"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Violet baru saja meletakkan sisir bekas ia pakai untuk menyisir rambutnya kembali ke meja rias. Di depan cermin, pantulan wajahnya terlihat. Wajah oriental dengan mata bulat dan hidung mungil, kulitnya seputih susu jelas bukan keturunan Hartawan yang memiliki kulit rata- rata sawo matang atau kuning langsat.
Secara visual ia memang tak secantik Teresa dan sifat nya juga tak semenyenangkan adiknya itu, ia terkesan tertutup dan menjauh dari kebisingan dan membosankan , mungkin itulah yang membuat orang-orang gampang untuk menyingkirkan nya. Violet menghela napas pelan, mungkin memang sudah takdir nya seperti ini, lahir menyedihkan sebagai seorang anak angkat dan sekarang menjadi pengganti adiknya dalam pernikahan yang jelas bukan bagian dari impiannya sejak dulu.
Dan malam ini, ia akan mendapatkan jawaban dari segala pertanyaannya, tentang mengapa seorang jenderal muda dan terkenal itu tetap mau menikah dengan nya meski jelas- jelas ia bukanlah pengantin wanita yang ditujukan untuk nya, apa demi keuntungan? jelas tidak. Karena apa untung nya menikah dengan seorang anak pungut seperti dirinya.
Pasti ada alasan lain, dan Violet perlu tahu alasannya malam ini. Gadis itu tiba-tiba melirik ponsel nya di samping, gerakannya spontan mengambil benda pipih itu membuka aplikasi pesan, dan mulai mengetik di sana.
Ia tidak tahu mengapa melakukannya, mungkin... karena di situasi yang harus dihadapinya seorang diri ini tanpa siapapun yang bisa ia hubungi kecuali hanya satu orang, yakni Teresa.
(Teresa, kamu baik- baik saja? )
Send.
Pesan terkirim. Violet menatap layar yang menyala, lama. Lalu status berubah, di buka dan di baca namun tak ada balasan apa- apa di sana.
Violet mengembuskan napas, pelan. Mungkin Teresa sedang sibuk disana, dalam pelariannya. Namun hatinya merasa gelisah.
Ia mengkhawatirkan adiknya.
"Teresa, semoga kamu baik- baik saja dimana pun berada. "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Masuk."
Suara itu keluar dari balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, dan Violet berdiri di ambangnya selama satu detik sebelum mendorong pintu itu sepenuhnya.
Ia menduga ruangan yang dingin dan steril sesuai kesan pertama laki-laki itu. Meja kosong rapi dengan satu pena dan satu buku catatan. Tapi yang ada di depannya justru sebaliknya. Rak buku setinggi langit-langit yang semuanya terisi bukan untuk pajangan tapi untuk dibaca, punggung-punggungnya pudar dan beberapa halaman menjorok keluar sebagai penanda. Peta besar di dinding kiri dengan titik-titik merah yang tersebar di berbagai lokasi. Mejanya luas tapi penuh dokumen berlapis dengan sistem yang hanya penghuninya yang bisa pahami.
Adriel tidak duduk di balik mejanya.
Melainkan laki-laki itu mengambil kursi dari sudut ruangan, memindahkannya ke tengah, dan duduk dengan siku bertumpu di lutut, terasa aura dominan dan gaya bossy- nya. Di meja kecil di sebelahnya ada dua cangkir kopi, satu sudah setengah kosong miliknya, dan satu lagi masih penuh yang mengepulkan asap tipis.
Tentu saja, yang satu itu untuk Violet.
"Duduk, " katanya. Suaranya berat dan penuh otoritas.
Lalu dengan hati- hati Violet masuk dan duduk di kursi yang berhadapan. Ia menatap cangkir kopi itu sebentar tapi tidak mengambilnya.
Adriel berkedip pelan dan menatap Violet dengan tatapan yang sama seperti tadi pagi. Langsung. Seolah tidak membuang waktu untuk basa-basi yang tidak perlu.
"Kamu tahu berapa lama pernikahan ini bisa bertahan secara hukum kalau keluarga Hartawan memutuskan untuk menggugat?"
Violet tidak berkedip. "Tidak tahu."
"Enam bulan. Paling lama." Adriel bersandar ke kursinya. "Akad sudah sah karena kamu mengucapkan sendiri dengan sadar dan ada saksi yang cukup. Tapi kalau ayah angkatmu mempermasalahkan identitas, prosesnya akan panjang dan tidak menyenangkan untuk semua pihak."
"Untuk semua pihak termasuk Tuan."
"Iya."
