun caranya berdiri—bahu yang sedikit miring, distribusi berat yang tidak sepenuhnya ke kiri atau kanan—menunjukkan seseorang yang sangat sadar akan semua yang ada di belakangnya meski tidak melihatnya.

Yu Fan merapatkan kedua tangannya dan membungkuk. "Murid Yu Fan memberi hormat kepada Dekan dan Wakil Dekan." Suaranya tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan—suara seseorang yang sudah belajar bahwa di ruangan tertentu, nada yang tepat adalah nada yang mengisi ruangan tanpa memaksanya. "Terima kasih telah memanggil saya. Apa yang ingin Senior bahas?"

Wakil Dekan Ruan berbalik dari jendelanya. Di bawah cahaya lilin yang hangat, wajahnya yang biasanya terlihat tajam dan tidak bisa didekati mengandung sesuatu yang lebih kompleks—masih tajam, masih penuh dengan analisis yang tidak pernah berhenti, namun di sudut-sudutnya ada sesuatu yang lebih hangat yang tidak selalu hadir. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya—tidak besar, tidak dramatis, namun sangat nyata untuk seseorang yang wajahnya jarang diizinkan untuk menampilkan hal-hal kecil semacam itu.

"Jarang ada murid yang bersinar semenyilaukan dirimu dalam waktu yang sesingkat ini, Yu Fan." Suaranya mengandung kualitas yang tidak ia perlihatkan di depan kerumunan—lebih pribadi, lebih langsung. "Terutama di tengah persaingan dari sekte-sekte besar yang sudah memiliki warisan ribuan tahun di punggung mereka." Jeda yang sangat singkat, diisi oleh cara matanya yang menilai bergerak dari wajah Yu Fan ke postur tubuhnya ke cara tangannya beristirahat di sisi tubuh. "Sepertinya Leluhur Jin Taixu tidak salah dalam membaca seseorang."

Yu Fan sedikit tersentak. Bukan reaksi besar—hanya pengencangan sangat tipis di sekitar matanya yang seseorang yang tidak sangat memperhatikan tidak akan menangkapnya. "Wakil Dekan... mengenal Leluhur Jin?"

Ruan Jing mengeluarkan suara yang mengandung kenangan di dalamnya—sesuatu antara tawa dan desahan yang terasa seperti membuka laci yang sudah sangat lama tidak dibuka dan menemukan bahwa barang-barang di dalamnya masih persis seperti yang ditinggalkan. "Mengenalnya?" Suaranya lebih ringan dari nada biasanya untuk sesaat. "Dia adalah guruku sebelum aku memilih untuk mengabdikan diri di sini. Selama dua puluh tahun, aku mempelajari dasar-dasar teknik dari orang yang sama yang mengajarmu dalam beberapa bulan pertamamu." Ia melangkah mendekat dari jendelanya, berdiri di samping meja Dekan. "Jejak-jejak gerakannya ada di dalam cara kau bertarung—distribusi berat kaki, cara peralihan antara serangan dan pertahanan. Aku mengenali polanya." Napas yang sangat singkat. "Namun ada sesuatu yang lain di dalam gerakanmu yang tidak berasal dari Jin Taixu. Sesuatu yang ia sendiri tidak punya."

Sebelum Yu Fan bisa merespons, Dekan Shen mengangkat tangannya sedikit—gerakan kecil yang cukup untuk mengalihkan fokus percakapan. Wajahnya berubah dari cara santai yang tadi ia pertahankan ke sesuatu yang lebih berat.

"Yu Fan," ucap Dekan. "Laporan dari Lin Xueru dan Senior Han tentang kejadian di dalam gua itu—aku membacanya tiga kali." Matanya cokelat hangat itu bertemu langsung dengan mata Yu Fan. "Tiga kali karena bagian-bagian tertentu dari laporan itu menggambarkan sesuatu yang aku tidak memiliki referensi untuk memahaminya meski aku sudah membaca lebih dari yang seharusnya bisa dibaca satu orang dalam satu masa hidup."

Yu Fan tidak menjawab. Ia menunggu—bukan dengan gelisah, melainkan dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan dalam dua tahun di akademi ini: biarkan orang lain menyelesaikan pemikirannya sebelum kau mencoba mengisi ruang dengan milikmu.

"Rambut yang memutih dalam sekejap. Mata merah dengan sklera yang berubah hitam. Aura yang memancarkan tekanan spiritual cukup untuk menghentikan detak jantung Master Tingkat 5." Dekan menyebut ini bukan sebagai daftar yang dramatis melainkan sebagai fakta yang ia inventarisasi dengan sangat hati-hati. "Tidak ada dalam catatan kultivasi mana pun yang pernah kami akses yang menggambarkan kombinasi persis seperti ini." Ia menatap Yu Fan. "Kau sendiri ingat apa yang terjadi saat itu?"

"Tidak secara rinci," ucap Yu Fan. Ini jujur. "Ada rasa marah yang sangat besar. Kemudian sesuatu mengambil alih dari dalam. Kemudian saya sadar sudah di lantai arena."

"Sesuatu mengambil alih," ulang Dekan. Bukan dengan cara yang mempertanyakan atau meragukan—lebih dengan cara seseorang yang mengkonfirmasi bahwa data yang masuk cocok dengan hipotesis yang sudah ia formulasikan. Ia berdiri dari kursinya, langkahnya tenang mengelilingi meja. "Di dalam tubuhmu, ada energi Yin dalam jumlah yang—berdasarkan pemeriksaan dari dokter akademi dan laporan Leluhur Jin yang aku terima beberapa bulan lalu—jauh melebihi kapasitas seorang Tingkat 3 biasa untuk menampung tanpa kehilangan akal sehatnya." Ia berhenti tepat di depan Yu Fan, jarak yang cukup dekat untuk berbicara dalam nada yang tidak perlu keras. "Energi Yin itu murni dalam kualitasnya, namun ada... lapisan di dalamnya. Sesuatu yang lebih tua dari teknik kultivasi apa pun yang ada di dunia fana ini. Dan energi Yang milikmu tidak seimbang untuk mengimbanginya."

Tanpa peringatan lebih lanjut—namun juga tanpa gerakan yang terasa mengancam—Dekan mengangkat tangan kanannya.

Dari ujung jari-jarinya, sebuah bola cahaya keemasan muncul. Bukan cahaya Yang biasa yang memancar dari praktisi sekte-sekte Yang—ini lebih tua dari itu, lebih terkonsentrasi, dengan warna yang sedikit lebih dalam dari emas biasa, mendekati warna bunga matahari yang sudah sangat matang. Ia melepaskannya dengan gerakan yang sangat halus, dan bola itu meluncur ke dada Yu Fan bukan seperti proyektil melainkan seperti sesuatu yang kembali ke tempat yang sudah seharusnya.

