NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mantan / Obsesi
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu Tawamu

Vito berhenti berjalan tepat saat melihat pemandangan di dapur. Cangkir kopi di tangannya masih setengah terangkat ke bibir. Nowi hanya mengenakan kaus miliknya.

Wanita itu berjinjit sambil meraih isi lemari. Dia tampak sedang mencari cangkir kopi. Kakinya yang jenjang terlihat jelas, sedangkan bagian bawah kaus itu hampir tidak menutupi pantatnya sama sekali.

Vito mengerang pelan, lalu berpura-pura batuk untuk menutupi suaranya. Nowi langsung berbalik badan. Dia bersandar pada meja dapur sambil memegang dada karena sangat kaget.

"Astaga, Vito. Kamu ini."

"Maaf ya. Tidur kamu nyenyak nggak?"

"Yah ... lumayanlah, kayaknya. Eh, cangkir kopinya taruh mana sih?"

"Gimana kalau kita ngopi dan sarapannya di luar aja?"

Nowi memainkan jari-jarinya karena gugup. Vito sendiri kaget bisa mengucapkan hal itu, karena sama sekali tidak direncanakan. Dia tahu Nowi ingin keberadaannya di sini dirahasiakan, tetapi wanita itu tidak mungkin terus mengurung diri seperti orang yang lari dari masalah. Vito ingin Nowi melihat keadaan sekitar sini. Dia ingin Nowi mengetahui rasanya tinggal di sini bersamanya.

"Ayo. Aku anter kamu ke rumah orang tua kamu buat ganti baju, terus kita cari sarapan."

"Aku nggak tahu deh, Vito. Rasanya nggak bakal ada yang senang lihat aku lagi."

"Kamu nggak bakal tahu kalau kamu nggak berani muncul. Jangan jahat sama diri sendiri gitu dong."

Tangan Nowi bergerak ke ujung kaus yang dipakainya. Dia memainkan ujung pakaian itu dengan jari sambil menggigit bibir, lalu akhirnya menatap Vito kembali.

"Oke deh."

"Serius?"

"Iya. Aku bisa pake dulu baju yang semalam, terus kita jalan ya."

Nowi berjalan ke ujung ruangan, tetapi berhenti sejenak dan menoleh kembali ke arah Vito dengan wajah malu-malu.

"Kita naik motor kamu aja boleh nggak?"

Vito langsung tersedak kopi yang baru saja diminumnya. Nowi ingin berboncengan motor bersamanya?

Vito membersihkan tenggorokannya agar bisa berbicara dengan jelas, lalu menjawab dengan nada agak keras.

"Sialan, jelas banget boleh dong."

Nowi berlari menyusuri lorong menuju kamar Vito. Dia melepas kaus milik pria itu, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas lemari. Dia mengenakan kembali pakaian yang dipakainya semalam, lalu duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ponsel. Dia tahu Agnia pasti sudah bangun, tetapi belum sempat menjelaskan apa pun kepadanya.

Ponselnya menyala. Pesan pun masuk bertubi-tubi.

Nomor Tidak Dikenal: Aku ingetin ya, kamu nggak bakal bisa ngacangin aku terus-terusan.

Nomor Tidak Dikenal: Balas pesan aku sekarang.

Agnia: Oktavian ada di rumahku nih. Dia nyariin kamu terus, Sayang.

Agnia: Aku udah bilang kamu nggak ada, tapi kayaknya dia curiga deh. Telepon aku ya, dia kayak orang gila kelakuannya.

Nomor Tidak Dikenal: Kamu kira aku nggak bakal tahu kalau kamu kabur dari Surabaya?

Nomor Tidak Dikenal: Nggak ada tempat buat kamu ngumpet selamanya, Nowi.

Nomor Tidak Dikenal: Kita itu milik satu sama lain. Masalah ini belum selesai.

Rasa takut langsung menyerang dirinya. Dia berusaha sekuat tenaga menepis perasaan itu.

