NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prahara

​Gedung perkantoran PT Bangun Sejahtera yang biasanya berdengung dengan suara printer, diskusi teknis, dan tawa rendah para staf, kini terasa seperti medan perang yang dingin. Udara di lobi terasa berat, penuh dengan bisik-bisik yang langsung berhenti saat Rania melangkah masuk. Ia mengenakan setelan blazer hitam yang formal, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya dengan menggenggam erat tas kulitnya. Di belakangnya, Pak Heru berjalan dengan wajah yang kaku, seolah sedang mengawal seorang ratu menuju panggung eksekusi.

​Begitu Rania memasuki ruang rapat utama, ia disambut oleh belasan pasang mata yang tidak lagi memancarkan rasa hormat, melainkan kecurigaan dan ketakutan. Di ujung meja kayu jati yang panjang, duduk tiga orang staf senior dari divisi keuangan dan logistik. Di depan mereka, tumpukan map merah sudah menunggu.

​"Terima kasih sudah datang, Bu Rania," buka salah satu staf senior bernama Faisal dengan nada yang ketus. "Kami tahu Ibu sedang berduka, tapi dapur kami tidak bisa menunggu duka Ibu selesai. Kabar bahwa Pak Damar membawa kabur uang perusahaan sudah sampai ke telinga para vendor. Mereka menghentikan pasokan material ke proyek Cikarang pagi ini."

​Rania terperanjat. "Membawa kabur? Siapa yang menyebarkan fitnah itu, Pak Faisal? Pak Damar sedang dalam pencarian kepolisian. Tidak ada bukti dia menyentuh uang perusahaan secara ilegal!"

​"Masalahnya, Bu, token otorisasi gaji ada di tangan beliau. Dan pagi ini, lima orang staf admin dan tiga pengawas lapangan sudah menyerahkan surat pengunduran diri," Faisal melemparkan beberapa amplop putih ke tengah meja. "Mereka menuntut gaji bulan ini dibayar penuh hari ini juga, ditambah pesangon. Mereka takut perusahaan ini akan pailit dalam hitungan hari jika Pak Damar tidak ditemukan."

​Rania menatap amplop-amplop itu dengan perasaan hancur. Staf-staf ini adalah orang-orang yang sering dijamu Damar di rumah mereka. Orang-orang yang Damar bantu saat anak-anak mereka sakit. Sekarang, saat kapten kapal hilang, mereka adalah yang pertama mencoba melompat dari sekoci sambil membawa bagian dari kapal yang bocor.

​"Tolong, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu... beri saya waktu," suara Rania mulai bergetar. "Saya akan bicara dengan bank. Saya akan menjamin dengan aset pribadi saya jika perlu."

​Belum sempat Faisal membalas, pintu ruang rapat terbuka kasar. Seorang pria paruh baya dengan wajah merah padam masuk tanpa permisi. Dia adalah Pak Broto, klien utama dari proyek pergudangan yang menjadi nyawa kantor ini.

​"Mana Damar?!" teriak Pak Broto, menggebrak meja hingga cangkir kopi di atasnya berguncang. "Proyek saya mandek! Para kuli duduk-duduk saja karena semen tidak datang! Saya sudah bayar DP lima miliar, dan sekarang kontraktornya hilang seperti ditelan bumi?"

​"Pak Broto, mohon tenang..." Pak Heru mencoba menengahi.

​"Tenang?! Saya punya tenggat waktu dengan investor luar negeri! Karena Damar tidak bisa dihubungi dan tidak ada kemajuan di lapangan selama tiga hari ini, saya nyatakan kontrak batal demi hukum! Pengacara saya sudah menyiapkan denda wanprestasi sebesar lima belas persen dari nilai kontrak. Itu tiga miliar, Ibu Rania! Dan saya mau uang itu kembali minggu depan!"

​Rania merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu tersedot keluar. Tiga miliar. Denda itu cukup untuk meruntuhkan seluruh tabungan dan aset yang mereka miliki. Pandangannya mulai berpendar. Suara teriakan Pak Broto, tuntutan gaji dari Faisal, dan bisik-bisik di luar ruangan menyatu menjadi dengungan yang memekakkan telinga.

