Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI HARI YANG BERBEDA
Malam itu, Ah Ti tertidur lebih awal.
Entah kenapa dia capek. Capek kayak habis pelajaran olahraga seharian. Ia mengingat-ingat: Koko pulang, bawa makanan. Makan bertiga sama Ah Me. Terus Koko mandi. Tidak ada yang aneh.
Perkara rambut Koko yang gondrong kebablasan, dia juga tidak merasa aneh. Koko sering pulang pakai wig begitu. Kadang dibawa tidur.
Tapi habis belajar sama Koko tadi, rasanya aneh.
Berat.
Tapi asyik.
Metode belajarnya beda. Lebih… teratur. Koko tidak asal nyuruh hafal. Dia menjelaskan. Dia bertanya balik. Dia sabar.
Cuma… ada beda. Beda yang hatinya tidak bisa jelaskan.
Juga perasaan tidak enak di tengkuknya. Bukan karena sakit. Bukan karena terkilir. Tapi seperti ada yang menatapnya dari belakang. Ah Ti tidak tahu perasaan apa ini. Ia hanya anak kelas 5 SD. Bahasanya belum cukup untuk memberi nama pada kegelisahan.
Ia memejamkan mata.
---
Tiba-tiba matanya berkedut.
Kepalanya berkeringat dingin.
Ah Ti bermimpi. Bukan mimpi biasa. Ini mimpi yang terlalu nyata. Ia melihat Koko-nya—Koko Sioh Bu—berjalan di pinggir rel kereta. Ada motor melaju kencang. Ada polisi mengejar. Motor itu menabrak. Tubuh Koko terpental. Lalu kereta lewat. Cepat. Terlalu cepat.
Dan Koko hilang.
Hancur.
Tidak ada lagi.
"Koko… Koko Sioh Bu!" teriak Ah Ti dalam tidurnya.
---
Eng Sok langsung waspada.
Matanya terbuka dalam hitungan detik—kebiasaan pangeran yang tidurnya ringan karena bertahun-tahun waspada terhadap pembunuh bayaran. Ia meraih air minum di samping kasur, lalu mendekati Ah Ti yang meronta-ronta.
"Bangun," katanya sambil menyodorkan gelas. Suaranya tegas tapi tidak keras. "Ada apa?"
Ah Ti membuka mata. Keringat membasahi poni-nya. Matanya masih buram. Ia melihat sosok di depannya—rambut panjang, bahu tegap, wajah yang sama sejak ia lahir.
"Koko… Koko…"
Ia meraih. Memeluk Eng Sok. Erat. Tidak mau lepas.
"Koko ini Koko aku, si Koko Sioh Bu, kan?"
Suara Ah Ti kecil. Gemetar.
Eng Sok terdiam sejenak.
Koko ini Koko aku, si Koko Sioh Bu, kan?
Pertanyaan sederhana. Tapi jawabannya tidak sederhana. Sioh Bu sudah pergi. Yang tersisa hanya ingatan. Hanya arwah yang melayang di sudut ruangan, menangis tanpa air mata. Sementara tubuh ini tubuh Eng Sok, masih hidup secara ajaib setelah melewati lorong gaib di saat eksekusinya. Eng Sok hanya bisa mengelus-elus kepala anak kecil itu. Dadanya berdegup, tangannya gemetar. Urat-urat di kepalanya menonjol.
"He'eh," kata Eng Sok akhirnya.
Suaranya datar. Tapi matanya—ada sesuatu di sana yang tidak Ah Ti mengerti. Sesuatu yang berat. Sesuatu yang mirip dengan janji.
Lalu Eng Sok menggelitik Ah Ti.
Cepat. Gelitik-gelitik kecil di perut. Seperti saat ia menggoda anak-anak Ah Pek (Kakak dari ayah) atau Ah Cek(adik dari ayah) di istana putra dulu. Tidak keras. Ah Ti tersentak, lalu tertawa.
"Koko! Hahaha... Koko! Jangan", kata Ah Ti geli
"Sudah. Tidur lagi," kata Eng Sok.
