Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Malam Perburuan & Penjara Emas yang Sunyi
Malam kian merayap larut, namun kediaman mewah keluarga David sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang hangat. Setelah duka yang menghantam di rumah sakit, Calix memutuskan untuk membawa Mireya pulang ke mansion malam itu juga. Baginya, rumah sakit bukan lagi tempat yang aman. Terlalu banyak celah, terlalu banyak mata yang mengintai.
Di dalam kamar utama, lampu sengaja diredupkan. Mireya terbaring diam di atas ranjang king size dengan selang infus yang kini terpasang di pergelangan tangan kirinya. Matanya terbuka, namun tatapannya kosong, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan pekatnya langit malam tanpa bintang.
Calix duduk di kursi tepat di samping ranjang, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung hingga siku. Wajahnya yang tegas tampak kuyu, guratan lelah dan amarah bercampur menjadi satu, menciptakan aura yang sangat mengintimidasi bagi siapa saja yang berani mendekat.
"Minum airnya sedikit, Mireya," ucap Calix lembut, suaranya parau. Ia menyodorkan sebuah gelas berisi air hangat, namun Mireya sama sekali tidak menoleh.
"Untuk apa aku minum?" bisik Mireya, suaranya sangat lirih, kering, dan nyaris tak terdengar. "Agar tubuh ini tetap hidup? Agar rahim ini tetap bisa menjaga anakmu?"
Calix mengembuskan napas berat, meletakkan kembali gelas itu ke atas nakas dengan tangan yang sedikit bergetar. Kalimat Mireya selalu saja kembali pada kontrak itu, dan setiap kali mendengarnya, dada Calix terasa seperti ditusuk sembilu.
"Ini bukan lagi soal kontrak, Mireya. Tolong jangan berpikiran seperti itu," Calix meraih jemari kanan Mireya, menggenggamnya erat-erat, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya. "Ini anak kita. Anakku, dan anakmu. Dia butuh asupan dari ibunya."
Mireya perlahan memutar kepalanya, menatap Calix dengan mata yang bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis. "Anak kita? Kamu bisa dibilang beruntung, Calix. Benihmu tumbuh di saat yang tepat. Tapi bagiku... anak ini terasa seperti pengkhianatan terhadap Aiden. Aku hamil di hari adikku dibunuh oleh orang tuaku sendiri. Bagaimana bisa aku dibilang ibu yang baik kalau perasaanku sehancur ini?"
"Mireya..." Calix tidak tahan lagi. Ia bangkit dari kursinya, lalu duduk di tepi ranjang, menarik tubuh rapuh Mireya ke dalam pelukannya. Ia menyembunyikan wajahnya di puncak kepala Mireya, meresapi aroma rambut istrinya yang menenangkan sekaligus menyayat hati. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Jangan benci kehadiran bayi ini. Menangislah, maki aku sepuasmu, tapi jangan biarkan dirimu menyerah."
Mireya tidak memberontak seperti di rumah sakit tadi. Ia hanya diam, menyandarkan tubuhnya yang lemas pada dada bidang Calix yang kokoh. Air matanya kembali mengalir tanpa suara, membasahi kemeja hitam suaminya. "Aku lelah, Calix... Aku ingin tidur, tapi setiap kali aku memejamkan mata, aku selalu melihat wajah Aiden yang membiru. Aku melihat Ibu yang tersenyum di balik masker itu..."
Calix memejamkan matanya rapat-rapat, rahangnya mengeras mendengar duka istrinya. Ia mengecup kening Mireya dengan teramat lama, mentransfer seluruh rasa aman yang ia miliki. "Tidurlah. Aku akan menjagamu di sini. Tidak akan ada satu pun monster yang bisa menyentuhmu lagi. Aku bersumpah."
Satu jam kemudian, setelah memastikan Mireya benar-benar tertidur pulas karena pengaruh obat penenang dari Dokter Januar, Calix perlahan melepaskan dekapannya. Ia menyelimuti tubuh Mireya dengan hati-hati, lalu melangkah keluar dari kamar dengan gerakan seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, ekspresi wajah Calix berubah total dalam sekejap. Kelembutan dan duka yang terpancar di depan Mireya lenyap tanpa berbekas, digantikan oleh tatapan dingin, tajam, dan penuh dengan hasrat membunuh yang pekat.
Doni sudah berdiri tegap di ujung lorong, memegang ponselnya yang terus bergetar menerima laporan dari tim lapangan.
"Bagaimana?" tanya Calix, suaranya berbisik namun terdengar sangat mengerikan di keheningan lorong mansion.
"Kami sudah mengepung posisi Ardan dan Fiona, Tuan Besar," lapor Doni dengan kepala tertunduk takzim. "Mereka bersembunyi di sebuah rumah singgah terbengkalai di pinggiran kota, dekat dengan jalur pelarian menuju luar provinsi. Tim keamanan kita sudah menutup semua akses jalan dari jarak satu kilometer."
Calix berjalan menuruni anak tangga dengan langkah yang mantap, diikuti oleh Doni dari belakang. "Lalu bagaimana dengan Bianca?"
"Wanita itu sangat cerdik, Tuan. Dia tidak ikut masuk ke rumah singgah itu. Berdasarkan pelacakan sinyal ponsel cadangannya, Bianca saat ini sedang berada di sebuah hotel melati dekat dermaga pelabuhan tikus. Sepertinya dia berencana kabur menggunakan kapal nelayan besok pagi."
Calix berhenti di anak tangga terakhir, berbalik menatap asisten pribadinya dengan senyuman sinis yang sangat dingin. "Bagus. Biarkan wanita ular itu merasa di atas angin untuk malam ini. Jangan sentuh dia dulu. Kita selesaikan urusan dengan kedua orang tua durhaka itu terlebih dahulu."
"Apakah mobil sudah siap, Doni?"
"Sudah, Tuan Besar. Tiga mobil pengawal bersenjata lengkap sudah menunggu di halaman depan."
Calix melangkah keluar menuju halaman mansion, di mana angin malam yang dingin langsung menerpa wajahnya. Ia memakai sarung tangan kulit hitamnya dengan perlahan, mengencangkannya di setiap jemari seolah sedang bersiap untuk sebuah upacara eksekusi.
"Doni, hubungi Kepala Kepolisian Daerah," perintah Calix sembari membuka pintu mobil Rolls-Royce-nya. "Katakan padanya untuk mengosongkan patroli di sektor pinggiran barat malam ini. Apa pun yang terjadi di sana, David Group yang akan bertanggung jawab penuh."
"Baik, Tuan Besar, pesan sudah disampaikan sejak satu jam yang lalu, dan mereka setuju untuk tidak ikut campur," jawab Doni dengan nada bicara yang tegas.
Calix masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang yang gelap. Ia menatap ke arah jendela kamar utama di lantai dua, di mana wanita yang dicintainya sedang berjuang melawan duka akibat pengkhianatan darah dagingnya sendiri.
"Ardan, Fiona..." gumam Calix, suaranya mendesis rendah seperti bisikan iblis dari neraka. "Kalian berdua telah salah memilih lawan. Aku akan memastikan malam ini menjadi malam terpanjang dan paling mengerikan dalam sisa hidup kalian."
Mobil mewah itu pun melaju membelah kegelapan malam, memimpin konvoi kendaraan hitam lainnya menuju pinggiran kota. Perburuan berdarah itu resmi dimulai, dan Calix David tidak akan pernah memberikan ampunan kepada siapa pun yang telah menggoreskan luka di hati istrinya.
🤭
itu berarti jebakan si zeana KW