​"Rapat ini belum selesai!" Faisal menyela lagi, tidak memedulikan kehadiran Pak Broto. "Bagaimana dengan nasib kami? Kami butuh kepastian sekarang! Kalau tidak ada uang tunai sore ini, kami akan lapor ke Dinas Tenaga Kerja!"

​Rapat yang Rania pikir akan menjadi momen untuk saling menguatkan, ternyata berubah menjadi ajang penghakiman. Alotnya negosiasi, tekanan dari klien yang murka, dan pengkhianatan dari staf yang ingin hengkang membuat ruang rapat itu terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap.

​Rania mencoba berdiri, ingin mengatakan sesuatu untuk membela martabat suaminya, namun rasa mual yang luar biasa tiba-tiba menghantam ulu hatinya. Perutnya melilit hebat, dan rasa pening yang tajam menusuk dari belakang kepalanya hingga ke pelipis.

​"Saya... saya akan..." kalimat Rania terputus.

​Dunia di sekelilingnya tiba-tiba melambat. Wajah marah Pak Broto dan Faisal perlahan memudar menjadi kabur. Rania merasakan dingin yang menjalar dari ujung kakinya. Ia mencoba meraih pinggiran meja, namun tangannya kehilangan tenaga. Suara gaduh di ruangan itu tiba-tiba sunyi senyap, digantikan oleh kegelapan total.

​Brukk!

​Tubuh Rania ambruk ke lantai karpet ruang rapat.

​"Ibu Rania! Astaga!" teriak Pak Heru panik.

​Suasana berubah menjadi kacau balau. Pak Heru segera mengangkat tubuh Rania yang sudah pucat pasi. Ia tidak menunggu ambulans; ia tahu setiap detik sangat berharga. Dengan bantuan seorang supir kantor, Rania digotong menuju mobil. Pak Broto dan staf lainnya terdiam, sejenak merasa bersalah melihat wanita muda itu tumbang di bawah beban yang seharusnya tidak ia pikul sendirian.

​Di rumah, Ibu Lastri dan Bapak Suprapto sedang menyiapkan makan siang sederhana saat mobil kantor Damar berhenti dengan decit rem yang kasar. Pak Heru keluar sambil membopong Rania yang masih tak sadarkan diri.

​"Gusti Allah! Rania!" pekik Ibu Lastri, menjatuhkan piring yang ia pegang.

​"Ada apa ini?! Apa yang kalian lakukan pada menantu saya?!" Bapak Suprapto menghampiri dengan wajah garang, jantungnya berdegup kencang melihat Rania lemas tak berdaya.

​"Ibu pingsan saat rapat, Pak. Tekanannya terlalu besar," lapor Pak Heru dengan suara gemetar.

​Bapak Suprapto tidak banyak tanya lagi. "Bawa ke mobil saya! Kita ke Rumah Sakit terdekat sekarang! Cepat!"

​Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Ibu Lastri memangku kepala Rania, terus membisikkan doa dan mengusap kening menantunya dengan minyak kayu putih. Rania sempat siuman sebentar, mengerang kesakitan sambil memegangi perut bawahnya, lalu kembali memejamkan mata dengan raut wajah menahan perih.

​Sesampainya di Unit Gawat Darurat, Rania segera dilarikan ke ruang tindakan. Seorang dokter jaga dan dua perawat memeriksa tanda-tanda vitalnya. Bapak Suprapto dan Ibu Lastri menunggu di lorong dengan kecemasan yang memuncak. Pria tua itu berjalan mondar-mandir, sesekali memukul dinding dengan telapak tangannya, menyesali mengapa ia membiarkan Rania pergi ke kantor terkutuk itu.

​Tiga puluh menit kemudian, seorang dokter wanita keluar dengan wajah serius. "Keluarga dari Ibu Rania?"

​"Saya bapaknya, Dok. Bagaimana keadaan menantu saya?" tanya Bapak Suprapto cepat.

