DISKRIPSI
Tersebutlah di Distrik Ahinan Dusun Be jie
ada sepasang suami istri yang telah dikaruniai seorang Anak perempuan yang bernama Mey Ling. Dan anehnya di punggung Mey Ling seperti ada tatto yang bertuliskan Lady Ma,seorang selir dari masa Dinasty Ming
.
Pada saat berumur 12 tahun anak ini bermimpi di ajak ke sebuah goa oleh sang nenek dan di wariskan harta karun. Tersebarnya berita itu membuat banyak pihak memburu harta ini.
Suatu hari berita ini sampai keKaisaran, yang menyebabkan Mey Ling menjadi rebutan para pendekar dan para Prajurit Kekaisaran. Untuk mencari harta karun banyak terjadi pertempuran dan pertumpahan darah. Merasa menjadi ujung tombak permasalahan ini, May Ling akhirnya melarikan diri dalam kegelapan malam di sebuah hutan bambu.
Tapi sesuatu telah terjadi ke pada May Ling
Apakah Itu??
Silahkan Reader baca kelanjutan kisah Mey Ling Reinkarnasi Lady Ma.
Reader akan di ajak bernostagia di Negara Tirai Bambu, Mengenal gunung yang indah...
Lembah yang seperti sorga atau Sungai yang airnya bening berwarna hijau seperti permandian bidadari Sorga.
💜💜💜💜💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SILUMAN
Bab.09
Sungguh Kong Kaibo tidak menyangka Mey Ling yang Dia anggap remeh mengenalinya.
Fang Yin juga kaget dan melompat waspada.
"Siapakah Kau gadis tengik?! seru Kong Koibo marah. Matanya seketika berubah merah. Mulutnya menyeringai kejam.
"Aku adalah Roh pencabut nyawamu, dua ratus tahun aku menunggu datangnya kesempatan ini ha..ha...ha...," teriak Mey Ling tertawa melengking. Fang Yin sangat heran atas sikap Mey Ling. Dia merasa asing dengan Mey Ling.
Seketika terdengar suara berdesis kencang dan tubuh Kong Kaibo meloncat menyerang Mey Ling.
"Jangan banyak bacot, keluarkan kesombonganmu," teriak Kong Kaibo kembali sambil mengeluarkan Jurus Lidah beracun.
Dengan cepat Mey Ling merendahkan dirinya, kemudian tangannya mencabut Seruling. Suara desiran angin dari
Serulingnya membuat pohon-pohon bergoyang dan sampah beterbangan. Mey Ling meniup serulingnya dengan irama aneh yang membuat Kong Kaibo berguling-guling.
Senja sudah berganti malam, pertempuran terus berlanjut. Fang Yin hanya sebagai penonton, merasa serba salah. Perasaannya sangat khawatir ketika Kong Kaibo mulai berbuat licik dengan menyemburkan ludah beracun.
"Awass!!" teriak Fang Yin ketika semburan itu mulai melesat seperti anak panah. Mey Ling Ingat pesan gurunya untuk melawan dengan Arak. Seketika Mey Ling merogoh sakunya dan...
Byusss.... ada letupan kecil terdengar ketika Arak pemberian Nenek bak petir menyambar
Tubuh Kong Kaibo. Setetes arak sudah cukup membuat tubuh siluman itu hangus.
"Siao Ling mari Kita lari dari sini, sebelum yang lain berdatangan," kata Fang Yin menarik tangan Mey Ling. Setelah agak jauh Mereka duduk sebentar untuk mengambil nafas.
“Mari kita lanjutkan perjalanan. Malam sudah semakin larut, kalau tidak ada halangan, sebelum tengah malam kita dapat mencapai pondok batu di lereng Bukit, pondok kosong yang dahulu menjadi tempat pertapaan seorang pertapa tua yang telah lama meninggal dunia. Hanya pondok itulah satu-satunya tempat yang baik untuk kita melewatkan malam di daerah ini!” kata Fang Yin yang sudah berpengalaman di tempat itu.
Mereka bangkit dan mulai berjalan menuju ke barat. Melihat suasana yang amat sunyi perasaan Mey Ling sangat sedih mengingat keluarganya.
Malam semakin larut Fang Yin berusaha mencari tempat untuk beristirahat. Mereka berdua lalu sampai di lereng Bukit. Biasanya
disini banyak goa batu tempat tinggal seorang Pertapa. Dan benar saja ada goa batu yang kosong. Mereka berdua lalu masuk ke goa dan menggeser batu penutup
goa itu dari dalam. Kini sudah aman. Fang Yin lalu membuat api unggun untuk penerangan.
"Siao Ling Kamu pasti lapar, mari Kita membuka bekal," kata Fang Yin pelan, suaranya bergema.
"Baik Ko-ko," sahut Mey Ling dengan nada lirih. Badannya terasa sangat lelah, tapi Dia senang sudah bisa membunuh musuhnya.
"Makanlah....," kata Fang Yin menyodorkan sepotong Roti dan air yang sudah disiapkan tadi. Mereka makan dengan diam.