Dengan telaten, ia menidurkan anak itu di kasur. Merapikan selimut. Menepuk-nepuk bahu kecil itu sampai napas Ah Ti kembali teratur. Ia cuma mendesah. Membayangkan… kalo anak laki-lakinya hidup, mungkin ia akan bisa menidurkannya seperti ini. Tapi… Ia menggenggam ujung selimut Ah Ti. Matanya memutar adegan ketika dekrit dia ditangkap dibacakan, istrinya jatuh terduduk dan langsung keguguran.
Lalu Eng Sok pergi ke sisi ruangan yang lain. Ke ranjang satunya dan tidur. Atau paling tidak… memejamkan mata.
---
Sioh Bu melihat semuanya dari kejauhan.
Ia melayang di sudut langit-langit. Menyaksikan adiknya yang tertidur dengan pipi basah. Menyaksikan pangeran asing yang—entah karena apa—begitu sabar dengan anak kecil.
Diam-diam, Sioh Bu menangis.
Tapi ia tidak punya air mata.
Ia hanya bisa berjongkok sambil melayang. Dadanya mengembang mengempis seperti orang yang terisak. Tapi tidak ada suara. Tidak ada detak jantung. Tidak ada nadi. Tidak ada apa pun yang membuktikan bahwa ia pernah hidup.
Hanya arwah.
Hanya kenangan.
Hanya harapan yang tersisa pada seorang pria asing dari masa lalu.
Akhirnya, dua anak laki-laki itu tidur. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Padahal segalanya terjadi.
Sioh Bu meninggal.
Eng Sok hidup menggantikannya.
Dan Ah Ti—anak kecil yang tidak tahu apa-apa—masih memanggil "Koko" dengan penuh percaya.
---
Mereka pulas. Tidak ada yang bangun.
Sampai—
Trengg... trengg... trengg...
HP Sioh Bu berbunyi keras di meja.
Eng Sok terperanjat. Matanya langsung terbuka. Masih setengah sadar, ia berteriak:
"Ajudan! Matikan suara itu!"
Tidak ada yang bergerak.
"Ajudaaaaan!"
Sunyi.
Ia duduk di kasur. Lampu kamar masih mati. Di sudut ruangan, Sioh Bu memegang kepala, geli sekaligus malu.
Pelan-pelan, Eng Sok membuka mata. Ia melihat bajunya. Kaos oblong murah bergambar sesuatu yang tidak ia mengerti. Tangannya—bukan tangan pangeran yang biasa memegang pedang berukir giok. Tapi tangannya juga.
Oh iya.
"Aku orang miskin sekarang," bisiknya dalam hati.
Ia bersyukur teriakannya tidak membangunkan Ah Ti. Anak itu masih tidur lelap, selimut terlipat di perutnya, mulut setengah terbuka.
Eng Sok berjingkat ke meja. Mematikan alarm HP. Lalu pergi ke dapur.
---
Sioh Bu sudah melotot di sana.
"Lu gak tahu masak, kan?" bisik arwah itu sambil melayang di samping kompor.
"Tahu," jawab Eng Sok datar. "Aku pangeran. Aku biasa masak di hutan saat perang gerilya."
"Ya udah. Rice cooker itu. Pencet tombol ini. Taruh beras. Taruh air."
Eng Sok mencuci beras. Hal yang biasa ia lakukan hanya saat perang. Sekarang ia melakukannya setiap hari. Mungkin sisa hidupnya akan begini terus.
Ia menatap rice cooker.
"Alat ini... membantu," katanya pelan. "Seperti ajudan."
"Iya, namanya teknologi," Sioh Bu menghela napas. "Sekarang rice cooker jadi ajudan baru lu."
---
Ah Ti masih tidur ketika Eng Sok selesai memasak.
Dengan hati-hati, pangeran itu mendekati ranjang. Ia menepuk pipi Ah Ti—pelan, tapi tegas.
"Aduh!" Ah Ti mengerang. Matanya masih terpejam. "Koko, masihan tidur lo, Ah Ti!"
"Laki-laki malas akan mati di medan perang," kata Eng Sok.
Suaranya dingin. Berwibawa.
