"""Dari sekian banyak cewek, kok lu mau sih nikahin Lina yang cacat itu?""
Sekujur tubuh Lina menegang saat itu juga. Namun, yang ia dengar selanjutnya bukan pembelaan sang suami tapi gelak tawa yang disertai cibiran.
Saat itu juga, Lina tertawa miris. Padahal kakinya seperti ini karena menolong Rizky, mimpinya sebagai penari profesional sirna karena menolong Rizky, semuanya karena Rizky. Namun, semua itu tidak ada apa-apanya di hadapan kekasih pertama Rizky, Siti.
Satu kata: Cerai. Kemudian, di pertemuan berikutnya, keduanya hadir di pengadilan sebagai pihak yang berlawanan. Lina menuntut Siti dan perusahaan Rizky dengan pencemaran nama baik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9 - Keluarga yang Rusak
Pesan dari Yulia mulai masuk sejak pukul tujuh pagi.
Keira baru selesai menyiram tanaman di balkon kecil kamar utama ketika ponselnya bergetar tanpa henti. Satu pesan. Dua pesan. Lalu panggilan WhatsApp yang tidak ia angkat.
Keira, Mama mau bicara.
Angkat telepon Mama.
Ini soal Brandon.
Kamu jangan pura-pura sibuk.
Keira membaca semua pesan itu tanpa membalas.
Lima menit kemudian, pesan dari Hendra masuk.
Pulang hari ini. Papa tunggu.
Tidak ada salam. Tidak ada tanya kabar. Tidak ada apakah Keira sehat, apakah kakinya masih sakit, apakah ia bahagia di rumah Oen.
Hanya perintah.
Keira menatap layar cukup lama.
Ia sebenarnya bisa mengabaikannya. Namun mengabaikan Hendra dan Yulia tidak pernah membuat mereka berhenti. Mereka akan menelepon Bi Lina. Menelepon nomor rumah. Mengirim pesan ke Rayven dengan kalimat yang dibuat seolah Keira anak durhaka yang tidak peduli keluarga.
Keira tidak ingin Rayven tahu apa pun.
Belum.
Jadi setelah makan siang, ia memesan GrabCar ke Tangerang Selatan.
Perjalanan dari Menteng ke rumah orang tuanya memakan waktu hampir dua jam. Mobil melewati jalan besar, tol yang padat, lalu keluar ke kawasan perumahan lama yang jalanannya lebih sempit. Gedung tinggi dan pagar besar perlahan berganti menjadi rumah-rumah dua lantai dengan cat tembok mengelupas, warung kecil, kabel listrik kusut, dan motor yang parkir hampir menutup gang.
Keira melihat semuanya dari balik kaca.
Ia tumbuh di tempat seperti ini.
Sebelum rumah Oen dengan lantai marmer, sebelum meja makan untuk dua belas orang, sebelum orang-orang memanggilnya Nyonya Oen seolah gelar itu membuat hidupnya lebih tinggi, ia adalah anak perempuan keluarga Kan yang selalu diminta mengalah karena Brandon masih kecil, Brandon laki-laki, Brandon penerus keluarga.
Mobil berhenti di depan rumah berpagar hitam kusam.
Cat temboknya mengelupas di beberapa bagian. Pot tanaman di dekat pintu kering. Di teras, sandal Brandon berserakan, sementara motor sport bekas yang belum lunas cicilannya terparkir miring.
Keira membayar GrabCar dan turun.
Sebelum ia sempat mengetuk, pintu sudah dibuka.
Yulia berdiri di sana dengan wajah tegang.
"Akhirnya datang juga," ucapnya. "Mama telepon berkali-kali kamu tidak angkat."
"Aku sedang mengurus sesuatu."
"Apa yang lebih penting dari keluarga?"
Keira tidak menjawab.
Ia masuk.
Ruang tamu itu masih sama. Sofa cokelat yang busanya mulai turun. Meja kaca dengan sudut retak. Foto keluarga lama di dinding, diambil ketika Keira masih SMA dan Brandon masih SD. Dalam foto itu, Brandon berdiri di tengah, Hendra memegang bahunya, Yulia tersenyum lebar. Keira berdiri di sisi paling pinggir.