"Apakah perjalanan ini masih jauh, Aku merasa sangat lelah," kata Mey Ling lalu merebahkan tubuhnya.
"Masih jauh mungkin besok malam baru sampai," sahut Fang Yin ikut merebahkan tubuhnya. Api unggun masih menyala kecil dan lama kelamaan mati bersama tertidurnya mereka.
Sinar Matahari pagi telah menerobos masuk melalui celah-celah kecil di tepi pintu batu
penutup lobang goa itu. Ketika Fang Yin terbangun dari tidurnya, sinar matahari yang kecil itu tepat menimpa mukanya. Dia menjadi silau, menggosok-gosok matanya.
“Hemmm, di tempat seperti ini ada juga nyamuknya,” gerutunya sambil berusaha bangun.
Tiba-tiba pendengarannya yang terlatih baik segera dapat menangkap suara aneh di luar batu penutup goa itu. Suara gerakan kaki berat dan juga suara pernapasan yang membuat dia terbelalak, karena napas itu begitu berat dan mendengus. Ini bukan manusia! Agaknya ada binatang buas di luar goa. Cepat dia menghampiri Mey Ling yang masih tidur dan membangunkannya.
“Siao Ling, bangunlah! seperti ada binatang buas diluar goa,"
“Jangan khawatir, kita di sini aman, terlindung pintu bundar itu!” sahut Mey Ling lalu mendekati celah kecil dari pintu batu itu kemudian Dia mengintip. Diluar terdapat seekor binatang buas seolah menunggu Mereka keluar.
"Kita harus keluar, tidak bisa begini terus," Kata Mey Ling mau menggeser batunya.
"Jangan buka pintunya, Kita cari akal dulu, bagaimana kalau Kita bunyikan serulingnya untuk mengusir binatang itu," kata Fang Yin lalu meniup serulingnya.
Terdengar suara dari luar, seperti suara Harimau mengaum sehingga suara itu menggetarkan bumi sampai ke dalam goa.
“Geser batu dan terjang ke luar!! perintah Fang Yin, tapi sebelum Mereka keluar terjadi keributan diluar.
Mereka berdua lalu menggeser pintu batu besar itu dengan cepat mendorong ke kanan dan terbukalah goa itu. Mereka agak silau oleh masuknya sinar matahari yang cerah, akan tetapi mereka sudah berloncatan keluar goa dan telah mempersiapkan senjata di tangan. Ketika tiba diluar Mereka melihat seekor Harimau tergeletak bersimbah darah.
"Siapa yang membunuh?" tanya Mey Ling celingukan. Matanya mencari sesuatu, tapi tidak menemukan orang.
"Mari Kita melanjutkan perjalanan sekalian mencari Sungai," ajak Fang Yin.
"Aku heran Ko-ko, siapa yang membunuh Harimau itu?" tanya Mey Ling penasaran.
"Tentu seorang Pendekar Sakti," sahut Fang Yin cepat.
Kemudian Mereka melanjutkan perjalanan. Di depan adalah daerah perbukitan Perguruan Shaolin, yang merupakan daerah yang nampak berbeda dari jauh dengan bukit lain di Wilayah itu.
"Siao Ling Kita mulai mempunyai teman seperjalanan," kata Fan Yin pelan. Mey Ling menoleh ke belakang ternyata ada rombongan Pendekar.
“Matahari sudah mulai meninggi.
Kita harus mencari Sungai untuk
membersihkan Badan," kata Mey Ling gerah saking panasnya.
Mereka terus berjalan menuju ke barat. Melihat suasana yang amat sunyi perasaan Mey Ling sangat sedih mengingat Keluarganya.
Setelah berjalan cukup jauh Mereka lalu duduk di atas rumput dan rasa lapar membuat Fang Yin membuka bekal roti kering, lalu makan roti kering yang dicelup air jernih yang tadi Dia ambil bersama Mey Ling. Mereka mengambil air sebanyak-banyaknya, karena air itu sangat jernih yang keluar dari dinding batu-batu mengalir turun.
Rombongan yang ada dibelakang
juga ikut beristirahat. Pemandangan Siang ini sangat indah, membuat Fang Yin merogoh kantong Bajunya yang lebar. Sebuah Seruling sudah berada ditangannya. Mulailah Fang Yin
meniup Serulingnya dan nyanyian asmara keluar dengan merdu.
Mey Ling yang duduk tidak jauh dari Fang Yin cuma termenung dengan pikiran melayang-layang.
Firasatnya mengatakan bahwa
dirinya akan berpisah dengan Fang Yin. Untuk itu Dia membiarkan
Fang Yin bernyanyi riang untuk terakhir kalinya.
"Keluarkanlah Puisimu Siao Ling,"
kata Fang Yin menatap Mey Ling.
"Hari ini Aku malas melakukan sesuatu," sahut Mey Ling dengan Wajah datar.
"Siao Ling apakah ada yang Kamu sembunyikan dari Aku?, akhir-akhir ini kelakuanmu berubah?" tanya Fang Yin menatap mata Mey ling.
*****
tahta, waria, Echa ja yak😜😜
akupun punya Mey..jurus seribu akun🙈🙈🤭