Ah Ti biasa membuka pagi dengan adu argumen. Tapi pagi ini lain. Ia merasa... Koko-nya dingin. Tidak ramah. Tapi ramah juga. Ia tidak bisa menjelaskannya. Seperti makan es krim cabe rawit.
"Tanya Ah Me, bisa sarapan tidak. Terus kamu nyapu rumah. Tidak beres, tidak ada jajan," tegas Eng Sok.
Ah Ti mengucek mata. "Iya, iya, Panglima."
“Diingggg!”
Eng Sok memasang kuda-kuda. Ah Ti mengeluarkan jurus kayak di series Pendekar Bun.
“Itu Nasi Rice cooker matang!”, jelas Sioh Bu sambil garuk-garuk.
Ah Ti turun dari tempat tidur, ke kamar Ah Me. Lalu lapor: "Ah Me ikut sarapan.”
---
Eng Sok memasak sayur. Mengemas nasi ke dalam kotak bekal.
Ah Ti menyapu dan mengelap rumah juga melipat cucian kemarin.
Satu kotak untuk Ah Ti. Satu kotak untuk Ah Me—diletakkan di kamar Ah Me, biar bisa makan siang tanpa repot-repot ke dapur.
"Bagus. Sekarang sapu rumah."
Pangeran itu juga mencuci baju. Mesin cuci di pojok ruangan membuatnya mengerjap beberapa kali. Alat ini bisa mencuci sendiri?
Sioh Bu menjelaskan dengan suara yang sudah sangat sabar—meskipun dalam hati Sioh Bu ia ingin teriak.
Eng Sok tetap mencuci sebagian pakaian dengan tangan. Kebiasaan. Lalu karena pegal, ia menyalakan mesin cuci… Tapi telinga dan matanya ditutup seperti sedang mengoperasikan meriam. Pelan-pelan ia membuka mata dan telinga. Lalu selesai. Kemudian ia memindahkan cucian ke pengering. Seperti sihir, cucian sudah sangat berkurang airnya. Tinggal dijemur sedikit. Ia harus mengakui: mesin ini membantu. Hemat tenaga.
---
Saat sarapan, Ah Me kebetulan bisa duduk di meja makan.
Ini jarang terjadi. Biasanya ia makan di kamar, di ranjang, dengan tubuh yang remuk redam. Tapi pagi ini—mungkin karena akupresur semalam—ia merasa lebih kuat.
Mereka bertiga makan dalam diam yang nyaman.
Eng Sok tidak banyak bicara. Ah Ti terlalu sibuk mengunyah. Ah Me hanya menatap dua anak laki-lakinya bergantian.
Matanya panas.
Tapi ia tidak menangis.
Setelah sarapan, Eng Sok masuk ke kamar. Ia mengambil sesuatu dari laci—kipas lipat. Dari banyak kipas lipat, ia pilih satu dengan lukisan gunung. Kecil. Bertali. Kebiasaan pangeran jaman dulu. Di dunia modern, orang mungkin mengira itu aksesoris.
Ah Ti melihat. "Koko mau bawa kipas gituan?"
Ah Ti menatap curiga. Koko dia paling ga suka bawa kipas lipat. Ribet. Bawanya pasti kipas listrik. Kalo kipas lipat ini biasanya hadiah kecil dari lokasi syuting drama yang menumpuk gak dipakai.
"Pangeran harus selalu tampil rapi," jawab Eng Sok tanpa berpikir.
Keduanya terdiam. Ah Ti cuma melongo. Ia berharap bahwa Koko dia cuma kebawa peran karena main film, bukan ganti Koko kayak film rebirth itu.
"...maksudku, artis figuran harus selalu siap panas," sambungnya canggung.
Sioh Bu menggeleng-gelengkan kepala di belakang, ia ketawa, terpingkal-pingkal sampai terguling-guling.
Pangeran keluar sebentar, dilihatnya dari jendela, Toko Kelontong Ah Cai pas di seberang rumah sudah buka. Ia pamit ke Ah Me dengan pai pai. Lalu membeli minyak orang-aring Sam Hok Liong dan karet rambut. Ah Cek Cai melongo ia sudah kadung mengambilkan Pomade Tiger yang biasa dibeli Sioh Bu. Tapi ia gak berani bertanya. Aura Sioh Bu hari itu terlalu… berwibawa, kayak aura buyut dia.
