NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arus Bawah Jakarta

Jakarta di malam hari adalah labirin cahaya yang menipu. Di balik kemegahan gedung pencakar langit yang memantulkan lampu neon, terdapat denyut nadi kekuasaan yang kotor dan mematikan. Jet pribadi keluarga Arkana mendarat di bandara logistik kecil milik militer di pinggiran kota, jauh dari pantauan publik dan radar komersial.

Baskara sudah menunggu di apron, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Di sekelilingnya, tiga puluh personel keamanan elit Nusantara membentuk barikade manusia.

"Situasi di Jakarta sedang memanas, Tuan," bisik Baskara saat Kenzo turun dari pesawat dengan menggendong Adrian yang tertidur, sementara Aara berjalan di sampingnya dengan kewaspadaan predator. "Kematian Jenderal Wiryo dan Ibu Ratna menciptakan kekosongan kekuasaan. Sisa Dewan Delapan lainnya sekarang bersembunyi, ketakutan bahwa mereka adalah target berikutnya."

Kenzo masuk ke dalam SUV lapis baja yang sudah menunggu. "Siapa yang menggerakkan serangan frekuensi itu, Baskara? Tidak mungkin Sekar melakukannya sendirian."

"Kami menemukan jejak transmisi dari kapal kargo yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok," jawab Baskara. "Kapal itu terdaftar atas nama perusahaan cangkang di Panama, namun protokol enkripsinya identik dengan apa yang pernah digunakan oleh *The Collector*."

Aara, yang sedang membuka laptopnya untuk memindai jaringan satelit pelabuhan, mendongak. "Aku tahu itu. Siapa pun yang memimpin mereka sekarang, mereka ingin memancing kita keluar ke tempat terbuka. Mereka menggunakan Dewan Delapan sebagai umpan."

Keluarga Arkana tidak kembali ke Puri Pratama. Mereka memilih untuk "bersembunyi di tempat terang" sebuah penthouse di Hotel Merdeka yang terletak tepat di jantung kawasan bisnis Jakarta. Hotel ini memiliki sistem keamanan yang terintegrasi dengan jaringan Nusantara.

Pagi harinya, sebuah undangan fisik tiba di meja resepsionis hotel. Undangan itu terbuat dari plat baja tipis dengan grafir lambang The Hive yang telah dimodifikasi.

Kepada Sang Alpha,

Tahta Nusantara terlalu besar untuk seorang anak kecil. Mari kita bicarakan masa depan Asia Tenggara di lantai 88 Menara Astra malam ini. Datanglah sendiri, atau Jakarta akan melihat lebih banyak 'kematian alami' di kalangan elitnya.*

Sang Kurator

"Sang Kurator?" Aara mendengus. "Nama yang sangat membosankan. Sepertinya setiap penjahat kelas berat merasa perlu memiliki nama panggilan yang dramatis."

Kenzo memeriksa senjatanya, memastikan peluru kaliber .45-nya sudah terisi penuh. "Dia ingin aku datang sendiri. Tapi kita tahu itu tidak akan terjadi."

"Papa, aku ingin ikut," suara Adrian memecah ketegangan. Bocah itu berdiri di dekat jendela, menatap hutan beton Jakarta. "Aku bisa merasakan mereka. Ada mesin besar yang sedang berputar di bawah kota ini. Mereka menunggu frekuensiku."

Kenzo berlutut di depan putranya. "Adrian, ini bukan lagi latihan di Meratus. Ini adalah perang yang sebenarnya."

"Aku tahu, Papa. Tapi di Meratus, Dr. Elina bilang kekuatanku adalah kunci. Jika mereka punya mesin frekuensi, hanya aku yang bisa mematikannya tanpa perlu meledakkan seluruh gedung," ucap Adrian dengan ketenangan yang mengerikan.

Pukul 21.00 WIB.

Menara Astra tampak sunyi, namun sensor Aara mendeteksi ratusan tanda panas di dalam gedung tersebut. Kenzo masuk melalui lobi utama sebagai pengalih perhatian, mengenakan setelan jas hitam yang menyembunyikan rompi anti-peluru dan berbagai senjata tajam.

Sementara itu, Aara dan Adrian masuk melalui jalur pemeliharaan lift menggunakan peralatan pendaki taktis. Adrian digendong di punggung Aara dalam sebuah tas gendong khusus yang dirancang untuk melindunginya dari benturan.

"Leo, kau sudah masuk?" bisik Aara ke *earpiece*-nya.

"Aku sudah di dalam sistem, Nyonya," suara Leo terdengar stabil dari Zurich. "Aku sedang mengunci lift dan mematikan kamera di lantai 88. Kalian punya jalur bersih, tapi hati-hati... ada sinyal frekuensi aneh yang mulai memancar dari puncak menara."

Di lantai 88, Kenzo keluar dari lift dan disambut oleh ruangan luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan 360 derajat Jakarta. Di tengah ruangan, duduk seorang pria muda dengan rambut klimis dan kacamata perak. Di sampingnya terdapat sebuah tabung besar yang berdenyut dengan cahaya biru.