Yu Fan tidak menghindar—instingnya tidak memberikan sinyal bahaya karena tidak ada bahaya yang dibawa bola itu.

Hangatnya masuk melalui jubahnya, melalui kulitnya, melalui lapisan meridian pertama, kedua, ketiga—turun lebih dalam dari yang energi luar biasanya bisa masuk tanpa izin—dan di dalam, ia menemukan tempat-tempat tertentu di sepanjang meridian utama Yu Fan yang sudah sangat lama tidak seimbang dan mulai mengisi ketidakseimbangan itu dengan sangat pelan dan sangat hati-hati, seperti seseorang menuang air ke dalam wadah yang retak dengan kecepatan yang tidak akan membuat retak itu melebar.

"Aku telah menstabilkan jalur energi Yang di dalam tubuhmu," ucap Dekan, kembali ke kursinya dengan langkah yang sama tenangnya. "Ini bukan penyembuhan permanen—energi Yin di dalam tubuhmu terlalu banyak untuk diseimbangkan dalam satu sesi, dan jujurnya, aku tidak yakin bahwa menyeimbangkannya sepenuhnya adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Sesuatu yang besar tidak seharusnya dikecilkan agar terlihat seperti sesuatu yang biasa." Ia duduk. "Yang penting adalah jalur Yang yang sudah ada di dalam tubuhmu sekarang cukup stabil untuk memastikan bahwa saat energi Yin itu meluap—dan ia akan meluap lagi, aku cukup yakin tentang itu—kau tidak kehilangan dirimu sepenuhnya di dalamnya."

Wakil Dekan mengambil alih dari posisinya yang sekarang duduk di kursi samping. "Di dunia ini saat ini, sejarah yang lebih dari lima puluh ribu tahun yang lalu hampir tidak ada dalam bentuk yang bisa dipercaya. Catatan yang masih ada sangat fragmentaris dan sering kali saling bertentangan." Matanya yang selalu menilai itu menatap langit-langit sebentar. "Namun ada satu fakta yang tidak diperdebatkan: hanya ada satu sekte yang bertahan dari masa sebelum lima puluh ribu tahun itu hingga sekarang. Satu sekte yang sudah ada sebelum konflik besar itu dan masih ada setelahnya. Sekte Teratai Putih."

Yu Fan menjaga wajahnya tetap tidak berubah. Di dalam dadanya, denyutan kecil yang sudah sangat familiar.

"Enam sekte besar lainnya?" Wakil Dekan melanjutkan. "Semuanya berusia kurang dari sepuluh ribu tahun. Sebagian bahkan baru beberapa ratus tahun. Pertanyaan mengapa sejarah sebelum lima puluh ribu tahun begitu kosong—kenapa tidak ada sekte kuno yang bertahan selain satu itu, kenapa tidak ada catatan tentang kekuatan-kekuatan yang seharusnya ada pada masa itu—adalah pertanyaan yang sudah kami coba jawab selama bertahun-tahun." Ia menatap Yu Fan langsung. "Tanpa hasil yang memuaskan. Hingga saat ini."

Hingga saat ini itu mengandung makna yang tidak ia selesaikan dengan kata-kata.

Dekan meletakkan kedua tangannya rata di atas meja. "Enam bulan dari sekarang, akan diadakan Pertukaran Budaya dan Duel Persahabatan antar akademi. Penantang kita adalah Akademi Saint-Aurelius dari wilayah Barat."

Yu Fan mengerutkan alisnya sangat sedikit—bukan karena tidak tahu, melainkan karena nama itu memang tidak familiar. "Akademi dari wilayah Barat?"

"Mereka menggunakan sistem kultivasi yang berbeda dari kita." Dekan membuka sebuah gulungan di atas mejanya—peta yang menunjukkan wilayah-wilayah yang terletak jauh di batas barat benua ini, wilayah yang tidak ada dalam pelajaran geografi standar akademi. "Bukan Qi dalam pengertian yang kita kenal. Mereka menyebutnya Aura—energi yang dikembangkan bukan dari dalam inti spiritual melainkan dari kondisi fisik dan kehendak yang dikombinasikan dengan formasi eksternal yang mereka sebut Sihir Fisik. Teknik tempur mereka berbeda secara fundamental dari teknik sekte mana pun di benua ini."

"Rata-rata murid yang mereka kirim adalah Master Tingkat 4," lanjut Wakil Dekan. "Dan pemimpin delegasi mereka—seorang yang bergelar Ksatria Perak Pertama dalam hierarki akademi mereka—mengendarai Sleipnir, kuda bersayap perak tingkat empat yang bukan sekadar tunggangan melainkan mitra tempur."

"Kami menunjukmu sebagai perwakilan utama akademi dalam pertukaran ini," ucap Dekan. Bukan dengan nada meminta—dengan nada yang sudah memutuskan namun masih memberikan ruang untuk didengar. "Bukan karena kau yang paling tinggi tingkatan kultivasinya di antara murid yang tersedia. Melainkan karena cara kau bertarung—adaptif, tidak bergantung pada satu aliran teknik, dan mampu membaca lawan yang tidak familiar—adalah kualitas yang paling relevan untuk menghadapi sistem yang benar-benar berbeda dari apa pun yang kita miliki."

Yu Fan mendengarkan dengan diam yang bukan kosong.

"Aku ingin kau mencapai Master Tingkat 4 dalam enam bulan." Dekan menatapnya. "Bukan karena tingkat itu sendiri yang penting—kita sudah sama-sama tahu bahwa angka tingkat kultivasi tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan tempur nyatamu. Namun karena mencapai Tingkat 4 akan membuka jalur-jalur meridian tertentu di dalam tubuhmu yang akan memberimu lebih banyak kontrol atas energi yang sudah ada di dalam sana. Semakin besar kontrol, semakin kecil kemungkinan sesuatu mengambil alih darimu tanpa kau izinkan."

Yu Fan membungkuk dalam-dalam—lebih dalam dari penghormatan standar murid ke guru. "Murid tidak akan mengecewakan akademi."

"Satu hal terakhir," ucap Wakil Dekan, dan suaranya turun setengah nada. "Pertemuan ini tidak perlu disebutkan kepada siapa pun—termasuk orang-orang yang kau percaya. Bukan karena ada sesuatu yang perlu disembunyikan dari mereka, melainkan karena ada pihak-pihak tertentu yang sangat tertarik pada perkembanganmu, dan kami lebih suka mereka tidak tahu persis apa yang sedang kami persiapkan." Matanya yang selalu menilai beristirahat di wajah Yu Fan satu detik. "Mengerti?"

"Mengerti."