Seolah sejak awal ia memang tambahan.
Hendra duduk di kursi utama sambil memegang rokok yang belum dinyalakan. Brandon duduk di sofa, bermain ponsel. Rambutnya dicat sedikit cokelat, kausnya mahal, jam tangannya baru.
"Duduk," kata Hendra.
Keira duduk di kursi paling dekat pintu.
Yulia langsung bicara sebelum Keira sempat bertanya.
"Brandon akan menikah."
"Aku tahu."
"Keluarga calon istrinya minta rumah," lanjut Yulia. "Tidak besar. Yang penting layak. Sertifikatnya nanti atas nama Brandon dan istrinya."
Brandon masih menatap ponsel. "Lokasinya di Bintaro. Developer-nya bagus. Kalau bayar DP bulan ini dapat harga promo."
Keira memandang adiknya. "Berapa?"
Brandon menyebut angka dengan nada seolah sedang menyebut harga kopi.
"Itu baru DP," tambah Yulia cepat. "Cicilannya nanti bisa diatur. Yang penting keluarga perempuan lihat Brandon sudah siap. Kamu tahu sendiri, zaman sekarang kalau laki-laki tidak punya rumah, pihak perempuan suka meremehkan."
Keira menatap Brandon. "Kamu kerja tetap sudah berapa lama?"
Brandon mendecak. "Ci, jangan mulai."
"Aku hanya bertanya."
"Usaha online-ku jalan."
Hendra tertawa pendek. "Namanya anak muda, masih merintis. Tugas keluarga membantu dulu."
"Keluarga atau aku?"
Yulia memukul pelan pahanya sendiri, seperti Keira baru saja mengatakan sesuatu yang menyakitinya. "Kamu selalu begitu. Kalau diminta bantu, langsung hitung-hitungan. Brandon adik kandungmu, bukan orang lain."
Keira melihat meja ruang tamu. Di sana ada brosur rumah baru, simulasi cicilan, dan foto unit contoh yang dicetak warna. Semua sudah disiapkan sebelum ia datang. Mereka tidak mengajaknya berdiskusi. Mereka hanya memanggilnya untuk menyetujui.
Keira tidak terkejut.
Ia sudah terbiasa dengan cara keluarga ini meminta sesuatu. Mereka tidak pernah mulai dari apakah Keira mampu. Mereka selalu mulai dari seberapa cepat Keira harus memberikannya.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu," ucap Keira.
Hendra mendengus.
"Kamu tidak punya?" Ia menatap Keira dari kepala sampai kaki. "Kamu tinggal di rumah Menteng, suamimu direktur OEN Group, setiap hari makan dari uangnya, pakai mobilnya, tidur di rumahnya. Kamu bilang tidak punya?"
"Itu uang Rayven."
"Rayven suamimu."
"Bukan berarti uangnya milikku untuk membeli rumah Brandon."
Brandon akhirnya mengangkat wajah. "Ci, ini bukan buat foya-foya. Aku mau nikah."
Keira menatapnya.
"Kalau mau menikah, berarti kamu harus siap mengurus rumah tanggamu sendiri."
Wajah Brandon berubah.
Yulia langsung menyela, "Kamu ngomong apa sih? Dia adikmu. Kalau kakaknya sudah menikah dengan orang kaya, wajar bantu adiknya."
"Aku sudah sering membantu."
"Sering?" Hendra tertawa pendek. "Transfer bulanan yang tidak seberapa itu kamu sebut membantu? Keira, kamu ini anak perempuan satu-satunya. Kalau bukan kamu yang mengangkat keluarga, siapa lagi?"
Kalimat itu terdengar begitu biasa di mulut Hendra.
Anak perempuan.
Mengangkat keluarga.
