NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:731
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulang Tahun Sederhana dan Pembeli Misterius.

Malam itu, Satria duduk di atas pangkuan ibunya, mengenakan baju bersih berwarna biru muda. Syafa duduk di sebelah mereka, wajahnya berseri-seri, matanya berbinar senang. Ia merasa sangat bangga karena hari ini adiknya sudah genap satu tahun.

"Sudah siap ya, Nak?" tanya Aini lembut, suaranya bergetar karena haru. Ia menatap kedua anaknya bergantian, mata indahnya berkaca-kaca menahan rasa syukur yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Aini menyalakan lilin kecil. Nyala api memantul di mata mereka bertiga, menciptakan bayangan hangat....sehangat hati yang penuh kebersamaan.

"Selamat ulang tahun, Satria Halilintar... anak laki-laki Ibu yang paling hebat, paling kuat, dan paling beruntung,"

Aini mendekap tubuh mungil anaknya erat-erat.

"Satu tahun yang lalu, kamu lahir di tengah badai. Kita lari, kita takut, kita lapar, dan kita kedinginan. Tapi lihatlah sekarang... kita selamat. Kita bahagia. Kamu tumbuh sehat dan kuat. Terima kasih ya, Nak... sudah bertahan hidup. Terima kasih sudah menjadi anugerah terindah buat Ibu dan Kakak."

Syafa bertepuk tangan riang, lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan suara nyaring dan lantang, meski kadang nadanya meleset. Aini ikut bernyanyi pelan, air mata bahagia menetes jatuh membasahi pipinya, namun ia tersenyum lebar. Senyum yang paling tulus, senyum seorang pemenang.

Setelah lagu selesai, Aini membimbing tangan mungil Satria untuk meniup lilin.

PLUPP...!!!!!

Nyala api padam seketika, digantikan asap tipis yang naik ke langit-langit.

"Horeee! Selamat ulang tahun Dedek!" teriak Syafa gembira, langsung memeluk adiknya yang tertawa renyah sambil bertepuk tangan ikut-ikutan.

Mereka pun makan bersama dengan lahap dan gembira. Suasana makan malam itu begitu hangat. Syafa banyak bercerita tentang apa saja yang akan ia ajarkan pada adiknya sekarang, karena adiknya sudah besar.

"Kakak jani ya, Dek..!!!I Kakak akan menjaga Satria selamanya, tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Dedek".

Aini diam.....mendengarkan sambil mengunyah makanannya pelan. Ia menatap dua anaknya itu dengan terharu. Ia teringat kembali masa-masa sulit itu. Teringat Dimas, teringat rumah kontrakan yang sempit, teringat hujan deras saat mereka lari, teringat Bu Lilis, dan teringat Komandan Sejiwa yang tulus menolong mereka.

Kini.....semua penderitaan itu sudah hilang....pergi bersama waktu. Semua rasa sakit itu telah terbayar lunas dengan senyum Syafa dan tawa Satria.

Di ujung malam itu, setelah anak-anaknya tertidur lelap karena kelelahan dan kenyang, Aini duduk sendirian di teras rumah. Angin malam berhembus sejuk, membawa suara jangkrik yang merdu. Ia mengeluarkan cincin emas baru yang ia beli dari hasil berjualan nasi uduk. Ia memegang erat di tangan kanannya.

"Kita sudah sampai di sini, Nak..." bisiknya pada keheningan malam.

"Ibu janji, akan terus berjuang. Akan terus jual nasi uduk, akan terus bekerja keras. Kalian tidak akan pernah kekurangan apa pun. Kalian akan sekolah, kalian akan pintar, kalian akan jadi orang baik. Dan suatu hari nanti, nama kalian akan harum, jauh dari nama buruk ayah kalian."

Aini tersenyum menatap bintang-bintang di langit yang terlihat jelas di atas desa yang bersih. Ia tidak butuh harta, tidak butuh kemewahan. Selama Syafa dan Satria ada di sisinya, sehat, selamat, dan bahagia... Aini merasa ia adalah wanita paling kaya di dunia.

Ulang tahun pertama Satria menjadi penanda..... babak kelam hidup mereka telah tertutup rapat. Dan babak baru yang cerah, penuh perjuangan, dan penuh kasih sayang, telah terbuka lebar.......selamanya.

*******

Pagi itu, Buk RT datang ke kontrakan Aini. Aini menyuruh perempuan parobaya yang sangat baik itu masuk.