Kejujuran itu keluar tanpa pembelaan, dan Violet mencatatnya.
"Lalu kenapa Tuan tidak membatalkan kemarin waktu masih bisa?"
Adriel diam sebentar. Bukan diam orang yang tidak tahu jawabannya, tapi diam orang yang sedang memutuskan seberapa banyak yang perlu dikatakan.
"Karena Teresa Hartawan bukan yang saya inginkan sejak awal."
Ruangan itu terasa seperti menyusut satu ukuran.
Violet menatap laki-laki di hadapannya dan mencoba mencari kebohongan di wajah itu. Tapi nihil. Laki-laki ini benar-benar bicara apa adanya.
"Tuan menginginkan saya?" Kalimat itu terdengar aneh di telinganya sendiri.
"Lebih tepatnya, saya menginginkan seseorang yang bukan bagian dari permainan keluarga Hartawan." Adriel meluruskan tubuhnya, kedua lengannya kini bertumpu di meja. "Teresa adalah putri kesayangan Jenderal Hartawan. Menikahi dia berarti membawa seluruh ambisi laki-laki itu masuk ke dalam rumah ini. Saya tidak menginginkan itu."
"Dan saya bukan bagian dari ambisinya."
"Kamu bukan bagian dari apapun miliknya. Itu yang membuat kamu berbeda."
Violet menatapnya lama. Mencerna kalimat itu dari semua sudut yang bisa ia jangkau.
"Berarti tuan sudah tahu saya yang akan datang kemarin."
Itu bukan pertanyaan. Dan dari cara Adriel tidak menyangkal, Violet tahu ia tidak salah.
"Sejak kapan?" tanya Violet.
"Tiga hari sebelum hari H."
Cukup lama.
Cukup untuk menghentikan semuanya kalau ia mau.
"Dan Tuan memilih diam," kata Violet.
"Saya memilih menunggu."
"Bedanya tipis."
Adriel menatapnya sebentar. Tidak menyangkal, tapi juga tidak sepenuhnya setuju.
"Boleh saya tahu tuan dapat informasi nya itu dari mana?"
Hening sejenak, Adriel menatap Violet lebih intens membuat gadis itu tanpa sadar menelan ludah dengan kasar.
"Maaf kalau saya lancang. "
Tapi akhirnya Adriel tetap menjawab.
"Informasi itu datang dari orang saya di sekitar keluarga Hartawan," katanya. "Dia dengar percakapan kamu dan Teresa. Laporannya masuk tiga hari sebelum pernikahan."
Violet manggut- manggut, semuanya terasa masuk akal sekarang, dan tentu saja seorang Adriel voss tidak mungkin tidak menaruh mata- matanya di rumah seseorang yang akan terlibat sepenuhnya dalam otoritasnya.
"Lalu sekarang apa?" tanya Violet akhirnya, setelah semua kebeneran telah ia ketahui."Saya ada di sini, pernikahan ini sah untuk enam bulan ke depan atau sampai gugatan masuk, dan Tuan sudah mendapatkan apa yang Tuan inginkan. Apa yang Tuan harapkan dari saya?"
Adriel berdiri. Berjalan ke jendela yang menghadap halaman belakang yang gelap, berdiri di sana dengan tangan di belakang punggung dan memandang keluar.
"Saya tidak mengharapkan apa-apa dari siapapun," katanya. "Itu kebijakan yang sudah lama saya pegang dan menjadi prinsip saya."
"Tapi."
Ia menoleh sedikit.
Violet menunggu.
"Pernikahan ini sah secara hukum," kata Adriel. "Dan dalam keluarga saya, pernikahan yang sah membawa tanggung jawab yang jelas." Ia menatap Violet langsung, matanya tidak bergeser. "Termasuk tanggung jawab untuk meneruskan garis keturunan."
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa berubah.
Violet menatap laki-laki di depannya dan memastikan ia mendengar dengan benar apa diucapkan.
"Tuan berbicara tentang... "
"Anak." Adriel mengucapkannya dengan nada yang sama seperti ia menyebut semua hal lain, datar dan langsung dan tanpa embel-embel. "Saya butuh pewaris. Yang harus di dapatkan dari seorang wanita yang menjadi istri saya, dan itu adalah kau, Violet. "
Mendadak pria itu mendekat, satu inci, dua inci hingga benar-benar tak ada lagi jarak diantara mereka lalu tangan kekarnya meraba perut Violet secara tiba-tiba membuat gadis itu tersentak.
"Saya menginginkan anak, dari rahim mu. "
Violet tidak bergerak.
****
BERSAMBUNG