Kehidupan setiap orang tidak sama, jodoh, maut rezeki. Semua orang mendapatkan kadar yang berbeda.
Syaren, terpaksa menikah dengan Dimas, demi melindungi kakaknya, Yumna. Dia tahu, pernikahan ini bukan hal yang indah, Dimas hanya menginginkanya, hanya untuk bersenang-senang.
Bagaimana nasib Syaren? Apakah dia bisa menua bersama Dimas? Atau garis kehidupannya mengujinya lebih kejam lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kembali Bekerja
Sedih sekali author..😭😭😭😭😭😭😭
sepertinya tak ada yang suka dengan tulisan author😥😢
Andai saja, ada yang kasih semangat buat author🙋♀️
************
Mereka berempat sudah kembali ke rumah mereka.
Di rumah Andrey. Andrey ingin mengutarakan keinginannya, pada kedua orang tuanya.
"Mah, Andrey jatuh cinta sama adik Reyhan mah ...." Andrey menahan rasa malu, mengakui hal ini pada kedua orang tuannya.
"Sama Yumna?" Tanya Fuad, ayah Andrey.
"Bukan yah, tapi Syaren adik bungsunya," sahut Andrey
"Em, anak kita minta kawin pah!" Ejek Iis, mama Andrey.
"Mamah ...." wajah Andrey memerah.
"Iya nanti kita atur melamar Syaren ...." sahut Iis.
"Wah .... beneran mah? Aku bahagia banget mah, pah," Andrey memeluk kedua orang tua nya.
"Tapi kamu bicara dulu sama Reyhan dan sama Syaren, jangan sampai mereka terkejut karena kedatangan kita," sahut Fuad
"Siap pah!" Sahut Andrey.
Air mata Andrey menetes, ia sangat bahagia, mendengar tanggapan orang tuanya, yang langsung menerima Syaren. Tanpa banyak pertanyaan tentang Syaren.
Fuad menepuk bahu Andrey. "Anak laki-laki kok cengeng!"
"Ih papa, ngga berperasaan, anak bahagia di katain cengeng," sahut Iis, iis menarik Andrey kedalam pelukannya.
"Kamu bahagia sayang?" Tanya Iis.
"Sangat mah, Andrey cinta banget sama Syaren, makasih mah ...." pekik Andrey.
Iis tersenyum, dia bahagia melihat anak semata wayangnya begitu bahagia.
*******
Di rumah Reyhan.
Seperti biasa, pagi hari mereka bertiga sarapan bersam di meja makan.
Bi Anik mendekat dengan membawa beberapa surat. Bi Anik menyerahkan satu surat pada Syaren dan sisanya, pada Reyhan.
Syaren langsung membuka surat yang diserahkan Anik padanya.
"Ha! Aku di terima kerja di Wisma corporation Group? Bagaimana bisa? Aku tidak pernah melamar di sana!" Syaren sangat kaget.
"Apa! Kamu melamar kerja di kantor tempat kakak kerja!" Teriak Yumna.
"Aku enggak ngelamar ke sana, sumpah! Tapi kok aku di terima?" Gerutu Syaren.
Syaren berpikir keras, apa sebabnya, dia tiba-tiba diterima di Wisma Corporation Group.
"Mungkin Andery, berapa bulan lalu Andrey meminta berkas lamaran kamu ke aku, sepertinya Andrey yang memasukkan lamaran kerja kamu si sana," ucap Reyhan
"What?!" Teriak Syaren dan Yumna bersamaan.
"Lah? memangnya kenapa?" Tanya Reyhan.
"No!" rengek Syaren.
"Kenapa no?" Tanya Reyhan.
"Kak Yumna, kakak kan senior di sana, jangan intimidasi aku ya," pekik Syaren.
"Tergantung kedisiplinan dan profesinalis kamu nanti!!" Sahut Yumna, dingin. Dia melangkah meninggalkan meja makan.