Matahari pagi di Akademi Langit Biru memiliki kualitas tertentu pada jam-jam pertamanya—sebelum aktivitas akademi mulai mengisi udara dengan energi praktisi yang berlatih, sebelum suara gong sesi pertama, udara di lapangan belakang terasa lebih bersih dari biasanya, seperti air sungai di hulu sebelum mencapai kota.

Yu Fan menikmati kualitas itu setiap pagi sejak dua tahun lalu.

Ia berdiri di posisi meditasi berdiri yang sudah sangat terlatih—kaki terbuka selebar bahu, lutut sedikit ditekuk, tulang punggung lurus namun bahu tidak tegang, tangan terlipat di depan dantian. Napasnya masuk dan keluar dalam ritme yang sudah sangat otomatis hingga tidak membutuhkan perhatian sadar. Di dalam tubuhnya, energi Yin berputar di jalur-jalur meridian yang sudah diperhalus oleh dua tahun latihan intensif—lebih terkontrol dari dua tahun lalu, namun di lapisan paling dalamnya masih mengandung kedalaman yang tidak sepenuhnya terpetakan.

Sejak pertemuan dengan Dekan kemarin, ada kehangatan yang baru di jalur meridian Yang-nya—tipis namun konsisten, seperti benang yang ditenun di antara jalur-jalur yang sudah ada, menciptakan struktur yang sedikit lebih seimbang dari sebelumnya.

Tekanan udara dari kanan.

Instingnya memproses ini sebelum sadarannya sempat merumuskannya sebagai kalimat. Sesuatu yang bergerak cepat, dari ketinggian dua meter, dengan rotasi yang menunjukkan bahwa ini bukan serangan acak melainkan serangan terlatih yang dikirimkan dengan presisi.

TANG!

Dua jarinya—telunjuk dan jari tengah tangan kanannya—beradu dengan ujung belati latihan yang mengarah ke titik tepat di bawah telinganya. Bukan tangkisan—ia menjepit bilah belati itu di antara dua jarinya dengan tekanan yang cukup untuk menghentikan momentum seluruh serangan itu tanpa melukai tangannya, karena energi Yin yang sangat tipis di ujung kedua jarinya mematikan vibrasi bilah pada saat kontak.

Dua jari yang menjepit belati. Tangan yang tidak bergerak dari posisi meditasinya.

Yu Fan membuka matanya.

Mo Han berdiri tiga langkah darinya—tangan yang melempar belati itu masih terangkat di posisi lemparan, wajahnya menunjukkan bahwa hasil ini bukan yang ia harapkan namun bukan juga yang ia tidak antisipasi. Jubah ungu gelapnya sudah diganti dari jubah tidur menjadi pakaian latihan—bahan yang lebih berat, lebih tebal di bahu dan siku karena murid Sekte Pedang Iblis selalu memperkuat titik-titik kontak benturan dalam pakaian latihan mereka. Rambutnya yang hitam diikat ke belakang dengan tali merah—warna tali yang khusus untuk murid yang sudah lulus tahap inisiasi sekte, bukan tali sembarangan.

Dari dekat, Mo Han adalah sosok yang lebih kompleks dari apa yang terlihat di permukaan keangkuhannya. Tingginya beberapa sentimeter di atas Yu Fan, dengan bahu yang lebar namun tidak berlebihan—proporsi seseorang yang dibangun untuk kecepatan dan kekuatan sekaligus, bukan salah satu di antara keduanya. Di pipinya, tato berbentuk mata yang terlihat saat ia berduel di stadium ujian masih ada, berpendar sangat tipis dalam warna merah gelap yang hampir tidak terlihat di bawah cahaya pagi. Wajahnya selalu mengandung keangkuhan yang sudah menjadi bagian dari ekspresi defaultnya—bukan keangkuhan yang berasal dari tidak tahu lebih baik, melainkan keangkuhan seseorang yang sudah sangat lama dikonfirmasi oleh lingkungannya bahwa ia memang sangat baik dan belum bertemu banyak alasan untuk berpikir sebaliknya.

Hingga dua tahun terakhir ini.

"Dua jarimu," ucap Mo Han. Suaranya tidak kesal—mengandung sesuatu yang lebih mirip dengan keinginan untuk mengerti yang terlihat aneh di wajahnya yang biasanya tidak menampilkan keinginan untuk mengerti apa pun. "Belati latihan standar akademi memiliki momentum yang setara dengan pukulan Tingkat 3 Akhir pada kecepatan yang aku lepaskan tadi. Dua jarimu menghentikannya tanpa bergeser satu senti pun dari posisi meditasimu." Ia menatap belati yang masih terjepit di antara dua jari Yu Fan. "Teknik apa itu?"

Yu Fan melepaskan belati—ia jatuh ke tanah rumput di antara mereka. "Tidak ada nama teknisnya. Konsentrasi Qi di titik kontak pada waktu yang tepat."

"Konsentrasi Qi di titik kontak pada waktu yang tepat," ulang Mo Han dengan nada yang mengandung ketidakpuasan seorang murid sekte yang sudah sangat terbiasa dengan nama-nama teknik yang spesifik dan hierarkis. "Setiap teknik punya nama, Yu Fan. Nama adalah—"

"Nama adalah cara sekte mengklaim sesuatu yang sudah ada sebagai milik mereka." Yu Fan mengangkat bahu sangat sedikit. "Tapi kalau kau ingin nama, kau bisa membuatnya sendiri."

Mo Han menatapnya selama tiga detik dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya memutuskan apakah ia tersinggung atau terhibur. Kemudian ia mencabut pedang raksasanya dari punggungnya dalam satu gerakan tunggal yang sangat terlatih.

Pedang itu—Remukan Jiwa, nama resminya di katalog senjata Sekte Pedang Iblis—memiliki bilah yang hampir setengah kali lebarnya dari panjangnya, permukaan gelapnya tidak memantulkan cahaya pagi sama sekali melainkan menyerapnya. Dari sela-sela permukaan bilah itu, energi ungu sangat gelap mengalir dalam pola yang mengikuti ukiran-ukiran yang tidak terlihat dari jauh namun sangat terasa dari dekat—ukiran yang bukan dekoratif melainkan fungsional, formasi yang ditanamkan ke dalam logam selama proses penempaan untuk meningkatkan konduktivitas energi.

"Sampai kapan kau terus berlatih sendirian?" ucapnya, dan nada suaranya sudah berubah dari tadi—sudah tidak ada ekspresi yang mencoba mencari jawaban atas teknik tadi, sudah kembali ke nada yang lebih familiar, lebih langsung, lebih seperti Mo Han yang dikenal oleh semua orang di akademi ini. "Orang-orang sudah mulai menyebutmu pahlawan setelah misi kemarin. Murid-murid baru membicarakanmu di kantin. Senior yang tidak pernah memperhatikanmu sekarang menoleh saat kau lewat." Ia meletakkan ujung pedangnya ke tanah, bersandar padanya dengan satu tangan—gerakan yang terlihat santai namun selalu bisa berubah dalam setengah detik. "Aku ingin tahu sendiri apakah semua cerita itu benar."

