NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 19: Badai Andromeda

Ruang hampa di atas atmosfer Bumi tidak lagi sunyi. Ribuan gerbang warp terbuka, mengeluarkan kapal-kapal induk dari Galaksi Andromeda yang berbentuk seperti salib perak raksasa.

Energi yang mereka pancarkan begitu besar hingga mengganggu gravitasi Bumi, menyebabkan pasang air laut yang ekstrem di bawah sana.

Whirrr...

Raka melayang di garis depan, mencengkeram leher Xaria yang masih lemas akibat radiasi Matahari Kehampaan. Di belakang Raka, sebuah pemandangan yang tak pernah ia duga terjadi.

Syuuuuutttt!

Ribuan titik cahaya emas melesat dari permukaan Bumi. Itu bukan roket, melainkan para Ksatria Surya, penduduk Bumi yang selama sepuluh tahun ini dilatih oleh Raka dan Bumi untuk menguasai fragmen energi matahari.

Di barisan paling depan, memimpin mereka, adalah Bumi, putra Raka, yang kini mengenakan zirah emas murni dengan pedang cahaya yang membara.

"Ayah! Bumi tidak akan membiarkanmu bertarung sendirian lagi!" seru Bumi lewat transmisi sukma.

"Legiun Surya, bentuk Formasi Perisai Jagat!" perintah Raka. Suaranya menggema ke seluruh ruang angkasa, didengar oleh setiap pejuang Bumi.

Sebelum gelombang pertama musuh menyerang, Raka merasakan Matahari ke-11 (The Void Sun) di punggungnya mulai menggerogoti kewarasannya. Energi kehampaan itu sangat dingin dan menuntut pengorbanan emosi.

"Raka... kau mulai kehilangan dirimu," bisik Xaria dalam cengkeramannya, tersenyum sinis meski bibirnya berdarah.

"Kehampaan akan menelan cintamu, memorimu, dan akhirnya... kemanusiaanmu."

"Jangan dengarkan dia, Raka!" Suara Vanya membentak dari dalam batin.

"Masuklah ke dalam, sekarang!"

Dalam hitungan detik yang terasa di alam bawah sadar, Raka menarik kesadaran Vanya keluar dari sukmanya untuk menstabilkan energinya. Di tengah ruang hampa, dalam gelembung pelindung yang tak terlihat oleh kasat mata musuh, sosok Vanya mewujud secara spiritual, setengah transparan namun sangat nyata bagi indra Raka.

Vanya merangkul Raka, menarik tubuh suaminya itu ke dalam dekapannya. Di tengah ancaman jutaan senjata laser Andromeda, mereka melakukan penyatuan energi yang panas dan mendesak.

Raka memeluk lekuk tubuh spiritual Vanya yang indah, merasakan getaran energinya yang menenangkan keganasan Matahari Kehampaan.

Vanya merasakan, menyandarkan kepalanya di bahu Raka sambil menyalurkan esensi "kehidupan" ke dalam "kehampaan" Raka.

Penyatuan raga dan sukma mereka di ambang peperangan ini adalah sebuah ritual penyeimbang.

Raka mencium Vanya dengan rasa sayang yang indah, menghisap keberadaan Vanya untuk tetap menjadikannya "manusia". Gairah yang meledak di antara mereka menjadi jangkar yang mencegah Raka berubah menjadi lubang hitam yang tak terkendali.

Raka menggeram rendah, merasakan kekuatannya kembali terfokus. Ia melepaskan Vanya kembali ke dalam dirinya, kini dengan mata yang lebih tajam dan terkendali."

Raka Sudah siap menghadapinya, setelah penyatuan itu selesai. "SERANG!" teriak Raka.

BOOOMMMM!

Pertempuran pecah. Ribuan laser hitam dari armada Andromeda bertabrakan dengan panah-panah cahaya dari Legiun Surya."

Raka melesat seperti kilat hitam di tengah formasi musuh. Setiap kali ia mengayunkan tangannya, satu kapal induk Andromeda terlipat masuk ke dalam dirinya sendiri dan menghilang menjadi titik nol.

Duar!

Bumi, putra Raka, menunjukkan taringnya. Ia menebas kapal-kapal tempur kecil dengan kelincahan yang luar biasa.

"Kekuatan Mataharinya: Badai Api Surgawi!" teriak Bumi. Sebuah pusaran api menyapu ratusan drone musuh.

Namun, Andromeda tidak tinggal diam. Mereka melepaskan senjata pamungkas: The Star Crusher. Sebuah meriam energi yang ditenagai oleh bintang yang diledakkan.

Zzzzzzzzzzt...

Sinar merah raksasa, selebar benua Asia, ditembakkan langsung ke arah planet bumi.

"TIDAK!" teriak Sekar dari ruang pantau di permukaan Bumi.

Raka tidak punya pilihan. Ia harus menggunakan teknik terlarang dari Matahari ke-11. Ia melempar Xaria ke arah Bumi (putranya).