---
Eng Sok masuk ke rumah dan melanjutkan sedikit pekerjaan dia. Lalu mulai mandi dan merapikan diri. Ah Ti mandi juga dan siap ke sekolah.
Setelah rumah rapi, setelah Ah Me kembali ke kamar dengan perut kenyang, Eng Sok mengajak Ah Ti duduk bersila di lantai ruang tengah.
"Sekarang meditasi," kata pangeran itu.
"Apa?"
"Meditasi. Kultivasi. Biar pikiran cerah. Supaya cepat ingat pelajaran di sekolah."
Ah Ti mengerjap. Ia tidak tahu apa itu kultivasi. Tapi Koko-nya yang baru ini—yang dingin, tegas, dan anehnya tegas—mengatakan itu baik.
"Jadi Ah Ti bisa sakti kayak Pendekar Bun?"
"Iya, kalau kamu berhasil. Nanti sore atau besok, Koko coba cek Meridian kamu."
Ah Ti duduk bersila. Menutup mata. Berusaha mengosongkan pikiran.
Di sudut ruangan, Sioh Bu membuka mulut mau protes. "Ngapain ngajarin meditasi segala? Ntar anaknya makin aneh!"
Tapi mulutnya tertutup lagi.
Biar pikiran terbuka dan cepat ingat pelajaran.
Itu alasan Eng Sok. Dan Sioh Bu, di lubuk hatinya yang sudah tidak berdetak, setuju. Ia ingin adiknya pandai. Tidak hanya tampan. Sebab suatu hari, ketika wajah mulai keriput dan industri hiburan mulai bosan, Ah Ti harus bisa hidup dengan otaknya, bukan hanya dengan senyum.
Maka Sioh Bu diam. Hanya melayang. Hanya menonton.
---
Ah Me melihat dari celah pintu kamarnya.
Mata perempuan tua itu panas lagi. Basah.
Ia tahu. Dengan amat pasti. Walaupun pemuda itu memiliki luka di pelipis—tempat yang sama dengan luka Sioh Bu jatuh dari sepeda umur 12 tahun—pemuda itu bukan putranya.
Sejak kapan anak laki-lakinya yang hiperaktif bisa duduk diam bermeditasi?
Sejak kapan Sioh Bu mengajar adiknya dengan sabar?
Sejak kapan Sioh Bu bawa kipas lipat kemana-mana?
Sejak kapan Sioh Bu tahan punya rambut sepinggang lebih dari 24 jam?
Sejak kapan Sioh Bu pakai minyak orang-oring warna hijau?
Tidak.
Ah Me menarik napas. Dadanya sakit—bukan karena kanker, tapi karena sesuatu yang lain. Ia harus tutup mata. Ia tidak bisa mencari nafkah saat ini. Ia menggantungkan hidup dari nafkah pria asing ini. Bukan hanya untuk dirinya—tapi untuk Ah Ti.
Maka Ah Me membiarkan saja.
Ia hanya berdoa dalam hati:
Lindungi anak-anakku. Siapa pun engkau.
---
Eng Sok menggandeng tangan Ah Ti berjalan ke sekolah.
Seperti arahan Sioh Bu. "Gapapa, penting inget jalannya", kata arwah itu.
Di perjalanan, beberapa ibu-ibu menatap. Lalu berbisik. Lalu menunjuk.
"Itu... itu yang di Instagram!"
"Yang jadi antagonis psikopat itu?"
"Iya, rambutnya panjang! Ganteng banget asli! Mana wangi klasik minyak Sam Hok Liong, kayak Engkoh-engkoh old money"
Ya, minyak orang-aring Sam Hok Liong memang minyak klasik. Konon sudah ada sejak zaman Pangeran Kok Eng Sok resepnya tapi merek Sam Hok Liong sendiri baru ada 100 tahunan lalu. Meskipun begitu karena wanginya yang elegan, masih banyak pria CEO muda yang memakai minyak rambut ini di tengah gempuran pomade dan produk hair style modern. Karena khasiatnya menyehatkan rambut dan membuat rambut lebih mudah diatur dengan bahan natural.
