Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Lani Dan Tantangan Berikutnya
Episode 26
Setelah kemenangan telak Reno atas Oliver, atmosfer di ruang tunggu peserta menjadi sangat aneh. Jika sebelumnya Reno dianggap sebagai noda di turnamen ini, kini ia dianggap sebagai misteri yang menakutkan. Beberapa murid yang sebelumnya mengejek, kini memilih untuk membuang muka saat Reno lewat, takut jika tatapan tajam Reno akan membawa sial bagi mereka di arena.
Reno duduk di bangku kayu panjang, menyeka sisa debu pasir di wajahnya. Nidhogg sudah kembali ke ukuran terkecilnya, bersembunyi di balik kerah seragam Reno.
"Reno, kau hebat sekali tadi!" seru Dito yang baru saja kembali dari menonton di tribun. "Banyak orang di atas sana yang langsung mengganti taruhan mereka padamu! Tapi... banyak juga yang curiga kalau kau menggunakan jimat terlarang."
"Biarkan saja mereka curiga, Dito," jawab Reno tenang. "Di dunia ini, orang akan selalu mencari alasan untuk menjelaskan sesuatu yang tidak bisa mereka pahami."
Lani berdiri di depan Reno, tangannya menggenggam staf kayu kecilnya dengan sangat erat. Wajahnya pucat dan ia terus menggigit bibir bawahnya. Sebentar lagi adalah gilirannya untuk naik ke arena melawan seorang murid dari kelas C yang kabarnya memiliki binatang kontrak tipe petarung jarak dekat.
"Reno... bagaimana jika aku gagal?" bisik Lani. "Binatang kontrakku hanyalah Kupu-Kupu Cahaya. Dia tidak punya daya serang yang besar seperti elang Oliver atau serigala Bagas."
Reno menatap Lani. Ia melihat ketakutan yang murni di mata gadis itu. Reno teringat saat ia dulu melatih manajer-manajer barunya yang gugup menghadapi presentasi besar. Kuncinya bukan pada kekuatan produk, tapi pada cara penyajiannya.
"Lani, dengarkan aku," Reno berdiri dan memegang kedua bahu Lani, memaksanya untuk menatap matanya. "Kekuatanmu bukan pada serangan fisik. Kupu-kupu cahayamu bisa memanipulasi pandangan lawan melalui pantulan cahaya di sayapnya. Kau tidak perlu memukulnya. Kau hanya perlu membuat dia memukul bayanganmu sampai dia kelelahan."
Lani tertegun. "Memanipulasi pandangan?"
"Iya. Di arena nanti, jangan biarkan dia mendekat. Gunakan debu serbuk sari cahayamu untuk menciptakan ilusi. Saat dia bingung, itulah saat kau mendorongnya keluar dari garis arena. Paham?"
Lani menarik napas panjang, mencoba meresapi kata-kata Reno. "Baiklah. Aku akan mencobanya."
"Selanjutnya, Lani dari Kelas A melawan Jaka dari Kelas C! Harap memasuki arena!" teriak petugas pertandingan.
Reno dan Dito berjalan menuju pinggir arena untuk memberikan dukungan.
Lani berdiri di tengah arena yang luas. Lawannya, Jaka, adalah pemuda bertubuh besar dengan otot-otot yang menonjol. Di sampingnya berdiri seekor Beruang Tanah yang tampak sangat mengancam. Beruang itu menggeram, membuat pasir di bawah kakinya bergetar.
"Duh, beruang itu besar sekali," gumam Dito cemas.
Reno menyipitkan mata. "Beruang itu kuat, tapi gerakannya lambat. Jika Lani mengikuti saranku, dia punya peluang enam puluh persen untuk menang."
Pertandingan dimulai. Jaka langsung memerintahkan beruangnya untuk menyerang. "Hancurkan dia, Grizzly! Serudukan Tanah!"
Beruang itu berlari menerjang Lani dengan kekuatan yang bisa menghancurkan tembok batu. Lani gemetar, namun ia mengingat tatapan tenang Reno.
"Sekarang, Kupu-Kupu Cahaya! Tabir Pelangi!" teriak Lani.
Kupu-kupu kecil yang tadinya hanya terbang di sekitar kepala Lani tiba-tiba mengepakkan sayapnya dengan sangat cepat. Ribuan serbuk sari bercahaya menyebar di udara, memantulkan sinar matahari pagi dan menciptakan puluhan bayangan Lani di seluruh arena.
Beruang itu kebingungan. Ia mencoba menerjang salah satu bayangan, namun hanya menabrak udara kosong. Jaka juga tampak panik. "Jangan tertipu! Gunakan penciumanmu!"
Namun, serbuk sari Lani ternyata memiliki aroma bunga yang sangat menyengat, menutupi jejak bau asli Lani. Selama beberapa menit, beruang itu hanya berputar-putar di tengah arena, memukul angin dengan membabi buta.
"Sekarang, Lani! Dorong dia!" teriak Reno dari pinggir arena.
Lani mengangguk. Ia memerintahkan kupu-kupunya untuk berkumpul di satu titik di belakang beruang tersebut dan mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan.
BLAM!
Beruang itu terkejut dan secara insting melompat mundur untuk menghindari cahaya tersebut. Namun, Lani sudah memperhitungkan posisinya. Mundurnya beruang itu justru membuatnya melewati garis batas arena.