Kerumunan terbentuk dalam waktu yang luar biasa cepat.

Ini adalah fenomena universal di akademi mana pun di dunia mana pun—naluri untuk menyaksikan konflik antara dua orang yang jelas-jelas sangat baik dalam sesuatu yang sama jauh lebih kuat dari naluri untuk berpura-pura tidak melihat. Murid-murid yang tadi berlatih di sudut-sudut lapangan mulai bergerak ke tepi. Beberapa yang lewat di koridor yang menghadap ke lapangan berhenti. Dalam waktu kurang dari dua menit, ada lebih dari tiga puluh orang yang berdiri di keliling yang tidak formal namun sangat jelas batas-batasnya.

Di barisan paling depan, Jin Yuexin berdiri dengan kedua tangan di pinggangnya dan wajah yang sudah merah padam bahkan sebelum duel dimulai. "Mo Han! Dasar kau pria arogan! Yu Fan baru saja sembuh dari luka dalam, jangan cari gara-gara!" Suaranya mengisi seluruh lapangan dengan cara yang jauh melampaui volume yang seharusnya diperlukan. "Kalau sampai kau melukainya, aku yang akan melukai perasaanmu!"

Mo Han meliriknya dengan ekspresi yang seseorang lebih berpengalaman mungkin akan kategorikan sebagai lebih bijaksana untuk tidak merespons, namun Mo Han adalah orang yang belum pernah memilih kebijaksanaan saat ada pilihan yang lebih menarik. "Sang Putri Kerajaan Tianwu sangat peduli pada murid perwakilan kerajaannya." Nada suaranya tidak mengejek secara kasar—lebih seperti seseorang yang mencatat sebuah fakta yang ia temukan menarik. "Aku hanya ingin duel. Bukan percakapan."

Yuexin membuka mulutnya untuk respons yang sudah jelas akan panjang.

"Yuexin."

Dua suku kata dari Yu Fan, dalam nada yang sangat pelan namun mengandung kualitas yang sudah Yuexin kenal dalam dua tahun ini—nada yang artinya biarkan aku menangani ini. Yuexin menutup mulutnya dengan ekspresi yang mengandung begitu banyak pendapat yang ditahan hingga ekspresi itu terlihat seperti seseorang yang mencoba menelan sesuatu yang terlalu besar.

Di atas dahan pohon besar di sisi lapangan, Lin Xueru berdiri dengan cara yang sangat alami untuk seseorang yang berdiri di atas dahan pohon—satu kaki sedikit di depan yang lain, tangan kanannya memegang dahan di atasnya tanpa berat, jubah putihnya jatuh dengan gravitasi yang sangat tepat. Dari ketinggian itu, pandangannya ke lapangan sangat jelas. Ia tidak bersuara. Matanya biru pucatnya memindai dengan cara yang sangat mirip dengan cara mata seorang analis memindai sesuatu yang menarik minat profesionalnya.

Di pilar di sisi lapangan yang berlawanan, Mei Er berdiri dengan satu bahu bersandar pada batu pilar dan satu tangan memainkan ujung rambutnya—cara berdiri yang terlihat sangat santai namun di dalam ketenangan itu terdapat perhatian yang sangat penuh. "Ah, dua pria yang sangat berbeda sedang akan beradu," ucapnya pada tidak ada yang khusus, suaranya cukup pelan untuk terdengar seperti berbicara kepada diri sendiri namun cukup keras untuk didengar oleh siapa pun yang ingin mendengarnya. "Minyak dan air. Bayangan dan sinar bulan. Pertarungan antara dua hal yang secara fundamental tidak sama selalu jauh lebih menarik dari pertarungan antara dua hal yang serupa."

Yu Fan menatap Mo Han. "Jika itu yang kau mau."

"Bagus." Mo Han mengangkat pedangnya dari tanah. Energi ungu pekat yang mengalir dari bilahnya mulai mengintensifikasikan diri—tidak lagi sekadar mengalir, melainkan berputar sangat pelan di permukaan bilah dalam pola yang menunjukkan bahwa ini bukan sekadar Qi biasa melainkan energi yang sudah sangat lama dilatih untuk beresonansi dengan senjata tertentu ini. "Aku tidak akan menahan diri."

Dari belakang tubuh Mo Han, sesuatu mulai mengembun di udara—tidak terlihat secara kasat mata namun sangat terasa bagi siapa pun yang peka terhadap energi. Bayangan samar berbentuk sosok raksasa, tidak sepenuhnya berbentuk manusia namun tidak juga sepenuhnya sesuatu yang lain, dengan ekspresi yang tidak bisa diidentifikasi karena wajahnya tidak cukup padat untuk memiliki ekspresi. Manifestasi Iblis—tahap awal dari teknik tertinggi Sekte Pedang Iblis yang memproyeksikan energi negatif yang dikultivasi ke dalam bentuk eksternal yang memperkuat setiap serangan penggunanya.

"Teknik Sekte Pedang Iblis : Sembilan Gerhana Ungu!"

Mo Han melesat.

Kecepatannya bukan kecepatan biasa Tingkat 3—ada sesuatu yang ditambahkan oleh manifestasi iblis di belakangnya, seperti dorongan dari sesuatu yang jauh lebih besar dari tubuh Mo Han sendiri mendorong setiap langkahnya. Pedangnya meninggalkan jejak ungu di udara yang tidak menghilang segera melainkan bertahan selama satu atau dua detik—jejak energi yang, jika disentuh, masih mengandung sebagian dari kekuatan serangan aslinya.

Serangan pertama datang dari kanan atas—diagonal ke bawah, dengan bobot seluruh momentum gerakannya di belakangnya.

Yu Fan bergeser ke kiri—Langkah Bayangan Ilahi yang sudah dua tahun ia kembangkan, membiarkan serangan itu lewat setengah inci di sisi kanannya. Jejak energi ungu yang ditinggalkan pedang itu membakar udara di tempat yang baru saja ia tempati.

Mo Han tidak berhenti. Serangan kedua dari bawah ke atas—manuver yang memanfaatkan momentum rotasi dari serangan pertama yang tidak mengenai target untuk mengubah arahnya ke atas. Teknik yang membutuhkan kendali pergelangan tangan yang sangat presisi untuk mengeksekusi tanpa kehilangan kecepatan.

Yu Fan melompat ke belakang satu langkah, membiarkan pedang itu melewati udara di bawah dagunya.

