Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Perang di Mall
"Buruan jalan! Kaki lo kram atau gimana? Lambat banget!"
Elora berjalan cepat membelah kerumunan pengunjung Grand Plaza, mall paling elit di Jakarta yang lantainya saja mungkin lebih bersih daripada piring makan di kosan Aluna. Hak stiletto Elora berbunyi tak-tak-tak berirama, menarik perhatian banyak orang.
Di belakangnya, Aluna berjalan santai sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana bahan hitamnya. Dia sama sekali tidak terintimidasi dengan kemewahan di sekelilingnya. Baginya, mall ini cuma pasar tanah abang yang dikasih AC sentral dan pewangi ruangan mahal.
"Sabar dong, Mbak. Kaki saya nggak biasa disiksa pake hak runcing kayak gitu," sahut Aluna santai. "Kita mau ke mana sih? Dari tadi muter-muter doang kayak gasing."
"Kita belanja," Elora berhenti mendadak di depan sebuah butik mewah bernama Velvet Gold. "Dan tugas lo cuma satu: Gesek kartu dan jangan banyak bacot."
"Tergantung," Aluna menepuk saku kemejanya di mana kartu debit keramat itu tersimpan. "Kalau barangnya lolos audit, saya gesek. Kalau sampah, ya maaf."
Elora mendengus sinis. "Sampah? Heh, ini butik langganan artis papan atas. Lo mana ngerti barang bagus."
Elora melenggang masuk. Dua orang SPG (Sales Promotion Girl) yang berdiri di depan pintu langsung membungkuk hormat, mengenali salah satu pelanggan 'paus' mereka.
"Selamat siang, Nona Elora! Wah, sudah lama tidak mampir," sapa salah satu SPG dengan senyum yang lebarnya bisa membelah wajah. "Ada koleksi summer terbaru, Nona. Eksklusif cuma ada tiga di Indonesia."
"Kalian emang paling ngerti selera saya," Elora tersenyum bangga, lalu melirik Aluna dengan tatapan meremehkan. "Tolong ambilkan dress yang di manekin depan itu. Yang warna champagne."
SPG itu bergerak gesit. Dalam hitungan detik, sebuah gaun pesta pendek dengan aksen payet berkilauan sudah ada di tangan Elora.
Elora mematut diri di depan cermin besar, menempelkan gaun itu ke tubuhnya.
"Gimana?" tanya Elora pada pantulan dirinya sendiri. "Sempurna, kan? Ini karya seni."
Aluna mendekat. Dia tidak melihat ke arah cermin, melainkan langsung menyambar label harga yang tergantung di lengan baju.
Matanya menyipit.
"Lima belas juta?" Aluna membaca angka itu keras-keras. "Buat kain segini doang? Ini mah kurang bahan, Mbak."
Wajah Elora memerah karena malu dilihatin SPG. "Kecilin suara lo! Ini desainernya dari Paris! Lima belas juta itu murah buat kualitas segini!"
"Mbak SPG," panggil Aluna pada pelayan toko yang berdiri canggung. "Boleh saya pegang bahannya?"
Tanpa menunggu izin, Aluna meraba kain gaun itu. Dia menggosoknya dengan jempol dan telunjuk, lalu mendekatkan wajahnya ke jahitan di bagian ketiak baju.
"Hmm..." gumam Aluna panjang. "Mbak Elora, coba lihat label di dalemnya."
"Ngapain sih?! Norak banget lo pake ngecek label!" Elora risih.
Aluna membalik bagian dalam baju itu dan membaca tulisan kecil di sana.
"Made in Vietnam. 100% Polyester," baca Aluna lantang. Dia menatap Elora dengan tatapan 'lo-mau-dikibulin?'. "Mbak, poliester itu plastik. Sama kayak bahan botol air mineral. Bedanya ini dipintal jadi benang."
"Terus kenapa?!" nyolot Elora.
Aluna mengeluarkan kalkulator dari saku celananya—benda wajib yang dia bawa sejak tanda tangan kontrak dengan Elvano.
"Mari kita hitung nilai wajarnya," kata Aluna sambil memencet tombol dengan cepat. Suara tik-tik-tik kalkulator terdengar menyebalkan di butik sunyi itu.
"Harga bahan poliester per meter paling mahal lima puluh ribu. Baju ini butuh dua meter, jadi seratus ribu. Ongkos jahit pabrik massal di Vietnam, anggaplah seratus ribu. Biaya shipping dan pajak, lima puluh ribu."
Aluna menunjukkan layar kalkulator ke wajah Elora yang mulai panik.
"Total biaya produksi: Dua ratus lima puluh ribu rupiah."