Dia yakin Oktavian tidak akan mau repot-repot mengejarnya sampai ke Batu. Dia membuka ruang obrolan dengan Agnia dan membalas pesan itu.

"Aku rasa Oktavian bakal lupa sama semua masalah ini. Apalagi sekarang aku udah nggak ada di sana lagi," tulisnya.

Nowi juga bertanya apakah Agnia punya waktu untuk melakukan panggilan video nanti malam. Dia yakin dalam waktu seminggu, Oktavian akan menyerah dan melanjutkan hidupnya sendiri. Setidaknya, itulah yang dia harapkan.

Nowi sendiri sebenarnya bingung dengan tindakannya untuk ikut pergi ke kota bersama Vito. Dia juga tidak paham posisi hubungan mereka saat ini. Yang dia tahu, dia sama sekali tidak bisa menolak permintaan Vito. Dia masih berutang satu kali pembicaraan serius dengan Vito. Kalau pria itu mengajak sarapan, dia akan ikut saja.

Nowi melihat Vito sudah menunggunya di dekat pintu depan. Pria itu memakai celana jeans, sepatu, dan jaket. Vito menyisir rambutnya dengan satu tangan sambil menatap ke arah Nowi. Cowok itu terlihat sangat menarik.

"Hei, aku mau minta maaf ya soal kelakuan aku semalam. Aku agak lepas kendali dan penilaian aku lagi kacau. Tenang aja, hal itu nggak bakal terjadi lagi kok," kata Vito. Dia melanjutkan, "Nanti aku boncengin kamu ke mana pun kamu mau. Tapi syaratnya, kamu harus pakai jaket sama helm ... nih, pakai aja."

Vito menyodorkan jaket itu ke arahnya. Nowi berbalik badan, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan jaket tersebut. Saat dia menoleh kembali, mata mereka langsung bertatapan.

"Boleh aku pasangin ritsletingnya?" tanya Vito.

Nowi mengangguk pelan. Dia memperhatikan gerak-gerik Vito saat pria itu menarik ritsleting ke atas. Vito terus menatap wajahnya sepanjang waktu itu. Terlihat jelas ada rasa senang dan pandangan nakal di mata pria itu.

"Kenapa sih lihat-lihat terus?" tanya Nowi.

"Kamu cocok banget pakai jaket aku," jawab Vito santai.

Nowi memutar matanya. "Ah, masa sih? Ini kegedean banget lho di badanku."

Vito tidak menjawab. Dia malah melipat ujung lengan jaket itu sampai dua kali agar tangan Nowi bisa bergerak bebas.

"Udah siap jalan belum?" tanyanya lagi.

"Jujur? Belum," jawab Nowi sambil tertawa kecil.

"Kenapa sih?" tanya Vito sambil terus menatapnya lekat-lekat. "Aku kangen banget denger suara ketawa kamu itu," kata Vito pelan.

"Ketawaku? Serius deh?" Nowi tertawa lagi.

"Iya, beneran," jawab Vito.

"Pembohong. Semua orang ngeledekin aku gara-gara ketawa itu, katanya suaranya aneh dan jelek banget," bantah Nowi.

Vito tersenyum tipis. "Enggak buat aku. Aku selalu suka denger kamu ketawa, Nowi. Kamu kan tahu itu."

Pria itu mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang sangat mempesona.

"Dasar tukang gombal, kelakuanmu nggak berubah ya," kata Nowi sambil pura-pura kesal. "Udah yuk, aku laper banget. Butuh kafein nih biar suasanaku nggak makin rusak."

"Ayuk, silakan duluan," jawab Vito santai.

Nowi membuka pintu depan dan melangkah keluar. Udara pagi di kota batu terasa sangat sejuk.

1
Aya Ansyar
hai thor, aku hadir membawa boomlike untukmu. jika berkenan, silahkan mampir juga ya ke karyaku. dukunganmu sangat berarti untukku. semangat terus berkarya, thor 👍🏻💪🏻
Aya Ansyar
hai thor, aku mampir. nyicil baca yaa. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!