Keira teringat masa kecilnya. Ketika uang les menarinya dipotong karena Brandon ingin masuk klub basket. Ketika ia dimarahi karena membeli sepatu latihan, sementara Brandon dibelikan konsol game baru. Ketika ia mendapatkan piala, Yulia hanya berkata jangan terlalu capek, nanti susah menikah.
"Aku tidak akan meminta Rayven membayar rumah Brandon," ucap Keira.
Ruang tamu langsung sunyi.
Hendra menatapnya. "Apa?"
"Aku tidak akan meminta Rayven membayar rumah Brandon."
Hendra berdiri.
Gelas teh di meja tersenggol tangannya dan jatuh ke lantai. Pecahannya menyebar di dekat kaki Keira. Yulia menjerit kecil. Brandon berdiri setengah, tetapi tidak mendekat.
"Kamu sekarang berani melawan Papa?"
Keira melihat pecahan kaca itu.
Dulu, suara seperti itu cukup membuat tubuhnya gemetar. Dulu ia akan cepat meminta maaf, mengambil sapu, menenangkan Yulia, berjanji akan bicara dengan Rayven.
Hari ini ia hanya berdiri.
"Aku tidak melawan. Aku hanya bilang tidak."
"Tidak?" Hendra menunjuk wajahnya. "Kamu makan dari keluarga Oen, tapi untuk keluarga sendiri pelit? Kalau dari dulu kamu tidak bisa berguna, untuk apa kami membesarkanmu?"
Yulia mendekat, suaranya lebih tajam.
"Kamu jangan lupa, kalau bukan karena keluarga ini, kamu bukan siapa-siapa. Jangan setelah jadi Nyonya Oen kamu malu sama kami."
Keira menatap ibunya.
"Aku tidak malu karena kalian miskin."
Yulia terdiam.
Keira melanjutkan, suaranya tetap pelan. "Aku malu karena kalian selalu merasa berhak menjual hidupku untuk kenyamanan Brandon."
Brandon melempar ponselnya ke sofa.
"Ci, jangan bawa-bawa namaku terus."
"Ini memang tentang kamu."
"Aku cuma minta bantuan."
"Kamu tidak minta. Kalian memerintah."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Keira mengambil tasnya.
"Aku pulang."
"Keira!" Yulia mengejarnya sampai teras. "Kamu sayapnya sudah keras ya? Dari kecil kamu memang susah diatur. Mama bilang apa pun selalu kamu bantah."
Keira berjalan ke pagar.
"Dulu aku tidak membantah," ucapnya tanpa menoleh. "Dulu aku hanya belum tahu caranya pergi."
Yulia berhenti.
Di gang sempit itu, beberapa tetangga mulai melirik dari balik jendela. Hendra berteriak dari dalam rumah, menyuruh Yulia masuk. Brandon memaki pelan, entah pada siapa.
Keira membuka aplikasi Grab dengan tangan yang sedikit dingin.
Suara Yulia masih terdengar di belakangnya.
"Kamu akan menyesal kalau keluarga sendiri tidak mau menerima kamu lagi!"
Keira menatap jalanan perumahan yang panas dan berdebu.
Ia tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ancaman itu tidak terdengar seperti hukuman.
Lebih mirip pintu yang akhirnya terbuka.
Rumah yang sejak kecil ia sebut pulang, hari itu terasa seperti tempat lain yang juga harus ia tinggalkan.
Dan kali ini, tanpa rasa bersalah.
Move on yg elegan😍😍😍
jangan cuma jadi penonton di hidup mu
tapi ternyata dampak nyanluar binasa😁
kadang kebenaran itu seperti membuka pintu ke dimensi lain bukan?
aku dimana???
aku siapa??
🤣🤣🤣
mau kasian tapi puas bgt aku ngetawain nya
Oma analoginya😁🫠
Arvin juga
CK.. menjijikan
bangga bet jadi j4l4ng 😒
bukan juga pertanggungjawaban
hanya ada rasa lega
bahwa yg perlu diselamatkan...itu selamat
mereka udah memainkan oen
dia aja yg bodoh atas nama utang Budi yg salah alamat