"Mbak SPG," Aluna beralih ke pelayan toko yang wajahnya pucat pasi. "Kalian jual ini lima belas juta? Berarti markup profitnya... lima ribu sembilan ratus persen?"
"I... itu karena nilai brand kami, Kak..." jawab SPG itu terbata-bata.
"Nah, denger kan, Mbak Elora?" Aluna menatap Elora tajam. "Mbak mau bayar empat belas juta tujuh ratus lima puluh ribu cuma buat beli tempelan merek di kerah leher? Itu namanya sedekah ke orang kaya, bukan belanja."
"Lo..." Elora menggertakkan gigi. Malu setengah mati. Beberapa pelanggan lain mulai melirik-lirik ke arah mereka sambil berbisik.
"Baju ini panas, Mbak. Poliester nggak nyerap keringat. Kalau Mbak pake ke pesta outdoor, lima menit Mbak bakal bau ketek. Mau ditaruh di mana muka keluarga Diwantara?" tembak Aluna sadis.
"Cukup!" desis Elora. Dia melempar baju itu ke tangan SPG. "Gue nggak jadi beli yang ini! Bukan karena gue nggak mampu, tapi karena..."
"Karena nggak di-acc sama auditor," potong Aluna santai sambil memasukkan kembali kalkulatornya. "Harga wajar baju ini menurut valuasi saya cuma lima ratus ribu. Itu udah maksimal banget karena hargai brand. Kalau tokonya mau lepas harga segitu, saya gesek sekarang."
SPG itu melongo. "Maaf Kak, harga pas. Nggak bisa nawar kayak di pasar."
"Yaudah. Bye," Aluna berbalik badan, siap keluar.
Elora panas dingin. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak di depan pegawai toko langganannya. Dia butuh baju baru untuk pamer nanti malam. Dia tidak bisa pulang dengan tangan kosong.
Elora menyusul Aluna, menarik lengan kemeja gadis itu dan menyeretnya ke sudut toko yang agak sepi, di balik rak jas musim dingin.
"Lepasin! Sakit tahu!" Aluna menepis tangan Elora.
"Lo sengaja ya mau bikin gue malu?!" bisik Elora penuh amarah, matanya berkaca-kaca saking kesalnya. "Gue butuh baju itu, Aluna! Temen-temen gue bakal pake baju baru semua nanti malem!"
"Pake baju lama kan bisa. Lemari Mbak isinya baju sekali pake doang, kan?"
"Gengsi dong! Gue Elora Diwantara!" Elora menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. Suaranya tiba-tiba melunak, berubah dari mode singa menjadi mode rubah licik.
"Oke, gini aja," Elora mendekatkan wajahnya ke telinga Aluna. "Kita main belakang. Lo gesek kartu itu sekarang. Biarin gue beli baju itu."
"Nggak bisa. Itu pemborosan. Pak Elvano bisa pecat saya," tolak Aluna tegas.
"Gue nggak minta gratis!" Elora buru-buru melepas tas tangan yang dia pakai. Sebuah tas kecil mungil berwarna hitam yang kulitnya terlihat sangat lembut.
"Lo tahu ini tas apa?" tanya Elora sambil menyodorkan tas itu ke perut Aluna. "Ini Lady Dior ukuran micro. Gue beli tiga bulan lalu di Paris. Harganya enam puluh juta."
Aluna menaikkan alis. "Terus?"
"Gue kasih ke lo," bujuk Elora putus asa. "Ambil tas ini. Jual lagi. Lo bisa dapet duit cash minimal tiga puluh juta kalau lo jual ke toko preloved. Itu jauh lebih gede dari gaji yang dijanjikan Abang gue."
Mata Elora memohon. "Ambil tas ini, tapi lo izinin gue beli baju tadi. Anggap aja kita nggak pernah debat soal bahan plastik itu. Gimana?"
Aluna menatap tas mewah di tangan Elora. Tas yang harganya bisa buat beli dua motor baru. Tawaran yang sangat menggiurkan bagi siapapun yang "normal".
Tapi Aluna menatap tas itu seolah itu adalah bungkusan nasi basi.
Dia mendorong tas itu kembali ke dada Elora dengan ujung jari telunjuknya.
"Maaf, Mbak," ucap Aluna datar, wajahnya tanpa ekspresi. "Saya nggak terima suap dalam bentuk barang bekas. Ribet jualnya. Harus difoto lah, ditawar emak-emak lah, belum lagi kalau dibilang KW."
Aluna menengadahkan tangan kanannya di depan wajah Elora, membuat gerakan meminta uang dengan jari-jarinya.
"Kalau mau nyogok, yang praktis aja. Tunai atau transfer? Kalau transfer, jangan lupa berita acaranya ditulis 'Uang Jajan', jangan 'Uang Suap'."
,
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