Serangan ketiga—Tebasan Langit Ungu, teknik ketiga dari rangkaian Sembilan Gerhana—melibatkan Mo Han melompat tinggi dan menghantamkan pedangnya ke tanah dari ketinggian maksimum, seluruh berat tubuh dan momentum gravitasi ditambahkan ke dalam serangan. Saat pedang itu menghantam tanah di antara mereka, ledakan energi ungu menjalar ke segala arah dari titik hantam dalam pola seperti akar pohon yang tiba-tiba tumbuh ke luar—setiap cabang energi itu mengandung cukup kekuatan untuk melontarkan seseorang yang tidak punya pertahanan.

Yu Fan tidak berlari dari ledakan itu. Ia melangkah ke dalam titik buta di antara dua cabang energi yang paling dekat—celah sempit yang hanya ada selama kurang dari setengah detik sebelum energi itu menyebar lebih jauh. Di titik buta itu, di dalam jantung ledakan, justru tekanannya paling rendah.

Dari posisi yang sudah di dalam jantung ledakan itu, ia mengangkat pedang hitam-peraknya.

"Teknik Pedang Yin : Embun Beku Sepuluh Ribu Li."

Bukan serangan dengan tenaga besar. Bukan ledakan atau gelombang energi yang dramatis. Dari bilah pedangnya, energi Yin mengalir ke luar dalam bentuk embun—ribuan partikel energi yang sangat kecil, masing-masing hampir tidak terasa, namun dalam jumlah yang sangat besar dan tersebar ke segala arah dalam radius tiga meter dari titik di mana Yu Fan berdiri.

Partikel-partikel embun itu menyentuh energi ungu yang masih mengalir dari ledakan tadi.

Dan energi ungu itu membeku.

Bukan secara fisik—tidak ada es yang terbentuk. Namun energi itu, yang seharusnya terus mengalir dan menyebar, tiba-tiba kehilangan dinamikanya dan menjadi statis—tergantung di udara dalam bentuk yang sudah ada, tidak lagi bergerak. Di bawah cahaya pagi, ini menciptakan pemandangan yang tidak biasa: cabang-cabang energi ungu yang seharusnya bergerak kini menggantung diam seperti pahatan di udara, seperti seseorang membekukan waktu di dalam radius tertentu.

Mo Han mendarat dari lompatannya dan menatap sekelilingnya—sekelilingnya dipenuhi oleh pahatan energi ungu miliknya sendiri yang sudah tidak bergerak. "Apa—"

Yu Fan bergerak melalui pahatan-pahatan itu seperti berjalan melalui taman—dengan tenang, tanpa buru-buru. Embun beku di sekelilingnya memproteksi tubuhnya dari energi yang sudah dibekukan, dan karena energi itu sudah statis, tidak ada yang bisa menyerangnya dari sudut-sudut yang tadi sangat berbahaya.

Mo Han bereaksi cepat—sangat cepat, lebih cepat dari yang Yu Fan antisipasi. Ia tidak mencoba menarik kembali energi yang sudah dibekukan, ia melepaskan energi baru langsung dari sumber di dalam tubuhnya, melewati semua yang ada di luar. Kedua tangannya membentuk formasi, dan dari telapaknya mengalir langsung energi ungu dalam jalur yang jauh lebih terkonsentrasi dan jauh lebih panas dari sebelumnya—panasnya melelehkan pahatan-pahatan beku Yu Fan dalam radius yang melebar dari posisi Mo Han.

Teknik Pedang Iblis : Rantai Ungu Penghancur Meridian.

Bukan dari pedangnya kali ini—dari tubuhnya sendiri. Rantai-rantai energi ungu yang tipis namun sangat berkonsentrasi meluncur dari telapak tangan Mo Han ke berbagai arah, bergerak bukan dalam garis lurus melainkan dalam kurva yang menyesuaikan diri—menarget meridian-meridian yang ada di dalam tubuh Yu Fan, bukan menarget permukaan tubuhnya.

Ini adalah teknik yang berbeda secara fundamental dari semua yang Mo Han gunakan sebelumnya—teknik yang memerlukan pembacaan meridian lawan secara real-time dan penyesuaian jalur serangan berdasarkan pembacaan itu. Teknik yang jauh lebih canggih dari yang ia tampilkan di duel-duel sebelumnya.

Yu Fan mempercepat langkahnya.

Bukan mundur—maju. Semakin dekat dengan sumber rantai-rantai itu, semakin sempit sudut yang bisa dibentuk oleh rantai-rantai tersebut, semakin terbatas ruang gerak yang bisa ditargetkan. Rantai-rantai itu harus membelok tajam untuk mengikutinya, dan di setiap pembelokan tajam itu ada fraksi kehilangan kecepatan.

Fraksi-fraksi kecil yang, saat cukup banyak dikumpulkan, menjadi celah.

Satu rantai menggores lengan kirinya—bukan karena ia tidak menghindar, melainkan karena ia memilih untuk membiarkan yang satu ini mengenai karena menghindarinya akan memposisikannya lebih jauh dari titik yang ia tuju. Energi rantai itu menusuk masuk ke dalam meridian lengan kirinya, mencoba menutup aliran Qi. Yu Fan merasakan sensasi itu—seperti es yang ditusukkan ke dalam urat—dan mengalirkan Qi Yang yang Dekan tanamkan kemarin melalui jalur alternatif, mempertahankan fungsi esensial meski satu jalur sementara terganggu.

Ia sampai dalam jarak satu langkah dari Mo Han.

Dari posisi ini, Teknik Pemutus Aliran—bukan serangan besar, bukan ledakan energi. Hanya tiga titik yang ia tuju dengan tiga jari yang berbeda pada tiga titik meridian yang berbeda di tubuh Mo Han, dalam urutan yang sangat spesifik: titik pertemuan meridian bahu kanan, titik distribusi energi di bawah tulang rusuk kiri, dan titik inti di solar plexus. Tiga sentuhan yang dilakukan dalam waktu kurang dari dua detik, masing-masing mengalirkan sangat tepat cukup energi Yin untuk membuat titik itu sementara tidak bisa mengalirkan Qi—tidak merusak, tidak menyakitkan secara permanen, hanya memutus sirkuit.

Tiga sentuhan. Dua detik.

Energi ungu Mo Han—yang sumbernya dari inti di dalam tubuhnya dan mengalir melalui meridian-meridian yang kini terganggu di tiga titik kritis—kehilangan pasokannya. Rantai-rantai yang masih ada di udara kehilangan sumber dan mulai mengurai. Manifestasi iblis di belakang Mo Han mengecil.

Mo Han membuka matanya lebar. Bukan karena terkejut—karena ia merasakan dengan sangat jelas apa yang baru saja terjadi di dalam tubuhnya, dan cara ia merasakannya menunjukkan seseorang yang memahami dengan baik bagaimana sistem kultivasi bekerja dan juga memahami dengan sangat baik bahwa apa yang baru saja dilakukan terhadapnya sangat elegan secara teknis.