​Dokter itu menghela napas, menatap kedua orang tua itu bergantian. "Ibu Rania mengalami kelelahan ekstrem dan stres akut. Tekanan darahnya sangat rendah. Tapi yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi kandungannya."

​Bapak Suprapto dan Ibu Lastri terpaku. "Kandungan?" tanya Ibu Lastri dengan suara bergetar. "Rania... hamil?"

​"Benar, Bu. Usia kandungannya baru masuk minggu keenam. Ini masa yang sangat rentan. Karena stres yang terlalu berat dan kurangnya asupan nutrisi beberapa hari terakhir, Ibu Rania mengalami ancaman keguguran atau abortus imminens. Ada sedikit flek pendarahan yang kami temukan."

​Ibu Lastri langsung menutup mulutnya, air matanya tumpah seketika. Antara bahagia mendengar akan ada cucu, namun hancur mengetahui nyawa kecil itu sedang di ujung tanduk.

​"Dia harus menjalani bed rest total," lanjut dokter. "Tidak boleh ada beban pikiran, tidak boleh banyak bergerak. Kami akan memberikan penguat kandungan melalui infus. Jika dalam dua puluh empat jam ke depan pendarahannya tidak berhenti, kami khawatir janinnya tidak bisa dipertahankan."

​Bapak Suprapto terduduk di kursi tunggu, bahunya yang biasanya tegap kini merosot. Ia merasa gagal. Ia gagal menjaga menantunya, dan ia gagal menjaga calon cucunya dari kebiadaban situasi yang diciptakan oleh putranya sendiri.

​"Damar... teganya kamu, Nak," bisik Bapak Suprapto dengan suara parau. "Istrimu sedang bertaruh nyawa membawa darah dagingmu, dan kamu malah menghilang entah ke mana."

​Di dalam ruang perawatan, Rania perlahan membuka matanya. Ia melihat botol infus yang menggantung di atasnya. Rasa sakit di perutnya masih ada, namun yang lebih menyakitkan adalah rasa sepi yang kembali menghujam. Ia mengusap perutnya dengan tangan yang tertancap jarum infus.

​"Jangan pergi, Nak," bisiknya dengan air mata yang mengalir ke pelipis. "Ibu mohon, jangan tinggalkan Ibu seperti Ayahmu."

​Pintu kamar terbuka pelan. Ibu Lastri masuk, langsung memeluk tubuh Rania sambil terisak. "Kenapa kamu tidak bilang, Nak? Kenapa kamu simpan sendiri kabar bahagia ini di tengah penderitaanmu?"

​Rania hanya bisa menangis dalam diam. Ia tidak bisa mengatakan bahwa kehamilan ini adalah pengingat paling nyata akan pengkhianatan Damar. Ia tidak bisa mengatakan bahwa setiap kali ia memikirkan bayi ini, ia teringat pada ruko tua berisi wig dan gaun sutra itu.

​Malam itu, rumah sakit yang sunyi menjadi saksi rapuhnya sebuah harapan. Rania terbaring lemah, dijaga oleh dua orang tua yang hancur hatinya, sementara di luar sana, badai di kantor Damar masih mengancam untuk meruntuhkan segalanya. Namun bagi Rania, saat ini hanya ada satu misi: mempertahankan detak jantung kecil di dalam dirinya, satu-satunya alasan yang tersisa baginya untuk tetap bernapas di tengah dunia yang telah memunggunginya.

​Tiba-tiba, ponsel Rania yang diletakkan di atas nakas bergetar. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan sebuah pesan singkat yang membuat jantung Rania seolah berhenti berdetak:

​“Jaga kesehatanmu, Rania. Maafkan aku atas beban yang harus kau pikul.”

​Rania gemetar. Ia mencoba membalas, namun nomor itu sudah tidak aktif lagi. Air mata Rania jatuh semakin deras. Damar tahu. Dia memperhatikan dari kegelapan, namun ia tetap memilih untuk tidak menampakkan diri.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!