"Mari, Bu. Silahkan duduk, mau di dalam atau disini saja?" Aini menunjuk kedalam rumah. Bu RT menggeleng dan tersenyum.

" Tidak usah masuk Nak Aini. Disini saja, lebih adem." jawabnya singkat.

"Ibu mau pesan nasi uduk untuk besok malam, bisa ya? Anak-anak Ibu mau pulang dan menginap."

" Owh...!!! Gitu ya Bu. Bisa....bisa Bu, mau berapa bungkus?"

"Sepuluh saja cukup."

Aini mengangguk senang. Bu RT memandang Aini sejenak, dan berkata sedikit pelan.

"Aini...Ibu boleh bertanya tidak?"

Aini tertegun dan memandang Bu RT.

"Boleh,Bu. Tanya saja, saya akan jawab semampunya."

"Sudah lewat delapan bulan kamu tinggal disini, sendirian. Kamu tidak berpikiran untuk....." Bu RT menggantung ucapannya. Takut Aini tersinggung atau salah sangka.

"Takut apa, Bu?" Aini mengejar dengan pertanyaan.

"Itu....eh...maaf sebelumnya. Kamu jangan tersinggung ya Nak, Ibu mau bilang apa kamu tidak takut hidup sendirian"

"Tidak Bu. Semua warga disini sangat baik pada keluarga saya. Saya sangat berterimakasih terutama pada Ibu dan Bapak RT."

"Syukurlah kalau begitu. Maaf ya Nak, Ibu mau menanyakan sesuatu. Tapi kamu jangan tersinggung. Apa kamu tidak mau lagi mencari pengganti ayahnya anak-anak?"

Aini terdiam cukup lama. Dia tak pernah menyangka kalau pertanyaan itu akan muncul dari bibir Ibu RT itu.

Aini tersenyum dan menggeleng.

"Tidak, Bu. Itu jauh dari pikiran saya. Sekarang saya hanya fokus pada anak-anak dan nasib mereka kelak."

Untuk sejenak keduanya terdiam. Akhirnya Bu RT berkata.....pelan dan sangat dalam.

" Menjadi orang tua tunggal tidak salah. Tapi kamu juga harus ingat kalau anak itu perlu sosok seorang Ayah untuk melengkapi."

Aini kembali menggeleng.

"Maaf ya, Bu. Maaf sekali. Sekarang saya tak berfikir sampai disitu. Anak-anak saya masih sangat kecil. Biarkan saya membesarkan mereka dengan usaha saya sendiri. Saya masih mampu kok."

Aini menjadi serba salah. Takut Bu RT tersinggung. Tapi.....sungguh!!!! mencari pengganti Dimas tak pernah ada dalam pikirannya. Cukup......cukup hanya satu laki- laki saja yang membuatnya menderita. Tak boleh ada yang kedua.

Bu RT tersenyum dan berdiri dari duduknya.

"Ya, sudah! Ibu mengerti kok. Ibu cuma menyampaikan pesan seseorang. Tapi kalau kamu memang belum mau dia tidak akan memaksa."

Bu RT melangkah keluar dari warung kecil Aini. Sebelum benar-benar pergi dia masih berkata.

"Jangan lupa nasi uduknya besok siang ya. Ibu pulang dulu."

"Iya,Bu. Saya tidak akan lupa. Terimakasih ya Bu, jangan marah "

Bu RT melambaikan tangan dan benar-benar berlalu. Tinggallah Aini sendiri. Merenung dan mencoba menerka siapa orang yang dimaksud Bu RT tadi.

"Sudahlah! Nggak penting juga. Statusku sama Dimas saja masih belum jelas. Dia masih suamiku sekarang. Ayah dari kedua anakku."

Wanita cantik itu kembali sibuk dengan jualannya. Seorang pembeli datang dan berkata.

"Nasi uduk satu porsi ya Bu. Lengkap, makan disini saja."

Aini menoleh. Matanya menatap sepasang sandal jepit yang sudah menipis, naik keatas matanya melihat celana jeans lusuh yang lututnya sudah robek. Lebih keatas lagi dia juga melihat baju kaos yang sama lusuhnya tapi bersih berwarna biru tua. Dan....wajah itu? Kening Aini berkerut sejenak. Wajah yang penuh jambang tapi mata itu....Aini seperti familiar.

"Bu..." suara pria itu kembali memanggil.

******

1
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!