Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Bau antiseptik yang tajam adalah hal pertama yang menusuk indra penciuman Aeryn. Ia mencoba membuka matanya, namun kelopak matanya terasa seberat timah. Cahaya lampu neon di langit-langit terasa menyilaukan, memaksanya untuk kembali terpejam sesaat. Tenggorokannya terasa kering dan perih, sisa-sisa sesak napas yang mencekik semalam masih meninggalkan jejak trauma di dadanya.
"Jangan dipaksa. Kau masih di bawah pengaruh obat."
Suara bariton itu rendah, tenang, namun memiliki daya tarik yang membuat Aeryn seketika waspada. Ia menoleh perlahan. Di samping tempat tidurnya, duduk seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Xavier Arkananta tidak terlihat seperti biasanya. Dasinya sudah hilang, dua kancing teratas kemejanya terbuka, dan ada bayangan lelah di bawah matanya yang tajam.
Xavier tidak sedang menatapnya. Ia fokus pada tablet di tangan kiri dan setumpuk dokumen di pangkuannya.
"Xavier?" suara Aeryn keluar sebagai bisikan parau yang hampir tidak terdengar.
Xavier meletakkan dokumennya di meja kecil, lalu bergeser mendekat. Ia mengambil segelas air putih dengan sedotan dan mengarahkannya ke bibir Aeryn. "Minum sedikit. Kau mengalami syok anafilaksis yang cukup parah. Dokter bilang jika kita terlambat lima menit saja, paru-parumu mungkin sudah menyerah."
Aeryn menyesap air itu dengan rakus. Rasa sejuknya sedikit meredakan bara di tenggorokannya. Setelah merasa cukup, ia menyandarkan kepalanya kembali ke bantal empuk rumah sakit.
"Jam berapa sekarang?" tanya Aeryn, suaranya sedikit lebih jelas.
"Pukul empat pagi."
Aeryn tertegun. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang lebih mirip kamar hotel presidential suite daripada bangsal rumah sakit. "Kau... kau di sini sepanjang malam?"
"Aku tidak suka meninggalkan pekerjaan yang belum selesai," jawab Xavier datar, kembali mengambil dokumennya.
"Kau bisa menyuruh Hugo. Atau asistenmu yang lain. Kenapa kau sendiri yang menunggu di sini?"
Xavier menghentikan gerakan pulpennya di atas kertas. Ia menatap Aeryn datar. "Hugo sedang sibuk mengurus laporan kepolisian untuk Bianca dan mengawasi penutupan akses perbankan Kaelan. Lagi pula, rumah sakit ini milik Arkananta Group. Aku punya hak untuk mengawasi pasien yang paling merepotkan di sini."
Aeryn terdiam. Ia tahu Xavier berbohong tentang alasan "pekerjaan". Seorang pria sekelas Xavier tidak perlu menginap di rumah sakit hanya untuk memeriksa laporan tahunan.
"Terima kasih," bisik Aeryn. "Untuk semalam. Aku tidak menyangka Bianca akan senekat itu."
"Dia bukan nekat. Dia bodoh," potong Xavier tajam. "Hanya orang bodoh yang mencoba membunuh orang lain di depan saksi mata yang bisa membeli seluruh hidupnya. Aku sudah memastikan dia tidak akan bisa menyentuh makananmu lagi, atau siapa pun, dalam waktu dekat."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hanya ada suara detak jam dinding dan gesekan pulpen Xavier. Aeryn memperhatikan tangan Xavier yang bergerak lincah. Tangan yang semalam memeluknya dengan begitu posesif. Ingatan tentang kemarahan Xavier di meja makan tadi malam melintas di benaknya. Ia belum pernah melihat Xavier seberingas itu.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat. Xavier segera meletakkan pekerjaannya dan berdiri.
"Letakkan di sini," perintah Xavier pada perawat itu.
"Biar saya yang menyuapi Nyonya, Tuan," tawar perawat itu sopan.
"Tidak perlu. Kau boleh keluar."
Aeryn menaikkan alisnya saat perawat itu keluar dengan wajah tertunduk. Xavier menarik kursi lebih dekat ke tempat tidur, mengambil mangkuk bubur itu, dan mengaduknya perlahan.
"Aku bisa makan sendiri, Xavier. Tanganku hanya lemas, tidak lumpuh," protes Aeryn saat melihat Xavier mengambil sesendok bubur.
"Buka mulutmu, Aeryn. Kau bahkan hampir tidak bisa memegang gelas tadi."
"Xavier, ini berlebihan. Kau tidak perlu melakukan ini."
Xavier menghentikan sendoknya di depan bibir Aeryn. Matanya menatap Aeryn dengan intensitas yang membuat napas wanita itu sedikit tercekat. "Kontrak kita menyatakan bahwa kau adalah tanggung jawabku. Dan aku tidak suka gagal dalam menjaga asetku. Buka."
