Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertelan (Bag 29)
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sulaiman memberi isyarat tajam dengan mata. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Malam ini juga mereka harus pergi, menjauh sejauh mungkin. Jika mereka tetap di sana, pagi mungkin tidak akan pernah datang untuk mereka.
"Ambil barang. Cepat!" desis Sulaiman parau.
Deri, yang wajahnya sudah pucat pasi dan tubuhnya menggigil hebat, buru-buru melepas kayu balok yang merintangi pintu depan. Herman membantu Umar membetulkan jaket tebal anak itu, sementara Sulaiman mulai perlahan mendorong pintu utama gubuk dengan hati-hati.
Suara engsel kayu berdecit nyaring di tengah keheningan.
Mereka melangkah keluar. Udara malam begitu dingin hingga menusuk tulang, tapi setidaknya di luar mereka bisa bernapas lega, jauh dari bau kapur mati dan jamur busuk yang menguar dari dalam. Di luar memang tidak ada badai, namun langit masih saja tertutup rapat oleh awan hitam pekat, membuat hutan itu gelap gulita.
"Mari. Ikuti langkah kakiku. Jangan menyimpang," perintah Sulaiman tegas. Suaranya yang berat menjadi satu-satunya penenang di situ.
Mereka mulai berjalan cepat, hampir berlari kecil, menerobos kegelapan hutan. Pepohonan rapat dengan dahan-dahan kering yang menjulur. Suara napas mereka terdengar memburu bercampur desiran angin yang membawa hawa tak terduga.
Deri berada di posisi paling belakang. Pria yang memang sejak awal terkenal cengeng dan penakut itu terus menunduk, matanya liar mencari jalan, air mata hampir kembali menetes karena rasa takut yang menghantuinya sudah terlalu berat. Dia terus melirik ke belakang, takut sosok nenek keriput itu atau sosok pencangkul, atau sosok lainnya, tiba-tiba muncul mengejar.
"Bo bos... tunggu... saya nggak kuat..." isak Deri pelan, suaranya pecah. "Jantung saya rasanya mau copot..."
"Diam! Jangan banyak bicara! Cepat jalan!" bentak Sulaiman tanpa menoleh, sambil menarik tangan Umar agar putranya terus bergerak.
Namun kepanikan Deri membuatnya kehilangan kewaspadaan. Matanya yang kabur oleh air mata tidak melihat apa yang ada di depannya. Di tengah tanah yang tertutup rapat oleh semak belukar dan tumpukan daun kering, terdapat sebuah jurang tanah alami, sebuah lubang besar yang mulutnya disamarkan oleh alam.
BRUK!
"AKHHH!!!"
Teriakan nyaring memecah keheningan hutan. Kaki Deri melesat masuk ke dalam kehampaan. Tubuhnya terguling cepat, menghantam dinding tanah licin, dan terus meluncur ke bawah.
Jatuh... jatuh... dan jatuh.
Kira-kira tujuh meter kedalaman lubang itu hingga tubuhnya membentur dasar yang keras dan lembap.
"Deri!!!" teriak Herman, berhenti mendadak dan ingin berlari ke tepi lubang, tapi ditarik keras oleh Sulaiman.
"Jangan dekati!" gertak Sulaiman, matanya menyipit menatap ke dalam kegelapan lubang itu.
Di bawah sana, Deri meringkuk kesakitan. Tulang rusuknya terasa remuk, kakinya mungkin patah. Namun rasa sakit fisik itu seketika lenyap digantikan oleh teror murni saat dia menyadari di mana dia berada.
"Tolong... tolong saya! Tarik saya keluar! Pak Sulaiman! Herman!!!" Deri berteriak histeris, tangannya mencakar-cakar dinding tanah yang longsor.
Namun saat dia mengedipkan matanya, mencoba menyesuaikan pandangan dengan gelapnya dasar lubang, bulu kuduk di seluruh tubuhnya berdiri tegak, dan darahnya seakan berhenti mengalir.
Bukan tanah kosong yang dia injak.
