NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Kesempatan Pertama

Sudah hampir satu bulan sejak Luna dan Alex kembali dari Swiss.

Hari-hari mereka berjalan seperti biasa.

Alex sibuk mengurus perusahaan.

Sedangkan Luna menghabiskan waktunya di rumah sambil membantu beberapa kegiatan yayasan milik keluarga Dimitri.

Meski terlihat baik-baik saja, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.

Ia merasa terlalu banyak waktu luang.

Luna bukan tipe orang yang bisa diam di rumah sepanjang hari.

Sejak kuliah, ia selalu aktif mengikuti organisasi, seminar, dan berbagai kegiatan kampus.

Sekarang setelah lulus, ia mulai memikirkan masa depannya.

Dan pagi itu, saat sarapan bersama Alex, Luna akhirnya memberanikan diri mengutarakan keinginannya.

"Alex."

"Hm?"

Pria itu sedang membaca laporan di tabletnya.

"Aku mau ngomong sesuatu."

Alex langsung meletakkan tabletnya.

Nada bicara Luna terdengar cukup serius.

"Ada apa?"

Luna menarik napas pelan.

"Aku pengen kerja."

Beberapa detik suasana menjadi hening.

Alex tidak langsung menjawab.

Hal itu justru membuat Luna gugup.

"Kalau kamu nggak setuju nggak apa-apa."

kata Luna buru-buru.

"Aku cuma..."

"Kapan aku bilang nggak setuju?"

Luna langsung berhenti bicara.

"Hah?"

Alex menatapnya.

"Aku nggak pernah melarang kamu kerja."

"Tapi..."

"Tapi apa?"

Luna menggigit bibir bawahnya.

"Banyak orang yang nggak suka istrinya kerja."

Alex menghela napas kecil.

"Luna."

"Iya?"

"Aku menikahi kamu bukan untuk mengurung kamu di rumah."

Jantung Luna berdebar pelan.

Alex melanjutkan.

"Kamu punya mimpi."

"Kamu punya tujuan."

"Kamu punya kehidupan yang udah kamu bangun sebelum ketemu aku."

Luna terdiam.

Dan Alex berkata dengan nada yang sangat tenang.

"Aku nggak mau kamu mengubur semua itu hanya karena menikah denganku."

Mata Luna langsung berkaca-kaca.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena terharu.

Sejak awal Alex memang tidak pernah memaksanya menjadi seseorang yang berbeda.

Pria itu selalu menghargai pilihannya.

Dan sekali lagi, Alex membuktikan hal itu.

---

"Kamu pengen kerja di bidang apa?"

tanya Alex.

Luna berpikir sejenak.

"Aku suka komunikasi."

"Humas?"

Luna mengangguk.

"Kurang lebih."

Alex terlihat berpikir beberapa detik.

Kemudian berkata,

"Kebetulan perusahaan lagi buka rekrutmen."

Luna langsung menatapnya.

"Serius?"

Alex mengangguk.

"Divisi Public Relations."

Mata Luna langsung membesar.

"Itu sesuai banget sama yang aku mau."

"Aku tahu."

Luna terlihat semakin bersemangat.

Namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah ragu.

"Tapi..."

"Apa lagi?"

"Kalau aku masuk ke perusahaan kamu nanti dibilang nepotisme nggak?"

Alex hampir tersenyum.

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Tergantung kamu lolos atau nggak."

Luna langsung memukul lengannya pelan.

"Alex."

"Aku serius."

Pria itu tertawa kecil.

"Kalau kamu mau masuk, kamu ikut proses yang sama seperti kandidat lain."

Luna mengangguk.

Itu justru membuatnya lega.

Karena ia ingin diterima karena kemampuannya.

Bukan karena statusnya sebagai istri direktur utama.

---

Sore harinya Alex mengajak Luna ke kantor pusat Dimitri Group.

Gedung itu menjulang tinggi di pusat Jakarta.

Modern.

Mewah.

Dan sangat megah.

Saat pertama kali masuk, Luna langsung terpukau.

"Besarnya."

Alex meliriknya.

"Kamu belum lihat lantai atas."

Luna tertawa kecil.

Namun ada satu hal yang membuatnya heran.

Tidak ada satu pun karyawan yang terlihat mengenal dirinya.

Padahal ia adalah istri Alex.

"Alex."

"Hm?"

"Kenapa nggak ada yang kenal aku?"

Alex memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Karena mereka memang nggak tahu."

Luna mengernyit.

"Maksudnya?"

"Pernikahan kita waktu itu privat."

Luna baru ingat.

Benar juga.

Pernikahan mereka memang hanya dihadiri keluarga dan orang-orang terdekat.

Tidak ada media.

Tidak ada publikasi.

Tidak ada pengumuman besar.

Alex melanjutkan.

"Yang tahu wajahmu cuma para direksi, komisaris, dan beberapa petinggi perusahaan."

"Lainnya nggak tahu?"

Alex menggeleng.