Ia mundur dua langkah. Lututnya menyentuh tanah—bukan karena tidak mampu berdiri, melainkan karena kontrol distribusi berat tubuhnya sementara terganggu dari tiga titik meridian yang diblokir.

Pedangnya terlepas.

Yu Fan berdiri di depannya. Tangan kirinya yang tergores oleh rantai energi tadi—di bawah jubahnya, luka itu ada namun tidak dalam—diulurkan ke bawah ke arah Mo Han.

Lapangan benar-benar sunyi selama dua atau tiga detik penuh.

Kemudian Mo Han mengeluarkan suara yang ia sendiri mungkin tidak sepenuhnya merencanakan untuk dikeluarkan—tawa kecil yang pendek, tulus, mengandung kualitas yang sangat jarang ada di dalamnya. "Kau benar-benar monster, Yu Fan." Ia menatap tangan yang diulurkan itu. "Tiga sentuhan. Kau memblokir tiga titik meridian dengan tiga sentuhan dalam dua detik, dan kau membiarkan rantaiku mengenai lenganmu karena menghindarinya akan memposisikanmu terlalu jauh." Ia mengambil tangan itu dan membiarkan Yu Fan membantunya berdiri. "Itu bukan teknik sekte mana pun yang aku pernah pelajari."

"Tidak ada," jawab Yu Fan.

"Kau mengarangnya sendiri?"

"Tubuhku yang mengarangnya. Bukan aku."

Mo Han mengerutkan alisnya—ekspresi yang jauh lebih manusiawi dari keangkuhan yang biasanya ada di sana. "Kau berbicara seperti tubuhmu adalah sesuatu yang terpisah dari dirimu."

Yu Fan tidak menjawab.

Sorak-sorai akhirnya pecah dari kerumunan—suara yang sudah ditahan selama beberapa menit terakhir karena semua orang yang menonton terlalu terfokus untuk menghasilkan suara. Mo Han tidak melepaskan tangan Yu Fan segera—ia menggenggamnya satu atau dua detik lebih lama dari yang diperlukan untuk sekadar membantu berdiri. "Aku mengakui kekalahanku hari ini." Suaranya tidak mengandung rasa rendah diri—mengandung sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu, sesuatu yang seseorang dengan ego sebesar Mo Han sangat jarang berikan: pengakuan yang tulus. "Tapi jangan pikir aku akan berhenti mengejarmu."

"Aku tidak mengharapkan sebaliknya."

Mo Han hampir tersenyum. Hampir. "Duel berikutnya, aku akan sudah mencari cara untuk menghadapi Teknik Pemutus Aliranmu. Bersiaplah."

"Aku akan menunggu."

Mo Han baru saja melangkah dua langkah ke arah pinggir lapangan ketika gelombang tekanan berbeda datang dari belakang—bukan energi tempur, melainkan energi yang sangat familiar dan sangat tidak mengancam namun dalam intensitas yang biasanya membawa konsekuensi yang lebih langsung dari banyak serangan tempur.

"YU FAAAANNN!!!"

Suara Yuexin mengisi seluruh lapangan dengan cara yang membuat Mo Han—yang sudah hampir keluar dari radius kejadian—mempercepat langkahnya dengan ekspresi seseorang yang sangat mengerti bahwa ini bukan momen yang ingin ia saksikan.

PLAK.

Sentuhan di bagian belakang di bawah pinggang Yu Fan—bukan dengan cukup kekuatan untuk menyakiti, namun dengan cukup presisi untuk menyampaikan pesan yang sangat jelas tentang tingkat kekesalan yang sedang dialami. Yu Fan bergerak maju satu langkah karena tidak mengantisipasi arahnya.

"Baru saja sembuh sudah bertarung lagi!" Yuexin berdiri di belakangnya dengan wajah merah padam—merah yang sebagian dari cahaya pagi dan sebagian dari emosi yang tidak sepenuhnya bisa ia kategorikan sebagai satu hal saja. "Apa kau ingin membuatku hampir jantungan untuk ketiga kalinya dalam satu bulan?!"

"Aduh." Yu Fan memegang bagian yang dipukul. Meridiannya yang baru sembuh mengirim sinyal sangat lemah tentang hal ini, cukup untuk membuatnya tidak berpura-pura tidak merasakan apa-apa. "Meridianku—"

"Meridianmu baik-baik saja dan kau tahu itu!" Yuexin mengerahkan tangannya ke telinganya dengan gerakan yang biasanya dikenal sebagai jewer. "Masuk ke dalam! Kau harus makan sup yang sudah kubuat sejak subuh karena aku tahu kau akan melakukan sesuatu bodoh hari ini!"

Di atas dahannya, Lin Xueru mengangkat satu tangan ke depan mulutnya—gerakan yang, di wajah seseorang lain, akan jelas terlihat sebagai cara menyembunyikan senyum. Di wajah Xueru, ia hanya terlihat seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan sesuatu, namun sudut matanya tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan variasi kecil dari ekspresi yang biasanya.

Mei Er tidak menyembunyikan apa pun. "Seorang putri yang memasak sup sejak subuh." Suaranya mengandung terlalu banyak pengertian untuk seseorang yang hanya menonton. "Dunia ini sungguh penuh dengan hal-hal yang menarik."

Yu Fan tidak melawan. Ia membiarkan Yuexin menyeretnya dengan genggaman di lengan bajunya menuju pintu masuk gedung asrama, dan satu-satunya resistensi yang ia tunjukkan adalah berjalan dengan kecepatan yang sedikit lebih lambat dari yang diperlukan—bukan cukup lambat untuk menjadi konfrontasi, namun cukup untuk mengkomunikasikan bahwa ia memilih untuk mengikuti bukan karena tidak punya pilihan.

Malam itu, Yu Fan kembali ke perpustakaan.

Buku tentang Aura Merah yang ia temukan di rak ketujuh baris keempat—sampul kulitnya sudah terkelupas di sudut-sudutnya dengan cara yang menunjukkan usia yang jauh melebihi buku-buku lain di sekitarnya. Judulnya tidak tertulis di sampul melainkan di halaman pertama dalam tulisan tangan yang sangat kecil dan sangat rapi: Catatan tentang Manifestasi Energi Non-Standar di Rentang Historis Pra-Lima Puluh Milenium.

Yu Fan membukanya dengan hati-hati—kertas di dalamnya sudah sangat tipis dari usia dan tidak akan tahan penanganan yang kasar.

Halaman-halaman pertama berisi catatan-catatan tentang berbagai jenis energi yang tidak masuk dalam kategori Yin atau Yang standar—energi api purba yang berbeda dari energi api kultivasi biasa, energi petir yang berasal dari inti bumi bukan dari langit, energi kegelapan yang berbeda dari energi Yin gelap. Semua dicatat dengan sangat teliti dan sangat ilmiah, tanpa penilaian moral tentang apakah energi-energi itu baik atau buruk.