"Jaka keluar dari garis! Pemenangnya, Lani!" Master Gandos mengumumkan.
Lani jatuh terduduk di atas pasir, napasnya terengah engah karena lega. Ia berhasil menang tanpa harus mengeluarkan satu pukulan pun. Sorak sorai penonton kali ini terasa lebih hangat bagi Lani.
Saat Lani kembali ke pinggir arena, ia langsung memeluk Reno dengan gembira. "Aku berhasil, Reno! Caramu berhasil!"
Reno menepuk punggung Lani pelan. "Itu karena kau punya bakat, Lani. Aku hanya memberikan sedikit arah."
Namun, kegembiraan mereka tidak berlangsung lama. Saat Reno hendak kembali ke ruang tunggu, ia merasakan sebuah aura dingin yang menusuk dari arah tribun VIP. Ia menoleh dan melihat seorang pria paruh baya mengenakan jubah mewah berwarna biru tua warna yang sama dengan organisasi Gerhana Hitam. Pria itu sedang berbicara dengan Master Gandos.
Pria itu menatap Reno sebentar, lalu memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat tidak menyenangkan.
"Reno, orang itu... dia adalah tetua dari Gerhana Hitam," Nidhogg berbisik dengan nada sangat waspada. "Auranya setara dengan Instruktur Raka, atau mungkin lebih tinggi. Sepertinya mereka tidak hanya mengirim murid senior, tapi juga petinggi mereka untuk memantau turnamen ini."
Reno mengepalkan tangannya. "Mereka benar-benar sangat menginginkanmu, ya?"
"Mereka menginginkan fragmen jiwa di dalamku untuk membangkitkan sesuatu yang lebih besar, Reno. Kau harus sangat berhati-hati di babak 32 besar besok. Aku merasa mereka akan mengubah aturan duel untuk mencelakai mu."
Reno berjalan menjauh dari arena, pikirannya berputar cepat. Sebagai mantan CEO, ia tahu bahwa saat pihak lawan mulai mengirim direktur utama mereka untuk memantau negosiasi, itu berarti perang terbuka akan segera pecah.
Di koridor menuju asrama, Reno berpapasan dengan Instruktur Raka. Pria itu tampak sedang menunggu Reno.
"Selamat atas kemenanganmu, Reno," ucap Raka tanpa ekspresi. "Tapi jangan terlalu senang dulu. Pria yang kau lihat di tribun VIP tadi adalah Tuan Malaka, perwakilan dari Dewan Kota yang juga memiliki hubungan gelap dengan Gerhana Hitam. Dia baru saja mengusulkan pada akademi agar babak 32 besar besok dilakukan di Arena Maut sebuah arena yang dilengkapi dengan jebakan energi."
Reno berhenti melangkah. "Arena Maut? Bukankah itu terlalu berbahaya untuk murid tingkat pertama?"
"Secara teori, iya. Tapi Malaka menggunakan alasan meningkatkan tantangan agar para sponsor tertarik," Raka mendekat, suaranya merendah. "Dia ingin kau mati secara tidak sengaja di sana. Vance, lawanmu di babak berikutnya, sudah diberikan perlengkapan khusus untuk bertahan di arena itu."
Reno menatap Raka tajam. "Lalu apa yang harus saya lakukan?"
Raka mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna perak. "Minum ini malam ini. Ini akan memperkuat lapisan pelindung mentalmu. Arena Maut bukan hanya soal fisik, tapi soal bagaimana kau menahan halusinasi yang diciptakan oleh jebakan energi di sana."
Reno menerima botol itu. "Terima kasih, Instruktur. Tapi kenapa Anda terus membantu saya? Apa dividend yang Anda inginkan dari semua risiko ini?"
Raka menatap langit-langit koridor, wajahnya tampak sedikit lelah. "Aku hanya ingin melihat Gerhana Hitam hancur. Mereka telah mengambil terlalu banyak hal dariku di masa lalu. Dan kau... kau adalah variabel yang tidak bisa mereka prediksi. Jadilah duri di dalam daging mereka, Reno."
Raka berjalan pergi, meninggalkan Reno dalam kesendirian.
Malam harinya, Reno duduk di atas atap asrama, menatap bintang-bintang. Ia meminum cairan perak pemberian Raka dan merasakan sensasi dingin yang menyebar ke seluruh otaknya, membuat pikirannya menjadi sangat jernih.
"Besok adalah babak 32 besar," gumam Reno. "Vance, Arena Maut, dan Gerhana Hitam. Semuanya datang sekaligus."
"Reno, jangan lupa... aku juga akan berevolusi sedikit lagi malam ini karena energi yang aku serap dari serigala Bagas kemarin," ucap Nidhogg.
"Bagus. Karena besok, aku tidak akan lagi berakting sebagai murid yang beruntung. Jika mereka ingin membunuhku di Arena Maut, maka aku akan memastikan arena itu menjadi kuburan bagi mereka semua."
Di bawah cahaya bulan, tubuh Reno mulai mengeluarkan aura hitam yang samar, bercampur dengan cahaya perak dari ramuan Raka. Persiapan menuju pertempuran yang akan mengguncang pondasi akademi telah selesai.
Turnamen Tengah Semester ini bukan lagi soal nilai atau peringkat. Ini adalah soal bertahan hidup di tengah pusaran konspirasi yang haus darah.