Luna terlihat terkejut.

"Tapi kenapa?"

Pria itu terdiam beberapa saat.

Lalu menjawab jujur.

"Aku nggak suka kehidupan pribadi jadi konsumsi publik."

Luna mengangguk.

Itu memang sangat Alex.

---

Mereka kemudian naik ke lantai tiga puluh dua.

Lantai khusus direksi.

Begitu pintu lift terbuka, beberapa karyawan langsung berdiri.

"Selamat sore, Pak Alex."

Alex hanya mengangguk singkat.

Luna yang melihat itu langsung berbisik.

"Kamu serem ya."

Alex menoleh.

"Kata siapa?"

"Semua orang tadi langsung tegang."

"Itu namanya profesional."

Luna menahan tawa.

"Terserah."

---

Saat sedang melihat-lihat kantor, mereka bertemu Ryan.

"Eh calon pegawai baru."

teriak Ryan dari kejauhan.

Luna langsung tertawa.

Sedangkan Alex memijat pelipisnya.

"Aku mulai menyesal ngajak dia kerja di sini."

Ryan mendekat.

"Luna mau ikut rekrutmen?"

"Iya."

Ryan mengangguk puas.

"Bagus."

Lalu ia menunjuk Alex.

"Jangan takut sama bos galak ini."

"Aku dengar."

jawab Alex datar.

"Tahu."

kata Ryan santai.

Membuat Luna tertawa lebih keras.

---

Hari Sabtu dan Minggu dihabiskan Luna untuk mempersiapkan diri.

Ia membaca berbagai materi tentang public relations.

Mempelajari profil perusahaan.

Dan berlatih menjawab pertanyaan wawancara.

Sampai Minggu malam.

Saat itu Luna sedang duduk di kamar sambil membaca catatan.

Alex yang baru selesai bekerja masuk ke kamar.

"Kamu belum tidur?"

Luna menggeleng.

"Gugup."

Alex duduk di sebelahnya.

"Wawancara aja."

"Justru itu."

Luna menatapnya.

"Aku takut gagal."

Alex terdiam beberapa detik.

Kemudian mengambil catatan dari tangan Luna.

"Luna."

"Hm?"

"Kalau gagal?"

Luna langsung cemberut.

"Itu bukan kalimat penyemangat."

Alex tersenyum tipis.

"Kalau gagal, kamu coba lagi."

Luna terdiam.

"Sesimpel itu?"

Alex mengangguk.

"Sesimpel itu."

Untuk pertama kalinya malam itu, Luna merasa sedikit lebih tenang.

---

Hari Senin akhirnya tiba.

Pagi-pagi sekali Luna sudah siap.

Ia mengenakan kemeja putih dan blazer krem sederhana.

Rambutnya ditata rapi.

Sementara Alex sedang menikmati kopinya.

"Kamu tegang."

kata Alex.

"Aku tahu."

"Kamu jalan muter-muter dari tadi."

"Aku juga tahu."

Alex hampir tertawa.

---

Satu jam kemudian mereka tiba di kantor.

Namun kali ini mereka masuk secara terpisah.

Atas permintaan Luna sendiri.

Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Tidak ingin orang-orang tahu hubungan mereka.

Setidaknya untuk sekarang.

Alex menghormati keputusan itu.

---

Ruang rekrutmen dipenuhi puluhan pelamar.

Luna duduk di antara mereka.

Jantungnya berdebar tidak karuan.

Sampai seorang wanita di sebelahnya menyapa.

"Halo."

"Halo."

"Kamu juga interview PR?"

Luna mengangguk.

"Iya."

Mereka mulai mengobrol ringan.

Dan perlahan Luna merasa lebih santai.

---

Sementara itu di lantai atas.

Ryan masuk ke ruang kerja Alex.

"Deg-degan nggak?"

Alex tetap fokus membaca dokumen.

"Tidak."

Ryan langsung tertawa.

"Boong."

Alex akhirnya mengangkat kepala.

"Aku percaya sama dia."

Ryan mengangguk.

"Itu jawaban bos."

"Lalu jawaban teman?"

Alex terdiam sesaat.

Kemudian berkata pelan.

"Aku tetap berharap dia lolos."

Ryan tersenyum.

Ia sudah mengenal Alex hampir dua puluh tahun.

Dan ia tahu.

Pria itu benar-benar mencintai Luna.

---

Di bawah, nama Luna akhirnya dipanggil.

"Nona Lunaria Wulandari."

Jantung Luna langsung berdetak lebih cepat.

Inilah saatnya.

Ia berdiri.

Menarik napas panjang.

Lalu berjalan menuju ruang wawancara.

Tanpa ia sadari, langkah kecil yang diambil hari itu akan menjadi awal dari babak baru dalam hidupnya.

Bukan sebagai istri Alex Dimitri.

Melainkan sebagai Lunaria Wulandari.

Seorang wanita yang sedang berusaha meraih mimpinya sendiri.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!