NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 PERSIAPAN PERANG BESAR DAN LATIHAN DI PUNCAK AWAN

Setelah serangan mendadak musuh dari utara itu mereda, ibu kota kembali tenang namun suasana damai yang dulu begitu lekat kini seakan terselip kekhawatiran yang mendalam. Lin Mo berdiri sendirian di atas menara tertinggi istana menatap ke arah utara yang masih tertutup awan gelap pekat yang perlahan menjauh namun tak sepenuhnya hilang. Cahaya ungu keemasan yang samar berkilauan di matanya yang jernih namun kini tampak penuh keseriusan yang tak pernah terlihat sebelumnya. Ia tahu bahwa musuh itu hanya mundur sementara untuk mengumpulkan kekuatan kembali. Dan ketika ia datang lagi nanti, serangannya pasti akan jauh lebih dahsyat dan jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

Lin Mo segera memanggil seluruh pejabat tinggi dan panglima pasukan untuk berkumpul di aula utama istana pagi itu. Saat ia melangkah masuk dan duduk di atas takhta emasnya, seluruh ruangan seketika menjadi sunyi senyap. Wajah setiap orang yang hadir tampak penuh kekhawatiran namun juga penuh rasa hormat dan kepercayaan kepada kaisar muda mereka yang telah menyelamatkan ibu kota dari kehancuran semalam.

Lin Mo menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang tenang namun tegas. Suaranya terdengar lantang dan jelas bergema di seluruh penjuru aula yang luas itu.

"Musuh yang menyerang kita semalam... bukanlah musuh biasa... Ia adalah musuh yang telah hidup sejak ribuan tahun silam... penuh dengan kebencian dan keserakahan yang tak pernah padam... Kekuatannya sangat dahsyat dan jumlah pasukannya tak terhitung banyaknya... Kali ini ia mundur karena belum siap sepenuhnya... Namun aku tahu... tak lama lagi ia pasti akan kembali... dan saat itu pertempuran yang sesungguhnya akan terjadi... pertempuran yang akan menentukan nasib seluruh rakyat di bawah langit..."

Lin Mo berdiri perlahan dari takhtanya dan melangkah turun menuju tengah aula. Cahaya ungu keemasan yang lembut namun teguh menyelimuti tubuhnya seakan memberi kekuatan kepada setiap orang yang mendengar kata-katanya.

"Karena itu... mulai hari ini... kita harus bersiap... Kita harus memperkuat pertahanan seluruh negeri... melatih pasukan dengan tekun... dan menyatukan hati seluruh rakyat menjadi satu... Tak ada yang boleh merasa takut... selama kita bersatu dan memegang teguh kebenaran... tak ada kekuatan gelap apa pun yang mampu menaklukkan kita..."

Lin Mo kemudian memberikan perintah-perintahnya satu per satu dengan sangat rinci dan sangat bijaksana. Chen Yu diangkat menjadi Panglima Tertinggi Seluruh Pasukan Kekaisaran dan bertugas melatih prajurit siang dan malam agar siap bertempur kapan saja. Pejabat wilayah diperintahkan untuk memastikan ketersediaan pangan dan kebutuhan rakyat di setiap penjuru negeri. Para ahli sihir dan pengrajin senjata diperintahkan untuk menciptakan senjata dan pelindung yang diperkuat dengan energi spiritual agar mampu menahan serangan kekuatan gelap musuh. Setiap orang memiliki tugas dan setiap orang memiliki peran penting dalam menghadapi bahaya yang akan datang.

Setelah seluruh perintah disampaikan dan seluruh pejabat telah berjanji untuk melaksanakannya dengan segenap jiwa raga, Lin Mo meminta mereka semua pulang dan segera memulai tugasnya. Ketika ruangan itu akhirnya sepi dan hanya tersisa dirinya sendiri, wajah tenang Lin Mo perlahan berubah menjadi penuh keseriusan yang mendalam. Ia menyadari bahwa kekuatannya saat ini belum cukup untuk mengalahkan musuh itu sepenuhnya. Jika pertempuran besar terjadi sekarang, kemungkinan besar ia akan kalah dan seluruh negeri akan hancur lebur.

Malam itu juga, Lin Mo berpamitan kepada ayahnya. Kaisar Agung menatap putranya dengan pandangan yang penuh kasih sayang sekaligus penuh kepercayaan yang tak terhingga. Ia meletakkan tangannya di bahu putranya dan berkata dengan suara yang lembut namun penuh kekuatan.

"Pergilah... Lin Mo... Tingkatkanlah kekuatanmu hingga mencapai puncaknya... Aku akan menjaga istana dan seluruh negeri sementara kau pergi... Jangan khawatir... Seluruh rakyatmu bersamamu... dan langit pun akan melindungimu..."

Lin Mo mengangguk penuh hormat dan berpelukan sejenak dengan ayahnya. Kemudian ia melesat pergi menuju arah timur jauh menuju puncak gunung tertinggi di seluruh kekaisaran yang bernama Puncak Awan Putih. Tempat itu konon adalah tempat di mana leluhur pendiri kekaisaran dulu menempuh latihan yang sangat berat hingga mencapai kekuatan yang tak tertandingi di seluruh dunia. Di sanalah Lin Mo berniat menempuh latihan yang berat dan panjang agar kekuatannya tumbuh berkali-kali lipat melampaui batas yang pernah ia capai sebelumnya.