Kemudian, di halaman tiga puluh tujuh, sebuah judul: Tentang Aura Merah yang Disebut dalam Catatan Kuno.

Yu Fan membaca dengan sangat perlahan.

Penulis mencatat bahwa aura berwarna merah tua yang mengubah rambut menjadi perak dan mata menjadi merah-hitam hanya muncul dalam dua atau tiga referensi yang sangat tua, semuanya dari era sebelum catatan sejarah yang dianggap resmi dimulai. Penulis tidak bisa mengkonfirmasi apakah referensi-referensi itu faktual atau alegoris. Yang bisa dikonfirmasi adalah bahwa semua referensi ini menyebut aura tersebut dengan istilah yang sama: Wrath of the Broken Heaven—dalam bahasa kuno yang tidak lagi digunakan, artinya kurang lebih Murka Langit yang Telah Retak.

Yu Fan meneruskan membaca.

Halaman berikutnya robek.

Bukan robek karena usia—ini robek dengan sengaja, dipotong dari pangkalnya dengan cara yang sangat rapi, tidak meninggalkan serat kertas yang tidak rata di tepi robekan. Seseorang mengambil halaman ini dengan sangat hati-hati. Bukan merusak—mengambil. Memastikan tidak ada sisa yang bisa dibaca.

Halaman setelahnya ada, namun topiknya sudah berubah sepenuhnya—ke catatan tentang energi air purba yang tidak ada hubungannya dengan apa pun yang ada sebelumnya. Seperti seseorang memotong satu bab dari sebuah buku dan menjahit dua bagian yang tersisa tanpa tanda jahitan yang terlihat.

"Masih mencari jawaban atas dirimu sendiri."

Bukan pertanyaan—pernyataan yang diucapkan dengan cara yang tidak menghakimi.

Lin Xueru berdiri di ujung lorong rak yang sama, tumpukan buku tebal di pelukannya—terlihat seperti seseorang yang datang untuk penelitian personal yang serius. Rambutnya dikuncir ke samping malam ini, cara yang berbeda dari biasanya dan lebih santai dari penampilan siangnya. Cahaya lampion hangat perpustakaan membuat jubah putihnya terlihat lebih krem dari putih—lebih seperti warna gading, lebih seperti sesuatu yang bisa dipegang.

"Seseorang mengambil halamannya," ucap Yu Fan, menunjukkan robekan itu.

Xueru mendekat, melihat robekan itu dari jarak yang cukup dekat untuk mengamati dengan jelas. Sesuatu di wajahnya bergerak sangat kecil—bukan terkejut, lebih seperti konfirmasi atas sesuatu yang sudah ia antisipasi mungkin ada namun belum yakin. "Potongannya terlalu rapi untuk disengaja menyebabkan kerusakan. Ini penghapusan terencana."

"Kau tidak terkejut," ucap Yu Fan.

Xueru menatapnya. Di dalam matanya yang biru pucat, di bawah cahaya lampion yang hangat, ada sesuatu yang sedang mempertimbangkan—seberapa banyak yang diucapkan, dalam kata-kata yang mana, pada momen yang mana. "Perpustakaan Sekte kami juga memiliki beberapa buku dengan halaman-halaman yang hilang. Selalu di bagian tertentu. Selalu tentang topik tertentu." Ia meletakkan buku-bukunya di meja terdekat. "Sejarah yang hilang tidak hilang karena waktu. Sejarah yang hilang hilang karena seseorang sangat tidak ingin hal itu diingat."

Mereka duduk di meja yang sama—meja yang sudah menjadi semacam titik tak resmi di perpustakaan ini untuk percakapan-percakapan yang lebih serius dari percakapan yang biasanya terjadi di tempat umum. Lampion kecil yang selalu ada di sana memancarkan cahayanya yang sudah familiar.

"Asal-usul Sekte Teratai Putih," ucap Yu Fan. "Kau pernah menyebut catatan tangan tua yang menyebut konflik besar sebelum Dewi naik ke ranah langit. Catatan yang menyebut bahwa ia tidak mati, ia hanya tertidur." Ia menatap Xueru langsung. "Apakah ada yang lain? Selain catatan itu?"

Xueru diam selama beberapa detik yang terasa lebih panjang dari beberapa detik karena keheningan perpustakaan malam ini mengisi setiap sepersekian detik dengan sangat penuh. "Sekte kami mengajarkan bahwa Dewi Kebajikan adalah simbol kemurnian dan keseimbangan—bahwa semua tindakannya adalah untuk menjaga tatanan alam semesta." Ia tidak menjawab pertanyaan Yu Fan secara langsung, melainkan dari sisi yang berbeda—cara seseorang yang ingin mengatakan sesuatu namun perlu membangun jalan menuju ke sana terlebih dahulu. "Kami diajarkan bahwa konflik lima puluh ribu tahun lalu adalah pembersihan ancaman—kekuatan yang tidak stabil yang mengancam keseimbangan."

"Versi resmi," ucap Yu Fan.

"Versi resmi." Ia menatap tangannya di atas meja—jari-jari yang panjang dan sangat terawat, tangan seseorang yang menggunakan tangan untuk sesuatu yang membutuhkan presisi dan kepekaan sekaligus. "Dalam perjalanan aku mempelajari sejarah sekte yang lebih tua, ada sesuatu yang tidak konsisten. Dalam catatan tentang ancaman itu—yang disebutkan sangat sedikit namun selalu dengan cara yang sangat berhati-hati—tidak ada satu pun yang menggambarkan apa yang dilakukan ancaman itu yang berbahaya. Yang ada hanya deskripsi tentang kekuatannya. Tentang betapa besarnya. Tentang betapa tidak terkontrolnya." Ia mengangkat matanya dari tangannya. "Seseorang yang berbahaya biasanya berbahaya karena apa yang dilakukannya. Bukan karena seberapa besar kekuatannya."

Ruang perpustakaan di sekitar mereka sunyi dengan cara yang berbeda dari biasanya—sunyi yang terasa seperti mendengarkan.

"Sekte kami," lanjut Xueru lebih pelan, "adalah satu-satunya sekte yang bertahan dari masa sebelum lima puluh ribu tahun itu. Dan aku sudah lama bertanya-tanya mengapa hanya kami. Bukan karena kami yang paling kuat—aku tidak cukup naif untuk berpikir itu." Napas yang sangat singkat. "Melainkan karena kami yang berada di sisi yang menang dari konflik itu. Dan pihak yang menang selalu menulis sejarahnya sendiri."