Aeryn akhirnya menyerah. Ia membuka mulutnya, membiarkan rasa hangat bubur itu masuk ke dalam tubuhnya. Suasana menjadi sangat canggung. Xavier menyuapinya dengan telaten, tanpa ekspresi, namun gerakannya sangat lembut.
"Kau membatalkan pertemuan dengan dewan komisaris hari ini?" tanya Aeryn di sela-sela suapannya, matanya menangkap notifikasi jadwal di tablet Xavier yang menyala.
"Hanya beberapa pertemuan tidak penting," jawab Xavier enteng.
"Rapat umum pemegang saham bukan pertemuan tidak penting, Xavier. Kau melewatkan kesepakatan bernilai triliunan hanya untuk duduk di sini?"
Xavier meletakkan mangkuk yang sudah kosong setengah itu. Ia mengambil tisu dan mengusap sudut bibir Aeryn dengan gerakan yang sangat lambat, membuat jantung Aeryn berdebar tidak keruan.
"Uang bisa dicari, Aeryn. Tapi aku tidak suka rencanaku berantakan karena pasanganku sedang terbaring lemah," Xavier berdiri, menjauhkan nampan itu. "Tidurlah lagi. Kau harus pulih total sebelum besok."
"Kenapa kau begitu protektif?" tanya Aeryn tiba-tiba, menahan langkah Xavier. "Ini bukan sekadar kontrak, kan? Kau melakukan ini karena hal sepuluh tahun lalu itu? Karena payung yang kuberikan di pemakaman?"
Xavier terhenti. Punggungnya tampak kaku. Ia tidak menoleh saat menjawab. "Aku melakukan ini karena kau adalah kartu as-ku untuk menghancurkan Dirgantara. Jangan terlalu banyak membaca novel romansa, Nona Valerine."
Xavier berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan, merebahkan tubuhnya di sana tanpa melepaskan sepatu. Ia memejamkan mata, memutus percakapan.
Aeryn menatap punggung Xavier. Ia tahu pria itu berbohong lagi. Dinginnya sikap Xavier hanyalah tameng untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang hangat, yang selama ini tersembunyi di balik lapisan salju kepribadiannya.
Beberapa jam kemudian, cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah gorden. Aeryn terbangun lagi, merasa tubuhnya jauh lebih segar. Ia menoleh ke samping, tempat tidur Xavier sudah kosong. Hanya ada bekas kerutan di sofa yang menunjukkan bahwa pria itu benar-benar tidur di sana.
Aeryn mencoba duduk. Di atas nakas, terdapat sebuah nampan kecil berisi segelas teh hangat dan selembar roti gandum. Namun, perhatiannya teralih pada sebuah kotak beludru berwarna biru tua yang terletak di samping gelas teh.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Aeryn meraih kotak itu dan membukanya.
Kilatan cahaya yang menyilaukan seketika memenuhi pandangannya. Di dalam kotak itu, tergeletak sebuah kalung dengan liontin berlian biru langka yang sangat besar, dikelilingi oleh berlian-berlian putih kecil yang membentuk pola seperti sayap malaikat. Ini adalah The Blue Seraph, berlian yang konon hilang dalam lelang internasional tiga tahun lalu. Harganya cukup untuk membangun sepuluh pabrik perhiasan baru.
Di bawah kotak itu, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang tegas dan rapi.
"Gunakan ini untuk menghancurkan mereka di acara amal malam ini. Kau akan berdiri di sampingku, dan aku tidak ingin perisaimu terlihat murah. Pastikan mereka tahu bahwa kau bukan lagi putri seorang Valerine, melainkan Ratu bagi seorang Arkananta."
Aeryn meremas kertas itu, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, tapi karena sebuah kekuatan baru yang mengalir di nadinya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil di nakas.
"Pesta ini milikmu, Bianca. Tapi malam ini, aku yang akan membakar panggungnya," bisik Aeryn dingin.
Aeryn menyentuh permukaan berlian biru itu, merasakan dinginnya batu berharga yang kini menjadi simbol kekuatannya. Ia bangkit dari tempat tidur, mencabut selang infus di tangannya dengan satu gerakan cepat tanpa rasa sakit.
Tepat saat itu, pintu terbuka. Hugo masuk dengan wajah tegang.
"Nyonya, ada laporan bahwa Kaelan sedang mencoba menjual sisa saham Valerine Jewels secara ilegal di pasar gelap pagi ini untuk menutupi kerugiannya," lapor Hugo.
Aeryn tersenyum tipis, sebuah senyuman mematikan yang sangat mirip dengan gaya Xavier.
"Biarkan dia menjualnya, Hugo. Pastikan pembelinya adalah perusahaan cangkang milik Arkananta. Aku ingin dia merasa punya harapan sebelum aku menjatuhkannya tepat di depan semua orang malam ini."