Eng Sok tidak tahu apa itu Instagram. Tapi ia tahu ketika orang-orang mulai mendekat, mengangkat benda persegi panjang—ponsel—dan meminta foto bersama.
"Boleh foto, Mas?"
"Boleh sekalian sama adiknya?"
"Boleh selfie?"
Eng Sok menatap Sioh Bu. Sioh Bu mengacungkan jempol. Dan mengarahkan gaya.
Pangeran itu tersenyum. Ramah. Tidak dingin seperti di atas tahta. Gayanya modern mengikuti arahan Sioh Bu. Ia membungkuk sedikit—sopan, seperti pangeran menyambut tamu kerajaan.
Ah Ti di sampingnya hanya bisa melongo. Koko-nya... terkenal?
Setelah sesi foto selesai, Eng Sok pamit. "Saya ada syuting. Selamat pagi."
Ia berjalan meninggalkan sekolah dengan tenang. Kipas di tangan. Jaket jeans. Sandal gunung. Kaos "I Love You Chhai Lian Hoa".
Pangeran miskin, pikir Sioh Bu sambil terbang di sampingnya. Tapi ganteng.
---
Eng Sok naik bus jalur baru.
Di dalam bus, ia duduk dekat jendela. Memandang gedung-gedung yang berlalu. Tidak bicara. Hanya merasakan getaran roda di aspal.
Dunia ini aneh, pikirnya.
Tapi tidak seaneh istana Cia Agung.
Ia tersenyum kecil.
---
Ketika turun dari bus, ia sudah disambut suara ribut-ribut.
Beberapa sutradara—Toian Hoan, Toian Tio, dan dua orang lain yang belum pernah ia temui—sedang berdebat sengit di depan studio. Tangan mereka memegang naskah. Jari telunjuk menunjuk ke dada masing-masing.
"Lu curang ambil jadwal dia!"
"Gue bayar lebih!"
"Gue lebih dulu!"
"Kontrak sama gua tadi malem lewat chat!"
Eng Sok mendekat. Mereka tidak sadar langsung menarik-narik Eng Sok. Kayak berteriak-teriak seperti anak kecil berebut mainan.
Hingga akhirnya—
"Diam semua!"
Suara Eng Sok memotong udara.
Para sutradara membeku.
"Jelaskan. Ada apa ini?"
Eng Sok mengeluarkan kipas lipat dari saku jaketnya. Srek. Ia membukanya dengan satu tangan—gerakan cepat, presisi, penuh wibawa. Padahal ia memakai jaket jeans, Kaos oblong, Celana ketat, dan —yang paling gong— Sandal gunung.
Tapi untuk beberapa detik, para sutradara melihat bukan Sioh Bu.
Mereka melihat seorang pangeran.
Mereka berbaris rapi. Tanpa sadar.
Toian Hoan, Toian Tio, dan yang lain berdiri tegak seperti pasukan siap perang. Lalu, satu per satu, mereka pai pai—menangkupkan tangan, membungkuk.
Sioh Bu di belakang hampir terjatuh dari udara.
"Ini gila," bisik arwah itu.
Ah Oan, yang sedari tadi mengamati dari balik pintu studio, tangannya gemetar merogoh tas. Ia mengeluarkan jimat giok naga—beli semalam di klenteng. Setelah melihat keanehan rambut Sioh Bu, dia mendadak percaya Thien dan pergi sembahyang ke Klenteng. Dan dianjurkan Pendeta Tao beli jimat Giok Naga. Jimat itu ia kalungkan di lehernya. Konon mengurangi niat jahat kultivator.
"Kesambet kultivator ini si Sioh Bu," bisik Ah Oan sambil bersumpah serapah. "Mau cuan, tapi ini terlalu cuan."
---
BERSAMBUNG
---
Bagaimana Nasib Eng Sok?
Apakah dia akan diusir karena gak sopan?
🪷👩❤️👨💐.