Di sekelilingnya, di dinding-dinding lubang, di atas tumpukan tanah dan bebatuan... ribuan, bahkan puluhan ribu kalajengking hitam sebesar jari orang dewasa mulai bergerak. Tubuh mereka hitam berkilau, capit besar mereka terbuka menutup dengan bunyi kletek... kletek... yang terdengar jelas dan mengerikan. Ekor berbisa mereka terangkat tinggi-tinggi, siap menyerang.
Mereka terbangun karena getaran tubuh Deri yang jatuh.
"Tidaaaak!!! Jangan! Jangan mendekat!!!" Deri menjerit histeris, mencoba merangkak mundur, tapi tidak ada tempat untuk lari. Dia terkurung di dalam kubangan neraka itu.
Gerombolan kalajengking mulai mengerumuni seperti gelombang hitam yang hidup. Mereka memanjat tubuh Deri dengan cepat, sangat cepat.
SZZZZT! TZRRRR!
Sengatan pertama terasa seperti disetrum listrik tinggi, lalu diikuti rasa panas yang membakar urat saraf. Deri menjerit panjang, suaranya pecah dan melengking tinggi.
"TOLONGGG!!!"
Namun jeritannya dijawab oleh ribuan sengatan lainnya. Satu demi satu, puluhan, ratusan sengatan racun mematikan terus menusuk kulitnya, masuk ke dalam aliran darah. Racun itu bekerja secepat kilat. Otot-otot Deri mulai kaku, kejang hebat menyerang seluruh tubuhnya. Matanya membelalak liar melihat makhluk-makhluk itu menutupi seluruh badannya seperti baju zirah hitam yang hidup.
Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi biru keunguan, membengkak aneh. Mulutnya terbuka lebar, menganga tak terkendali karena kejang otot yang parah, lidahnya menjulur keluar. Matanya terpaku kosong, tak lagi berkedip, menatap ke atas tempat teman-temannya berada.
Tubuhnya kaku total. Dia masih hidup dalam sepersekian detik, merasakan setiap sentuhan dan sengatan itu, tapi tidak bisa lagi bergerak atau bersuara. Hanya suara desisan halus dari mulutnya yang keluar... "heessss... heessss..."
Dan pemandangan paling mengerikan terjadi saat seekor kalajengking besar memanjat naik ke wajahnya. Melihat mulut Deri yang terbuka lebar seperti gua hitam, makhluk itu tidak ragu. Ia melangkah masuk, diikuti oleh beberapa ekor lainnya yang merayap turun melalui tenggorokannya.
Mereka masuk ke dalam tubuhnya, merayap di dalam kerongkongan, mencari tempat hangat di dalam perut yang masih berdenyut.
Di atas lubang, Herman menutup mulutnya, menahan muntah dan tangis. Umar yang masih kecil memekik ketakutan dan membenamkan wajahnya ke perut ayahnya, tidak berani melihat pemandangan kematian yang begitu sadis dan perlahan itu.
Sulaiman menatap ke bawah dengan wajah datar namun matanya penuh amarah dan ketakutan. Dia melihat anak buahnya itu sudah tiada, menjadi sarang hidup bagi makhluk-makhluk buas itu. Tidak ada yang bisa dilakukan. Menurunkan tali pun sama saja mengirim kematian pada yang lain.
"Ayo..." suara Sulaiman bergetar, tapi tegas. Dia menarik kuat tangan Umar dan menyambar bahu Herman.
"P Pak... De Deri... kita tinggalin gitu aja?" isak Herman, kakinya lemas.
"Dia sudah mati! Kalajengking itu tidak akan kenyang! Kalau kita lama di sini, kita yang akan menyusul! Cepat pergi!!!" sergah Sulaiman, memaksa mereka berbalik dan terus berjalan menjauh.
Mereka berlari meninggalkan lubang maut itu. Di belakang mereka, suara desisan ribuan kalajengking seolah masih terdengar, berbaur dengan bayangan sosok tubuh biru yang kaku dan mulut yang menganga, menjadi santapan abadi di dalam perut bumi.
Hutan pun terasa semakin mencekam, dan langkah mereka terasa semakin berat, membawa serta bayangan kematian yang baru saja terjadi tepat di depan mata mereka. Satu lagi orang yang berharga di mata mereka, hilang begitu saja.
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?