Yu Fan menatap wajahnya. Di bawah cahaya lampion, di antara rak-rak buku yang menyimpan semua yang masih ada dari pengetahuan dunia ini, wajah Lin Xueru malam ini mengandung sesuatu yang tidak ada di wajahnya siang hari atau di lapangan pertarungan—sesuatu yang lebih muda, lebih tidak pasti, lebih manusiawi dari representasi murid Sekte Teratai Putih yang selalu ia tampilkan.

"Xueru," ucapnya. "Mengapa kau memberitahuku ini?"

Ia tidak langsung menjawab. Matanya turun ke meja—ke buku dengan halaman yang robek yang masih terbuka di antara mereka. Kemudian, dengan cara yang sangat hati-hati namun tidak ragu: "Karena aku sudah melihatmu di lembah. Di dalam gua. Dan aku sudah berpikir selama berminggu-minggu tentang apa yang aku lihat, dan tentang apa yang aku pelajari dalam sejarah yang tidak lengkap itu, dan tentang mengapa rasanya seperti ada benang yang menghubungkan semuanya." Matanya kembali ke Yu Fan. "Dan aku pikir—jika ada orang yang berhak mengetahui bahwa sejarah mungkin tidak bercerita sepenuhnya—itu adalah orang yang mungkin ada di dalam sejarah itu."

Keheningan yang sangat penuh.

Di luar perpustakaan, lonceng tengah malam mulai berbunyi—suara perunggu yang bergema pelan dan sangat terukur, menghitung kedua belas dentingannya dengan cara yang sudah dilakukan setiap malam selama akademi ini ada.

Mereka berpamitan dengan cara yang sudah familiar dari pertemuan-pertemuan malam sebelumnya—kata-kata yang sedikit dan sangat tepat, penghormatan kecil yang tidak formal namun tulus. Yu Fan keluar dari perpustakaan dengan buku halaman robek itu masih dalam benaknya.

Kamarnya sunyi dan beraroma sedikit dari minyak obat yang sudah hampir habis. Di atas mejanya, di tempat yang ia letakkan sebelum keluar tadi, cincin dimensinya.

Ia mengeluarkan kotak lacquer merah dari dalam cincin dimensi itu. Pita kuningnya masih rapi—ia tidak pernah membukanya sejak pertama kali menerimanya. Di bawah cahaya lampu kamar yang lebih lemah dari lampion perpustakaan, warna merah kotak itu terlihat lebih dalam, lebih hangat.

Ia membuka ikatan pita dengan sangat hati-hati, melipat pita itu ke samping daripada melepasnya. Di dalam, enam buah kue kecil berbentuk bunga—bukan kue yang beli di toko, ini dibuat dengan tangan yang tidak terlatih dalam pembuatan kue namun sangat terlatih dalam memperhatikan detail. Setiap kelopak bunga sedikit tidak simetris dengan cara yang justru memperlihatkan bahwa ini dibuat oleh tangan manusia dan bukan cetakan.

Yu Fan mengambil satu. Menggigitnya.

Rasanya manis dengan cara yang tidak sempurna—sedikit terlalu manis di sisi tertentu dan tepat di sisi lain, teksturnya sedikit terlalu padat namun tidak tidak enak. Rasa yang jelas berasal dari seseorang yang belajar membuat sesuatu karena ingin membuat sesuatu, bukan karena sudah tahu caranya.

Ia memakan kue kedua sambil berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar yang tidak mengandung apa pun yang menarik namun entah kenapa selalu menjadi tempat yang tepat untuk menyimpan pikiran yang belum menemukan tempatnya.

Pikiran tentang aura merah yang tidak ada dalam buku sejarah mana pun, halamannya diambil. Tentang Dekan yang menstabilkan energi Yang-nya namun tidak memberitahunya semua yang ia tahu. Tentang Wakil Dekan yang muridnya adalah guru yang sama yang memberinya nama. Tentang catatan tua di arsip Sekte Teratai Putih yang menyebut bahwa seseorang tidak mati, hanya tertidur. Tentang Lin Xueru yang memilih untuk memberitahunya tentang catatan itu.

Tentang tangan yang mencengkeram Pedang Teratai Putih lima puluh ribu tahun yang lalu.

Tentang tangan yang sama yang malam ini—berjarak begitu dekat di meja perpustakaan—menatap permukaan mejanya sebelum memilih untuk berbicara.

Ia mengambil kue ketiga.

Enam bulan.

Enam bulan untuk mencapai Tingkat 4. Enam bulan sebelum orang-orang dari wilayah Barat datang dengan sistem kultivasi yang berbeda dan kuda bersayap perak. Enam bulan yang di dalam dan di luarnya, semua yang belum ia pahami tentang dirinya sendiri terus ada—tidak menunggu, tidak memperlambat dirinya, hanya terus ada.

Ia menutup kotak lacquer merah itu. Meletakkannya di samping lampu kamar—bukan di dalam cincin dimensinya lagi.

Menatap langit-langit.

Murka Langit yang Telah Retak.

Nama yang ada dalam catatan yang halamannya sudah diambil oleh seseorang yang tidak ingin nama itu ditemukan. Nama yang entah kenapa terasa—bukan dikenal, namun terasa, dengan cara yang berbeda—seperti mendengar suara yang tidak bisa diidentifikasi namun terasa seperti pernah didengar dari jarak yang sangat jauh dan sangat lama yang lalu.

Di dalam dadanya, denyutan kecil yang sudah sangat familiar.

Bukan sekali.

Tiga kali. Dalam interval yang tidak teratur, tidak seperti detak jantung biasa. Seperti sesuatu yang sedang mencoba berkomunikasi dalam bahasa yang pemiliknya belum cukup bisa berbicara.

Yu Fan memejamkan matanya.

Dan di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, untuk pertama kalinya dalam dua tahun—sebuah gambaran yang berbeda dari kilasan-kilasan kabur yang biasanya. Bukan wajah. Bukan tempat. Sebuah langit—langit yang sangat luas dan sangat tinggi, langit yang tidak berwarna biru melainkan warna yang tidak ada namanya dalam bahasa yang ia ketahui—dan di dalam langit itu, sebuah suara yang tidak mengucapkan kata-kata melainkan hanya ada, seperti nada musik yang dimainkan terlalu rendah untuk didengar namun cukup untuk dirasakan melalui tulang.

Suara yang, jika didengarkan cukup lama, mulai terasa seperti sebuah nama.

Namanya sendiri.

Yang masih belum ia ingat.

Namun malam ini—untuk pertama kalinya—terasa seperti hampir bisa didengar.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🫰
Xiao
eumm
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
Muo
semangat thor/Determined//Determined/
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
F.S
hai Pembaca sekalian kalau kalian suka dengan novel ini jangan lupa kasi rating 5 ya
WER
semangat author 👍👍👍👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya ". zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 3 replies
F.S
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!