Yumna menghentikan langkah kakinya, memutar arah tubuhnya menghadap meja makan, di mana Syaren dan Reyhan masih di sana
"Jangan salahkan aku, jika aku keras dan menyakitimu, karena itu memang tugasku! Sudah kuperingatkan bukan, sejak kau lulus kuliah dulu, agar kau tak melamar kerja di tempat aku bekerja," kata Yumna.
"Kak Yumna ...." ringis Syaren.
"Kak rey, bagaimana ini?" Rengek Syaren.
"Sudah, terima aja, Wisma Corporation Group itu bukan perusahaan sembarangan, jangan main-main kamu dengan menolak panggilan ini. Bukan cuma kamu yang kena getahnya, kakak kamu juga pasti kena termasuk aku," sahut Reyhan menasehati Syaren.
"Iya kak, aku akan memenuhi panggilan ini,
aku ngga mau kak Rey dan kak Yumna kena dampak karena kesalahan aku," Air mata Syaren bercucuran pagi ini.
Reyhan tak tahan melihat adik bungsu nya itu menangis..Reyhan berdiri dan memeluk Syaren untuk menenangkannya.
"Kamu yang tegar, pasti kak Yumna khawatir kalau-kalau, dia yang harus jadi pengawas kamu, kamu tahukan kak Yumna ngga
pernah tega nyakitin kamu, jam berapa interview nya?" Tanya Reyhan.
"Hem bentar," sahut Syaren sambil membuka kembali surat panggilannya.
"What?? Jam 10! Hari ini kak Rey! Huhuuu ... hiks hiks hiks," tangis Syaren.
"Sudah, sana cari baju masih anda waktu, ini baru jam 7, kakak juga ada kerjaan di beberapa supliyer kaka, jadi kamu bisa-bisa ya,"
Cups!
Reyhan mendaratkan ciumanny di kepala adik nya.
"Semangat!" Seru Reyhan
"Emm ... aku akan semangat kak," sahut Syaren, walau air matanya masih menetes.
Reyhan beranjak dari meja menuju mobilnya,
sedang Syaren segera berlari ke kamarnya, mengambil tas serta kunci mobil, dia langsung menuju butik langganan Yumna, untuk membeli baju yang akan di pakai hari ini.
Lebih dari satu jam Syaren mondar-mandir keruang ganti di butik itu. Akhirnya pilihannya kemeja putih dan celana hitam panjang.
"Bagaimana penampilan ku? " Tanya Syaren pada pemilik butik
"Pakai apa saja kau selalu cantik Syaren!"
"Maksudku ... aku takut di cap orang ******, jika aku salah kostum."
"Kenapa kau risih dengan dada besarmu, dan pantatmu yang alami ini Syaren? Ini alami, ini anugrah!"
"Tapi aku risih jika ini menonjol!"
"Syaren ... percayalah, kata-kata hinaan itu terlontar dari mulut orang-orang yg iri dengan bentuk tubuhmu."
"Benarkah?!"
"Hemmm." Pemilik butik itu mengangguk.
"Baiklah, aku ambil yang ku pakai ini, dan yang ini!" Syaren menyerahkan tumpukan baju di tangannya. Lalu menyerahkan kartu debitnya
"Okey, di tunggu ya ...."
Transaksi pun berhasil. Syaren segera menuju kantor Wisma Corporation Group. Sesampai di sana Syaren takjub dengan bangunan yang tinggi menjulang itu. Syaren segera turun, dia mengambil berkas yang ia bawa dan tasnya.
Syaren menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Ia lakukan hal itu berulang kali, untuk mengurangi ketegangannya. Dia berjalan meninggalkan area parkir, segera menuju kantor itu.
Brakkkggh!!
Ada yang menabrak Syaren, Syaren terjatuh kedalam pelukan laki-laki, plat nama laki-laki itu bertuliskan Joan.
Joan membatu Syaren bangkit. "Maaf nona, anda di jalur yang salah!"
"Saya juga minta maaf, saya baru kesini, saya tidak tahu mana jalur saya." Syaren segera mundur dari kerumunan pria berbadan tegap itu.