"Bumi! Jaga dia! Dia adalah kunci untuk mematikan pusat komando mereka!"

Raka memposisikan dirinya tepat di jalur sinar Star Crusher. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar.

"Matahari ke-11: Singularitas Pembalik Takdir!"

Glaaarrrrrrrr!

Seluruh ruang angkasa di sekitar Raka melengkung. Sinar merah raksasa itu tidak meledak, melainkan mulai melambat dan berputar mengelilingi Raka, membentuk cakram energi yang sangat padat.

Raka berteriak kesakitan, kulitnya mulai mengelupas, memperlihatkan cahaya putih murni di baliknya. "Kembalikan... kepada... PENCIPTANYA!"

BOOOOOOMMMMMMMM!

Raka membalikkan energi Star Crusher tersebut kembali ke arah armada Andromeda dengan kekuatan dua kali lipat.

Ledakan dahsyat itu menghancurkan sepertiga dari seluruh armada musuh dalam satu serangan tunggal. Gelombang kejutnya terasa hingga ke bulan, menciptakan kawah baru di permukaannya.

Hening sejenak. Raka terengah-engah, tubuhnya mengeluarkan uap emas. Namun, dari balik asap ledakan, muncul sebuah kapal yang jauh lebih besar dari yang lain.

Kapal itu tidak terbuat dari logam, melainkan dari struktur kristal yang sama dengan yang ada di Wilayah Daulat.

"Pewaris yang membangkang..." sebuah suara kuno terdengar. "Kau telah menghancurkan mainan kami. Sekarang, biarkan Sang Arsitek sendiri yang menanganimu."

Sesosok raksasa cahaya setinggi bulan muncul dari kapal tersebut. Ia memegang sebuah palu yang jika diayunkan, bisa menghancurkan satu sistem tata surya.

Raka menyadari bahwa ini bukan lagi soal teknologi atau sihir. Ini adalah pertarungan melawan entitas yang merancang seluruh alam semesta.

"Vanya... Sekar... Bumi..." bisik Raka. "Sepertinya aku harus membangunkan Matahari terakhir."

"Raksasa cahaya yang menyebut dirinya Sang Arsitek mengangkat palu raksasanya tinggi-tinggi.

Setiap gerakan tangannya mengoyak ruang dan waktu, menciptakan retakan-retakan hitam di atmosfer luar Bumi.

"Kau adalah anomali dalam rancanganku, Raka," suara Sang Arsitek bukan lagi suara manusia, melainkan harmoni dari jutaan frekuensi radio galaksi.

"Segala sesuatu yang memiliki awal harus memiliki akhir. Dan akhirmu... adalah sekarang."

Palu itu diayunkan.

Wussshhh!

Tekanan udaranya saja sudah cukup untuk melempar ribuan kapal Legiun Surya kembali ke atmosfer Bumi.

Raka mencoba menahannya dengan perisai Matahari Kehampaan, namun perisai itu hancur berkeping-keping seperti kaca.

PRANGGG!

Raka terhempas, tubuhnya menghantam satelit-satelit yang mengorbit Bumi hingga meledak.

BOOMS!

"Ayah!" Bumi berteriak, mencoba melesat membantu, namun ia tertahan oleh tembok energi transparan yang diciptakan Sang Arsitek.

"Raka... dia bukan dewa, dia adalah hukum fisika itu sendiri," suara Vanya bergetar hebat di dalam batin Raka.

"Kau tidak bisa melawannya sendirian. Kau butuh jangkar kemanusiaan yang lebih kuat dari sekadar memori. Kau butuh Sekar." Kau butuh Penyatuan Tritunggal."

Raka mengerti yang di maksud Vanya, langsung memejamkan mata di tengah kehampaan ruang angkasa yang membeku. Dengan sisa energinya, ia mengaktifkan "Tautan Jiwa Terlarang". Di permukaan Bumi, Sekar yang sedang berdoa di dalam kuil tiba-tiba merasa jiwanya ditarik keluar.

Dalam sekejap, di dalam dimensi mental Raka, sebuah ruang putih tanpa batas, tiga entitas bertemu: Raka (Sang Kekuatan), Vanya (Sang Roh), dan Sekar (Sang Darah).

"Sekar... Vanya... aku butuh kalian," bisik Raka.

Di dimensi mental ini, mereka bertiga berdiri tanpa helai benang pun, simbol dari kejujuran sukma yang paling murni.

Sekar mendekat, menyentuh dada kiri Raka dengan tangan gemetar, sementara Vanya memeluk Raka dengan sayap cahaya peraknya.

"Ambil apa pun yang kau butuhkan dari diriku, Raka," Bisik Sekar. Ia menarik kepala Raka, menciumnya, dengan mengandung seluruh rasa cinta dan pengorbanannya selama bertahun-tahun."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!