Sesampainya di Puncak Awan Putih yang menjulang tinggi menembus awan, Lin Mo duduk bersila di atas batu datar yang luas dan halus di puncak gunung itu. Angin kencang bertiup menderu-deru menerpa tubuhnya namun Lin Mo tak bergeser sedikit pun. Ia menutup matanya rapat-rapat dan mulai mengerahkan seluruh energi qi di dalam tubuhnya berputar mengikuti jalur yang telah diketahuinya namun kali ini dikerahkan jauh lebih dalam dan jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Hari berganti malam. Malam berganti siang. Matahari terbit dan terbenam berulang kali. Lin Mo tetap duduk di sana tanpa bergerak tanpa makan tanpa tidur. Energi qi di dalam tubuhnya berputar semakin cepat semakin kuat seiring berjalannya waktu. Cahaya ungu keemasan perlahan menyala dari tubuhnya semakin lama semakin terang semakin besar hingga akhirnya menyelimuti seluruh puncak gunung itu bagaikan matahari yang tak pernah terbenam.

Namun latihan itu ternyata jauh lebih berat dari yang dibayangkan Lin Mo. Saat ia berusaha menembus batas kekuatan yang selama ini ia miliki, tiba-tiba di dalam lautan qi tubuhnya muncul rintangan yang sangat dahsyat. Dinding cahaya tebal menghadang jalannya energi qi agar tak naik lebih tinggi lagi. Lin Mo mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendobrak dinding itu namun dinding itu tak bergeser sedikit pun.

Tiba-tiba langit di atas Puncak Awan Putih berubah seketika. Awan hitam pekat berputar kencang di atas kepalanya. Angin badai bertiup kencang meniup tubuhnya hingga terasa nyeri seakan tercabik-cabik. Petir menyambar dari langit KRAK!!! KRAK!!! Menghantam tubuh Lin Mo berkali-kali. DUARRRR!!! DUARRRR!!! Lin Mo menggigit giginya dan menahan rasa sakit itu dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Ia tahu bahwa inilah ujian petir surgawi yang harus dilewati setiap kali hendak menembus batas kekuatan yang lebih tinggi. Jika ia berhasil melewatinya, kekuatannya akan berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya. Namun jika ia gagal... tubuhnya akan hancur lebur menjadi debu.

Lin Mo tak mundur. Ia justru membuka sepenuh pertahanan luar tubuhnya dan membiarkan petir menyambar tubuhnya langsung. KRAK!!! BOOOOMMMMM!!! Petir terbesar menyambar tepat di atas kepalanya. Cahaya putih menyilaukan mata menyelimuti seluruh puncak gunung. Suara ledakan itu begitu dahsyat hingga puncak gunung itu sendiri bergetar hebat dan batu-batu di sekitarnya pecah berantakan. Tubuh Lin Mo terhantam keras hingga terlempar mundur beberapa langkah. Mulutnya menyemburkan darah segar. Namun matanya tetap terbuka menatap ke atas dengan pandangan yang tak pernah menyerah sedikit pun.

"Takkan kubiarkan petir ini mengalahkanku... Selama napasku masih berhembus... Aku tak akan pernah menyerah..."

Lin Mo mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dan mengerahkan seluruh energi qi yang tersisa di dalam tubuhnya menyambut sambaran petir berikutnya. Cahaya ungu keemasan dari tubuhnya menyala terang benderang dan perlahan mulai berubah warna menjadi keemasan yang sangat murni dan sangat terang benderang. Saat petir berikutnya menyambar KRAK!!! Cahaya keemasan dari tubuh Lin Mo menyambutnya dan justru menyerap kekuatan petir itu ke dalam tubuhnya sendiri. DUARRRR!!! Suara ledakan terdengar namun kali ini tubuh Lin Mo justru semakin bersinar terang benderang. Dinding penghalang di dalam tubuhnya perlahan retak dan akhirnya pecah berkeping-keping dengan suara yang menggelegar di dalam lautan qi tubuhnya sendiri. BOOOOMMMMM!!!

Seketika itu pula energi qi di dalam tubuhnya meloncat naik berkali-kali lipat. Cahaya keemasan yang murni dan terang benderang menyelimuti seluruh tubuhnya menyebar hingga ke seluruh penjuru puncak gunung itu. Angin badai seketika reda. Awan hitam perlahan lenyap. Langit kembali biru bersih dan matahari bersinar terang benderang menyinari tubuh Lin Mo yang berdiri perlahan dengan napas yang tenang dan wajah yang tampak sama namun memancarkan kekuatan yang jauh lebih dahsyat jauh lebih murni dan jauh lebih agung dari sebelumnya.

Lin Mo mengepalkan tangannya perlahan. Ia dapat merasakan kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya begitu dahsyat seakan mampu mengangkat gunung atau membelah lautan hanya dengan satu gerakan tangan. Cahaya keemasan yang samar namun murni dan kuat berkilauan di matanya yang jernih. Ia tahu bahwa kini ia telah siap. Siap menghadapi musuh terbesar yang akan datang. Siap melindungi rakyat dan tanah kelahirannya dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Lin Mo menatap ke arah utara yang jauh itu dengan pandangan yang teguh dan tenang.

"Aku sudah menantimu... Kapan pun kau berani datang... Aku akan menunggumu di sini... Dan kali ini... kita akan menyelesaikan semuanya..."

Lin Mo pun segera melesat turun dari Puncak Awan Putih kembali menuju ibu kota. Cahaya keemasan yang samar menyelimuti tubuhnya seakan meninggalkan jejak cahaya di udara yang dilaluinya. Hatinya tenang dan penuh keyakinan. Karena ia tahu bahwa kebenaran dan keadilan selalu berdiri di pihak yang pantas memegangnya. Dan kemenangan pasti akan menjadi miliknya dan seluruh rakyat yang ia cintai.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!