"Kenzo Arkana. Selamat datang di masa depan," sapa pria yang menyebut dirinya Sang Kurator. "Aku adalah anak didik Miller yang paling cerdas. Dia terlalu terobsesi dengan biologi, sementara aku... aku lebih suka fisika. Gelombang mikro bisa membunuh jauh lebih bersih daripada serum mana pun."

Kenzo tidak berhenti berjalan. "Kau membunuh Wiryo dan Ratna hanya untuk pamer?"

"Aku membunuh mereka untuk menunjukkan pada Nusantara bahwa pelindung lama mereka sudah usang," Kurator berdiri. "Serahkan anak itu padaku, dan aku akan membiarkanmu menjadi penguasa boneka di Indonesia. Jika tidak, aku akan menyalakan pemancar ini dengan kekuatan penuh. Dalam radius lima kilometer, setiap orang yang memiliki alat pacu jantung atau implan saraf akan mati seketika."

Tiba-tiba, suara tawa kecil terdengar dari langit-langit. Aara melompat turun dari lubang ventilasi, mendarat dengan anggun di samping Kenzo, lalu menurunkan Adrian dari punggungnya.

"Maaf, Kurator. Tapi anak ini tidak suka berbagi mainan," ucap Aara sambil mengarahkan pistolnya ke arah tabung biru tersebut.

Kurator tersenyum sinis. "Tembak saja. Tabung itu dilapisi pelindung elektromagnetik. Pelurumu tidak akan berpengaruh."

Adrian melangkah maju. Ia melepaskan liontin *King*-nya dan memegangnya erat. Matanya mulai berkilat perak, namun kali ini bukan pendaran yang liar. Itu adalah cahaya yang terfokus, seperti sinar laser.

"Kau menggunakan frekuensi 432 hertz untuk memengaruhi jantung, kan?" tanya Adrian datar. "Itu frekuensi yang sangat kasar."

Kurator tertegun. "Bagaimana kau bisa tahu—"

Adrian menutup matanya. Gelombang energi yang tidak terlihat mulai terpancar dari tubuh kecilnya. Ruangan itu mulai bergetar. Kaca-kaca jendela mulai retak, bukan karena ledakan, tapi karena resonansi yang presisi.

Tabung biru milik Kurator mulai mengeluarkan suara berdenging yang menyakitkan. Cahayanya berubah dari biru menjadi merah tua, lalu mulai berasap.

"Berhenti! Kau akan menghancurkan seluruh sistem!" teriak Kurator panik. Ia mencoba meraih remote kontrolnya, namun tangannya tiba-tiba membeku di udara, persis seperti para pembunuh di Puri Pratama dulu.

"Papa, sekarang," bisik Adrian.

Tanpa membuang sedetik pun, Kenzo menerjang maju. Dengan satu gerakan cepat, ia mematahkan tangan Kurator dan menghantamkan kepalanya ke meja kaca. Aara melepaskan tembakan ke arah sambungan kabel utama tabung tersebut saat Adrian berhasil melumpuhkan perisai elektromagnetiknya dari dalam.

*BOOM!*

Tabung itu meledak dalam percikan listrik yang hebat, mematikan seluruh sistem frekuensi di gedung itu.

Dengan hancurnya mesin frekuensi Kurator, ancaman langsung terhadap Nusantara sirna. Kenzo menyeret Kurator yang sudah tidak berdaya ke tepi jendela yang pecah.

"Dengarkan aku, Kurator kecil," bisik Kenzo dengan suara yang sangat dingin. "FBA sudah jatuh. *The Hive* sudah habis. Jika kau atau sisa-sisa pengikut Miller lainnya mencoba masuk ke Indonesia lagi, aku tidak akan hanya membunuh kalian. Aku akan menghapus keberadaan kalian dari sejarah."

Kenzo tidak menjatuhkannya. Ia melemparkan Kurator ke arah pasukan Baskara yang baru saja merangsek masuk melalui tangga darurat. "Bawa dia. Pastikan dia menceritakan semua rahasianya sebelum dia... menghilang."

Aara memeluk Adrian, yang tampak sangat lelah setelah menggunakan kekuatannya. "Kau hebat, Sayang. Kau benar-benar menyelamatkan kota ini."

Adrian tersenyum lemah dan tertidur di pelukan ibunya.

Malam itu, Jakarta tetap bersinar, tidak menyadari bahwa di puncak salah satu gedung tertingginya, sebuah perang frekuensi baru saja dimenangkan oleh seorang bocah berusia empat tahun. Keluarga Arkana kini berdiri di atas reruntuhan rencana musuh mereka.

Nusantara telah dibersihkan. Namun, di kejauhan, di layar laptop Kurator yang masih menyala, sebuah peta baru muncul. Kali ini, sasarannya bukan lagi Indonesia, melainkan aliansi yang lebih besar di Singapura.

"Perjalanan kita baru saja dimulai, Kenzo," ucap Aara sambil menatap peta tersebut.

Kenzo mengangguk, menggandeng tangan istrinya sambil menatap matahari terbit yang mulai menyapu cakrawala Jakarta. "Biarkan mereka datang. Kita punya seluruh Asia untuk dimenangkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!