Direktur utama itu, menatap Syaren, sambil melangkah meninggalkan Syaren.
Setelah rombongan itu masuk, Syaren segera masuk kekantor itu, dia langsung mendatangi meja Reseptionis.
"Saya pegawai yang menadpat panggilan kerja, di mana tempat interview hari ini?" Tanya Syaren.
"Lantai 10, silakan bawa ini," Reseptionis memberikan ID Card pada Syaren.
"Terima kasih." sahut Syaren.
Syaren segera menuju lift yang di tunjuk sebelumnya oleh sang Reseptionis. Lift terbuka, Syaren segera masuk.
Melihat siapa yang masuk lift, laki-laki yang ada dalam lift itu tidak jadi keluar.
"Hai beib," sapa Andrey.
"Kak Andrey?" Senyuman lebar menghiasi wajah Syaren. Namun senyuman itu hilang seketika.
"Loh, kenapa berhenti senyum?"
"Gara-gara kak Andrey! Aku harus kerja di sini!" Gerutu Syaren.
"Bagus dong! Secara kita bisa ketemu tiap hari," sahut Andrey.
Syaren terdiam.
"Apa pengakuan waktu itu, yang ingin kamu utarakan?" Tanya Andrey.
"Aku cuma mau bilang, aku punya banyak pacar, tapi cuma kak Andrey yang membuat aku beneran jatuh cinta."
"Terus?"
"Terus aku sudah putusin semuanya demi cinta aku ke kakak." Syaren terlihat malu-malu.
Andrey mendekati Syaren.
"Jangan dekat dekat! Ada cctv !!" Syaren menunjuk kearah CCTV yang ada dalam lift itu.
Andrey diam, tidak jadi memeluk Syaren.
Lift terbuka di lantai 10, Syaren langsung keluar dari lift, sedang Andrey tetap dalam lift untuk turun lagi.
Syaren segera bergabung dengan calon pekerja yang lain. Satu per satu calon pekerja di panggil sesuai antrian.
Sekarang, giliran Syaren, dengan lantang tegas, serta begitu jelas, Syaren menjawab semua pertanyaan. Membuat semua orang takjub padanya.
Syaren dan para calon pekerja lain, memilih menunggu pengumuman, di lantai dasar. Bersama para calon pekerja lainnya. Mereka duduk santai, menanti pengumuman hasil interview mereka.
Ada mata yang mengawasi Syaren dari layar cctvnya. Dimas Wisma Aditama DIREKTUR UTAMA Wisma Corporation Group.
"Ada yang salah dengan gadis itu pak?" Tanya Joan, Joan adalah sahabat sekaligus Sekretaris yang mengurusi semua hal kantor dan pribadi Dimas.
"Tidak!" Sahut Dimas.
"Apa saya harus membereskannya pak?" Tanya Joan
Dimas menatap tajam Joan, tentu Joan faham maksud bos besarnya itu. Apalagi, pasti Dimas menyasar gadis itu, untuk di jadikan kucing peliharaannya.
"Latif!! di peringkat mana gadis itu, hasil interview hari ini?"
Latif segera mengecek laporan interview hari ini. Latif adalah Sekretaris yang menghandle semua urusan kantor.
"Gila!! Rupanya dia bukan gadis sembarangan Pak!" seru Latif.
Melihat Bos nya menatap tajam, Latif segera memberitahu info tentang gadis yang terus di pandangi bos nya itu dari tadi. Latif memberikan lembaran kertas pada Joan.
Joan mulai membacakan data diri Sayren. "Namanya Syaren Aziya Mahardi, anak ketiga dari Almarhum Rendra dan Syahila-"
"Ohh ... anak almarhum Rendra," Dimas langsung memotong Joan.
"Rendra si pengusaha hebat itu, pantas dia jenius. Darah pengusaha mengalir dalam dirinya," ungkapan kekaguman Dimas pada Syaren.
Kedua pengawal Dimas saling pandang dan saling memberi kode.
gampil bingittt